Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×15


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Sesi makan malam sudah berakhir sejam yang lalu. Baik bapak dan ibu Leona pergi beristirahat setelah seharian bekerja.


Tak jauh berbeda, Leona dan Antariksa juga sudah ada didalam kamar. Ranjang milik Leona ukurannya kecil, sempit dan seharusnya hanya bisa ditempati satu orang. Dia dan Anta terpaksa berdesakan karena memang hanya tempat itu yang tersedia.


“Sempit.” gumam Leona sambil bergerak membelakangi Antariksa yang sejak tadi menghadap tembok. “Aku tidur di sofa ruang tamu aja.”


Akan tetapi, belum sempat merealisasikan keinginannya, Leona ditahan Antariksa dengan sebuah pertanyaan.


“Kenapa Lo nggak bangunin gue aja? Kita kan bisa berangkat bareng?”


Malas memberikan jawaban, Leona memilih menghentikan gerakannya dan menatap sekilas Antariksa yang tidur telentang tanpa baju bagian atasnya. Disini tidak ada AC, hanya kipas angin yang bunyinya sedikit berisik. Selain tidak suka dengan kipas angin karena rawan masuk angin, Antariksa juga merasa jika kipas angin kurang efektif untuk menghilangkan rasa gerah di badan.


“Kalau kayak gini kan kita jadi nggak kompak jawabnya kalau ditanya ibu atau bapak Lo.”


“Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu nyusul?”


“Sejak awal kan, kita sepakat pergi bareng? Kenapa Lo malah kabur duluan?”


Rupa-rupanya laki-laki ini bebal sekali, tidak juga paham mengapa Leona melakukan itu. Apa Leona harus memperjelas alasannya?


“Ya karena aku memang nggak pingin pergi sama kamu.” jawab Leona jelas menyatakan maksud mengapa dia meninggalkan Anta sendirian dirumah.


Mendengar jawaban tersebut, sontak Anta bangkit dari posisi berbaring menjadi duduk. “Kenapa?”


Leona mendengus kesal, ia tidak ingin memperpanjang urusan debat dengan Anta yang dungu ini. Ah maaf, sebut saja dia lempeng dan tidak peka. Daripada nanti dia semakin murka disebut dungu?


“Aduh, kamu itu berisik ya!” kesal Leona mentok pada titik kesabaran yang tinggal bak seteguk saja. “Kalau kamu peka, kamu pasti tau alasan kenapa aku ngelakuin itu, Ta.”


Anta menatap tajam sosok Leona yang sudah berdiri dari ranjang sambil membawa sebuah bantal dan sebuah guling. “Kalau masih belum paham juga, tanya noh sama si yang sok paling tau,” cibir Leona membuat ego Antariksa tersentil. “Pasti nanti dikasih jawaban yang tepat dan bikin kamu seratus persen langsung percaya.”


Leona pergi begitu saja dari kamar, meninggalkan Antariksa sendirian dengan semua kecamuk luar biasa membuat kesal. Seperginya Leona dari pandangan, Anta pun menoleh ke arah kipas angin yang masih menyala dengan bunyi khasnya sampai Anta sendiri heran, mengapa Leona tidak membeli yang baru saja? Kipas angin itu sudah waktunya pensiun. Tatapannya semakin sebal hingga kedua alisnya mengerut karena kipas itu mengangguk-angguk seperti sedang meledeknya dengan olokan menyebalkan. Dengan penuh kekesalan, Anta berdiri dan berjalan mendekat. Lalu,


“LO TU YANG BERISIK!” katanya sembari menoyor kepala kipas hingga oleng hampir terjungkal ke belakang.


Sialan sekali bukan? Kipas yang tidak salah apa-apa jadi objek pelampiasan kekesalannya. Kalau semisal kipas itu bisa berubah menjadi manusia, sudah pasti baku hantam lah. Siapa juga yang mau di fitnah tanpa alasan jelas begitu.


***


“Lho?!” kaget si ibu saat mendapati anak dan menantunya, bukannya tidur di kamar, malah tidur di sofa ruang tamu. Dengan gerakan perlahan, si ibu mendekat dan membangunkan putrinya perlahan. Hingga Leona membuka mata dan merenggangkan tubuh, ia harus di kejutkan oleh pertanyaan dari sang ibu. “Kenapa kalian malah tidur di sini?”


Kalian? Seingat Leona, hanya dia yang tidur disini karena kesal dengan antariksa, semalam.


Matanya merotasi mencari objek lain yang dimaksud sang ibu. Dan benar saja, Antariksa tidur meringkuk di sofa yang ukurannya lebih kecil dari yang ia tempati. Leona terbelalak dan tersentak bangun. Apa pria itu gila? Kenapa dia ikut tidur di sini? Memalukan!

__ADS_1


“Ah, dikamar panas, Bu. Makanya Leona pindah kesini.” jawabnya menutupi perdebatan yang terjadi semalam. “Kalau mas Anta, Nana nggak tau kapan dia pindahnya kesini.”


