Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×11


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Rumah makan sederhana menjadi tujuan Leona, Joan dan juga Dinda untuk makan siang. Hal seperti ini biasa mereka lakukan saat bosan dengan makanan kantin. Mereka akan pergi ke warung makan sederhana yang memang letaknya tidak jauh dari kantor. Hanya butuh lima menit untuk sampai di tempat yang menyediakan nasi campur dan beberapa menu lainnya itu.


Setelah sampai dan memesan tiga menu yang berbeda sesuai selera, mereka duduk di satu meja. Ditemani es teh manis, mereka mulai menikmati hidangan berbayar itu. Tak lupa curi-curi cerita kehidupan yang ternyata tidak ringan. Ditambah lagi deadline pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya, membuat nafas mereka seperti dicekik kenyataan.


“Gimana meeting sama pak Yuli, Jo?” tanya Dinda kalem. Leon, Dinda, dan Joan memang satu angkatan di kantor ini. Dulu, Leona sempat ditawari untuk menempati posisi yang ditempati Joan sekarang, tapi dia menolak dan memilih menjadi pegawai biasa agar bisa bekerja sewajarnya , dan tentu saja tidak terbebani oleh tanggung jawab yang pastinya tidak akan gampang.


Meskipun begitu, Leon tidak pernah mengecewakan kalau soal pekerjaan, soal design. Hasilnya selalu diakui oleh orang setingkat bos. Leona dan Joan adalah kombinasi yang pas, mereka partner yang tepat. Itulah awal mula mereka di jodoh-jodohkan, dan berakhir benar-benar menjalin hubungan.


“Ya ngga gimana-gimana, Din. Lo tau sendiri gimana pak Yuli kalau proyek di pegang sama Leon.” puji Joan lantas memasukkan sesendok nasi soto yang merupakan menu kesukaannya di rumah makan ini.


“Jadi, bulan depan bakal cair bonus dong?”


“Lo itu selalu aja gercep kalau masalah bonus, Din. Giliran dikasih deadline mepet, ngumpat-ngumpat nyumpahin bos Lo sendiri ngalah-ngalahin nyumpahin pengendara motor yang nyalain lampu sign kiri, tapi beloknya nganan.” celetuk Joan sedikit tertawa, yang juga berhasil membuat Leona terkikik geli.


“Ya berarti gue ini, manusia yang manusiawi, bruh!”


Leon tertawa sambil menggeleng tidak habis pikir. Seharusnya Dinda ini lebih sopan ke Joan lantaran mau bagaimanapun, Joan masih atasan mereka.


“Terus, kata suami Lo gimana Le?”


Leona hampir menyemburkan makanan didalam mulutnya. Mengapa Dinda ini selalu mengubah topik tanpa alur yang jelas. Tiba-tiba bahas ini, detik selanjutnya bahas itu. Tiba-tiba seret ini, lalu selanjutnya seret itu. Jadi teman Dinda itu harus pinter nyiapin jawaban dadakan.


“Tentang apa?” tanya Leona basa-basi. Ia juga tidak mau langsung tembak jawaban, taunya beda topik dan beda pertanyaan. Kan malu.


“Ya tentang design gedung barunya yang Lo buat. Kan harusnya belio ini kagum sama istrinya yang cerdas dan kreatif ini, ya nggak Jo? Udah pinter gambar, pinter nyari duit, pinter masak, pinter ngerawat rumah juga. Paket lengkap seharusnya nggak Lo lepas, dulu, Jo.”


Leona langsung menoleh dan mengangkat wajahnya, menatap sengit Dinda yang tidak pernah tau alasannya mengambil jalan pintas untuk menikahi Antariksa.

__ADS_1


“Din?!” ketus Leona karena Dinda sudah menyeret masalalu mereka yang sepakat untuk dikenang saja, tidak untuk diungkit dan menjadi sakit.


Tapi apa yang keluar dari bibir Joan, justru membuat Leona merasa bersalah dan ingin menangis di tempat.


“Lo bener, Din. Harusnya gue perjuangin dia dan nggak malah kabur kayak pengecut.”


Leona menoleh ke arah Joan dengan sorot sendu. Bagaimana bisa dia mendengar jawaban Joan yang membuat hatinya ditusuk sembilu.


“Kalian ngomong apa sih?” kelakar Leona canggung. Ia mati-matian menahan airmata yang memaksa ingin mengucur dari maniknya. Leona kembali menunduk, menghindari tatapan dua teman dekatnya. Ia tersenyum dan kembali memakan nasi miliknya. “Udah lewat kali masalah ini. Udah basi. Nggak perlu dibahas lagi. Kita temanan baik aja aku udah seneng, kok.” lanjut Leona tanpa berani menyorot dua presensi yang masih belum mau melepaskan tatapan mata kepadanya. Alasan apa lagi yang harus ia gunakan sekarang? Tidak mungkin Leona harus jujur tentang apa yang dilakukan Anta padanya, atau Joan akan tanpa berfikir panjang membuat Anta—pria yang sekarang menjadi suaminya itu—babak belur.


“Oh sorry. Oke kita bicara lainnya aja ya.”


