Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.14


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Pagi-pagi buta, surat pengunduran diri Leona telah ada dimeja Antariksa. Senyuman terbit di bibirnya karena telah berhasil membuat wanita itu menyerah. Ia kini lebih bisa mengorganisir diri dan fokus untuk mendekati Leona kembali.


“Selamat pagi, pak. Surat pengunduran diri dari Amanda, ada di di atas meja bapak.” kata pak Wahyu memberitahu saat menyambut kedatangan Antariksa. Padahal, Antariksa juga sudah melihatnya sendiri.


“Ah, akan saya tanda tangani nanti.”


“Lalu, kriteria seperti apa yang bapak mau, untuk sekretaris baru bapak setelah ini?”


Antariksa sedikit berfikir. Tentu saja dia harus mencari orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Tidak mungkin dia harus mendikte atau mengajari sekretaris baru.


“Yang terpenting, bukan fresh graduate. Saya tidak suka.”


Pak Wahyu mengangguk paham. Ia akan memberitahu staff HRD untuk memposting lowongan pekerjaan dengan kriteria yang sudah dijelaskan singkat oleh sang atasan.


“Ah, pak Wahyu. Tolong jangan di buka dulu lowongan pekerjaan nya, saya ada satu kandidat yang memenuhi kriteria saya.”


Pak Wahyu mengangguk paham sekali lagi. “Baik, pak.”


***


Dua cup cream caramel frappuccino, dan satu cup candy cane frappuccino di tenteng Anta saat berkunjung kerumah Leona. Tidak lupa dua kardus martabak telur dan dua kardus martabak manis menjadi pelengkap kunjungan Antariksa malam ini.


Ini hari sabtu, malam minggu. Anta ingin menghabiskan sisa malam ini dengan bermain bersama Lunar.


Antariksa tersenyum senang saat melihat Lunar menunggunya diluar. Gadis kecilnya itu duduk di teras rumah dengan baju princess berwarna cream yang membuatnya terlihat anggun, cantik, dan menggemaskan dalam satu waktu.


Ya, Antariksa punya janji akan mengajak Lunar jalan-jalan ke taman kota. Bersama Leona juga.


“Bunda, paman Anta datang.” teriaknya kencang sambil berjingkrak menunjuk-nunjuk arah Antriksa datang. “Yey, paman Antariksa datang.” lanjutnya sambil bertepuk tangan bahagia.


Bagi Lunar, bertemu Antariksa itu menyenangkan, karena apa yang dia inginkan pasti akan terpenuhi. Sedangkan berkebalikan dengan sang ibu, hal itu justru membuat Leona kadang-kadang protes tidak terima. Bagi Leona, Anta terlalu memanjakan Lunar. Dia tau, Antariksa ingin menebus kesalahan, tapi tidak dengan cara demikian. Memanjakan Lunar, sama saja membuat satu catatan baru dalam perekonomian Leona yang selama ini, memiliki prinsip hidup hemat dan sederhana.


“Hai, sayang. Aduh, cantik sekali princess nya paman.” puji Anta jujur. Ia kagum akan kecantikan putrinya ini. Satu pelukan mendarat di bahu Antariksa yang sekarang sedang berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka.


“Princess nya paman?”

__ADS_1


Leona mendumal di dalam ruang tamu. Ada sedikit rasa tidak terima saat antariksa mengakui Lunar. Apalagi alasannya kalau bukan tentang masa lalu.


“Lho, bunda mana?” tanya Antariksa penasaran sembari mencoba mencari keberadaan Leona yang belum menampakkan diri, dari dalam rumah.


“Ada diruang tamu.” jawab Lunar lugu dengan manik berbinar-binar.


“Oh, kalau begitu, masuk dulu yuk. Paman bawa minuman dan makanan buat Lunar dan bunda Leona.”


Lunar mengangguk. Ia lantas menggandeng satu lengan Antariksa yang penuh dengan barang bawaan. Malam ini, gigi Antariksa seperti mengering karena tidak berhenti tersenyum dan tertawa bahagia atas diterimanya dia di—


Ups?! Apa Antariksa lupa jika Leona telah memberinya kesempatan?


Oh ya, sepertinya belum ditulis dalam narasi ya?


Baiklah. Sebenarnya, setelah mempertimbangkan banyak hal dan membolak-balik hati, Leona memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Antariksa untuk kembali hadir di antara dia dan Lunar. Ia berusaha keras mengalihkan masa lalu yang mendera siksa dalam batinnya itu, untuk kebahagiaan sang putri. Lunar terlihat menaruh simpati dan sayang kepada Antariksa, maka tidak ada alasan lain lagi untuk memisahkan keduanya. Lunar berhak bahagia.


“Bunda, paman Antariksa bawa banyak makanan dan minuman buat Lunar.”


