
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Amanda terdiam dengan kepala terbakar rasa cemburu. Selama perjalanan pulang diantar oleh Antariksa, Amanda memasang ekspresi kesal dan marah lantaran Leona mendapatkan jam tangan dari kekasihnya itu. Dia tidak menyangka jika Antariksa juga membelikan wanita itu jam tangan yang harganya jauh lebih mahal dari miliknya.
Jalanan malam mulai padat, dan hujan mulai turun. Antariksa tidak berhenti memandang jalanan yang basah kuyup. Ia teringat akan Leona. Bersama siapa wanita itu nanti pulang?
Dan ketika otaknya membawa ingatan tentang Leona, bayangan Joan—mantan kekasih sang istri—lah yang muncul. Ia bisa membayangkan dengan jelas jika Leona tersenyum gembira bersama pria itu dalam satu tempat yang sama. Antariksa meremat bulatan kemudi mobil sebagai pelampiasan rasa sakit hatinya.
Mobil mulai berhenti lagi karena lampu lalu lintas berubah merah.
“Aku nggak habis pikir, ngapain kamu beliin dia jam tangan mahal segala? Kamu bilang kamu nggak bakalan peduli sama dia kan?”
Anta memilih diam. Dia menatap lurus jalan yang masih diguyur hujan, namun sudah berubah menjadi rintik.
“Kamu suka sama dia?”
Antariksa mendecak cukup keras. Ia lelah, ditambah perutnya yang lapar karena menolak ajakan Amanda makan malam di restoran. Dia berharap sesampainya di rumah, Leona sudah membuat sesuatu untuk ia makan.
“Udahlah, nggak perlu dibahas lagi—”
“Harus dibahas dong. Kamu gimana sih?! Aku rela lepasin kamu nikah sama dia karena—”
“Karena ini salah kamu!” bentak Antariksa sudah tidak lagi bisa menahan kekesalannya. Ia terpaksa membeberkan fakta karena Amanda terus dan tidak mau berhenti mancing emosinya. “Kamu yang bikin aku terjebak di situasi ini. Benar bukan? Kamu orangnya.”
Amanda menatap tajam pada Antariksa yang terlihat mengeratkan rahang. “Apa maksudmu?” tanyanya pura-pura tidak mengetahui apapun.
“Kamu yang mencampur obat itu dalam minumanku. Kamu menjebakku, Manda.”
Amanda memejamkan matanya sebentar mendengar kenyataan jika dia sudah tertangkap basah. “Oke. Sorry—”
“Tau apa yang sudah aku lakukan padanya?” kata Anta dengan nada rendah dan dingin. “Aku merenggut hal paling berharga milik Leona, Manda.” lanjut Antariksa penuh penegasan. “Dan jam tangan itu, tidak sebanding dengan kemauannya untuk hidup bersama denganku.”
Amanda mulai gemetar. Trik busuknya tertangkap basah oleh sang kekasih.
“Dan sekarang, aku tanya ke kamu,” suara Antariksa kembali bergaung seantero kabin mobil mahalnya ini. “Jika aku berkata jujur padamu tentang apa yang kulakukan pada Leona malam itu, terlebih jikalau Leona menolak menikah denganku, bagaimana denganmu? Apa kamu mau memiliki suami yang sudah meniduri wanita lain?”
“Tentu saja aku—”
“Tidak. Aku yakin, kamu tidak akan melakukan itu.” sahut Anta lebih tegas dari intonasi sebelumnya. Ia tau siapa Amanda, ia dapat menebak perempuan itu dengan mudah. Meskipun Amanda mencintainya, Anta tau apa yang menjadi tujuan perempuan itu mendekati dirinya. Uang dan kekayaan, tidak jauh dari itu.
“Ta,”
__ADS_1
“Manda. Aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari. Aku sudah mencari bukti bagaimana, apa penyebab, dan siapa dibalik kejadian malam itu. Akan tetapi aku tidak menduga, jika kamu, orang yang selama ini aku cintailah yang memainkan skenario ini.”
