
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Tidak ada salahnya memperlihatkan sikap tegas kepada seseorang demi sebuah hal yang berharga. Begitu pikir Leona saat tau Antariksa mencoba melanggar apa yang sebelumnya menjadi kesepakatan mereka berdua.
Leona tidak ingin merasakan sakit itu untuk kedua kalinya jika sampai harus kehilangan Lunar, karena gadis kecil bernama Lunar itu adalah kehidupannya, sumber kekuatannya bertahan hingga detik ini. Lunar adalah permata hatinya. Dan Lunar, adalah segalanya untuk Leona. Jadi, dia tidak akan membiarkan siapapun merebut atau menyakiti putri semata wayangnya itu dengan mudah. Jikapun terjadi, Leona tidak akan pernah tinggal diam. Dia akan melakukan apapun untuk membawa Lunar kembali ke dalam pelukannya, termasuk menjauhkan dan melawan dengan tegas atas sikap Antariksa.
Setelah percakapan telepon semalam, Antariksa mengirim pesan kepada Leona, mengajak wanita itu bertemu.
Antariksa sudah duduk hampir satu jam yang lalu di cafe tempatnya meminta Leona datang melalui pesan, semalam. Cafe bertema outdoor menjadi pilihannya agar tidak terlalu menarik perhatian orang lain jika memang harus beradu argumen. Antariksa bahkan sudah menyiapkan beberapa kalimat permintaan maafnya untuk Leona, tentang masalalu yang membuat wanita tersebut terpenjara dalam trauma.
Tak mendapati kehadiran Leona, Antariksa merasa sedikit kecewa dan berniat pergi. Namun belum tegak kedua kaki jenjangnya berdiri, dia melihat siluet wanita yang ia tunggu-tunggu di kejauhan. Leona datang, dan senyuman kecil tercetak di bibirnya.
Antariksa membawa bantalan duduknya kembali menapaki kursi yang terbuat dari kayu, yang sebelumnya ia duduki. Ia membenarkan letak jas dan dasinya, lantas berdehem untuk mengatur suara yang akan keluar dari bibirnya saat bicara dengan Leona. Tidak boleh gagal merayu. Pokoknya harus berhasil. Titik.
Sedangkan Leona sendiri tidak kesulitan menemukan keberadaan Antariksa karena pribadi mantan suaminya ini terlalu mencolok. Wajah, dan penampilannya tidak usang dimakan usia. Meski pria itu kini sudah berkepala empat, tapi ketampanan dan kharisma tidak pernah luntur dari sosoknya.
“Hai,” sapa Anta lemah lembut penuh senyuman. Sedangkan Leona justru sebaliknya. Wanita itu memasang wajah datar cenderung masam karena Antariksa memaksanya untuk bertemu saat suasana hatinya sedang tidak menentu, dalam artian kacau.
Tanpa memberikan jawaban sepata katapun, Leona mengambil duduk berseberangan dengan Antariksa, lantas menatap tajam pria yang pernah menjadi pendamping hidupnya selama beberapa bulan itu.
“Mau pesan minum apa?”
“Langsung saja. Aku tidak punya waktu banyak. Lunar pasti menungguku pulang.” sahut Leona amat sangat ketus. Tidak peduli lagi jika nantinya Antariksa akan sakit hati.
Antariksa tidak mengelak. Ia tau jika Lunar selalu menunggu kedatangan sang ibu. Putri kecilnya itu rindu perhatian ibunya. Alhasil, kepala Antariksa mengangguk patuh.
“Jadi, tolong beri aku kesempatan untuk bersama Lunar sebentar, jika memang kamu tidak ingin ikut—”
“Apa kamu lupa dengan kesepakatan yang sebelumnya sudah kita buat? Kesepakatan yang kamu setujui jika aku memberimu izin bertemu dengan anakku.”
Leona benar-benar tidak ingin menyebut Lunar sebagai ‘anak kita’. Baginya, Lunar hanya miliknya karena Antariksa sudah dianggapnya tidak ikut andil apapun atas kehadiran gadis kecil malang itu.
“Tidak. Aku masih ingat, Na. Tapi—”
__ADS_1
“Kalau kamu maksa, aku nggak akan ngasih kamu ketemu Lunar lagi.”
Antariksa menatap sendu sosok Leona. Sorot matanya melemah dan terlihat putus asa. “Please. Satu kali saja.”
***
Anta bernafas lega, karena rayuannya berhasil. Hari ini weekend, dan dia membawa bukan hanya Lunar di dalam mobilnya. Melainkan Leona juga.
Akhir dari perdebatan alot tempo hari adalah, Leona terpaksa ikut dengan alasan klise yang masih tidak berubah, yakni takut jika Antariksa membawa lari dan menyembunyikan Lunar darinya.
Tidak ada playlist musik yang diputar sepanjang jalan. Hiburan paling meriah yang tidak akan pernah tergantikan euforianya adalah suara antusias Lunar saat berada didalam mobil mahal milik Antariksa.
Maklum, Lunar memang tidak pernah naik mobil mewah harga selangit selama tujuh tahun hidupnya. Ia hanya beberapa kali naik taksi, itupun mobilnya tipikal mobil biasa pada umumnya.
