
Sesuai janji, double up untuk hari ini
Happy reading ♥️💜🤍🤎🖤💛💚💜
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Leona menurunkan standar samping motor kesayangannya yang masih berjaya hingga sekarang. Tadi, dia sempat melihat mobil Antariksa parkir di bahu jalan dekat gang masuk ke area rumahnya. Suasana rumah sepi. Bu Lastri bilang jika Lunar bersama Antariksa dirumah, sedang bermain. Bu Lastri juga menceritakan jika Antariksa meminta agar dia yang menyuapi Lunar dan mempersilahkan bu Lastri untuk melanjutkan pekerjaannya di warung.
Leona duduk di tepian teras rumah demi melepas sepatu, lalu berjalan pelan melewati pintu rumah yang dibiarkan terbuka.
Betapa terkejutnya Leona saat melihat Lunar yang tertidur di kursi ruang tamu bersama Antariksa yang juga terlelap di sisi putrinya. Tangan keduanya saling berpegangan, dan wajah lelah terlihat jelas di fitur sempurna Antariksa. Mendadak, Leona ingin mendekat dan memperhatikan wajah yang sudah lama tidak sudi ia pandang itu.
Leona mengerjap pelan bak slow motion ketika menatap bibir Antariksa yang sedikit terbuka. Lalu buru-buru dia mengalihkannya dengan menatap sekeliling ruang tamu. Ada boneka Barbie dan juga box kosong yang Leona duga adalah tempat boneka yang sekarang sedang berada di pelukan Lunar itu. Ada juga buku tulis, buku bacaan, serta alat tulis yang tergeletak diatas meja.
Apa mereka sempat belajar tadi?
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Lalu sedikit sentilan ia rasakan di ulu hati. Ternyata, Antariksa tidak seburuk yang ia pikirkan.
Beberapa waktu lalu, permintaan Anta untuk bertemu Lunar adalah sebuah pertimbangan yang tidak akan ia putuskan dengan mudah. Masalalu buruk yang pernah ia rasakan menjadi salah satu alasan mengapa Leona selalu merasa terancam atau takut kehilangan Lunar saat Antariksa memaksa hadir di antara dirinya dan Lunar.
Namun, tadi siang, Antariksa berhasil membuatnya meluluhkan hati, kemudian percaya jika Lunar akan baik-baik saja saat bersama mantan suaminya tersebut. Pria itu juga bilang jika dia tidak akan membawa Lunar pergi kemanapun. Anta hanya ingin bertemu dan menjalin keakraban dengan putrinya. Pria itu ingin memberikan kasih sayangnya sebagaimana seorang ayah kepada anaknya.
Leona tak berhenti menatap antariksa dan Lunar yang memang sangat mirip. Wajah mereka begitu dominan, dan airmata Leona jatuh tanpa ia duga. Kedipan cepat dan usapan kasar menjadi satu hal yang ia lakukan saat melihat Antariksa bergerak kecil lantas membuka matanya.
Pria itu terkejut dan langsung mengambil posisi duduk tegap dengan wajah panik luar biasa. “Kamu sudah pulang? Aduh, maaf aku ketiduran.”
Leona tersenyum kaku. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang, selain menghindari Antariksa dan juga tatapan matanya yang tajam itu.
“Aku mau mandi.” jawab Leona out of topic. Ia bergegas masuk ke dalam kamar utama, lantas kembali keluar membawa satu baju dinasnya ketika bersama sang putri, daster. Tentu saja, daster adalah pakaian wajib bagi Leona saat bersama Lunar. Karena selain nyaman, daster juga membuat badannya leluasa merasakan udara dan anti gerah.
Setelah hampir lima belas menit di kamar mandi, Leona kembali ke ruang tamu dengan tubuh yang sudah segar dengan aroma sabun mandi yang membuat hidung Antariksa tertantang. Rambut basah yang digulung handuk, membuatnya mengingat kembali masa dimana Leona adalah istrinya.
Sadar terlalu jauh memikirkan masalalu, Antariksa meringkas ponselnya ke dalam saku celana, kemudian berniat hendak pamit. Sesuai janjinya pada Leona tadi siang, jika dia akan pulang saat Leona sudah datang.
“Kamu sudah makan malam?”
Pertanyaan Leona sontak membuat pantatnya yang hampir saja terangkat ke udara, kembali menyentuh tempat duduk. Ia melihat Leona yang terlihat semakin menarik dimatanya hanya gara-gara sebuah daster. Bagaimana tidak? Kulit kuning wanita itu terlihat bersih. Lekuk tubuhnya yang tidak begitu tercetak—kecuali bagian dada yang menonjol dan pantat yang sedikit terlihat molek—itu membuat salivanya ikut meluncur bebas melewati tenggorokan.
“Aku bisa beli nanti saat perjalanan pulang.” jawabnya jujur. Antariksa memang berencana mampir ke warung bu Lastri untuk membeli nasi pecel wanita itu sebagai menu makan malamnya hari ini.
__ADS_1
Suasana canggung datang. Hingga Leona kembali memecah suasana dengan berkata, “Ada nasi lumayan banyak, cukup buat kamu sama aku makan malam, di belakang. Lauknya sih seadanya, kalau kamu memang mau.” kata Leona sepaket lengkap dengan kedua pipinya yang merona.
Antariksa yang ditawari demikian, tentu tidak ingin menolak. Kapan lagi makan masakan mantan istri, jika tidak hari ini sebab sang mantan sedang berbaik hati.
“Memangnya, kamu tidak—”
“Kalau mau, cepetan ambil di dapur. Kalau enggak, ya udah kamu pulang aja.” ujar Leona dengan nada sedikit sinis.