“Ta, aku—”
“Cukup. Aku tidak butuh penjelasan dari kamu karena aku sudah tau semuanya.”
Amanda mengepalkan tangannya. Ia meraih paksa kemudi mobil hingga menimbulkan kericuhan di jalan raya. Melihat kenekatan Amanda, Antariksa pun bergegas menepikan mobil, kemudian menatap tajam sosok Amanda yang merupakan pusat kemarahannya saat ini.
“Tidak ada yang boleh miliki kamu selain aku, Ta. Jika kamu tidak memilihku, maka tidak juga untuk perempuan itu.”
Anta tersenyum miring disudut bibir. “Jangan bermimpi.”
Amanda terlanjur malu. Dia bergegas melepas seatbelt yang membebat tubuhnya, kemudian membuka pintu dan keluar dari sana. Jika itu dulu, Antariksa akan menyusul keluar dan memohon maaf serta memintanya kembali masuk ke dalam mobil untuk diantar pulang. Tapi hari ini? Amanda harus menelan kekecewaan karena antariksa acuh, tidak peduli pada aktingnya yang memukau itu.
Anta menurunkan kaca mobil sembari berkata, “Mulai hari ini, hubungan kita berakhir, Amanda.” seru Antariksa memberi kejelasan untuk hubungan mereka selanjutnya. “Besok, kalau kamu masih punya rasa malu, berikan surat pengunduran dirimu di kantor. Ku tunggu.” lalu di lemparnya paperbag berisi tas dan jam tangan yang tadi mereka beli berdua itu, tepat di depan Amanda berdiri. “Dan maaf, aku nggak bisa nganter kamu sampai rumah.”
Sudah benar begini kan? Sudah seharusnya dia juga mengakhiri hubungannya dengan Amanda kan? Dia juga harus sportif seperti Leona. Drama nya minta ampun.
***
Anta sampai dirumah sekitar jam setengah tujuh malam. Lampu rumah masih belum menyala, itu artinya Leona benar-benar belum pulang. Melihat hal ini, ada sedikit rasa khawatir dalam diri Anta kepada Leona. Dia sadar sudah menjadi pribadi brengsek yang tidak bertanggung jawab dengan membiarkan istrinya diluar sana sendirian.
Inisiatif menghubungi muncul begitu saja. Untuk pertama kalinya dia menghubungi seorang wanita. Ya, ini adalah yang pertama kali, karena selama berhubungan dengan Amanda, perempuan itulah yang selalu menghubunginya terlebih dahulu.
Ia mencari nomor telepon Leona di kontak ponselnya. Selanjutnya, dia menghubungi sang istri penuh dengan rasa yang selama ini seharusnya tidak ada dalam hatinya.
“Ada apa, Ta?” tanya Leona santai.
“Kenapa belum pulang?”
“Ini baru keluar kantor mau pulang.” jawab Leona enteng tanpa berfikiran macam-macam. Sedangkan Antariksa, menebak-nebak dengan siapa Leon pulang sekarang.
“Naik taksi?”
Ada sedikit jeda saat hendak memberikan jawaban, yang justru membuat Anta curiga. “Eummn, dianter temen sih kayaknya. Lumayan ada tumpangan.”
Teman?
“Siapa namanya?” tanya Anta dengan nada menginterogasi penuh curiga.
“Harus ya aku jawab? Udah deh, aku matiin dulu. Kamu udah beli makan malem kan?”
Panggilan berakhir begitu saja yang membuat Leona bingung. Suaminya itu memang selalu suka bersikap seenaknya sendiri.
“Suami kamu?”
Leona mengangguk. Dia yang sedang melewati lobby menuju lift bersama Joan merasa tidak enak pada mantan kekasihnya itu. Mereka memang tidak lagi ada hubungan apa-apa, namun Leona masih sungkan jika harus bicara banyak dengan Anta didepan Joan.
