
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Warning! Mature content!
Be A Wise.
•
Pemandangan laut seperti yang diharapkan sang pujaan hati, menjadi pilihan Antariksa menentukan tempat untuk mereka berdua. Bentangan alam, debur ombak, aroma laut, menjadi hal yang bersinergi menyapa penglihatan dan pendengaran Antariksa kali ini.
“Akhirnya, semua menjadi nyata.” gumamnya pelan, menatap luasnya samudra didepan mata bersama pelukan posesifnya pada pinggang Leona.
Lalu, Antariksa mengangkat tubuh ramping Leona yang berbalut gaun pengantin itu dalam gendongannya. Kemeja sewarna emerald green yang mirip dengan debur air laut itu menjadi saksi jika keduanya telah resmi menjadi pasangan sah sebuah ikatan.
Tadi, sesampainya di resort mewah yang menghadap laut, yang di pesan oleh Antariksa, Leona kembali memakai gaun pernikahan mereka dulu, saat pernikahan pertama mereka di gelar. Dan hal itu adalah keinginan Antariksa, sang suami.
Cukup konyol, tapi Leona suka sensasinya. Sensasi berdebar seolah mereka menjadi pengantin baru yang membuat jantung berdebar.
Suara tawa keduanya mengiringi suara debur ombak yang mengalun lembut. Lalu, tatapan mereka bertemu, nafas keduanya saling menyapa wajah satu sama lain. Antariksa menurunkan presensi Leona agar berpijak diatas pasir yang sama dengannya.
Lengan Antariksa terulur dan menyelipkan anakan rambut Leona yang terbawa angin ke balik telinga. Senyuman manis wanitanya itu berhasil membuat desiran darahnya menuju satu titik pusat tubuhnya.
Di raupnya lembut bibi merekah sang istri yang tentu saja sudah lama ia rindukan itu, diantara senja yang hendak merenggut hari. Sesapan lembut ia berikan sebagai sapaan agar Leona bersedia menerimanya untuk melakukan sesuatu yang lebih.
Ini adalah hari istimewa yang dikhususkan khusus untuk mereka berdua. Atau lebih sering disebut dengan istilah ... honeymoon.
Decapan mengalun sebagai tanda perpisahan sementara bibir keduanya.
“Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan kedua untuk hadir di hidup kamu, sayang.” bisik Antariksa seduktif. Kening mereka masih bersatu, dan bibir mereka merah karena cumbu.
“Terima kasih juga sudah membuat Lunar bahagia dengan kehadiranmu lagi, Ta.”
Kening Antariksa berkerut. Masa' sudah dipanggil mesra, tidak mendapat balasan mesra juga?
Antariksa mengecup singkat bibir Leona diujung senja. “Nakal ya? Kenapa nggak panggil sayang juga ke aku?”
Leona menepuk keras dada Antariksa hingga berbunyi cukup jelas. “Ingat umur, Ta.”
“Lho, memangnya nggak boleh ya sudah tua mesra-mesra sama istri sendiri?”
Wajah Leona merona seketika. “Ayo, panggil apa mulai sekarang? Aku tunggu deh.”
Leona mengusap dada bidang sang suami. Ia menatap garis wajah sempurna milik sang suami. “Memangnya, kamu mau dipanggil apa?”
“Eummm ... ” Antariksa terlihat berfikir. Ia menatap langit terbuka yang berwarna ke orenan. “Khusus buat kamu, panggil Daddy.”
***
Setelah makan malam ditepi pantai, Antariksa dan Leona kembali ke resort mereka. Jam menunjuk angka sembilan malam.
Tadi, keduanya juga sempat berkeliling di salah satu tempat yang indah tak jauh dari pantai dan resort. Waktu mereka pergunakan sebaik mungkin, hingga Leona mengeluh mengantuk dan memutuskan untuk kembali karena hari juga sudah semakin malam.
__ADS_1
“Aku mandi dulu, ya.” kata Antariksa sambil berjalan menuju sebuah jacuzzi yang menghadap ke laut. Tidak berdampak banyak sih, karena pemandangan sudah tidak terlihat sebab hari sudah malam. Tujuan Antariksa hanya ingin melepas penat dengan berendam sebentar dengan air panas, sebelum kembali membuat penat tubuh kekarnya bersama Leona.
Membayangkan itu, Antariksa tersenyum geli.
Ia masuk ke dalam bak yang sudah terisi air hangat. Merilekskan badan dan kembali keluar dengan tubuh segar.
“Udah, sayang. Kamu mandi gih.”
Tak melakukan penolakan, Leona berjalan menuju kamar mandi dengan sesuatu yang menggantung di lengannya. Sebuah kain yang sangat Antariksa tau, apa fungsinya. Dan, sebelum Leona menghilang di balik pintu kamar mandi, Antariksa berkata dengan suara sedikit keras, “Jangan lama-lama mandinya. Aku udah nggak sabar.”
