Can I Love You?

Can I Love You?
Extra Part


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Kembali dari Bali, Antariksa dan Leona disambut pemandangan menyenangkan, dimana Lunar kini sudah berada dirumah yang seharusnya gadis kecil itu ia tempati sejak dulu.


Antariksa meminta tolong kepada sang mama dan papa untuk membawa Lunar pulang kerumahnya. Dan ya, sekarang semua mimpinya telah sempurna. Anak dan istri telah kembali kedalam pelukannya. Dia tidak akan lagi kesepian seorang diri dirumah. Akan ada yang menyambutnya ketika pulang, akan ada yang mengajaknya bermain dan bercanda saat lelah dan penat dari dunia kerja. Anta akan bersungguh-sungguh menjaga semua berkah yang dilimpahkan padanya saat ini hingga seterusnya nanti.


“Bunda.” seru Lunar saat melihat ayah dan bundanya memasuki rumah. Sudah seminggu tidak bertemu, Lunar sangat merindukan keduanya. “Kenapa lama sekali, bunda perginya?”


Leona tersenyum hangat, menyisihkan poni si kecil ke samping, lantas mengecup kening Lunar yang lembab. “Maaf ya sayang—”


“Bulan depan, Lunar bakalan punya adik.” celetuk Antariksa, memposisikan tingginya dengan tinggi Lunar.


Pernyataan Antariksa justru mendapat tanggapan yang cukup serius dari Leona. Pasalnya, disitu bukan hanya mereka berdua. Ada mama dan papa Antariksa yang juga menyambut mereka. Alhasil, sebuah tepukan mendarat di salah satu lengan Antariksa karena Leona merasa malu. Bisa-bisanya Antariksa berkata blak-blakan begitu didepan orang tuanya, tanpa rasa malu pula.


“Nah, benerkan? Kok aku malah di pukul sih?!” celetuknya merasa tak berdosa. Sumpah demi Patrick yang berkumis, Leona malu setengah mati atas tingkah pria itu.


“Malu dong, itu ada mama sama papa kamu—”


“Mereka sudah khatam Na. Nggak perlu malu.”


Mendengar jawaban itu, Leona semakin terbelalak. Ia tidak bisa lagi berkata apapun dan hanya diam sambil menahan malu dengan cengiran kuda saat tidak sengaja beradu tatap dengan dua mertuanya.


“Aduh maaf, ma. Apa Lunar membuat mama dan papa kesulitan saat kami tinggal pergi?” tanya Leona mencoba mengalihkan topik. Jalan ninjanya adalah mencari pembahasan baru agar Antariksa tidak membuka semua yang sudah mereka lakukan di Bali. Termasuk urusan ranjang yang tidak mengenal waktu, yang mereka lakukan atas permintaan Antariksa. Ya, bisa dibilang Anta ketagihan servis Leona yang ternyata membuat libidonya selalu naik parah saat melihat wanitanya itu.


“Enggak kok. Dia nurut, mama papa nggak kesulitan ngurus dia. Bahkan, dia bisa bangun pagi dan menyiapkan perlengkapan sekolah nya sendiri. Cucu nenek memang pintar.” puji mama Antariksa pada Lunar, lantas memeluk dan mengecup pipi chubby Lunar yang menggemaskan.


“Syukurlah kalau begitu, mam.”


“Sudah, mandi dulu sana gih. Udah mau malem.”


Leona mengangguk setuju lantas meminta izin kepada Lunar untuk meninggalkan dia sejenak untuk membersihkan diri. Setelah itu, Leona berencana membuat makan malam untuk keluarga kecilnya dan juga dua mertuanya.


“Nanti, mama papa makan malam disini saja. Biar Leona yang masak.”


Mama Antariksa tersenyum. Ia merasa bodoh karena pernah membuang menantu baik seperti Leona.


“Iya sayang. Kalau boleh, mama pingin nginep semalam lagi disini. Masih pingin sama Lunar.”


Antariksa mengembuskan nafas lega. Ia juga membusungkan dada saat tau mamanya yang keras kepala itu, akhirnya termakan pesona seorang Lunar. Mungkin Inilah yang disebut dengan ‘The Power Of Cucu Kesayangan’, jadinya tidak mau berpisah dan ingin selalu bersama.