__ADS_1
“Mampir makan malam dulu yuk?” tawar Joan santai. Ini sudah waktu jam makan malam, sudah sewajarnya dia menawari Leona makan bersama. Itupun kalau dia bersedia menerima ajakan Joan.
“Lama nggak ya?”
“Takut dimarahi suami?” ledek Joan membuat tawa mereka meledak bersama didalam lift yang membawa mereka menuju basement. Joan sengaja mengajak Leona pulang bersama karena arah rumahnya dan arah rumah Antariksa memang searah. Selain itu, hujan adalah alasan mendasar mengapa ajakan itu tiba-tiba muncul. Ditambah lagi, tadi pagi Joan melihat Leona datang bersama Antariksa. Lalu, apa dirinya harus diam dan pura-pura acuh saat tau Leona membutuhkan bantuannya?
Terlalu percaya diri, sih. Tapi Joan yakin, Antariksa tidak akan menjemput Leona. Dan benar dugaannya bukan? Pria itu tidak datang hanya untuk sekedar menjemput pendamping hidupnya.
Joan menatap lurus dan sendu. Sebenarnya apa yang membuat Leona sampai mengambil keputusan untuk menikahi orang lain yang jelas-jelas tidak mempedulikannya? Sedangkan Joan, selalu ada dan bersedia melakukan apapun dan kapanpun saat Leona butuh.
Tidak. Harusnya Joan tidak boleh memiliki pola pikir seperti itu. Leona sudah menentukan pilihannya, dia pasti akan bahagia meskipun bukan dengan dirinya.
“Boleh deh, ntar sekalian aku beliin Anta makan malam juga.” jawab Leona membuyarkan lamunan Joan.
Mereka akhirnya sepakat untuk pergi ke salah satu kedai makan yang buka hanya di sore hari langganan Joan dan Leona saat masih berpacaran dulu. Selain harganya ekonomis dan tempatnya yang higienis, pemilik kedai bahkan sudah mengenal Joan dan Leona dengan baik. Mereka adalah langganan keduanya dihari sabtu dan minggu.
“Eh mbak Leona. Sudah lama nggak kelihatan, mbak.” sapa pemilik kedai yang usianya mungkin sejawat dengan bapaknya.
“Eh iya, pak. Lagi sibuk soalnya.” kata Leona, tak lupa menyematkan senyuman ramah.
“Nggak sama mas Jo, mbak? Biasanya berdua?”
Pemilik kedai ini tau betul kebiasaan mereka ketika sampai. Dulu—saat mereka masih pacaran—mereka pasti berdiri berdua untuk memesan makanan. Melihat Leona sendiri memesan, jadi terasa aneh Dimata si pemilik kedai.
“Oh ada kok, pak. Kami datang berdua. Cuma dia udah nyari tempat duduk. Takutnya ditempati orang dan nggak dapet meja.” kelakar Leona yang diamini tawa oleh pak Bagus, si pemilik kedai.
“Oalah, saya kira mbak Leona datang sendiri.”
Sialnya, diperdengaran Leona, ucapan pak Bagus lebih terdengar seperti, ‘Oalah, saya kira kalian sudah putus’ seperti itu. Leona tersenyum kaku menilai isi kepalanya sendiri yang terlalu membingungkan.
“Mas Joan itu, kenapa nggak disegerakan saja ya? Nggak takut perempuan secantik mbak Leona ini diambil orang apa?”
Leona tertawa mendengar candaan pak Bagus yang terasa bak palu besar yang dipukulkan padanya.
Dengan senyuman getir, Leona menjawab. “Sebenarnya, saya sudah menikah sebulan yang lalu, pak.” []
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
###
Setelah ini apa lagi hayo? 😁 Bumi gonjang ganjing, atau perang dunia abad ke 20?
Ramaikan komentar, yuk bebs ☺️
Terima kasih
__ADS_1