
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Lunar berlari seperti kelinci saat mendengar pintu rumahnya di ketuk. Leona belum datang, sedangkan dia sendiri sedang menerima suapan makan dari bu Lastri yang entah ke berapa hari ini. Lunar suka sekali makan. Dalam sehari, dia bisa makan hingga empat sampai lima kali. Dia tipikal anak yang tidak rewel dan pemilik soal makanan. Yang terpenting, makanan yang ia makan itu buatan Leona, Lunar pasti lahap dan sesekali minta nambah.
Pintu terayun terbuka, dan sebuah boneka Barbie yang pernah ia inginkan hari itu, kini berada tepat didepan matanya.
Bu Lastri yang menyusul, ikut tersenyum saat melihat senyum lebar dan tulis di bibir Antariksa.
“Eh om Antariksa, bundanya Lunar belum pulang.” sapa bu Lastri sambil membawa piring berisi nasi dengan kuah sup yang didominasi oleh wortel dan sayuran lainnya, tak terkecuali brokoli. Leona selalu menerapkan kepada sang putri agar suka memakan sayuran-sayuran, karena menyehatkan.
Antariksa berdiri dari posisinya, lantas menjawab. “Tidak apa-apa kok, Bu. Saya juga sudah memberitahu dan meminta izin padanya tadi lewat telepon, jika saya datang kesini untuk bertemu Lunar.”
Mendengar itu, Lastri tidak lagi perlu waspada atau terlalu was-was karena Leona sendiri yang sudah memberikan izin. Antariksa menyodorkan ponselnya, bertujuan untuk menunjukkan isi pesannya bersama Leona yang terjadi saat jam makan siang tadi.
“Dia kasih saya izin, tapi tidak memperbolehkan saya membawa Lunar keluar rumah.”
Antariksa tidak keberatan. Ia justru senang Leona memperbolehkannya datang kerumah tempat tinggal si mantan istri yang masih membuat jantungnya berdebar itu. Jadi, dia bisa bermain bersama Lunar, dan bertemu Leona. Ibarat pepatah, Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
“Lun,” panggil bu Lastri pada si gembil yang sedang duduk di kursi ruang tamu sambil memperhatikan lekat sosok Antariksa. “Aaaa...”
Lunar menurut. Ia membuka mulut lebar dan menerima suapan dari bu Lastri. Melihat pemandangan seperti itu, hati Anta terenyuh. Mengapa tidak dari dulu dia melihat pemandangan menyenangkan seperti ini? Ah, apa boleh dirinya yang menyuapi si kecil? Apa putri cantiknya itu mau ia suapi?
__ADS_1
Mendadak, rona merah di wajahnya muncul. Ia berjalan mendekat ke arah bu Lastri lalu berkata, “B-bolehkah saya menyuapi Lunar?” tanya Anta dengan gerakan kikuk, menunjuk piring dan Lunar secara bergantian.
Bu Lastri hampir meloloskan suara pekikan sangking kagetnya. Namun melihat wajah merah dan gerakan kikuk Antariksa, bu Lastri ikut tersenyum tak kalah kikuk. Lalu ia duduk di dekat Lunar. “Lun, Mbah mau pulang sebentar lihat nasi sudah masak apa belum. Lunar makan sama Om Anta sebentar ya?”
Tidak merengek atau menolak, Lunar memberikan satu anggukan yang membuat sudut bibir Antariksa berkedut membentuk senyum dengan manik buram berair. Ia tidak menyangka begini rasanya menjadi seorang ayah. Jantungnya berdebar seperti jatuh cinta. Ada pula satu perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Dia hanya ingin menghela nafas menahan tangisnya sendiri. Anta juga tidak pernah menyangka jika dia bisa sedekat ini dengan anaknya, darah daging yang sudah ia abaikan selama bertahun-tahun.
“Mbah cepat balik ya? Lunar takut sama paman ini.” tunjuknya dengan jari-jari kecil yang begitu menggemaskan dimata Antariksa.
“Lho kenapa?” tanya bu Lastri agak terkejut dengan respon dan kalimat yang diutarakan oleh Lunar. Dengan sedikit perasaan tidak enak, bu Lastri menyambung. “Paman Anta orangnya baik tuh.”
