
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Anta mengembuskan nafas besar sembari membanting tubuh kekarnya di atas sofa ruang tamu rumah.
Rumah ya?
Tempat sesepi ini apa bisa disebut rumah? Terkadang, Anta sendiri sangsi. Dulu, saat masih ada Leona disini, tempat ini begitu hidup. Aroma masakan, suara sapaan, aroma parfum vanilla lembut yang terhirup, dan hal-hal lainnya yang bisa membuat seisi rumah tidaklah hampa. Tapi sekarang? Bahkan aroma parfumnya sendiri saja seakan tidak ada artinya untuk Antariksa.
Ah, dia hampir lupa. Ada aroma parfum lain yang sering mampir kesini. Tapi Anta tidak pernah mau peduli untuk itu. Ia sudah membunuh semua rasa yang dulu pernah ia pupuk subur kepada sang pemilik harum bunga mawar tersebut. Yup! Siapa lagi kalau bukan Amanda. Wanita itu masih kerap datang dan mencoba menghasut Antariksa agar menikahinya, dengan berbagai cara.
“Ck.” Anta mendecak saat sadar tentang Amanda. Wanita itu ternyata tidak tau malu.
“Sudahlah.” gumam Anta pada diri sendiri, mencoba mengalihkan apapun yang sedang ia pikirkan tentang Amanda. Ia tidak akan mungkin percaya sekali lagi dengan semua permainan, juga omongan perempuan itu yang sejak awal, memang tidak ingin melihat dirinya dan Leona bersama.
Anta bangkit dari duduk, hendak menuju dapur karena tenggorokannya mendadak kering. Ia butuh segelas air dan makanan agar lambungnya merasa tenang. Dan ya, dia belum makan sejak pagi hingga sekarang, hari sudah hampir berakhir untuk berganti esok.
“Sudah pulang?”
Anta terkejut oleh suara mamanya. Tidak ada pemberitahuan jika sang mama akan berkunjung kesini.
“Mengapa kamu abaikan perusahaan demi wanita itu?”
Antariksa memilih melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil air minum, alih-alih menjawab pertanyaan mama. Menurut Anta, memberitahu mama itu sama saja menabuh genderang perang. Anta tidak ingin berseteru dengan ibunya sendiri hari ini. Dia lapar, butuh makan.
“Jawab mama, Ta. Kamu tiga hari tidak datang ke kantor karena menjaga perempuan itu dirumah sakit kan?”
Anta mengangguk singkat, meneguk air dingin dalam gelasnya hingga tandas, kemudian bersuara. “Ya, mam.”
“Apa kamu sudah gila? Gimana nasib perusahaan—”
“Ada pak Wahyu dan Manda yang ngurus. Mama nggak perlu khawatir masalah kantor.” tandas Antariksa menegaskan jika seharusnya mamanya tidak perlu ikut campur dalam hal ini. Karena semua sudah menjadi keputusan Antariksa, yakni mencoba dekat dengan anak dan mantan istrinya. “Mama juga nggak perlu khawatir kalau aku—”
“Apa kamu lupa, alasan mengapa dulu kalian berpisah?”
Antariksa menoleh kasar. Tatapannya berubah tidak bersahabat.
“Memangnya apa, Ma? Selingkuh? Mama masih percaya itu meskipun Anta sudah berikan bukti jika Leona tidak pernah melakukan itu?” cerocos Anta panjang lebar. Dia tidak peduli jika ibunya akan marah besar atas keputusannya kali ini. “Leona tidak pernah punya hubungan apapun dengan laki-laki lain, mam. itu berita bohong. Dan anak yang dikandung Leona itu, anaknya Anta, mam. Cucu mama.”
“Kamu percaya?”
__ADS_1
“Ya. Anta percaya.” jawab Anta tanpa ragu sedikitpun.
“Apa yang membuat kamu percaya jika anak itu, adalah anakmu?”
Senyuman miring tersungging disudut bibir Antariksa. “Apa perlu Anta menunjukkan semirip apa anak itu dengan Anta, mam?”
Wanita itu diam tak memberi jawaban. Anta berhasil membungkamnya meskipun jawaban yang ia berikan itu, justru membuat gurat amarah di wajah sang ibu terlihat dengan sangat jelas.
“Mama tidak perlu menyalahkan siapapun. Ini keputusan Anta. Anta sendiri yang akan menanggung risikonya nanti jika memang semua ucapan Anta ini salah.”
Lagi-lagi, wanita itu bungkam tak memiliki jawaban untuk putra yang selama ini selalu menuruti apa katanya.
“Dan tolong, mam. Anta mohon kepada mama.” lanjut Anta dengan suara pelan sarat kelembutan. “Tolong jangan ganggu atau berusaha mencari tau tentang Leona dan anak itu. Atau jika tidak, Anta akan benar-benar melepaskan diri dari mama dan papa.”
***
“Bunda, kenapa paman Antariksa ingin berteman dengan Lunar?” tanya si kecil dengan sorot mata polosnya yang begitu menggemaskan. Leona meraih putri kesayangannya itu kedalam pelukan, kemudian mengecup puncak kepala Lunar yang beraroma strawberry.
“Lunar mau berteman dengan paman Antariksa tidak?”