“Nanti, kalau Lunar udah guedeeee ... ” kata Lunar penuh semangat sambil memperagakan dengan kedua lengan membuat bentuk lingkaran besar di udara. Tenaganya masih penuh. Ibarat ponsel, batrenya full 200 persen. “Lunar mau beli mobil seperti ini. Seperti milik paman Anta.” lanjutnya sambil menepuk dashboard yang ada disisi kaki, yang fungsinya untuk meletakkan ponsel dan gelas minuman.
Anta membuat gestur terkejut sembari menoleh sejenak kepada putrinya, senyuman timbul dibibirnya karena Lunar terlalu menggemaskan.
“Lunar boleh ambil mobil paman deh. Gratis.”
“Eh? Benarkah paman?” tanya Lunar tak kalah terkejut dengan mata mendelik lucu. Leona sudah ambil ancang-ancang dengan tatapan mengibarkan peperangan sengit, sedangkan Anta sendiri, tertawa melihat kegemasan kedua orang disampingnya itu.
Leona semakin terbelalak. Bisa-bisanya Antariksa mengatakan gombalan didepan anak kecil.
“Bunda juga pernah bilang kalau Lunar menggemaskan, paman.”
Antariksa terkikik geli dengan keluguan Lunar. Ia bahkan tak segan melirik Leona yang sudah memasang kuda-kuda pencak silat dengan mata membola lebar. “That's true. Bunda kamu nggak salah sama sekali. Kamu memang menggemaskan. Papa juga gem—” kata-kata terhenti seketika saat Anta sadar sudah salah sebut tentang dirinya didepan Leona. “Maksudnya, paman juga gemas sama kamu.”
Lunar hanya meringis, mempertontonkan gigi kelincinya yang putih seraya berkata, “Papa itu sama dengan ayah kan, Bun?” tanya Lunar penasaran. Ia tidak mengerti, seberapa berapinya kepala ibunya sekarang. “Tadi, paman nyebut diri paman papa, kan? Memangnya paman mau jadi ayahnya Lunar?”
Anta meneguk saliva, sedangkan Leona menganga tidak percaya. Mengapa sekarang justru Lunar yang memancing kekesalan Leona? Apa Antariksa dan putrinya itu sudah membuat kesepakatan sebelum mereka bertemu?
“E-ekhmmm! Memangnya, Lunar mau paman jadi ayahnya Lunar?” tanya Anta penuh goda.
“Karena paman baik, jadi Lunar mau. Tapi ... ”
“Lunar?!” tegur Leona tak suka.
Bingo!
__ADS_1
Jackpot!!!
Ini kesempatan!
Antariksa tersenyum hangat penuh arti, lantas berkata, “Lunar coba tanya bunda juga dong, mau tidak bunda kalau paman yang jadi ayahnya Lunar?”
Lawak. Ingin sekali Leona tertawa seperti orang gila, lantas meneriakkan umpatan paling keji di muka bumi, di telinga Antariksa.
Kini, mata Leona bertemu dengan mata Si kecil kesayangan. Gadis kecil itu berbinar penuh harap. Pupil matanya seperti sebuah rayuan yang sulit di hindari dan juga di tolak.
“Bun—”
“Stop!!” seru Leona tidak ingin membahas itu lebih jauh. Menurut Leona, apa yang menjadi pembicaraan mereka, sudah diluar batas. “Tolong jangan bicara macam-macam lebih jauh jika sedang bersama lunar.” lanjut Leona meminta agar Antariksa sadar diri.
“Bunda mau kan?”
Astaga, Lunar ini kenapa sih? Jauh-jauh hari kan sudah diberitahu kalau ayahnya sedang bekerja. Ini kenapa mendadak ngotot minta Anta jadi ayahnya? Oh, pasti dia sedang lupa kan? Leona hanya perlu mengingatkan, begitu bukan?
“Sayang—”
“Jawab aja, Na.” sahut Antariksa enteng tanpa melihat ke arah Leona. Tatapannya lurus pada aspal jalanan, namun ekspresinya begitu teduh penuh kasih. Leona belum pernah melihatnya.
“Sayang, nanti mau main apa?” tanya Leona, mengalihkan topik. Ia tidak ingin membahas dan melampiaskan kekesalan yang timbul pada Antariksa, didepan Lunar. Mereka hanya perlu bicara empat mata untuk membahas permintaan Anta lebih jauh.
“Banyak!” jawab Lunar teralihkan. Bahkan tawa riang sudah menghiasi wajah cantik gadis kecil itu.
“Oke. Nanti coba main pukul buaya sama bunda ya?”
Lunar mengacungkan jempol, dan Leona tersenyum sembari melirik Antariksa yang ternyata sudah terlihat murung, mungkin kecewa akan sikap yang dipilih olehnya.
“Baiklah. Sepertinya bukan sekarang ya? Aku akan nunggu kamu luluh, Na.”
“Jangan berharap banyak, Ta. Nanti kamu kecewa.” cebik Leona, tak ingin memberi harapan palsu.[]
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
Maaf late update, Happy reading ... 💜
__ADS_1