
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Tidak ada suguhan diatas meja. Lunar juga sudah pergi mengarungi alam mimpi di kediaman bu Lastri, saat Antariksa menolak pulang dan masih ingin bicara panjang lebar dengan mantan istrinya. Kali ini keinginannya bulat. Dia ingin kembali membangun apa yang pernah runtuh diantara keduanya.
Namun, penolakan masih saja tak kunjung lenyap dari bibir Leona. Perempuan itu masih tidak bisa memaafkan apa yang pernah dilakukan oleh pria yang sekarang duduk berhadapan dengannya di ruang tamu. Tatapan mereka bersirobok, seakan bertanya satu sama lain tentang perasaan masing-masing yang dulu, tidak pernah hadir.
“Aku tulus, Na.”
Leona tersenyum kaku, lidahnya kelu. “Kenapa baru sekarang? Kemana saja kamu selama ini, Ta?” sindir Leona meragukan ketulusan ucapan Antariksa. “Aku tidak akan semarah ini jika dulu kamu hanya membuangku.”
Antariksa tertunduk lesu. “Ya, aku menyesal untuk hal itu. Tapi aku ingin menebusnya sekarang. Aku ingin membuat Lunar dan dirimu bahagi—”
“Ck! Omong kosong!”
“Aku tidak bicara omong kosong.” tandas Antariksa keras kepala. “Aku mencoba terus memantaumu setelah kita berpisah. Tapi semua ku hentikan saat kamu menitipkan Lunar di desa. Aku tidak ingin mengganggu ketenangan ayah dan ibumu. Untuk itu aku berhenti.”
Leona menatap tidak percaya. Apa pria ini sedang membual? Pandai sekali? Lalu untuk apa dia dipantau? Gila!
Antariksa menopang sikunya di lutut, lalu memijat perpotongan hidungnya karena mulai putus asa meluluhkan keras kepala seorang Leona. Dulu, dia tidak peduli jika wanita ini membencinya, atau bahkan menghilang dari hidupnya. Tapi sekarang? Semua seperti berbalik. Bak karma menerpa, Antariksa sedikitpun tidak ingin kehilangan wanita ini. Antariksa ingin, Leona yang membahagiakan hidupnya, bukan orang lain.
“Oke. Kamu mau aku ngapain supaya kamu percaya kalau aku tulus, nggak cuma ngomong kosong ke kamu?!” tutur Antariksa yang sudah menyerah. Ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan, karena jujur, otaknya tidak bisa lagi mencari cara untuk meruntuhkan hati Leona.
Leona menatap semakin tajam Perutnya yang belum terisi apapun mulai terasa mual. Perih di ulu hati juga semakin mencengkeram. Asam lambungnya seperti hendak kambuh. Ia mengidap gangguan lambung sejak sering lupa makan karena sangat sibuk bekerja. Tak peduli dengan kesehatannya, Leona memilih bekerja sekeras mungkin untuk mengumpulkan banyak uang demi memenuhi kebutuhan orang yang ia kasihi.
__ADS_1
Telapaknya meraba perutnya yang seperti diremas. Wajahnya memucat perlahan dengan keringat membanjiri kening. Hal itu sukses membuat Antariksa mengerutkan kening. Ia cukup bingung melihat apa yang terjadi kepada Leona.
“Kamu kenapa?” tanya Antariksa bergerak mendekat. Tanpa permisi dia meraih kening Leona untuk mengecek suhu tubuh Leona yang ternyata normal. Hanya saja keadaannya terlihat buruk dan tidak baik-baik saja. “Kamu kenapa, Na?” tanya Antariksa lagi, memastikan. “Na, jangan bikin aku takut. Kamu kenapa?”
Leona menahan nafas. Dia memicing dengan bibir digigit kuat. Leona menahan mati-matian agar tidak terlihat lemah di depan Antariksa, tapi .... pandangannya tiba-tiba gelap total. Ia tidak tau lagi apa yang terjadi padanya selain melihat langit-langit putih di sebuah ruangan beraroma disinfektan yang kuat ketika membuka mata. Lalu rasa nyeri begitu nyata di pergelangan tangannya yang entah sejak kapan sudah terpasang jarum infus.
Mual datang kembali dan perih di perutnya belum sepenuhnya menghilang. Leona bergerak hendak bangkit. Namun ia kembali dikejutkan oleh Antariksa yang turut bangkit dan menolongnya.
Merasa tidak suka, Leona mencoba menolak pertolongan yang diberikan Antariksa dengan cara menampik tangan pria itu hingga terlepas dari permukaan kulitnya.
“Dimana Lunar?”
Nama itulah yang muncul pertama kali ketika dia membuka mata.
“Dia bersama tetangga kamu. Dia tidur nyenyak saat aku bawa kamu kesini.” jawab Antariksa apa adanya.