“Yasudah bangunin gih. Kasian tidur posisinya seperti itu. Nanti pasti badannya sakit semua.”


Dalam hati Leona menjawab sini, “Biarin aja. Biar kapok! Lagian siapa yang suruh ikut tidur disini?!”


Akan tetapi, lain di hati lain di bibir. “Iya, bu.”


Nyusahin, itu kata yang tepat di teriakkan di telinga Anta nanti.


Ibu berjalan meninggalkan Leona yang menatap sengit ke arah Antariksa yang masih tertidur pulas menjelajahi alam mimpi. Wajah tampannya terlihat damai dan tidak menyebalkan seperti saat pria ini bangun.


Sampai sebuah andai-andai muncul dalam benak Leona. Andai saja Antariksa punya sikap dan sifat seperti Joan.


Leona bangun berdiri, lalu berjalan ke tempat Anta berada, dan membangunkannya.


“Bangun, kenapa tidur disini sih?”


Karena tidak mendapatkan respon, Leona mengulangi ucapan dan tindakan itu sampai beberapa kali hingga Antariksa menggeliat dengan tatapan sayu dan muka bantal khas orang bangun tidur.


“Pindah ke kamar, Ta. Kamu bikin aku dimarahi sama ibu.” kesal Leona dengan muka bantal yang tidak jauh beda dengan Anta. Bukannya bangun, Anta malah tersenyum. Senyuman yang belum pernah Leona lihat sama sekali selama hidup bersama si pria. Garis bibir yang melengkung kecil itu terlihat tulus. “Malah senyum-senyum nggak jelas. Ya udah kalau nggak mau pindah. Nanti kalau sampai aku dapat teguran dari bapak, kamu yang aku salahin.” ketus Leona lantas berlalu dari ruang tamu guna membasuh muka, melakukan kewajiban pagi hari, kemudian membantu ibunya memasak.


Sedangkan Anta, ia masih diposisi yang sama dengan senyuman bodohnya. Bisa-bisanya dia kagum dengan wajah cantik Leona saat bangun tidur? Padahal perempuan itu jelas-jelas mengomelinya, tadi. Bukannya marah, Antariksa justru suka diomeli oleh Leona, sekarang.


“Fix. Gua emang udah gila sekarang!” gumamnya lalu bangkit dan menuruti Leona untuk pindah ke kamar saja. Tidur semalaman tanpa bergerak dan mengubah posisi itu, rasanya seperti terserang encok. Badan sakit semua. Beda lagi sih, kalau sakit encoknya habis bergulat diatas ranjang dengan si singa. Dia akan rela menahan sakit di punggungnya itu seharian, karena Leona sudah mau ngasih Jatah. Lalu, tawa kecil menyertai tubuh Anta yang merebah diatas ranjang.


Belum lima menit tubuhnya berbaring ditempat yang benar dengan mata yang hampir kembali menutup, Anta kembali dikejutkan oleh suara pintu dibuka. Sosok Leona terlihat dari balik pintu menginterupsi.


“Jangan lupa kewajiban kamu sebagai manusia, kepada Tuhan, sebelum lanjut molor.”


***


Jam tujuh pagi, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Bapak, ibu, Leona, Antariksa, dan dua adik perempuan Leona juga sudah siap sarapan. Setelah berdo'a, mereka menikmati sarapan dengan khidmat. Kedua adik perempuan Leona juga sopan didepan Antariksa yang notabenenya adalah kakak ipar mereka, meskipun ternyata, ada rasa aneh tentang presensi orang yang menduduki kursi tersebut.


Biasanya, Joan lah yang ada disana bersama kakaknya menikmati sarapan saat pulang berkunjung. Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, orang berbeda yang terlihat oleh manik mata Nayla dan Riska. Mereka juga tidak memungkiri jika kagum dengan ketampanan sang kakak ipar yang rasanya diluar nalar, tidak wajar. Bagaimana bisa suami kakaknya itu sempurna sekali? Nayla dan Riska sempat bergosip semalaman sebelum tidur karena membahas ke-hoki-an sang kakak karena mendapat suami tampan dan mapan melebihi Joan yang mereka kenal lama, sebelumnya.


“Nanti bapak mau tutup toko saja. Pingin ngobrol santai bareng Anta.”


Antariksa yang mendengar itupun, hanya bisa tersenyum ramah, hangat dan juga sopan sebagai pemanis saat dia berkata. “Boleh, pak.” jawabnya singkat.


“Kamu suka catur?” tanya si bapak lagi kepada anak mantunya.


“Tidak begitu suka sih, pak. Tapi saya bisa sedikit kok bermain catur. Bapak mau ngajak saya main catur?” jujurnya tidak ingin berbohong mengenai pendapatnya tentang catur. Anta memang tidak mahir, dan tidak juga terlalu suka pada permainan tersebut.


Menyebut kata bapak terasa aneh di tenggorokan Anta. Panggilan itu terasa begitu asing, tapi tidak memungkiri jika dia merasa nyaman berada diantara keluarga Leona yang sederhana ini. Ia bahkan tidak lagi menatap aneh dengan tahu ataupun tempe diatas meja karena dirumah mereka, Leona juga selalu melengkapi meja makan dengan dua olahan kedelai itu. Tapi yang terpenting dari semua itu, Anta merasakan kehangatan sebuah keluarga baru yang membuatnya merasa nyaman.