“Lho, lho. Kok cepet banget sensinya?” gerutu anta dalam hati. Ia kelojotan sendirian, bingung harus bersikap seperti apa sekarang saat Leona berkata ketus begitu.
Antariksa kelabakan sendiri mendengar ucapan Leona, lantas berdiri cepat mendekat kepada si pemilik hati. Ups.
Ia bahkan berdiri lama disamping wanita itu hingga suasana semakin canggung. Tatapan mereka terkunci. Ini gila. Lebih tepatnya, Antariksa yang gila.
“Iya. Aku ke dapur sekarang.”
Anta berjalan dengan kaki telan-jang menuju dapur. Jantungnya yang masih berdegup kencang itu membuat telapak tangannya berkeringat dingin. Ia meraih piring dari rak kemudian mengambil dua centong nasi, kemudian menuju panci sayur sup yang dimana tepat disebelahnya, ada daging goreng buatan Leona yang terhidang di atas piring kecil dan ditutupi tudung saji.
“Mau nambah tempe goreng, tidak?” tanya Leona membuat Antariksa terjingkat kaget.
“En-nggak. Nggak usah. Nanti ngerepotin kamu.”
“Duduk aja sebentar. Biar aku buatin tempe goreng. Sekalian angetin dagingnya.” Leona tau betul, Antariksa kurang suka dengan makanan dingin. Ia lebih suka yang masih hangat dan baru di masak.
“Maaf, menu seadanya.” seru Leona meminta maaf, merasa tidak enak.
“Ngga apa-apa. Ini aja udah cukup kok.”
Leona kembali menjauhi Antariksa hendak mengambil piring. Perutnya juga lapar, dia butuh makan. Sedangkan Antariksa masih betah menatap Leona yang terlihat cantik keibuan dengan daster hitam bunga-bunga yang melekat di tubuhnya.
Keduanya duduk saling berhadapan, menikmati makanan sederhana buatan Leona tanpa suara.
Setelah lebih kurang lima belas menitan lewat, Antariksa sudah selesai dengan makan malamnya. Dia hendak membawa piring ke westafel cuci piring, namun Leona melarangnya. Ia memilih kembali duduk dan menatap lekat Leona yang masih menyuapkan nasi yang tinggal sekali lagi, kedalam mulut.
“Kamu pulangnya malem-malem gini?”
Leona mengangguk ragu. “Nggak setiap hari, sih. Cuma kalau ada proyek aja. Dan kebetulan akhir-akhir ini lagi rame. Jadinya pulang malem terus.” terang Leona tak mau menutupi. Dia juga tidak ingin terus mengibarkan bendera perang untuk antariksa. Mau bagaimanapun, pria ini adalah ayah dari anaknya. Tapi, kalau misal Antariksa memintanya untuk kembali, tentu akan sulit. Atau ... mungkin Leona tidak akan mau.
Leona kembali mengatur nafasnya, menata degup jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak sedikit berat dan melambat saat mengingat masa lalunya secara tidak sengaja.
“Kerjaan kamu, gimana?” tanya Leona balik.
“Ya seperti yang kamu tau. Masih sama kayak dulu, Na.”
Leona mengangguk. Mantan suaminya ini orang yang teguh dan pekerja keras, serta konsisten.
__ADS_1
“Lunar nakal ngga ke kamu?”
“Engga. Dia nurut kok sama aku. Dia juga tau waktu, kapan harus bermain, dan kapan harus belajar.” terang Anta jujur dengan apa yang ia lihat hari ini. “Dia anak yang baik, Na. Terima kasih sudah mendidik Lunar hingga menjadi anak yang baik seperti itu.”
Pujian itu berhasil membuat Leona menahan nafas. Rasa hangat di hatinya mendadak naik ke wajah hingga kembali menimbulkan rona.
“Itu udah kewajibanku sebagai orang tua, Ta. Aku ingin dia menjadi orang yang berguna dan sukses kalau udah besar nanti.”
Antariksa mengangguk paham. “Kamu wanita hebat, Na.”
Leona tersenyum dengan wajah terangkat menatap Antariksa. “Makasih pujiannya.”
Antariksa ikut tersenyum, lalu mengetuk-ngetuk meja sebagai pengalihan rasa gugupnya. Oke. Mungkin ini waktunya.
“Boleh aku ngomong sesuatu ke kamu, Na?”
“Eummm. Silahkan.”
Antariksa menggigit bibirnya sejenak. Kemudian kembali membuka suara. “Maaf selama ini udah buat kamu besarin Lunar sendirian.”
“Ngga masalah.”
“Makasih udah jadi ibu yang baik buat Lunar.”
Leona mengangguk. Pujian klise yang seharusnya tidak membuatnya berbunga-bunga. Tapi ini? Mengapa Leona justru ingin pingsan saat mendengarnya?
“Na,”
Panggilan itu ...
Leona menatap sayu pada sosok Anta yang menatapnya intens. Nafas yang semula ingin cepat-cepat berembus, harus tertahan kuat saat permukaan kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Antariksa yang kini meraihnya dalam genggaman seraya berkata,
“Maaf jika aku mengatakan ini. Mungkin kamu juga ngga akan mau mendengar apalagi memikirkannya terlalu jauh. Tapi aku ingin menebus semua kesalahanku si masa lalu, Na.”
Leona hampir menarik telapak tangannya yang sudah berhasil di genggam antariksa. Namun pria itu memperkuat rematan, menahan Leona agar tidak pergi darinya.
“Aku ingin mengatakan ini, sekali lagi untuk kamu. Aku akan menunggu jawabannya sampai kamu siap memberikannya.”
Leona tertegun. Mimik wajahnya berubah datar.
“Can I love you?” []
...To be continue...
...🌼🌺🌺...
__ADS_1