Tatapan mereka bertemu, dan dengan cepat Leona membuang wajahnya ke arah lain agar tidak mendapat perhatian lebih dari Antariksa. Namun, suara Antariksa berhasil menginterupsi kembali.
Leona diam. Dia melirik jam yang terlihat dari cela gorden yang tertiup kipas dari pendingin ruangan IGD. Sudah hampir tengah malam. Sudah berapa lama dia pingsan? Ah, sudah hampir lima jam rupanya.
“Kamu pulang saja. Aku nggak apa-apa.” tutur Leona melunak. Dia tidak sejahat Antariksa yang tega menelantarkannya dulu. Melihat Antariksa menemaninya sampai larut begini, membuatnya merasa berhutang budi, dan dia tidak suka akan hal itu karena, Antariksa bisa saja menjadikan semuanya sebagai senjata untuk melemahkan pendiriannya.
“Kalau kamu boleh pulang, aku juga pulang.”
“Tolong, jangan seperti ini, Ta. Nggak seharusnya kamu—”
“Sssshhh ... sudah. Istirahat! Jangan cerewet!” titahnya sembari memperbaiki letak bantal di balik punggung Leona, kemudian menarik mundur satu sisi bahu Leona agar kembali berbaring. Sedangkan Leona tidak dapat berbuat apapun selain menuruti Antariksa. “Nggak usah mikir apa-apa. Yang penting kamu sembuh dulu, Lunar pasti khawatir kalau tau kamu disini.”
Mendengar nama putrinya, Leona kembali luluh. Ia pun mencoba memejamkan mata agar kembali tertidur, tapi entah mengapa semakin dipaksa, semakin tidak ingin memejam. Alhasil, Leona pun kembali membuka mata dan mendapati Antariksa yang sibuk dengan ponselnya di kursi tunggu yang ada diluar ruangan bersekat gorden hijau pastel itu.
__ADS_1
“Kenapa dia tiba-tiba perhatian seperti ini? Apa benar dia tulus, atau ... hanya ingin merebut Lunar dariku?” bisik hati pada diri sendiri. Leona menjadi bimbang atas keteguhan hatinya. Rasa bersalah karena tidak mampu membuat Lunar hidup layak tiba-tiba saja terbesit di kepalanya. Leona mengusap dadanya yang terasa sakit sebab menahan tangisan. Ia bahkan mengembus dan menarik nafas dengan cukup kasar agar airmatanya tidak jatuh.
Kenangan masa lalu muncul. Ia ingat dengan jelas bagaimana dulu dia hidup bersama Antariksa yang jelas-jelas tidak peduli padanya. Lalu, bagaimana pria itu lebih percaya kepada orang lain dari pada dirinya. Jika seandainya bukan karena perasaan cinta yang tumbuh perlahan, mungkin Leona tidak akan mencoba bertahan. Lantas, tidak akan ada airmata dan hati yang terluka separah ini.
Langit-langit ruangan kembali menjadi tujuannya untuk di tatap. Melihat wajah Antariksa terlalu lama, membuatnya semakin tidak percaya pada dirinya sendiri. Dua perasaan seimbang yang sulit dibedakan, yakni antara cinta dan benci. Tidak ada yang dominan. Hanya kebimbangan.
“Kenapa nggak tidur?”
Suara Anta kembali menarik simpati Leona. Ia memperhatikan pria yang kini mengambil duduk di kursi yang disediakan untuk menjaga pasien. Akan tetapi, Leona memilih diam tak menggubris.
“Lunar tidur nyenyak. Tetangga kamu yang ngasih tau.”
Benar. Antariksa baru saja bertukar pesan dengan anak bu Lastri.
Tadi, sebelum membawa Leona ke rumah sakit, dia sempat meninggalkan kartu namanya kepada putri Bu Lastri agar ada akses untuk saling bertukar informasi. Antariksa juga meminta kepada gadis remaja itu untuk memberitahu tentang Lunar. Dan Anta merasa lega karena anak gadisnya itu terlelap pulas tanpa menangis atau merengek ingin bertemu Leona.
Antariksa menaikkan selimut pada tubuh Leona sebatas dada, kemudian tersenyum hangat. Senyuman yang tidak bahkan sama sekali belum pernah Leona lihat dari seorang Antariksa.
“Tidur saja. Aku akan menjagamu disini.”
Hati dan wajah Leona mendadak hangat. Jantungnya berdegup keras hingga wajahnya memerah. Ia tersipu dengan perhatian yang coba diberikan Antariksa untuknya.
“Makasih.”
Ucapan singkat se-singkat-singkatnya yang didapatkan Antariksa malam ini dari bibir Leona. Meski begitu, Anta merasa senang karena Leona sudah mau memberi tanggapan kalimat-kalimatnya yang ia ucapkan.
“Sama-sama.”[]
...To be continue...
__ADS_1
...🌼🌺🌼...
Ekhm ... 😒