Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.05


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Lunar menyambut kedatangan Leona dengan pelukan dan tangis. Rupa-rupanya gadis kecil itu merindukan sang bunda karena sudah tiga hari Leona tidak pulang demi mendapat perawatan medis dirumah sakit.


Tak menangis seperti Lunar, Leona hanya menepuk lembut punggung putrinya itu sambil tersenyum. Bukan hanya Lunar, dirinya juga sangat merindukan sang putri yang sudah tiga hari tidak ia tengok.


“Bunda kemana saja? Kenapa tidak pulang? Apa bunda nggak sayang Lunar?”


Mendengar itu, Anta sedikit tertegun. Sesayang itu Lunar pada ibunya. Ia pun bisa menebak sedekat apa mereka berdua, tentu saja tanpa dirinya.


“Bunda di rawat pak dokter sayang.”


“Bunda sakit?” celetuknya, langsung melepas pelukannya pada sang ibu karena terkejut. Kedua matanya terbuka lebar dengan wajah berubah khawatir.


“Tapi sekarang sudah sembuh. Makanya pak dokter bolehin bunda pulang.”


Antariksa tersenyum. Sehangat itu interaksi anak dan ibu didepan matanya, yang selama ini ia abaikan.


Bodoh, dia memang bodoh karena membuang keduanya hanya karena informasi tidak jelas yang ia lihat dan dengar. Bahkan, kedua orang tuanya ikut terhasut dan membenci Leona yang baik dan menyayangi mereka seperti orang tua sendiri.


“Lunar sudah makan?” tanya Anta perhatian, namun justru mendapatkan tatapan ketakutan dari si kecil bermata bulat indah yang ingin ia gendong itu.


Mendengar suara Anta, Lunar justru beringsut, bersembunyi di balik punggung Leona karena masih ingat jika pria didepannya ini lah yang membuat ibunya bermuram hati. Lunar tidak ingin mengecewakan ibunya dengan menjalin kedekatan dengan laki-laki yang beberapa hari lalu, meminta kepadanya untuk di panggil dengan sebutan ayah.


Anta bahkan mengingat dengan jelas, apa yang menjadi bahan pembicaraannya bersama Leona saat perjalanan menuju rumah tadi.


“Kalau kamu memang sudah bisa menerima Lunar dan mengakuinya sebagai anakmu, dekati dia pelan-pelan. Aku tidak akan melarangnya sekarang karena kamu ayahnya, dan Lunar berhak mendapatkan kebahagiaan dari seorang ayah.”


“Jangan pernah memaksanya untuk memanggilmu ayah, karena setaunya, ayahnya pergi jauh untuk mencari uang.”

__ADS_1


Antariksa cukup tercenung. Ternyata selama ini, Leona menggunakan alasan seperti itu kah jika putrinya bertanya tentang keberadaannya?


“Dimata Lunar, kamu itu orang asing. Jadi tidak mudah meyakinkan dia secara tiba-tiba. Kamu harus berjuang untuk mendapatkan hati dan perhatiannya.”


Anta mengangguk dalam imaji otaknya. Memang seharusnya ia berjuang dari nol, memulai semuanya agar Lunar percaya jika dirinya adalah sang ayah yang selama ini dia cari.


Mengingat ucapan dalam pembicaraan itu, Antariksa justru merasa lebih di buat patah hati atas perkataan Leona berikutnya. Yakni, “Tapi tidak denganku. Jangan pernah memintaku untuk kembali padamu, memiliki perasaan untuk kamu lagi. Aku tidak bisa melakukan itu.”


Anta mengangkat wajah, lalu menoleh demi mendapatkan wajah Leona yang terlihat cantik meskipun tanpa riasan, dan terlihat sedikit pucat karena sakit. Ingin sekali Antariksa meraih kedua tangan Leona, menggenggamnya, meminta maaf sambil bersimpuh dihadapan perempuan itu karena sudah menjadi pria tidak berguna selama ini.


Membayangkan betapa berat dan sulitnya menjadi tulang punggung dan orang tua tunggal, membuat Antariksa meringis pilu dalam hati. Sesakit itu efek kebodohannya dulu, untuk sekarang.


“Lunar sudah makan? Kenapa tidak menjawab pertanyaan paman Anta?” tanya Bu Lastri yang muncul sembari membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat, dan cemilan di dalam toples.


Yang ditanya hanya menggeleng. Lunar hanya tidak ingin membuat sang bunda kembali kecewa padanya.


Melihat itu, Leona kembali membawa Lunar di hadapannya. Ia tidak lagi seragu sebelumnya karena Antariksa menunjukkan keseriusannya untuk dekat dan menyayangi putrinya, darah dagingnya.


“Coba ulurkan tangan Lunar didepan.” perintah Leona lembut. Lunar sempat mendongak memperhatikan Leona untuk mencari keseriusan dari sang ibu, lalu ketika melihat Leona mengangguk, Lunar tau apa yang harus ia lakukan.


Lengan kecil berkulit putih itu terulur ragu didepan tubuh tegap Antariksa. Pria yang kini sudah berusia kepala empat itu tersenyum hangat, menyambut uluran telapak tangan kecil yang tenggelam sepenuhnya kedalam rengkuhan telapaknya yang besar. Antariksa berjongkok didepan Lunar dengan satu kaki menumpu di lantai. Ditatapnya wajah cantik sang putri dengan senyuman bangga. Anta bahkan bersyukur karena Leona telah membangun pribadi yang baik kepada sang putri yang seharusnya sejak dulu ia sayangi itu.