Joan setuju dengan ucapan Dinda karena tidak sampai hati melihat gelagat Leona yang tidak nyaman. Membicarakan masa lalu, dengan sosok masalalu didepan mata itu memang terasa canggung. Tidak nyaman sama sekali.


“Aku mau pulang kampung hari sabtu.” kata Leona dengan senang hati menanggapi Dinda yang sudah memberi ultimatum agar topik diubah.


“Sama suami?” tanya Dinda, sedangkan Joan hanya diam mendengarkan tanpa memberi tanggapan atau tatapan.


Dulu, dialah yang ada diposisi itu. Dia yang akan mengantar Leona pulang untuk bertemu ayah dan ibunya di kampung. Lalu, mereka akan menginap semalam dan ayah Leona akan mengajaknya bermain catur hingga larut malam sambil bercerita banyak tentang masa kecil Leona dan dua adiknya yang sekarang sudah berusia dua puluh dan delapan belas tahun.


Setelah di berhentikan dari pekerjaan karena dianggap sudah tidak sanggup, ayahnya mendapat uang pesangon yang jumlahnya tidak sesuai dengan masa kerja dan jabatan yang saat itu diduduki. Kemudian mereka mempergunakan uang tersebut untuk berobat sang ayah, lalu sisanya untuk membuka toko kelontong kecil didepan rumah, yang sekarang sudah berkembang menjadi sebuah agen dengan pelanggan tetap yang lumayan banyak.


Dan sekarang, keadaan perekonomian mereka sudah lumayan membaik. Dua adik perempuan Leona berhasil masuk di universitas ternama berbeda, dengan jalur beasiswa full. Jadi bisa dikatakan, jika Leona dan kedua adiknya ini memang anak yang berprestasi.


Kembali lagi ke pembicaraan mereka, Leona menanggapi pertanyaan Dinda dengan sebuah anggukan. Meskipun ada keritan sakit yang menggores hati Joan, ia tetap bersyukur karena Leona tidak akan sendirian lagi ketika pulang kampung, jika dirinya sedang sibuk dan tidak bisa mengantar. Setidaknya, sekarang akan ada orang yang menjaga Leona setiap waktu.


“Ya udah. Yang akur sama suami.” celetuk Dinda yang mendapat senyuman lembut dari Leona.


“Ya lah, Din. Mau bagaimana, dia tetap suami aku.”


Kenyataan yang pahit untuk ditelan oleh Joan, adalah Leona yang sudah bersuami.


“Makan hari ini biar gue aja yang bayar.” kata Joan tiba-tiba menyela.


“Asyik, makan gratis.”

__ADS_1


Leona tersenyum melihat tingkah Dinda yang senangnya bukan main dengan barang gratisan. Ia lantas mengucap terima kasih pada Joan.


“Eh, gue ke toilet sebentar ye! Jangan ditinggal.”


“Cepetan. Kalau lama kita tinggal.”


Leona hanya bercanda. Dia tidak akan mungkin meninggalkan Dinda begitu saja. Perempuan yang satu itu orangnya suka ngomel, dan Leona malas jika harus mendengar sahabatnya itu protes perihal toilet umum.


Tinggal Leona dan Joan di meja. Suasana canggung kembali menyelimuti dua insan yang pernah saling cinta itu. Tapi bukan Joan dan Leona jika mereka tidak pandai mencari topik pembicaraan.


“Naik kereta?” tanya Joan tiba-tiba, yang langsung saja bisa ditangkap maksudnya oleh Leona.


“Enggak. Dia yang nyetir.”


“Jauh lho Le. Nggak capek suamimu nyetir sendiri? Apa dia nggak ada sopir pribadi?”


Leona menggelengkan kepala. Ia juga tidak yakin akan hal itu, tapi setaunya selama ia tinggal dirumah Anta, mereka hanya berdua. Dan Anta sendiri yang menyetir mobil pribadinya kemanapun pria itu pergi, tidak ada sopir pribadi.


“Dia kayaknya udah biasa nyetir sendiri kok. Cuman ya, ntar aku tanya lagi aja. Siapa tau dia lebih minat naik kereta.”


“Menurut aku sih, lebih baik kereta aja. Beri dia pengertian agar mau naik kereta. Bahaya, kampung kamu jauh.”


Benar yang dikatakan Joan. Semisal naik kereta, mereka masih harus naik bus, kemudian naik lagi angkot menuju kampung. Akan sangat melelahkan kalau sampai Antariksa menyetir sendirian.


“Ya nanti aku obrolin lagi sama dia.”


Joan mengangguk paham. Dia mengangkat satu lengannya untuk menilik waktu yang tersisa untuk makan siang mereka. “Dinda masih lama ya? Tinggal lima belas menit lagi jam maksi habis.”


“Kebiasaan! Biar aku susul dia dulu. Kalau kamu balik duluan, balik aja. Ntar aku sama Dinda.”


Tapi, belum ada selangkah Leona pergi dari meja. Seseorang menegurnya.


“Kamu, istrinya Antariksa kan?” []


...To be continue...

__ADS_1


...🌼🌺🌺...


__ADS_2