
Chapter 6
Detik terdengar memekakkan, tak ada yang bisa didengar selain
dentingan jam. Suasana begitu sunyi dan canggung, entah kenapa tak ada yang
memulai pembicaraan. Eldira tak tau apa yang harus diperbuatnya. Jarak mereka
sudah sedekat ini, saat ia menarik tangannya dari genggaman fylian malah
ditarik kembali oleh fylian. Eldira mencoba memikirkan topik pembicaraan tapi
otaknya benar-benar kosong saat ini. “wah..
matanya indah” batin eldira saat mengeksplor wajah fylian saat pandangan
mereka bertemu. Eldira memperjelas wajah fylian yang biasanya ia lihat dari
jarak jauh, ia perlahan menyentuh wajah fylian. Ia meraba setiap inci wajah
tampan yang ada didepannya itu, ia menghentikan aktifitasnya itu setelah
menjelajah di wajah fylian, tapi jari nya masih menyentuh bibir bawah fylian
dan perlahan mengusapnya. Masih tak ada yang buka suara dan benar-benar sunyi. Fylian
mendekatkan wajahnyabenar-benar dekat sampai nafas mereka menyapu permukaan
masing-masing, eldira menutup matanya pelan merasakan sentuhan di bibirnya terasa
sangat.... eldira membuka matanya dan mendorong fylian kasar. Ia tersadar fylian terdorong jauh dan kebingungan mengatasi
semua perasaan yang campur aduk dibenaknya. “a.. ah, maaf, aku harus pulang”
ucapnya terbata-bata meninggalkan fylian yang masih tertegun memikirkan
tindakan konyolnya yang bisa saja merusak hubungannya dengan eldira. Ia
membenarkan posisi duduknya menunduk dan mengusap rambutnya kasar, ia hanya
takut eldira membencinya setelah ini.
Di sisi lain, eldira menatap langit-langit kamarnya,
mengayunkan kakinya pelan. Merutuki dirinya berkali-kali “yaaaaa, bagaimana aku
bisa segila ini? Hah?”
“wah, betapa malunyaa”
“bagaimana kalau besok ketemu dikampus?” argghhhh
Ia benar-benar membenci situasi konyol ini, berguling-guling
ke kanan ke kiri dan memukuli kasur yang benar-benar tidak akan membantunya.
Beberapa saat kemudian ia berhenti
“tapi... apa yang aku lihat terus muncul dipikiranku bahkan
ketika dia akan menciumku, sampai aku mendorongnya seperti itu” katanya pelan
“apa aku salah? Dia bahkan tidak pernah menjelaskan
kehidupannya denganku tapi.. ta.. tapi tiba-tiba dia akan menciumku setelah aku
melihatnya bermes..” suaranya menghilang mencerna perkataannya sendiri
“bermesraan dengan laki-laki lain” eldira terdiam dan
membiarkan pikirannya berkecamuk, apa yang harus ia pikirkan adalah bagaimana
__ADS_1
cara menghadapi fylian besok.
“mungkin dengan ke toko aku bisa menyingkirkan
pikiran-pikiran ini”
Malam telah benar-benar berlalu, kini eldira sudah menikmati
pagi dikampusnya. Ia berangkat awal untuk menghindari fylian, betapa salah
tingkahnya nanti kalau dia ketemu dengan fylian. eldira menghubungi vio dan gia
untuk menemaninya tentu saja tidak dengan alasan untuk menghindari fylian tapi
masalah project toko eldira. Bisa bahaya kalau dua sahabatnya ini sampai tau.
“perkembangannya gimana?” tanya eldira
“kalau tempat dari usulanmu aja yang kemaren-kemaren itu,
hutan XZ. Aku cari di internet sih view nya nge-pas banget sama baju yang mau
kita jual” saut gia
“kalo dari produknya sih udah 80%, jadi mungkin minggu depan
kita udah bisa foto-foto” jelas vio
“oke, tempat udah, produk juga udah 80%, kita foto hari sabtu
depan aja ya biar minggu bisa istirahat. Oh modelnya udah dihubungi? Kita pakai
jasa lama atau cari yang baru? Butuh 2 laki-laki kan?”
“Model aku pakai jasa lama aja el, kalau baru susah
nyesuai-in harganya”
mah” mereka berbincang santai sebelum masuk kekelas. Sedikit membicarakan
perkembangan toko eldira, seputar hubungan asmara masing-masing, skincare dan
persoalan cewek lainnya sampai lupa waktu.
“fylian, tugas yang kemarin dikumpulin sekarang. Aku lupa
nggak bilang kekamu”
“ah.. iya ndre, softfile kan?” Fylian celingak-celinguk
mencari eldira, pagi ini dia sama sekali tidak bertemu dengan eldira. Ia hanya
ingin meminta maaf dengan sikapnya yang kurang ajar kemarin tapi sedari tadi ia
tidak menemukan sosok yang ia cari.
“fyl... kamu dengerin aku kan?” fylian tersadar ada orang
didepannya sedari tadi
“a ah.. iya ndre paham-paham, makasih. Aku duluan ya” ia
meninggalkan temannya itu dan mendekati gia
“eldira ada” gio yang tiba-tiba di cegat kaget. Dan sontak
memundurkan tubuhnya
“ih.. ngagetin aja sih” omelnya
“ada, kenapa? Kalian berantem?”
__ADS_1
“eng.. enggak. Sekarang dia dimana?”
“sikap kalian aneh deh. Dia baru aja pulang sama vio, mau
nyiapin kepindahannya”
“pindah kampus?”
“pindah negara!”
“serius gia?” Fylian sudah kepikiran kemana-mana, ia
membelalakkan matanya dan bingung harus berbuat apa
“ih.. nggak bisa becanda ya, pujangga ini heheh. Dia mau
pindah apartemen” jelas gia
“oh..” ada rasa lega di benak fylian
“nanti malem ada pesta kecil-kecilan di apartemen barunya
eldira. Satu kawasan kok Cuma beda gedung. Mau ikut?” ajak gia
**
“waaahh.. suasana baru nih”
“vio bisa bantu angkatin ini nggak”
“kamu nggak bisa angkat ini sendiri? Aduh manusia lemah” ejek
vio
“lumayan nggak sih, dapet suasana baru walaupun masih satu
kawasan setidaknya kamarnya nambah satu hehe”
“sip sih menurutku, pemandangan dapet, matahari dapet, angin
sepoy sepoy dapet. Sip banget deh. Jadi pengen nginep terus disini” vio
berkali-kali mendapatkan tatapan tidak suka dari eldira sebagai respon dari
keinginannya untuk menginap ditempatnya. Mereka mulai menyiapkan beberapa masakan dan minuman untuk
pesta kepindahan eldira. Karena eldira tidak memiliki banyak teman jadi yang
diundangnya hanya vio, gia, gebetan vio jadi mungkin ini idak bisa disebut
pesta, lebih tepatnya makan malam bersama. Setelah beberapa jam berlalu,
walaupun prabotan-prabotan masih acak tapi seetidaknya sudah tertatat rapi
dipinggir, barang-barang sudah masuk salah satu kamar dan em.. yaaa lumayan
bersih. Sebuah bel berbunyi eldira dan vio saling pandang yang akhirnya eldira
membukakan pintu untuk tamunya itu.
“wih.. gila bagus banget” tanpa permisi dan disuruhpun gia
sudah nyelonong masuk
“vioooo makaaannn, laper banget iniii” teriak gia
Eldira masih tidak bisa bergerak mendapati sosok yang
benar-benar tak disangkanya datang.
“h-hai..”
__ADS_1