“Nah, sekarang mama tau kan, betapa cantiknya anak Anta. Jadi kesemsem sendiri kan sekarang?”


Lagi-lagi Leona menepuk lengan Antariksa. Pria ini bicaranya terlalu jujur, akhirnya malah terdengar nyebelin.

__ADS_1


“Ngomong apasih?”


“Udah lah. Biar mama ngaku kalau antariksa itu hebat bisa bikin anak secantik dan sepintar Lunar.”


“Kepedean. Dulu aja di buang. Sekarang diaku-akui.” celetuk Leona tidak kalah pedas.


“Nanti, kalau udah tumbuh lagi tuh yang di dalem perut, cowok deh. Biar kita tau setampan apa persilangan kita.”


“Hush! Nggak boleh ngomong gitu, Ta. Kita harus nerima. Dikasih cewek ataupun cowok sama aja. Yang penting sehat dan selamat.”


***


Dua bulan berlalu, Antariksa begitu bahagia bersama anak dan istrinya. Ia bahkan membawa satu foto yang dipajang dalam frame, untuk diletakkan di meja kerjanya di kantor. Alasannya simpel, jika dia kangen pada dua-duanya, tinggal menatap foto tersebut sambil mengobrol ringan, sendirian seperti orang gila.


“Kenapa mereka berdua cantik banget ya?” gumam Antariksa, menatap foto dalam bingkai di atas meja kerjanya saat penat oleh pekerjaan yang seakan tidak ada habisnya. Senyuman muncul saat jari telunjuknya menyentuh gambar wajah Lunar.


Lalu ponselnya berdenting singkat, tanda pesan masuk yang ternyata datang dari Leona.


📷


Sebuah pesan gambar foto sesuatu yang berhasil membuat mata Antariksa terpaku pada layar ponselnya. Lalu, bibirnya menganga tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Testpack dengan dua garis yang sudah ia tunggu-tunggu sejak sebulanan ini.


Lengannya terulur untuk menutup mulut, lantas senyuman bahagia bercampur bangga dan rasa tidak percaya, membaur menjadi satu.


Pagi tadi, Leona memang izin tidak masuk bekerja karena merasa kurang enak badan. Antariksa sendiri sudah meminta Leona untuk stay dirumah dan fokus pada keluarga, tapi wanita itu menolak ide Antariksa dan ingin tetap bekerja. Uang gajinya akan ia simpan untuk biaya tidak terduga atau nanti, jika Lunar sudah dewasa.


Satu pesan lagi, mampir ke kotak masuk pesan miliknya.


Antariksa berdiri, lalu melakukan selebrasi kecil atas keberhasilannya membuat Leona mengandung anaknya sekali lagi.


“Harus pulang. Aku jadi kangen Leona.” ungkapnya gembira sambil membereskan beberapa peralatan yang tergeletak bebas di atas meja. Ia lalu menyambar tas kerjanya bersiap izin pulang pada asisten pribadinya.


Dan sesampainya di rumah, ia memeluk Leona yang sedang sibuk di dapur, mengupas buah. Tiba-tiba liurnya ingin menetes ketika melihat buah apel di lemari pendingin tadi.


“Astaga.” pekiknya saat tiba-tiba dipeluk antariksa dari belakang. “Kamu kenapa pulang cepet? Mau di masakin buat makan siang?” tawar Leona setelah melihat antariksa sudah mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian santai rumahan yang tidak membuat kadar ketampanan pria itu berkurang.


“Kangen sama kamu, sayang.”


Leona tetap santai meskipun Antariksa sudah menciumi leher belakangnya. Ini kesempatan, mumpung Lunar belum pulang sekolah. Masih ada dua sampai tiga jam lagi sampai Lunar benar-benar sampai dirumah.


“Nggak profesional ih. Gimana kalau pegawai kamu tau kalau bos nya bucin istri begini?” canda Leona, mengambil satu lagi apel dari dalam kantong plastik, lalu mengupasnya untuk Antariksa.


“Ya udah. Biarin aja mereka tau, biar di jadikan contoh sekalian buat bapak-bapak ke istrinya.”


