
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Kemana Leona harus menjatuhkan pilihan? Keegoisannya? Masa depan Lunar? Atau perasaannya terhadap Antariksa? Benar-benar pilihan yang sulit.
Leona mende-sah berat. Menjadi orang dewasa dengan kisah asmara itu, melelahkan. Apalagi kasusnya seperti yang sedang ia alami. Antariksa itu mantan suami, tapi berharap sekali lagi ingin hidup bersama dan menjalin kasih dengannya. Ia berat menolak, namun juga tidak ingin menerima.
Pertanyaan Antariksa tempo hari, yang menggunakan bahasa asing itu kembali menggaung di telinga Leona.
Can I love you?
Yash, I can!
Seharusnya seperti itu. Tanpa membuang waktu. Tanpa berfikir ini dan itu. Tapi entah mengapa sangat berat di lidah Leona saat ingin memberi tanggapan. Ia masih tidak dapat menerima secepat itu ajakan Antariksa untuk kembali memadu kasih. Bagaimana nanti jika kejadian delapan tahun silam kembali menerpanya, lantas traumatis yang sejak dulu Leona coba lupakan hingga perlahan mulai pudar itu, kembali lagi. Atau bahkan dan mungkin bisa jadi ... semakin menguat?
Di tatapnya sang putri yang sedang sibuk tersenyum pada boneka Barbie pemberian Antariksa sambil mengeluarkan buku pelajaran untuk belajar bersama sang ibu. Lunar begitu menyukainya boneka itu hingga tidurpun, ia bawa. Dan sekarang, boneka cantik yang diberi nama ‘Cia’ oleh si pemilik itu sedang duduk mendampingi tuanya yang sedang belajar.
“Bun,”
“Eumm?” Leona menoleh cepat dari layar komputer lipatnya ke arah Lunar. Ia pikir, putrinya itu sedang mengalami kesulitan menjawab soal dari buku. Tapi tidak, Lunar tidak bertanya tentang hal itu.
“Paman Anta itu baik loh. Tadi, saat main bareng, paman ngasih Lunar hadiah lagi.”
Leona cukup terkejut mendengarnya. Ia bahkan membiarkan jarinya mengapung diatas keyboard, dan lanjut bertanya. “Hadiah? Hadiah apa?”
“Paman antariksa mau ngajak Lunar pergi ke Mall.” katanya antusias. “Tapi, paman menyuruh Lunar agar meminta izin terlebih dahulu kepada bunda.” lanjut Lunar menjeda kegiatan menulisnya demi menunggu jawaban dari sang bunda. “Boleh tidak Lunar ikut paman Anta?”
Rasa takut dalam benak Leona kembali meringkas rasa percaya dirinya. Ketakutan yang menjadi alasannya menjauhi Anta selama ini, semakin mencuat ke permukaan.
Ditatapnya mata bening nan bulat milik Lunar. Was-was menjadi isi kepalanya, selain rasa takut.
“Bun?”
“Kenapa sayang?” jawab Leona, mencoba mengendalikan diri dan mencari sisa-sisa ketenangan dalam hatinya. Ia pun ragu untuk memberikan jawaban serta izin kepada Lunar untuk pergi bersama Anta.
__ADS_1
“Bolehkan? Lunar janji tidak nakal.”
Memang, pernah suatu hari Leona memperbolehkan Lunar bersama Anta dengan syarat, tidak menjadi anak nakal saat bersama pria itu. Tapi hari ini? Mengapa sulit sekali melepas Lunar?
“Bunda sibuk sayang. Nanti siapa yang temeni kamu? Nggak mungkin paman Anta pergi sama kamu saja.”
“Kalau begitu, bunda ikut Lunar dan paman Anta saja sekalian. Bisa jalan-jalan sama-sama.”
Seharusnya, bisa. Tapi kembali lagi pada ego yang memaksa Leona untuk mengatakan ‘tidak’.
“Ah, bunda lupa. Bunda harus telepon teman bunda sebentar. Kamu tunggu disini, ya?”
Lunar sedikit kecewa dengan Leona. Tapi dia terpaksa mengangguk dan membiarkan ibunya pergi menjauh darinya. Lebih tepatnya, Leona masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya, membiarkan Lunar di ruang tamu untuk beberapa saat agar pembicaraan yang hendak ia lakukan, tidak terdengar oleh gadis kecil itu.
Jemari Leona berkeringat. Telapak tangannya dingin seperti es, dan ada sedikit perasaan enggan untuk melakukan ini. Yakni, menghubungi Anta.
Selama ini, nomor pria itu masih ia simpan rapih namun tidak pernah ia gubris atau lihat lagi setelah mereka resmi berpisah. Leona juga sempat lupa jika masih menyimpan nomor tersebut, tapi hari ini dia harus membuka kontak pria itu lagi untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting, mengenai Lunar.
Dengan telunjuk yang sedikit bergetar tremor, Leona menekan kontak Antariksa. Akan sangat bersyukur jika nomor itu sudah tidak terpakai oleh Antariksa, namun nahas karena harapan tinggallah harapan. Nada hubung terdengar, dan tak butuh sampai tiga nada tersambung, suara Antariksa terdengar dari seberang.
