Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.11


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Tolong jangan membuat Lunar berandai terlalu jauh, Ta. Aku takut dia kecewa seperti aku yang pernah berharap kamu kembali dan menyebut anak ini, adalah anakmu.


Antariksa membuang nafasnya begitu saja. Paru-parunya seolah selalu penuh dengan udara yang menyesakkan saat mengingat Leona dan Lunar. Namun terlepas dari itu, lelahnya hari ini terbayarkan dengan rasa bahagia menghabiskan akhir pekan bersama anak dan juga mantan istri yang tentu saja sekarang masih berusaha ia renggut kembali hatinya. Soal ditolak, sepertinya Anta sudah mulai kebal. Imun urat malunya terlalu mengakar kuat. Dia tidak akan pernah peduli dan harus tetap berjuang karena, dia benar-benar ingin kembali membangun bidak kecil rumah tangga yang pernah ia musnahkan dengan kebodohannya.


Tatapan kosong pada langit-langit ruang tengah membawanya kembali ke masa itu, masa dimana bukti-bukti perselingkuhan yang di sodorkan oleh Manda kepadanya, yang di terima oleh otaknya begitu saja, berhasil mempermainkan dirinya.


Jika teringat akan hal itu, Antariksa jadi mempertanyakan perasaannya sendiri. Apakah sejak saat itu, dia sudah mencintai Leona? Karena itu, dia cemburu buta dan akhirnya mengambil keputusan bodoh yang tentu saja sekarang ia sesali.


Dipikir jutaan bahkan milyaran kali pun, Anta tetap merasa begitu bodoh karena percaya begitu saja tentang foto tersebut.


“Gue nggak selingkuh sama istri Lo! Gue cuma nggak sengaja ketemu dia di klinik dan gue samperin dia!”


Antariksa ingat, apa yang dikatakan Joan sehari setelah menerima foto itu dari Manda. Ia sengaja menelusuri dan bertemu pria yang diduga selingkuhan istrinya itu secara diam-diam. Tapi lagi-lagi, bodohnya dia yang tidak mempercayai ucapan Joan, melainkan justru memukul rahang pria itu hingga tubuh lawannya ambruk dan jatuh diatas lantai tempat mereka bertemu sesuai janji.


Lalu, Antariksa kembali memutar otaknya hingga kenangan pahit itu terputar sepenuhnya, terbuka kembali dari laci memori yang sebenarnya sudah coba ia hapus dari ingatannya.


Malam itu ...


“Bukankah sudah aku bilang, aku nggak selingkuh sama siapapun, Ta!!” seru Leona, teguh pada pendirian jika dia tidak bermain serong dari Antariksa. Apalagi di tuduh main belakang itu bersama dengan mantan kekasih yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.


“Lo masih mau ngelak?”


“Aku cuma ngomong jujur sama kamu! aku nggak ngelak atau cari pembelaan dan pembenaran atas diri aku sen—”


“Lalu apa!!” sahut Antariksa cepat lengkap dengan nada tinggi yang membumbung seantero rumah. Kekesalannya kepada Leona sudah diluar batas kendalinya. Ia lepas kontrol dan mulai terpancing emosi tingkat tinggi. “Ternyata selain tukang bohong, Lo itu pandai dan jago banget memanipulasi orang lain, ya?” kata Antariksa dengan senyuman miring disudut bibir. Begitu merendahkan harga diri serta martabat seorang wanita bernama Leona. Lalu, kalimat selanjutnya yang terucap begitu kejam dari bibirnya adalah, “Lo jual berapa tubuh Lo sama dia?”


Nafas Leona terhenti sesaat. Matanya terbelalak, dan kedua telapak tangannya yang bergetar, kini mengepal kuat.

__ADS_1


“Jaga ucapan kamu!” lirih Leona penuh kebencian yang ia tahan setengah mati.


“Buat apa gue jaga ucapan kalau Lo, istri gue, nggak bisa jaga diri, huh??”


“Aku sudah bilang sama kamu, kalau aku nggak pernah punya hubungan sama orang lain. Kamu salah sangka—”


“Persetan dengan salah sangka!” teriaknya lebih keras dari sebelumnya. Ia bahkan merogoh saku celananya dengan gerakan serampangan, lalu menekan buru-buru ponselnya, dan tak lama setelah itu melempar ponsel mahalnya hingga tergeletak tepat didepan Leona.


Gambar Leona yang sedang berjalan keluar dari klinik bersama Joan, sedang menuju mobil untuk diantar pulang. Leona ingat betul apa yang terjadi tadi sore.


“Kamu, nuduh aku selingkuh cuma karena foto itu?”


“KAMU MEMANG SELINGKUH! DIA SELINGKUHAN KAMU KAN?” teriaknya lagi seperti orang tidak waras. Nafas Antariksa memburu hingga kedua bahunya ikut bergerak saat dadanya naik turun susah payah mengatur nafas.


“Kamu salah paham, Ta. Aku tidak sengaja bertemu dia—”


“BOHONG!! DASAR JA-LANG SIALAN!!”


Tak kuasa mendengar sebutan keji dari bibir Antariksa, Leona menitihkan air mata. Print copy USG Leona ambil dengan gerakan sangat pelan dan lemah. Ia tidak tau lagi bagaimana cara menjelaskannya kepada Antariksa yang mungkin sedang dibutakan oleh amarah dan rasa cemburunya.