Ca-bul. Leona mendecak sebal dengan wajah malu dan sepaket dengan rona bak tomat matang.
Di dalam kamar mandi, Leona membersihkan diri dengan kecamuk dan perasaan campur aduk luar biasa karena di luar sana, Antariksa sudah siap menerkamnya.
Tatapannya tertuju pada baju yang tadi ia sampirkan di salah satu gantungan yang tersedia. Kain transparan kurang bahan berwarna hitam, lengkap dengan penyangga dada dan celana berukuran aneh Dimata Leona yang biasanya memakai underwear spek standart ibu-ibu rumah tangga.
“Itu baju atau jala ikan sih?” dumalnya pada selembar kain yang terpampang menantang. “Penemu pakaian itu pasti orang kurang kerjaan.”
Karena menurut Leona, ya ... untuk apa memakai pakaian kalau ujung-ujungnya lekuk tubuhnya terlihat semua dengan kain menembus batas cahaya seperti itu?
Leona menggelengkan kepalanya. “Gila!”
***
Pintu berderit lembut yang membuat Antariksa segera menoleh. Ia sangat tidak sabar dan begitu penasaran akan pakaian yang dikenakan Leona.
Namun, tidak sesuai ekspektasi, Leona justru keluar dari sana dengan jubah handuk berwarna cream di tubuhnya. Antariksa mendengus kecewa. Padahal, ia sudah menanti hampir tiga puluh menit untuk melihat penampilan sang istri dengan pakaian transparan yang ia beli dan berikan sebagai kado tiga hari yang lalu itu.
“Lho, kenapa nggak dipake?” tanya Antariksa sambil berjalan mendekati Leona. Ia bahkan mengekor di belakang Leona yang berjalan menuju meja rias, mengoles produk perawatan kulit wajah sebelum tidur, lantas berakhir diatas ranjang saat wanitanya itu merebah di balik selimut tebal yang menutup hingga sebatas leher.
“Yuk tidur.” kata Leona semakin membuat Antariksa blingsatan. Bagaimana tidak? Rencananya malam ini, dia akan mengadakan ronda sampai pagi. Tapi lawan rondanya ngajak tidur?
“Nggak ah, belum ngantuk.” rajuknya. Ia bergegas bangkit, lalu berjalan menjauhi ranjang dan keluar menuju balkon. Sedangkan Leona, ia tau Antariksa sedang merajuk padanya.
Digigitnya bibir bawah sambil menatap pintu balkon yang sudah tertutup kembali. Sebenarnya, Leona sudah mengenakan pakaian lingerie hitam itu didalam baju handuk yang dikenakan. Ia hanya malu berpenampilan seperti itu didepan antariksa, untuk itu dia membuat alasan agar teralihkan.
Merasa tidak nyaman dengan keadaan, Leona menurunkan selimut dan turun dari ranjang guna menyusul sang suami di balkon. Sekilas, ia melihat Antariksa berdiri menatap bentangan samudra yang gelap. Hanya aroma laut dan deburnya yang terdengar nyata.
Leona membuka pintu itu. Menggesernya hingga membuat Antariksa menoleh. Tatapan mereka bertemu sekilas, tapi buru-buru Antariksa kembali menghindari tatapan Leona.
Dengan ragu, Leona berjalan mendekat, lalu memeluk pinggang sang suami dan menyandarkan kepalanya di punggung kekar sang suami. Tidak ada balasan rengkuhan di tangannya yang semakin menguatkan dugaan Leona jika Anta memang sedang mengangguk.
Leona tersenyum diam-diam. “Aku pakai, kok.”
Seketika itu, Antariksa menoleh dan mendapati puncak kepala Leona di sudut matanya.
“Cuma aku malu sama kamu pakai baju begituan. Aku nggak biasa pakai yang modelan begitu, Ta.”
Antariksa tersenyum dalam hati. Hatinya berdebar saat merasakan benda kenyal dan hangat yang menempel di punggungnya.
“Kenapa mesti malu? Aku kan suami kamu?”
Leona menghapus senyuman di bibirnya saat Antariksa menoleh dan memutar tubuh mereka hingga saling berhadapan. Senyuman terbit dibibir Antariksa saat mendapati wajah cantik sang istri didepan mata.
“Cantik sekali.” Bisiknya lembut sembari menyelipkan rambut Leona yang jatuh didepan wajah. Lalu, ia menelusupkan jari-jarinya di antara surai Leona yang membuat wanita itu memejam guna merasakan sengatan menyenangkan yang hinggap di raganya. “Mau aku gendong ke dalam?” tawar Antariksa. Mata Leona terbuka dan tatapan sayu Antariksa tertangkap indera penglihatan Leona. Begitu menggoda.
