Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×17


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Tolong, jangan buat aku jatuh hati sama kamu.


Anta kepikiran sampai tidak bisa memejamkan mata semalam suntuk. Ia terus menatap punggung Leona yang membelakanginya. Sesekali ingin menyentuh agar ada yang menemaninya terjaga, tapi selalu ia urungkan niatan tersebut lantaran takut disebut pengganggu oleh si singa betina yang sedang terlelap damai di alam mimpi itu.


Akhir-akhir ini, entah mengapa ia selalu uring-uringan jika suatu hal menyangkut tentang Leona. Apalagi setelah tau istri dadakannya itu ternyata masih mencintai mantan kekasihnya. Terasa tidak adil memang, tapi kembali lagi ke point sebelumnya, Anta tidak tau mengapa dia selalu ingin membatasi segala hal yang berhubungan dengan Leona. Posesif, begitu kan istilahnya?


Dan imbasnya hari ini, Anta harus suntuk pun mengantuk di jam kerja kantor karena begadang tanpa alasan yang jelas. Matanya berat terasa ingin tidur, dan konsentrasinya buyar karena ingin segera pulang dan beristirahat. Untungnya tidak ada pertemuan penting yang butuh konsentrasi dan fokus tinggi. Jika tidak, dia akan marah dan mengumpati dirinya sendiri.


Karena sudah tidak kuat menahan kantuk yang mendera, Anta meletakkan kepalanya yang perlahan-lahan mulai pusing itu diatas meja, lalu memejamkan matanya sejenak agar kantuknya hilang. Tapi, seseorang kembali mengetuk pintu ruangannya, dan orang tersebut adalah sekretaris pribadinya, Amanda.


Wanita itu sudah bekerja hampir delapan tahun di kantor milik Anta. Karena wanita itu jugalah, Anta berhasil menjadi orang yang gigih dan sukses seperti sekarang. Dukungan dan perhatian yang diberikan Amanda kepadanya tidak main-main, dan berimbas sangat baik untuknya. Sebab itulah, dia selalu terjerat oleh seorang Amanda yang awalnya dulu, selalu ia salahkan jika ada kekeliruan di schedule yang disusun wanita itu saat masih menjadi intern.


Pintu terkatup kembali, dan Anta dapat mendengar dengan jelas ketukan sepatu Amanda di lantai ruangannya yang sunyi.


“Kamu sakit, sayang?” tanya Amanda lembut, lalu berdiri di sisi kursi kerja Antariksa dan meraba kening pria yang saat ini mencoba tetap menutup matanya. Antariksa benar-benar dikuasai kantuk luar biasa.


“Ada jadwal pentingkah hari ini?”


“Enggak. Kamu kenapa?”


Antariksa diam sebentar, lalu menjawab sekenanya saja. “Ngantuk.”


Mendengar jawaban Anta yang terdengar tidak menyenangkan, pikiran Amanda jadi menerka pada hal spesifik tentang kekasihnya dan wanita yang dinikahi kekasihnya itu.


“Kamu ngapain sama wanita itu hah?”


Antariksa diam. Dia tetap menutup mata dan tidak menanggapi suara tinggi Amanda.


“Ta. Jawab aku, kamu ngapain semalam sama wanita itu?”


Merasa terganggu dengan keposesifan Manda, Anta memaksa matanya untuk kembali terbuka, lalu ia menjawab. “Tidak ada yang terjadi, sayang. Kami nggak ngapa-ngapain.”


Memang, semalam Anta memang tidak melakukan apapun bersama Leona. Hanya begadang tidak jelas sendirian setelah mendengar permintaan dari wanita yang tinggal bersamanya itu.


“Awas kalau sampai kamu melakukan hal-hal aneh sama dia. Inget Ta. Dia itu—”

__ADS_1


“Sayang, tolong tinggalin ruangan ku sebentar saja. Aku capek pingin istirahat.” potong Anta semakin membuat Amanda kesal. Anta bahkan acuh saat Amanda menghentakkan kakinya di lantai sebagai pelampiasan rasa kesalnya.


“Kamu ngusir aku?”


“Aku cuma capek. Pingin istirahat. Nanti kalau aku udah mendingan, kamu kesini lagi.”


Egois memang. Tapi Amanda tidak ingin kehilangan Antariksa yang merupakan kekasih yang ia cintai, sekaligus ladang uang yang ia miliki.


“Oke. Tapi, ntar sore anterin aku lihat jam tangan keluaran terbaru Gucci ya?”


Antariksa mengangguk. Ia tidak peduli jika nanti sore dia harus kehilangan puluhan atau ratusan juta lagi uangnya untuk keperluan tidak penting perempuan itu. Yang ia butuhkan saat ini hanya tidur. Bukan suara apalagi sikap manja Amanda. Memang, punya kekasih manja itu terkadang ... menyebalkan.


***


Setelah kurang lebih satu setengah jam tertidur tanpa gangguan apapun, Antariksa terbangun kala ponsel diatas meja kerjanya bergetar. Seseorang melakukan panggilan beberapa kali, dan baru sekarang Anta mendengarnya. Tidurnya terlalu nyenyak.


“Eumm ada apa?” tanya Anta santai tanpa peduli suaranya yang serak.


“Aku ada meeting sampai jam enam. Kamu beli aja ya buat makan malam.”


Makan malam tanpa masakan Leona? Oh jelas tidak bisa.


“Nggak mau.” Rajuk Anta seperti bocah yang roman-romannya minta dirayu dengan sebungkus icecream.


“Lo resign aja dari sana. Biar nanti gue tambah uang bulanannya. Dua kali lipat gaji Lo di sono.”