“Ya?” tanya Anta. Leona menebak jika Anta sudah pasti menghapus nomornya dari daftar kontak ponselnya. Tapi ...
Rasa kejut bak terkena sengatan listrik menjadikan tubuh Leona menegang. Pria itu menyebut namanya. Apakah itu artinya, Antariksa masih menyimpan nomor ponsel miliknya?
“Halo?”
Suara sapaan yang kesekian, membawa Leona kembali dalam kesadaran.
“Ta, aku sudah bilang ke kamu, jangan pernah bawa Lunar keluar. Kenapa kamu nekat melanggar itu dengan menawarkan kepada Lunar untuk pergi jalan-jalan?”
Untuk beberapa detik, suara Antariksa tidak terdengar. Lalu suara deru nafas besar pria itu terdengar. “Aku cuma pingin ajak dia—”
“Aku nggak suka, Ta.”
“Kenapa ngga suka?”
“Kalau tau kamu melakukan ini, lebih baik aku tidak memperbolehkan kamu ketemu Lunar sejak awal.”
“Na, dia—”
__ADS_1
“Aku akan bilang sama dia, kalau kamu batalin janji kamu buat ajak dia jalan-jalan—”
“Kita pergi bertiga saja.” sahut Anta membuat Leona diam mematung. Pergi? Bertiga? Seperti potret keluarga bahagia? Astaga, Leona geli sendiri membayangkan itu.
“Tolong, jangan buat aku ngejauhin kamu sama Lunar lagi, Ta.” ancam Leona tidak main-main. Ia benar-benar kehabisan akal untuk menghadapi Antariksa yang sepertinya tidak akan menyerah begitu saja dalam hal ini. “Kalau kamu nekad, aku bakalan pulangin Lunar ke desa agar kamu nggak bisa lagi ganggu kehidupannya.”
“Leona. Aku hanya ingin membahagiakan kalian.” kata Antariksa pada akhirnya. “Aku mengajak Lunar, bukan semata-mata hanya Lunar saja. Aku juga ingin membawamu bersama kami.”
Mendengar kata manis Antariksa, Leona mengepalkan jemarinya cukup erat hingga memutih.
“Kamu dan Lunar adalah bagian penting dalam hidup ku sekarang, Na?!”
Sekarang? Bagaimana dengan dulu?
Saat Antariksa menolak mengakui putrinya itu hingga Leona harus menanggung semuanya seorang diri.
Leona juga ingat betul bagaimana pada akhirnya dia harus mengalah atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan sama sekali. Ia tidak pernah mengkhianati Antariksa atas sebuah perselingkuhan. Dia tidak securang itu.
Ingatan bagaimana Antariksa meneriakinya sebagai seorang wanita ja-lang tukang selingkuh hanya karena sebuah foto yang sekarang, sudah ia ketahui siapa yang memberitahu Antariksa dulu.
Ia juga ingat, bagaimana sulitnya hidup sendirian dengan kondisi mengandung dan tetap bekerja hingga larut malam. Dan ia juga ingat, bagaimana rasanya melahirkan Lunar ke dunia tanpa didampingi oleh seorang suami, oleh ayah dari anaknya, Antariksa.
Mengingat semua itu, kata-kata manis anta berubah sepahit racun yang ingin Leona muntahkan begitu saja. Tidak ada alasan baginya untuk mencoba membuatku semua perasaannya baik-baik saja.
Mata Leona mengerjap. Bibirnya sedikit bergetar saat berkata, “Aku bisa hidup bahagia tanpa kamu, Ta. Aku juga sanggup membahagiakan Lunar tanpa kehadiran kamu. Dan perlu kamu tau, aku tidak pernah menganggap kamu sebagai bagian penting dalam diriku, seperti kamu menganggap kami penting dalam dirimu.”
Kalimat Leona membuat Antariksa kalah telak. Semua adalah kesalahannya. Semua adalah kebodohannya dimasa lalu, yang jelas-jelas tidak akan pernah termaafkan oleh hati kecil seorang wanita bernama Leona.
Sebuah penyesalan menyergap hati Antariksa, menyerangnya tepat di ulu hati hingga semua kata-katanya menghilang tanpa sisa. Tenggorokannya mengering hingga membuatnya kesulitan meneguk salivanya sendiri. Antariksa berubah menjadi orang bodoh dalam sekejap mata. Orang yang berhasil membuatnya seperti ini hanyalah Leona.
“Jadi aku mohon, jangan pernah melanggar apapun yang pernah aku tekankan kepada kamu tentang Lunar, jika kamu tidak ingin Lunar kembali menganggapmu orang asing yang pantas untuk di jauhi.” ucap Leona dengan tendensi suara meninggi penuh ancaman.
Antariksa tetap diam. Ia hanya mampu menunggu kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Leona.
“Maaf jika aku bersikap demikian, Ta.” lanjut Leona dengan nada suara yang sudah kembali rendah. “Aku punya prinsip yang harus ku pegang teguh agar aku ... ” kata-kata Leona terjeda. Matanya berkabut tak mau surut. “ ... agar aku tidak lagi jatuh terpuruk merasakan sakit itu, sendirian.”[]
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
__ADS_1