Kepala itu mengangguk begitu saja, dan tak menunggu detik berputar lebih lama tubuhnya terangkat ke udara. Antariksa membopongnya menuju kamar, lantas pantulan lembut menyertai tubuh Leona saat ia dibaringkan lembut diatas ranjang. Satu kecupan menyusul di keningnya.
__ADS_1
“Tadi, aku mau ngambek ke kamu. Tapi berhubung kamu bilang udah pake bajunya, nggak jadi deh.”
Leona tersenyum menggoda saat melihat Antariksa yang sedang menggodanya.
“Kayak Lunar kalau nggak di larang makan permen aja.”
Astaga, Antariksa hampir lupa jika sudah punya satu anak yang disana menunggu untuk diberi adik. Ah ya, harus bikin adik malam ini.
Bahunya berguncang karena terkikik geli mendengar Leona membandingkannya dengan Lunar.
“Kalau aku, ngambeknya malah bikin kamu nggak bisa tidur semalaman, Na.”
“Benarkah?” celetuk Leona.
“Mau bukti?” kata Antariksa, lalu mendaratkan satu ciuman panas di bibir Leona.
Leona terkikik saat Antariksa mulai meraba pinggangnya, membuka ikatan bathrob dan membukanya.
Pandangan Antariksa terkunci pada tubuh indah Leona dalam balutan Lingerie seksi yang ia hadiahkan tempo hari. Salivanya terteguk begitu saja saat libidonya naik. Sesuatu juga mulai meronta hingga menyesakkan dibawah sana. Leona sangat indah.
***
Melebeli Leona dengan markah merah adalah tujuannya agar semua tau, mereka saling memiliki. Tak berbeda jauh dengan keadaan Leona yang sudah berantakan, Antariksa pun demikian. Mereka sama berantakannya setelah melewati sesi foreplay sebelum permainan inti dilakukan.
Baju teronggok dilantai, surai kusut acak-acakan, keringat bermunculan, hingga markah di beberapa titik tubuh yang terpampang nyata, membuat keduanya semakin larut dalam gelapnya malam. Justru pemandangan seperti itulah yang membuat keduanya terlihat menarik dan membangkitkan libido.
Ditemani suara debur ombak dan aroma laut, tubuh keduanya menyatu. Tak perlu drama karena sudah sama-sama dewasa. Keduanya tau apa yang harus mereka lakukan. Mereka juga tau tugas masing-masing saat berada diatas ranjang seperti sekarang.
“Sudah lebih baik?”
Itu suara Antariksa yang menanyakan keadaan intim Leona karena wanitanya itu sempat mengeluh sakit, tadi.
“Eung, Sudah.”
Antariksa memulai tugasnya. Kali ini dia bekerja keras berdua bersama Leona. Tidak melakukannya sendirian dan menjadikan Leona sebagai fantasinya lagi ketika didalam kamar mandi seperti yang sudah sering ia lakukan bertahun-tahun setelah berpisah dari istrinya itu.
Peluh, suara lembab kulit bertemu kulit, suara erangan dan de-sahan yang kadang berubah menjadi jeritan manja, suara menyebut nama panggilan satu sama lain, dan bisikan-bisikan cinta menjadi isi malam pengantin mereka hingga surga dunia itu datang untuk di rengkuh bersama.
Tubuh penuh peluh itu terkulai lelah setelah dua pemainan lolos dalam satu waktu. Antariksa tersenyum saat tubuh kekarnya itu jatuh menghimpit Leona yang juga telah pasrah terkulai dibawah kungkungan prianya.
Jemari bergetar Antariksa mengusap kening basah Leona penuh kasih, lalu dikecupnya lembut sembari berkata, “Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu.”
Leona membalas senyuman suaminya itu dengan senyuman terindah yang ia punya. Ia mengangkat lengannya dan menyentuh garis wajah Antariksa yang juga basah oleh peluh. Malam ini, terasa begitu menyenangkan.
“Aku juga mencintaimu.”
...—End—...
...🌼🌺🌼...
###
Ada extra part yang akan author upload nanti setelah naskah rampung di cek ulang.
Jangan lupa untuk memantau juga cerita baru yang akan rilis setelah ini 🤭
Terima kasih banyak untuk pembaca sekalian yang setia menemani perjalanan author Vi's selama berkarya di Novel Toon. Tanpa kalian, author bukan siapa-siapa.
__ADS_1
Vi's ucapkan terima kasih juga untuk seluruh dukungan yang pembaca sekalian berikan kepada karya-karya buatan Vi's ya, semoga kebaikan kalian dibalas dengan rezeki yang berlipat oleh Yang Maha Kuasa. Amin ...
Sekali lagi Vi's ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya untuk kalian semua. Sampai bertemu di karya selanjutnya ya ... 🥰🥰🥰