“Gila! Nggak. Jangan egois deh! Intinya, ntar aku pulang telat, nggak bisa masak buat makan malam. Kamu makan diluar aja. Bye.”


Panggilan berakhir secara sepihak dan membuat Anta semakin uring-uringan. Ponsel mahalnya itu ia lempar ke atas meja dengan tensi yang cukup kasar. Meeting atau lembur, berarti Leona akan bersama Joan lebih lama.


Jam kerja masih ada setengah jam lagi. Anta berdiri meninggalkan meja kerjanya untuk ke kamar mandi. Dia ingin datang ke kantor Leona bekerja, menjemput istrinya itu agar pulang bersamanya karena tadi pagi Leona memang berangkat bersamanya.


Tapi semua rencana tersebut terancam gagal tatkala Anta melihat kehadiran Amanda yang sedang duduk di sofa tamu dengan senyuman menggoda padanya saat ia keluar dari toilet.


“Ada sesuatu yang harus aku periksa atau tanda tangani?” tanyanya pada Manda sambil berjalan menuju meja kerjanya, lalu memakai kembali jas abu-abu dan memakainya.


“Enggak. Nungguin kamu. Kan tadi kamu bilang mau nemeni aku jalan-jalan ke Gucci store?”


Anta memasukkan dompet yang ia ambil dari laci meja, lantas memasukkan ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan.


Dari pada bosan sendirian dirumah? Anta pikir tidak ada salahnya pergi sebentar menemani Manda jalan.


“Mau beli apa lagi?” tanya Anta enteng. Uang bukan menjadi masalah jika Amanda ingin meminta sesuatu darinya. Tapi masalahnya, dia tidak berhenti kepikiran Leona yang tidak bisa pulang tepat waktu bersamanya.

__ADS_1


Amanda melompat turun dengan wajah full senyum, lalu memeluk Antariksa dari belakang. “Ada jam tangan terbaru yang launching malam ini. Aku pingin punya juga.”


Anta menoleh ke sisi kanan bahunya. Puncak kepala Amanda tertangkap ekor matanya hingga membuatnya menghela nafas diam-diam. Leona, tidak pernah menuntut apapun darinya, itu betul. Justru perempuan itu yang selalu ia tuntut untuk menjadi seperti yang ia mau. Memikirkan itu, Antariksa jadi merasa bersalah.


“Baiklah, ayo kesana.”


Antariksa pun menepati janjinya kepada Manda untuk menemani perempuan itu hunting jam tangan terbaru dari merk kelas dunia itu. Anta juga berkata jika dia yang akan membayarnya.


Bosan duduk menunggu Amanda berkeliling store untuk melihat-lihat, Anta memutuskan untuk ikut berdiri dan berjalan menuju tempat dimana berbagai jenis jam tangan cantik di pajang. Tatapannya jatuh pada satu jam tangan yang membuatnya jatuh hati, yang pasti cocok di gunakan oleh ... Leona.


“Ada yang bisa saya bantu, kakak?” sapa salah satu pramuniaga toko berwajah cantik.


Antariksa diam dan terus memperhatikan jam tersebut hingga akhirnya dia berkata, “Saya mau yang ini.”


Pramuniaga itu sampai terkejut. Pasalnya tadi perempuan yang datang bersama pria ini sudah menjatuhkan satu pilihan, tapi pria ini membeli satu lagi dengan harga yang tak kalah mahalnya. Hanya bisa membatin, mbak-mbak pramuniaga itu hanya bisa melayani.


“Baik, kak.” jawab perempuan itu lantas mengambil wadah dari jam tangan tersebut, membungkusnya, kemudian membawanya ke meja kasir, dimana disana juga sudah ada Amanda yang mendekat dan membawa satu buah Sling bag keluaran terbaru.


“Sayang, aku mau ini juga.” rayunya dengan suara manja yang dibuat-buat. Ia bahkan memeluk mesra satu lengan kekar milik Antariksa yang terbalut kemeja putih.


Antariksa mengangguk. Lalu mengeluarkan kartu hitamnya sebagai alat bayar. Jangan kaget mendengar nominal yang disebut mbak kasir, karena memang segitulah rata-rata harga yang dipilih Amanda saat berbelanja bersama Antariksa.


“Total seluruhnya jadi 745 juta ya kak?!” kata si mbak kasir kepada Anta. Kartu digesek, pembayaran dilakukan tanpa masalah atau rasa dongkol dan berat hati karena uang berkurang segitu banyaknya. Dan sekarang, Anta sedang memasukkan nomor pin untuk melakukan transaksi pembayaran melalui blackcard nya. Sedangkan Amanda, mengerutkan kening. Harusnya jumlah belanjanya tidak sampai sebanyak itu jika hanya tas dan jam tangan miliknya. Dia pun memberanikan diri bertanya.


“Maaf nih, mbak. Mbaknya ndak salah input kan?”


Si kasir mengangkat wajah menatap perempuan cantik yang menjadi customernya hari ini. Dia pun cukup terkejut dan takut salah input, akhirnya dia mengecek kembali barang belanjaan, kemudian kembali memberikan jawaban setelah memeriksa kembali sebanyak dua kali. “Totalnya sudah benar ya kakak. Satu slingbag, dan dua jam tangan ... ”


“Dua jam tangan? Anta membeli satu lagi? Apa untuk dia pakai sendiri? Tumben biasanya pria itu selalu membeli rolex untuk koleksi jam tangannya.” batin Amanda menerka.


“Kamu beli jam tangan buat kamu pakai sendiri?”


“Enggak.”


“Lalu, satunya lagi buat siapa? Buat a—”


“Leona.” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


###

__ADS_1


On the way BUTAL a. k. a. BUcin toTAL 😁😁😁😁😜😜


__ADS_2