“Ya itupun kalau nak Antariksa nda sibuk.”


Anta tersenyum lebar, yang berhasil membuat dada Leona bergetar.


“Ayo pak. Sudah lama tidak ada yang mau ngajak saya main catur.” serunya bersemangat penuh antusias.

__ADS_1


“Udah, Bu. Hari ini toko tutup saja. Bapak mau caturan sama mantu ganteng bapak.”


Si ibu tersenyum. Bapaknya ini selalu saja berhasil membuatnya terhibur.


“Iya, iya pak mertua yang sayang menantu.”


***


“Leona itu anaknya bertanggung jawab, nak Anta. Dia juga tidak pernah mengeluh menyekolahkan dua adik dan membantu perekonomian bapak waktu bapak belum sembuh waktu itu.”


Anta mendengarkan dengan seksama sambil menjalankan buah catur ke salah satu petak hitam.


“Dia juga dulu selalu dapat juara waktu sekolah. Bapak aja nggak pernah keluarin uang buat bayar sekolahnya. Soalnya dia selalu dapat beasiswa prestasi yang full tidak bayar.”


Antariksa tersenyum. “Leona memang berkompeten, pak. Bos tempat kerjanya dia sering memuji dan mengagumi kinerja Leona didepan saya langsung.” terang Antariksa, membeberkan satu fakta jika pak Yulianto memang selalu mengacungkan jempol atas hasil yang dibuat Leona.


“Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Jadi bapak nggak perlu khawatir dia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan selama hidup di kota.”


Antariksa lagi-lagi menyuguhkan senyuman hangat terbaik yang ia punya untuk sang mertua.


“Bapak cuma pesen sama kamu selagi bapak masih ada.”


Perhatian dan fokus Antariksa beralih pada sosok tua dihadapannya yang kini sedang tersenyum padanya.


“Tolong jaga putri bapak, ya. Tolong lindungi dia.”


Antariksa kehabisan kata-kata. Lalu apa yang dilakukannya selama ini? Dia cuma membuat dan memperlakukan perempuan tangguh seperti Leona bak barang yang dipakai seperlunya. Jika butuh di pakai, jika tidak ya sudah, dibiarkan saja.


“Ta. Kamu benar-benar pengecut kalau sampai menyakiti Leona sejauh itu.” bisik bagian baik dirinya memperingatkan.


“Nanti, kalau bapak sudah nggak ada, nggak ada lagi tempat dia mengadu isi hatinya. Karena ibu nggak mungkin bisa melihat putrinya bersedih atau kesusahan kena masalah. Leona sudah menganggap bapak ini seperti tameng baginya. Bapak kadang merasa sedih karena bapak belum mampu melindungi dia secara utuh, justru dia yang melindungi dirinya sendiri, dan juga keluarga.”


Anta menjatuhkan tatapan matanya pada papan catur. Isi pikirannya kembali memutar kebelakang, dimulai dari hari dimana dia menyentuh Leona. Miris sekali.


“Untuk itu, bapak harap kamu bisa gantiin tugas bapak menjaganya. Karena kamu sekarang kepala keluarga dalam rumah tangga yang sedang kalian bina.”


Anta tergagap. Dia tidak bisa berkata apa-apa meskipun mulutnya sudah sedikit terbuka.


“Dan kalaupun dia melakukan kesalahan, tegur saja. Dia pasti mau mendengarkan.”


Anta tau, selain keras kepala dan teguh pendirian, Leona termasuk perempuan yang sportif. Dia akan mengaku dan menerima, jika memang dia salah. Namun itu juga berlaku sebaliknya.


“Apa selama hidup bersamamu, dia pernah menyusahkan kamu, nak?”


Anta kembali mengangkat wajah. Dilihatnya wajah berkerut ayah mertuanya yang terlihat sendu. Ia tahu perasaan pria itu saat ini meskipun, dia belum pernah menjadi seorang ayah.


Anta tersenyum dan berkata, “Tidak, pak. Justru Leona selalu mengurus dan memenuhi kebutuhan saya dengan baik. Saya beruntung memiliki istri seperti dia, yang tentu saja mendapatkan didikan terbaik dari kedua orangtuanya. Yakni bapak dan ibu.” katanya lembut, kemudian melanjutkan, “Terima kasih sudah membuat Leona ada di dunia ini ya, pak. Saya akan berusaha sebisa saya melakukan yang terbaik untuk dia, meskipun saya sendiri juga perlu membenahi diri.”[]


...To be continue...


...🌼🌺🌼...

__ADS_1


Ada yang mencair, tapi bukan es 😜😜😜


Menurut kalian, ucapan anta ini tulus atau cuma kamuflase semata agar citranya baik didepan kedua orang tua Leona? Coba tulis komen kalian. Terima kasih. ☺️


__ADS_2