Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.17


__ADS_3

Double up untuk hari ini,


Happy reading ... ❣️💜♥️💚💛🖤🤎🤍



...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Antariksa berjalan dengan hati berbunga bak taman di musim semi. Bunga warna-warni bermekaran indah yang membuat seulas senyum tak berhenti menghiasi bibirnya. Ia tidak sabar untuk bertemu Lunar dan Leona hari ini karena, moment inilah yang ia tunggu selama bertahun-tahun tanpa bersedia membuka hati sedikitpun untuk orang lain mampir.


Dalam perjalanan hujan, Antariksa tak berhenti melirik sebuah boneka beruang besar yang duduk di jok samping kemudi mobil. Dalam bayangannya, ia melihat Lunar tertawa menyambutnya, lantas memeluk boneka itu lalu memeluk dan memanggilnya ... ayah.


Ya, ayah. Anta tidak sabar mendengarnya.


Disela rasa bahagia itu, panggilan masuk di ponselnya. Nama Leona muncul dan tanpa membuang waktu lebih lama, Antariksa menerima panggilan tersebut dengan Earpods nirkabel di telinganya.


Senyuman mengembang lebih lebar hingga deretan giginya terlihat. “Ya sayang?”


Diseberang sana, wanitanya berdecih. Anta bahkan bisa membayangkan wajah kesal Leona yang membuatnya sontak terkikik geli. “Ada apa bunda?” ralatnya dengan panggilan mesra, melebihi pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara.


“Lunar tanya terus nih. Kamu kapan datangnya?”


“Iya, bentar lagi sampai kok.” jawabnya masih tersenyum. Lantas, satu ide jail muncul di otaknya. “Aduh, yang nggak sabar kepingin ketemu ayah ini, bunda apa Lunar ya?”


“Ta! Aku nggak bercanda.”


Antariksa tertawa lepas. Ini pertama kalinya dia iseng kepada Leona, dan ternyata jawaban Leona membuatnya gemas setengah mati. Ia juga tidak sabar untuk segera menghalalkan wanita itu agar bisa di kecup-kecup tanpa menanggung dosa.


“Iya deh, maaf. Bentar lagi sampai kok.”


“Ya udah. Hati-hati.”


Antariksa mengangguk. “Apa kamu sudah menyiapkan kata-kata untuk menyambutku nanti?” ide jail lainnya muncul. Ternyata menggoda Leona itu sangat menyenangkan. Atau akan terasa lebih menyenangkan kalau Leona ada didepan matanya dengan wajah merona malu.


“Udah. Aku juga udah bilang banyak hal pada dia sejak semalam.”


“Benarkah? Wah, ayah nggak sabar ketemu bunda dan lunar.”


“Ta, geli ih. Panggilnya biasa aja kali!”


Antariksa terbahak. “Iya cantik. I love you.”


Tidak ada jawaban, yang justru membuat Antariksa ingin semakin usil saja. “Lho, mana jawabannya? Katanya sayang sama Antariksa?” celetuknya lagi-lagi memancing suara Leona. Sumpah demi Neptunus, Antariksa ingin sekali cepat-cepat sampai dan melihat ekspresi Leona saat ia goda seperti sekarang ini.


”Siapa bilang sih?! Kamu aja yang ke-ge-eran!”


“Hahahah ... baiklah sayang. Sampai jumpa sebentar lagi. Aku mau fokus nyetir dulu. Bilang ke princess ku, kalau ayah akan sampai dalam sepuluh menit lagi.”


“Eumm.”


“Dadah sayang ... ”


“Ta! Geli tau!!!” seru Leona tidak terima. Suaranya juga terdengar kesal sekali.


“Oke deh, oke. Bye.”

__ADS_1


“Eum, bye.”


***


Tak lama setelah panggilan dari antariksa berakhir, Leona menerima dua buah pesan. Yang pertama adalah pesan gambar sepasang cincin polos berwarna kombinasi putih dan emas. Dan gambar kedua adalah, boneka beruang besar berwarna coklat madu yang lucu dan menggemaskan.


“Bunda, mana ayah? Kenapa lama sekali?”


Leona tersentak dari lamunan akan foto pada ponselnya. “Sebentar lagi datang kok sayang.” jawab Leona lembut sembari mengusap rambut hitam kuncir kuda Lunar, dan meraih pipinya untuk diusap. “Lunar mau dengerin cerita bunda nggak?”