Sebuah gelengan menjadi jawaban. “Kenapa tidak mau?” lanjut Leona mencari jawaban yang sebenarnya sudah bisa ia tebak.
“Paman itu sudah buat bunda bersedih. Lunar tidak mau berteman dengan orang yang membuat bunda sedih.” jawabnya sembari merapatkan pelukan di pinggang sang ibu.
Mendengar itu, hati Leona tidak terlalu terkejut. Ia hanya mampu tersenyum sembari mencoba merenung atas keputusan yang hendak ia ambil. Yakni memberi kesempatan untuk Antariksa dekat dengan Lunar.
Lunar mendongak mencari fitur wajah sang ibu untuk ia pandangi. Leona yang menemukan sorot pupil mata indah sang putri, yang dipenuhi rasa penasaran, akhirnya kembali menyuguhkan senyuman hangat. “Tapi ternyata, paman Antariksa itu orangnya baik.”
“Benarkah?” seru Lunar penasaran yang diangguki oleh Leona. “Jadi, Lunar boleh berteman dengan paman Antariksa?”
Leona senang melihat ada kilatan kebahagiaan di manik mata sang putri ketika menyebut nama sang ayah yang tentu saja, belum di ketahui oleh gadis kecil tersebut.
“Boleh. Tapi ada beberapa syarat yang harus Lunar patuhi.”
“Eung? Apa itu?”
“Lunar tidak boleh nakal saat bersama paman Antariksa. Lunar juga tidak boleh melupakan Bunda kalau sudah berteman dengan paman Antariksa.”
Cukup berat dan konyol persyaratan untuk gadis seusia Lunar. Atau bisa jadi, Lunar tidak mengerti tentang apa yang dimaksud bundanya itu, dan hanya mengangguk sebagai jawaban agar Leona merasa lega.
“Lunar tidak akan nakal. Lunar akan jadi anak baik, dan Lunar tidak akan melupakan bunda.”
Leona mencubit kecil pucuk hidung Lunar, kemudian memeluknya lembut. “Bunda hanya tidak ingin kalau nanti sampai Lunar pergi dari bunda.”
“Lunar tidak akan melakukan itu, bunda.”
__ADS_1
Baiklah. Mungkin jawaban itu sudah cukup untuk meyakinkan hati Leona jika Lunar—putri kecil kesayangannya itu—tidak akan meninggalkan dirinya demi Antariksa.
Lalu, sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin ia pendam dalam-dalam, tiba-tiba saja terungkap karena rasa ingin tau terus menyiksa Leona. Ia ingin tau, bagaimana tanggapan Lunar akan satu hal besar ini.
“Bunda mau tanya sesuatu, boleh?”
Lunar mengangguk hingga poni di keningnya memantul.
“Bagaimana jika ayah Lunar itu, seperti paman Antariksa?”
Lunar memperhatikan wajah Leona cukup lama, lantas membenamkan wajahnya di dada Leona sembari kembali memeluk sang ibu cukup erat.
“Lunar tidak tau.”
Perlahan, Leona mengusap surai hitam selegam malam milik Lunar. Tatapan lurus mengarah ke sebuah foto yang terpajang di dinding, tepat di atas meja belajar Lunar.
Bayangan sebuah kebahagiaan lengkap tiba-tiba menyeruak masuk kedalam ruang hati Leona. Kata-kata berandai mulai muncul satu demi satu.
Andai dulu mereka baik-baik saja,
Andai dulu Antariksa tidak membuangnya dan mengakui Lunar sebagai anaknya,
Andai dulu rasanya tidak sehancur ini,
Mungkin yang terpajang disana bukan hanya gambarnya bersama Lunar, melainkan ada Antariksa yang juga tersenyum disana. Ya, pasti mereka akan sangat bahagia jika semuanya berjalan sesuai keinginan. Hingga tanpa disadari, setetes airmata Leona jatuh. Sekeras apapun dirinya, jika sudah bersangkutan dengan Lunar, ia tidak berkutik. Bahkan airmata tak sanggup ia bendung
Dan untuk pertama kalinya, Leona berkata kepada Lunar,
“Ayah Lunar, adalah orang yang baik. Dia menyayangi bunda meskipun cara penyampaiannya berbeda dengan orang lain.”
“Kalau begitu, apa ayah juga menyayangi Lunar?”
“Tentu, sayang.” jawab Leona sembari meremas kecil menahan pilu dan sesak di dadanya. Semoga saja ucapannya kali ini adalah sebuah do'a yang akan terkabul. “Dia menyayangi Lunar seperti menyayangi bunda.”
“Tapi, kenapa ayah tidak pulang?”
Bak di hantam gada, bibir Leona berubah kaku. Lidahnya seolah tak mau di ajak membual. Tenggorokannya mendadak kering hingga sulit sekali hanya untuk sekedar meneguk saliva. Jawaban apa yang pas untuk dikatakan didepan gadis kecilnya ini? Apa dia harus jujur sekarang?
“Bunda, kenapa ayah tidak pulang?”
Leona menghela nafas sangat besar. Ia merangkul penuh tubuh gembil Lunar, mencoba meyakinkan dirinya yang sedikit ragu, kemudian berkata. “Ayahmu, pasti sebentar lagi akan pulang, sayang.”[]
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
__ADS_1
###
Hayo, beneran jadi nyata nggak ucapan Leona? 😁🌝