Leona tersenyum mendengar keras kepala Antariksa yang justru membuatnya ingin mengecup bibir pria itu. Kalau dulu, Antariksa akan bersikap dingin dan tidak peduli padanya jika Leona sedang ingin bermanis-manis. Tapi sekarang tidak lagi seperti itu. Antariksa yang sekarang terkesan sangat berlebihan dalam hal mencintainya. Pria itu bucin total.


“Lunar pasti seneng kalau kita kasih tau bakalan punya adik.”


Leona mengangguk setuju. “Tapi dia juga bakalan ngambek karena nunggunya lama.” sahut Leona menyambung kalimat Antariksa hingga tidak kuasa menahan tawa ketika membayangkan bibir cemberut gadis kesayangannya itu.

__ADS_1


Antariksa melepas pelukan, lalu membalik tubuh Leona untuk berhadapan dengannya. Perhatian kecil yang selalu antariksa berikan kepada Leona adalah, menyelipkan anakan rambut Leona di balik telinga. Ia suka sekali melakukan hal itu. Jika ditanya kenapa? Jawaban yang akan diberikan Antariksa adalah, dia suka sekali dengan pemandangan wajah cantik Leona saat menatapnya, menarik perhatian wanitanya itu untuk melamatkan tatapan sayang adalah menyelipkan anakan rambut di balik telinga.


“Terima kasih untuk hadiah berharganya ya, sayang.”


Leona tersenyum, lalu menyodorkan sepotong sedang buah apel ke bibir Antariksa. Pria yang akan menjadi ayah untuk anak keduanya itu melahap buah apel tanpa memutus kontak matanya pada sang istri.


“Sayangi kami, cuma itu yang aku harapkan dari kamu, Ta.”


“Kok Anta sih? Panggil sayang kek? Ayah kek? Atau Daddy seperti yang pernah aku kasih tunjuk ke kamu waktu di bali.”


Leona terkikik geli. Rajukan Antariksa terdengar ambigu.


“Iya, maaf papa nya anak-anak.”


Antariksa tersenyum lebar, lantas mengecup bibir Leona yang sejak tadi menggodanya.


“Papa mau jenguk adek sebentar yuk. Mumpung kakak Lunar belum pulang.”


Astaga, Leona hampir lupa jika suami bucinnya ini juga suka sekali memanfaatkan kesempatan saat Lunar tidak ada dirumah atau sedang tertidur pulas di malam hari.


Leona mendengus pelan, tapi tidak juga memberikan penolakan. Ia membiarkan buah apel yang sudah ia kupas itu diatas meja dapur, lantas melingkarkan kedua lengannya di leher kekar sang suami.


“Jangan terlalu bersemangat ya? Kata dokternya boleh melakukan hubungan suami istri, tapi tidak boleh terlalu sering, dan harus berhati-hati karena usia kandungannya masih muda banget.”


Antariksa menarik rapat tubuh Leona, lalu mengecup lagi bibirnya. “Siap. Tidak akan kelewat batas kok. Asal kamu jangan de-sah, soalnya aku nggak tahan kalau kamu de-sah kayak biasanya itu.”


Oke. Deal. Leona tidak akan melakukan itu agar Antariksa tidak beringas dan membahayakan janin didalam perutnya.


“Oke. Jawab Leona sepakat.


“Deal.”


Dan tidak membuang waktu lebih lama lagi, Antariksa membawa Leona ke kamar guna melaksanakan kewajiban yang sudah mendapatkan kesepakatan.


Tapi, apa kalian percaya jika Antariksa tidak bru-tal? Untuk urusan itu, hanya Leona yang tau. Ini rahasia. Jadi, tidak akan dipublish secara terbuka. []


...—FIN—...


...🌼🌺🌼...


Kisi-kisi:


—Anak mereka cowok


—Kembar. Yang satu sedikit bandel, yang satunya kalem


—Dua-duanya ganteng seperti bapaknya


—Mereka hidup bahagia.

__ADS_1


Tamat.


Semoga suka, dan sampai jumpa di cerita baru Vi's ya teman-teman pembaca sekalian ... 🥰


__ADS_2