Gadis kecil itu mengangguk, lalu duduk di kursi dan menyalakan televisi. Sebuah kartun kesukaan Lunar muncul pada display televisi sebesar 28 inchi yang ada di dinding ruang tengah.


“Dulu, sebelum Lunar lahir dari perut bunda, bunda pernah bilang sama mbah di desa, kalau Lunar pasti akan bertemu sama ayah.” kata Leona mulai bercerita agar Lunar teralihkan sebentar hingga Antariksa datang.


“Lalu, si Mbah bilang apa?” tanya Lunar penasaran. Gadis kecil itu bahkan sudah tak menggubris acara kartunnya yang sudah selesai, dan beralih ke acara berita singkat yang biasanya disiarkan secara live.


“Mbah bilang, kalau Lunar pasti akan bertemu. Jadi, do'a bunda sekarang dikabulkan Tuhan.”


Lunar tepuk tangan bahagia. “Makasih ya bunda sudah berdo'a baik dan membuat Lunar bertemu dengan ayah sekarang.”


Leona tidak tau harus mengekspresikan kegembiraan putri kesayangannya itu seperti apa dan bagaimana, karena pemandangan antusias di wajah sang putri membuatnya ingin menitihkan air mata. Gadis sekecil Lunar, harus kehilangan kebahagiaan dan kasih sayang dari seorang ayah karena keegoisan orang lain.


“Bunda, ayah orangnya baik kan?”


Leona mendengar sayup-sayup jika berita pertama yang disiarkan live itu sudah hampir selesai.


“Eumm, baik banget. Selain itu, ayah Lunar juga sangat tampan dan sayang sama Lunar.”


“Waaaah ... Lunar akan mencium pipi ayah nanti, karena ayah sayang kepada Lunar.”


Begitulah anak kecil, dia akan bicara apa adanya dari hati.


“Asyik .... ” teriak Lunar girang. Ia turun dari kursi dan melompat-lompat ceria penuh tenaga di atas lantai.


Berita pertama telah selesai, berita kedua sedang di tayangkan. Kali ini siaran langsung dari lokasi penggerebekan sebuah pabrik makanan yang menggunakan borax sebagai pengawet. Gila, apa mereka tidak memikirkan kesehatan orang lain?


Leona mengalihkan tatapannya sebentar ke arah televisi, lalu kembali menatap Lunar yang masih melompat girang.


“Nama ayah Lunar, siapa Bun?” tanya Lunar berlanjut.


Leona terkesiap. Jantungnya tiba-tiba berdentum sedikit berat. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan dan mendengus sedikit kesal. Antariksa belum juga sampai setelah hampir tiga puluh menit panggilan mereka berakhir tadi.


Seharusnya, jika Antariksa berkata sepuluh menit akan sampai, posisi pria itu pasti sudah dekat. Paling tidak, sudah sampai di perempatan ujung yang menjadi penghubung antara jalan utama dengan jalan yang akan menuju rumah Leona berada. Tapi mengapa sampai sekarang tidak ada kabarnya? Benar-benar menguji kesabaran.


“Ck.” decak Leona samar agar tidak terdengar oleh Lunar, lantas ia menatap sekali lagi sang putri yang sedang menunggu jawaban darinya. “Lunar pasti tau nanti. Ini kejutan buat Lunar lho. Masa minta di beritahu?”


Lunar kembali duduk sambil meraih telapak tangan Leona untuk di goyang-goyang. “Ayolah, Bun. kasih tau Lunar siapa nama ayah ... ”


Suara rayuan gadis kecilnya membuat Leona luluh dalam senyuman. Ia memeluk singkat Lunar, lantas melepasnya kembali dan mengusap pipi chubby menggemaskan itu.


Berita kedua telah usai. Ada iklan singkat menjeda sebelum berita berikutnya di tampilkan di layar televisi.


“Lunar ingin tau sekarang atau melihat siapa yang akan datang dan membawa boneka serta memeluk Lunar nanti?” canda Leona yang justru membuat Lunar semakin tidak terima. Tubuh sang putri berguncang ke kanan dan kiri untuk mengungkapkan ketidaksetujuan pada pendapat sang bunda.


Iklan di televisi telah berakhir, gambar wajah pembawa berita kembali muncul.