Leona menoleh. Tatapan matanya dan Antariksa bertemu. Satu senyuman menawan berhasil merayu bibir Leona untuk ikut tersenyum. Namun jangan salah, keduanya amat sangat canggung. Macam remaja baru pacaran.


Anggap saja demikian. Leona dan Antariksa, baru saja menjalin kasih. Karena dulu, mereka tidak merasakannya saat memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan.


“Hai, Na.” sapa Anta, lalu meletakkan seluruh benda yang ia bawa itu, diatas meja ruang tamu.


“Kasih ke Bu Lastri.”


Leona merona karena malu. Dia lupa kalau sebenarnya, Antariksa juga peduli dengan keluarga Bu Lastri. Pria itu bilang, Bu Lastri juga sangat berjasa karena membantu Leona dalam mengasuh dan menjaga Lunar saat perempuan kesayangannya itu mencari nafkah.


“Ah, ya.” sahutnya tak mau banyak bicara.


“Ah. Untuk Lunar, papa ..” sorot tajam Leona terlihat sinis. “Maksudnya, paman bawakan ini.” kata Antariksa setelah berhasil memperbaharui panggilannya untuk Lunar. Ia menyodorkan cup minuman yang berbeda. Minuman itu khusus untuk anak-anak.


“Eung? Minuman apa ini? Lunar tidak pernah minum ini?” tanyanya lucu sembari membolak-balik kanan-kiri cup berisi minuman berlogo wanita berambut panjang dengan mahkota bintang diatas kepala, berwarna hijau itu.


“Eumm, itu paman beli khusus buat Lunar. Tidak ada kopinya, tapi itu seperti permen lho,” terang Antariksa agar Lunar paham. Dan tanpa membuang waktu, bibir mungil itu menyesap pelan pipet yang sudah dipasangkan oleh Antariksa.


“Waah, enak paman.”


Mendapat pujian atas pilihannya, Antariksa merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia berdehem yang berhasil menarik perhatian Leona, lalu meraih puncak kepala si kecil dan mengusapnya lembut penuh perhatian.


“Habiskan dulu, setelah itu kita berangkat jalan-jalan.”


Leona menyahut sinis, “Nanti ngompol. Jangan diminum sekaligus, Lun.” protesnya ketus.

__ADS_1


“Ini buat bunda.” goda Antariksa senyum-senyum, menyodorkan satu cup lainnya kepada Leona. Tak bisa menolak, Leona menerima cup yang sudah siap diminum itu lalu menyesapnya.


“Makasih.” kata Leona pelan. Lalu presensi Lunar yang tiba-tiba berdiri menarik perhatian keduanya.


“Ah, Lunar juga mau ajak Cia jalan-jalan.”


Antariksa mengerutkan kening, sedangkan Leona langsung memberikan penjelasan singkat untuk rasa penasaran Antariksa. “Bonekanya.”


“Boneka barbie yang waktu itu?”


Leona mengangguk, Antariksa tertawa kecil. “Ya Tuhan. Lucu sekali.”


Bersama dengan itu, Lunar muncul dengan tawa riangnya sambil menggendong si ‘Cia’, boneka kesayangan yang selalu menjadi teman tidurnya.


“Yuk ah paman, kita berangkat. Cia bilang sudah tidak sabar ingin jalan-jalan naik mobil bagus.”


Astaga, Leona ingin sekali menepuk jidad akan keantusiasan Lunar yang terkesan ... norak.


“Benarkah? Baiklah kalau begitu. Let's go ... ”


Antariksa bangkit, meraih pergelangan tangan Lunar, lantas berjalan keluar rumah.


Mata Leona terpaku pada keduanya. Hatinya begitu hangat melihat dua presensi yang tertawa gembira di hadapannya. Sumpah demi semesta, Antariksa dan Lunar terasa seperti menjadi satu poros kebahagiaan baru dalam hatinya. Pertanyaan klise terbesit sekali lagi, mengapa tidak sejak dulu saja seperti ini?


Leona tersenyum dengan mata berkabut dalam tunduk. Sebesar itu arti kebersamaan mereka berdua dalam hidup Leona, yang secara sengaja sejak dulu selalu ia sangkal.


Lalu, wajah Leona kembali tegar saat menatap lurus punggung lebar dalam balutan kaos putih santai yang dikenakan Antariksa. Hingga tanpa disangka, Antariksa menoleh dengan ucapan tanpa suara. “Terima kasih. I Love You.”


Seketika itu, wajah Leona semakin merona. Kedua pipinya merah bak tomat matang. Lantas, ia turut bangkit dan menyusul.l dengan jantung berdebar tak menentu.


Perasaan itu, tidak bertepuk sebelah tangan. Perasaan itu berbalas.


Jika Antariksa bertanya, Can I Love You?


Maka jawaban Leona adalah, Yes, I can. []


...To be continue...


...🌼🌺🌺...


###


Next?

__ADS_1


__ADS_2