Leona hampir menyemburkan tawa mendengar suara kaku Antariksa yang sedang beraksi melakukan rayuan pulau kelapa agar di perhatikan oleh Linar. Ah tidak, rayuan pulau kelapa saja tidak sebanding dengan suara manis yang terdengar kagok, dari pria berwajah tampan rupawan itu. Dari sini Leona tau, gen antariksa mendominasi pada diri Lunar. Kecantikan putrinya itu ia dapatkan dari sang ayah.


Tak berbeda jauh dengan Leona, Bu Lastri yang ikut menjadi saksi rayuan Antariksa pun, ikut menahan tawa. Bu Lastri tidak ingin ikut menjatuhkan rasa percaya diri Antariksa dengan menertawai pria tampan itu hingga kaku, tidak. Bu Lastri akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak tertawa atau menyunggingkan senyum di bibirnya.


“Tapi, paman sudah membuat bunda Lunar menangis. Lunar tidak mau berteman dengan paman.” jawab Lunar, pada kenyataannya ingatan tentang ibunya yang menangis setelah bertemu pria didepannya hari itu, masih melekat kuat.


Antariksa mendongak. Ia menatap wajah Leona yang entah sejak kapan jadi bersemu. Leona juga sempat menyelipkan helaian rambutnya di balik telinga, yang semakin membuatnya terlihat cantik di mata Antariksa. Senyuman mengembang begitu saja dalam tundukan kepalanya.


“Paman minta maaf karena sudah membuat bunda Lunar bersedih. Tapi paman janji, mulai hari ini, paman tidak akan melakukannya lagi. Paman akan membuat bunda dan Lunar bahagia.”


Mendengar kalimat tersebut, hati Leona merasa senang dan sesak dalam waktu bersamaan.


“Lunar nggak mau.” kata Lunar, menarik telapak tangannya menjauh. Ia kembali mundur dan bersembunyi di balik kaki jenjang Leona.

__ADS_1


Tatapan Antariksa belum mau berakhir menatap Lunar. Sorot matanya berubah sendu, lantas ia menjatuhkan tangannya dengan senyuman getir. Anta rasa, ini adalah karmanya. Karma untuk dirinya yang sudah membuang Lunar tanpa hati nurani.


“Bener kata kamu, aku harus berjuang.”


Leona hanya menatap lurus dengan sorot datar.


“Aku balik dulu, ya. Kalau ada waktu luang, aku main kesini lagi.” lanjutnya dengan senyuman yang belum luntur dibibirnya. “Lunar, paman pulang dulu ya? Lain kali, main sama paman yuk. Nanti paman bawakan boneka buat lunar.”


Meskipun merasa senang, Lunar tetap berdiri dibelakang kaki Leona. Ia hanya mengangguk ragu.


“Dadah Lunar.” pamit Antariksa pada sang putri. Ia menahan keinginannya untuk memeluk Lunar, dan mengalihkan perhatiannya kepada Leona.


“Aku balik dulu.” pamit Anta pelan tertuju kepada Leona.


Leona mengangguk, Antariksa juga tidak lupa berpamitan kepada Bu Lastri. Setelah itu pergi dari rumah Leona yang diam-diam, sedang memperhatikan mobil Anta yang perlahan menghilang dari pandangan.


Bu Lastri berceletuk, “Kalau memang mau berubah, ya di coba saja dulu, Na. Perhatikan tindak tanduknya.”


Leona terkesiap dan seketika tersenyum. “Saya belum bisa membuka hati saya, Bu. Tapi kalau memang mau membahagiakan Lunar, saya tidak keberatan. Lunar juga berhak bahagia.” jawab Leona lirih sambil membawa tas berisi pakaian bersih yang sudah di laundry oleh Antariksa, kedalam kamar. “Dulu, hati saya di patahkan ketika saya mulai menerima dia dalam hidup saya. Dan sekarang, tiba-tiba dia muncul kembali yang justru, membuat saya takut disakiti lagi seperti dulu.”


Lastri mengangguk paham. Wanita itu tidak mau berpihak pada siapapun. “Ya sudah, kamu istirahat saja dulu. Lunar biar main sama saya. Nanti sore biar nemeni ibu di warung.”


Leona mengangguk setuju. Tidak ada yang perlu di khawatirkan jika Lunar sedang bersama bu Lastri karena wanita itu sudah seperti keluarga bagi Leona. “Terima kasih sudah menjaga Lunar, bu.”


“Iya. Jangan banyak pikiran, fokus biar sembuh dulu.”


Lagi-lagi kepala Leona mengangguk. Dia tidak akan memikirkan apapun, termasuk pekerjaan yang mungkin sudah menunggunya. Kecuali ... Antariksa. Laki-laki itu berhasil membuat Leona kembali merasakan degup jantung yang berisik setelah sewindu berlalu merasa damai. Dalam hati Leona berkata, “Tidak mungkin aku jatuh cinta lagi sama dia, kan?” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


###


Maaf sering telat update. Beberapa hari ini, author sedang berusaha melewati sesi writer's block yang tiba-tiba aja datang, bikin otak kacau balau nggak bisa mikir alur dengan baik, sulit fokus, dan mengalami brain fog. Hal ini sangat menggangu, bikin author nggak bisa mikir jernih dan juga milih diksi ataupun narasi dengan baik. Harap maklumi author ya 😔🙏

__ADS_1


Mohon maaf juga jika bab ini sedikit klise dan kurang greget. Tapi semoga tetap bisa menemani pembaca sekalian untuk hari ini ya ...


Terima kasih untuk yang setia mendukung cerita ini. Sampai jumpa di bab selanjutnya


__ADS_2