“Ayo bunda, siapa?”


Leona merona. Ia bersemu saat mengingat nama Antariksa. Hatinya begitu senang dan gelisah dalam waktu bersamaan. Entah mengapa tiba-tiba ia berubah gelisah.

__ADS_1


Pembawa berita itu mulai membaca narasi.


Sebuah kecelakaan terjadi di perempatan kota. Kecelakaan tersebut melibatkan sebuah mobil mewah berwarna hitam dengan sebuah bus dari arah berlawanan hingga merenggut satu nyawa. Diduga, mobil mewah yang dikendarai oleh seorang pengusaha ekspedisi terkenal itu, sedang buru-buru dan mengabaikan rambu lalu lintas.


Dilansir dari tempat kejadian, benar adanya jika Antariksa Graham ...


“Antariksa Graham—”


Nama itu disebut bersamaan oleh Leona dan si pembawa berita.


Mendengar nama itu dari layar kaca, Leona menoleh kasar. Selanjutnya, penampakan dilayar kaca itu membuat nafasnya tertahan.


Disana, dia melihat sebuah mobil ditepi jalan dengan keadaan ringsek bagian depan dan kaca yang pecah tidak bersisa. Lalu, gambar para petugas keamanan dan rumah sakit berlarian cepat menuju satu titik yang menjadi pusat kerumunan orang.


Narasumber juga tak berhenti membaca situasi dengan narasi yang begitu mudah dicerna oleh otak Leona yang sekarang, seperti sedang mati rasa.


Dari gambar yang terlihat disana jualah, Leona melihat boneka beruang besar duduk di kursi kemudi dengan posisi miring beberapa derajat, dan juga ... sebuah kotak perhiasan berwarna biru tua yang masih ada di lokasi yang sama. Sama persis seperti yang ada di dalam foto, yang Antariksa kirim tiga puluh lima menit yang lalu.


Mendadak, senyuman yang sejak tadi terulas di bibir Leona sirna. Jantungnya sulit berdegup, tenggorokannya mengering, matanya berkabut, dan tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.


Dengan sisa kewarasan yang ada dalam dirinya, Leona berlari menuju kamar. Ia bergegas meraih ponselnya dan mencari nomor kontak Antariksa.


Nomor yang anda tuju, sedang berada diluar jangkauan. Silahkan meninggalkan pesan setelah nada sambung berikut ini.


Ini Antariksa. Tinggalkan pesan saja. Aku sedang sibuk.


“Tidak.” bisik Leona pada dirinya sendiri. Lantas ditengah hancurnya diri dan perasaan untuk yang kedua kali, Leona mendengar suara malaikat kecilnya sedang memanggil dengan air muka khawatir.


“Bunda. Kenapa bunda menangis?”


Secepat kilat, Leona meraih Lunar kedalam pelukan. Ia tidak lagi sanggup menahan tangis saat Lunar ada didepan matanya. Wajah gadis kecilnya itu sangat mengingatkannya pada sosok Antariksa yang ternyata, sudah pergi untuk selamanya.


Cepat sekali waktu bergulir. Jika tau seperti ini, Leona tidak ingin hari ini. Leona tidak ingin mempertemukan Lunar dengan Antariksa, jika harus dibayar dengan harga semahal ini.


Amat sangat mahal, karena Antariksa lah, yang harus menebusnya. Leona memejam erat dan tak ingin sedikitpun membukanya. Hatinya hancur berkeping, perasaannya luluh lantak menjadi puing dan tak bersisa.


Ini sangat menyakitkan.


Mengapa dunia seolah belum puas mempermainkannya?


Leona terus memejam dalam pelukan Lunar. Sedangkan si kecil hanya diam tak membalas.


Kacau. Semua kacau balau.


Sesak dan menyiksa. Leona benar-benar tidak ingin membuka mata dan berharap semuanya hanya mimpi.


Ya, semoga saja hanya mimpi.


“Na ... Na ... Buka matamu, Na. Ini aku.”


Lalu, ditengah semua itu, suara seseorang seperti memanggil namannya. Suara yang begitu familiar. Ah, tidak. Lebih tepatnya suara yang amat sangat ia tau siapa pemiliknya. Dan tidak salah lagi, ini suara ... Antariksa. []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


###


Next?

__ADS_1


__ADS_2