Lunar menatap sosok Antariksa, lantas tanpa memutus pandangan, Lunar mengangguk pelan.
“Sebentar aja kok. Habis pindahin nasi ke termos nasi, Mbah balik lagi ke sini.” jelasnya agar Luna tidak merasa takut akan kepergiannya. Bu Lastri juga harus berjualan hari ini, untuk itu ia juga merangkap pekerjaan sambil menjaga Lunar.
Ngomong-ngomong soal panggilan ‘Mbah’ yang di sebutkan oleh Lunar, Leona memang membiasakan anak perempuannya itu untuk memanggil Bu Lastri dengan sebutan ‘Mbah’ agar lebih erat rasa kekeluargaan yang terjalin antara mereka.
Ia meraih piring dari meja, dan menyendok isian nasi untuk di suapkan kepada Lunar.
“Ah, hampir lupa. Ayah ... ” mata mereka kembali bertemu. Antariksa semakin gugup bak remaja sedang kasmaran. “Maksud saya ... paman hampir lupa kalau paman bawa boneka untuk Lunar.” katanya, kembali meletakkan piring dia atas meja, dan mengambil sebuah box berisi mainan Barbie yang harganya di luar akal sehat yang sudah ia beli tadi, dengan kondisi tangan gemetar setengah mati saat lengannya terulur memberikan boneka.
Lalu, dengan gerakan ragu lengan pendek Lunar terulur menerima. Akan tetapi, ia tarik kembali yang membuat Anta mau tidak mau membujuknya.
“Tidak apa-apa. Ambil saja. Ini buat Lunar kok.” katanya sembari mengulurkan semakin dekat ke arah depan Lunar berada. “Ini. Lunar boleh ambil kok.”
Menatap pria asing di depannya, Lunar kembali mengulurkan tangan lantas meraih box dari tangan Antariksa.
Berbeda dengan Lunar yang terlihat takut-takut, Antariksa malam terkikik geli karena tidak bisa menahan rasa gemasnya kepada gadis kecil berpipi chubby seperti ibunya itu. Dengan gerakan cekatan bak roket luncur, Antariksa berhasil mendaratkan sesendok nasi kedalam mulut Lunar. Hatinya menghangat melihat Lunar menerima suapan darinya tanpa penolakan.
__ADS_1
“Sekarang, Lunar boleh buka bonekanya. Nanti, selesai makan Lunar boleh main.”
Sebuah anggukan menjadi jawaban atas ucapan Antariksa.
“Paman tidak bekerja seperti bunda?” tanya Lunar tiba-tiba. Antariksa mengerjap cepat lantas menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
“Paman sudah pulang.” jawab Anta singkat.
“Kenapa bunda kerjanya lama sekali? Kenapa paman kerjanya cuma sebentar? Padahal, Lunar ingin main yang lama sama bunda.”
“Memangnya, bundanya Lunar pulang nya malam?” tanya Antariksa mendetail agar kalimatnya di mengerti oleh sang lawan bicara.
“He'em. Kadang Lunar sampai tertidur nunggu bunda pulang.” rajuknya dengan bibir mengerucut tajam yang justru terlihat semakin menggemaskan.
Sekarang Antariksa tau dengan jelas, sekeras apa perjuangan Leona demi anak mereka. Meskipun ia juga sudah tau seperti apa Leona dulu, saat masih bersamanya.
“Lunar bosan kalau main sama mbah. Kadang mbah juga sibuk sama orang yang beli nasi bungkus di warung.”
Dengan menahan sesaknya yang semakin menyakitkan, Antariksa menjawab. “Lunar suka tidak bermain sama paman?”
Tidak ada jawaban, tapi mata mereka terkunci hingga pupil bening tanpa dosa mengerjap pelan yang membuat hati Anta terasa ngilu, luar biasa sakit. “Kalau Lunar suka, paman bisa datang kesini setiap hari untuk menemani Lunar bermain sampai bunda pulang.” []
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
###
__ADS_1
Beda dong cara deketin anak sama ibunya. Kalau anaknya, mode pasrah kasih boneka atau apalah, agar jatuh cinta. Tapi kalau emaknya, beuh ... harus gahar mode gentle on agar klepek-klepek. Eh, tapi ... Leona kan nggak mau di deketi? Gimana ini enaknya? 😁😜