“Sekarang terserah kamu mau percaya atau tidak jika anak ini, adalah anak kamu. Yang perlu kamu tau, aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Anak ini, adalah anak ki—”


“Dia bukan anak gue!” seru Antariksa yang memaksa Leona semakin deras menitihkan butiran airmata.


Hancur sudah hati dan harapan Leona. Satu hal yang sedari tadi membuatnya takut, kini didengarnya dengan lantang. Amat sangat jelas. Telapaknya meremas kuat hasil USG yang memperlihatkan bulatan sebesar biji kacang hijau itu hingga menjadi kumpulan kertas tak bermakna, tidak ada guna. Pupus sudah semua angan bahagia yang ingin di bangun Leona sejak awal.


“Lalu, anak siapa?” tantang Leona. Ia sudah pasrah. Berpisah pun, dia akan terima jika memang antariksa tidak mau mengakui dan menginginkan anak yang sedang di kandungnya itu.


Dengan sorot datar yang mengerikan, Antariksa menjawab pertanyaan dari Leona. “Entahlah. Apa Lo lupa, siapa saja yang udah membayar Lo buat dijadiin teman tidur?”


Leona menyebut nama Tuhan dalam hati. Serendah itukah martabatnya sekarang? Mengapa antariksa sampai hati menyebutnya seperti itu?


Leona melangkahkan kakinya yang sudah lemas untuk mendekati Antariksa. Hingga kini jarak sudah tak lagi ada diantara mereka, Leona menatap tajam sosok Antariksa yang mungkin, mulai detik ini akan ia anggap sebagai orang yang paling ia benci dalam hidupnya.


“Ini anakmu. Aku tidak pernah tidur dengan siapapun selain kamu, orang pertama yang sudah merenggut paksa milikku yang paling berharga dan ku jaga.”

__ADS_1


Lagi-lagi, Antariksa tersenyum sarkas. Ia membuang wajahnya ke arah lain dan menyelipkan kedua telapak tangannya pada saku celana bahan yang ia kenakan. Lantas, ia kembali menatap tajam sosok Leona dengan senyuman yang sudah hilang sepenuhnya. “Ya, gue maksa Lo, karena lo terlihat murahan bagi gue!”


Airmata Leona jatuh semakin deras. Tak ia hiraukan sekacau apa wajahnya saat ini didepan Antariksa. Namun, yang jauh lebih kacau daripada itu, adalah hatinya yang hancur tak bersisa.


“Gue nggak akan merusak wanita yang gue cintai. Dan gue nggak akan melampiaskan bi-ra-hi gue gitu aja sama—”


Sebuah tamparan keras mendarat di rahang kanan Antariksa. Kepalanya menoleh, namun tak ia hiraukan atau berusaha mengusap rasa sakit dan panas yang timbul di tempat yang telah disakiti oleh Leona.


“Brengsek!” bisik Leona dengan hati yang sepenuhnya sudah mati. Antariksa adalah orang yang akan menjadi trauma dalam hidupnya. Ia akan menyimpan rapat-rapat rasa sakit itu sampai mati, itu janjinya pada dirinya sendiri.


“Ya. Gue memang brengsek! Katakan itu lebih keras jika Lo memang punya nyali, Leona—”


“Jangan berani-berani untuk menyebut namaku lagi, brengsek!”


Antariksa tertawa jahat. Tidak ada rasa iba sedikitpun yang didapatkan Leona dari tatapan mata Antariksa.


“Kalau begitu, pergi dari rumah gue. Bawa pergi anak haram itu dari sini.” bisik Antariksa sambil menunjuk perut rata Leona.


Tak sanggup lagi menahan kehancuran yang semakin membuatnya tidak berdaya, Leona menjatuhkan tatapannya pada sandal rumah yang ia kenakan. Ia tersenyum miris, lalu mengusap air mata yang masih belum mau berhenti.


Ia memaksa bibirnya untuk tersenyum saat wajahnya kembali bertemu dengan sorot tajam mata Antariksa. “Terima kasih sudah membuatku hancur seperti ini, Antariksa Graham. Aku harap, kamu tidak menyesal telah membuang ... anak yang seharusnya kamu sayangi ini.”


Antariksa menarik singkat sudut bibirnya dengan ejekan luar biasa merendahkan. “Untuk yang terakhir kalinya ku beritahu. Anak ini, anak yang sedang ada dan tumbuh di rahimku ini, adalah anakmu.” lanjut Leona dengan suara yang sudah tidak lagi bisa terdengar dengan jelas. Pita suaranya sudah lelah menghasilkan kalimat sia-sia. “Jangan kecewa jika suatu saat kamu bertemu dengan dia, kalian adalah orang asing! Camkan itu!” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


Gimana? Sudah marah kah? Sudah dapat emosinya? Sudah kesel sama Antariksa? Atau justru ... gemes sama sikap Leona yang cenderung lemah?


Apapun yang terjadi, cerita ini masih berlanjut man-teman wkwkwk


Jadi, jangan lupa untuk terus mengikuti dan mendukung kelanjutan kisah mereka ya?


See you 💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2