Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.01


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


8 tahun berlalu begitu saja. Sangat cepat, tidak terasa seperti mengedipkan mata. Melewati berbagai macam kesulitan, merasakan pahit manis menjadi orang tua tunggal, adalah pengalaman paling berharga dalam hidup Leona.


Pagi ini merupakan pagi yang begitu penting dan berkesan untuk seorang gadis kecil yang hendak memasuki sekolah dasar. Dia begitu antusias hingga membuat orang lain disekitarnya ikut merasakan euforia kebahagiaan tersebut.


Sudah sebulan dia meninggalkan nenek di desa untuk tinggal bersama bunda di kota.


“Sarapan dulu sayang, nanti kamu lapar di sekolah kalau tidak sarapan.” suara Leona menitah putrinya yang sekarang sedang berdiri didepan rak sepatu, dimana sepatu barunya yang berwarna hitam itu berada.


Putri kesayangannya itu tumbuh dengan baik. Ia bahkan menjadi anak yang penurut dan tidak pernah rewel apalagi sampai menyusahkan orang lain. Lunar menjadi sosok Leona kecil. Pribadi mereka tidak jauh berbeda.


Sejak berusia tiga bulan, dengan berat hati Leona menitipkan Lunar—panggilan akrab Lunar Maharani—di desa bersama sang ibu. Leona harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, membantu kedua orang tua, dan juga membiayai hidup putrinya.


Jika ditanya seberapa berat tanggung jawab yang ia emban, karena Leona selalu memberikan jawaban yang sama. Mereka bukan beban, mereka anugrah dari Tuhan, terutama Lunar. Putri kecilnya yang cantik itu adalah sebuah berlian mahal yang di kirim Tuhan kepadanya, untuk menghiasi gelapnya dunia yang ia jalani.


“Iya, bun.”


Suara manis yang dulu selalu dirindukan Leona, suara manis yang selalu membuat Leona ingin segera pulang ke desa untuk menemui buah hatinya. Suara yang meyakinkannya, bahwa perjuangan dan cinta itu hal yang berharga.


Gadis itu kembali berlari masuk ke ruang dapur dimana sang ibu berada. Leona sudah menyiapkan nasi soto sebagai menu pagi ini. Lunar sangat suka dengan soto buatan Leona. Selama sebulan tinggal disini, terhitung lebih dari lima belas hari Leona menghidangkan soto di meja makan sebagai menu yang diinginkan sang putri.


“Besok, bunda sudah harus kerja ya sayang. Kamu diantar sama bi Lastri.”


“Bi Lastri yang sebelah rumah bunda itu ya?”


Leona mengangguk, lantas mengambil secentong nasi untuk Karin. “Iya. Maaf bunda cuma bisa temani kamu hari ini.”

__ADS_1


Lunar mengangguk. “Tidak apa-apa, Bun. Lunar bisa main sendiri kok.”


Leona memberikan senyum hangat kepada sang putri. Ia mengusap lembut puncak kepala berdiri hitam legam beraroma strawberry itu penuh kasih. “Lunar anak baik. Tidak boleh nakal disekolah, ya. Nanti, kalau sudah punya teman, bunda juga mau tau teman-teman Lunar juga ya.”


Gadis kecil bermata bulat dan berpipi tembam itu mengangguk antusias. Senyuman kecil dibibir mungilnya itu terlihat begitu manis. Kulit putihnya yang didapat dari sang ayah, membuat rona di wajahnya terlihat dengan jelas. Terkadang Leona heran sendiri, mengapa Lunar mirip sekali dengan Antariksa. Gen pria itu seolah melekat kuat dalam diri putri kecilnya. Apa ini pertanda jika Tuhan ingin membuktikan kepada pria itu, jika Lunar benar-benar darah dagingnya? Pasti begitu.


Sarapan berlangsung menyenangkan, dan akhirnya Leona pun mengantar Lunar ke sekolah barunya yang tidak jauh dari rumah. Soal rumah, saudara Bu Lastri sudah menjualnya kepada Leona karena selain merasa iba, saudara Bu Lastri itu juga sudah menetap di kota tempat kerjanya yang baru.


Didepan gerbang sekolah, Lunar merasa gembira sampai melompat-lompat kecil sambil bertepuk tangan. Namun pemandangan yang ada disekitarnya membuat senyuman itu perlahan luntur. Kepala berkuncir dua itu menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan semua orang yang riuh datang dan pergi. Lalu satu pertanyaan yang tidak pernah Leona duga, terucap dari bibir mungil si kecil.


“Bun, kenapa mereka semua datang bersama ayah mereka?”


Sejauh ini, Leona memang membatasi informasi tentang seorang ayah kepada Lunar. Ia hanya memberikan poin-poin penting tentang apa dan siapa itu ayah untuk mereka, namun tidak pernah memberitahukan siapa itu ayah untuk Lunar.


Egois memang, tapi sakit hati Leona begitu membekas. Selain itu, dia juga tidak ingin Lunar kecewa seperti dirinya jika putrinya itu tau siapa sang ayah, namun sadar dirinya tidak diinginkan.


“Sama seperti bunda yang cuti kerja hari ini, mereka juga ingin mengantar ke sekolah baru sayang.” terang Leona agar putrinya paham. Namun pertanyaan yang selama ini tidak pernah muncul dari bibir sang putri, akhirnya hari ini untuk pertama kalinya didengar oleh Leona.


“Lalu, dimana ayah Lunar, bunda? Apa ayah tidak ingin cuti juga untuk mengantar Lunar ke sekolah baru?”


“Kan sudah ada bunda?” sahut Leona yang tidak ingin membuat putrinya menunggu jawaban terlalu lama. Ia tersenyum, namun hatinya begitu tersedu dalam tangis. Haruskah dia memberitahu siapa ayahnya untuk Lunar? Bagaimana jika nanti putrinya itu sekecewa dirinya?


“Tapi, Lunar juga ingin melihat ayah.” rajuknya dengan bibir cemberut dan kepala tertunduk menatap ujung sepatu di kedua kakinya.


Leona tersenyum kaku melihat dengan mata kepalanya sendiri kenyataan jika Lunar juga membutuhkan sosok seorang ayah disampingnya.


“Mau beli ice cream pulang sekolah nanti?”


Lunar mengangkat wajahnya. Ia mengangguk meskipun wajahnya masih terlihat kusut karena kecewa.


“Kalau begitu, semangat dong. Anak bunda kan pintar.”


“Lunar sedih bunda. Lunar ingin punya ayah, Bun.” katanya masih belum menyerah.

__ADS_1


Leona tersenyum, lalu membungkuk dan memeluk sang putri penuh kasih. Matanya ikut berkabut. “Kalau begitu, Lunar belajar yang pintar ya? Biar nanti kalau ayah Lunar datang, ayah bangga—”


“Kata bunda, ayah tidak akan pernah datang lagi menemui Lunar dan bunda?”


Leona ingin menjerit karena rasa sakit di dadanya semakin meradang. Jadi, Lunar masih ingat saat dia mengatakan hal itu? Jadi, putrinya itu diam-diam merasakan kecewa atas ucapannya?


Leona bersimpuh didepan sang putri, ia memeluk dengan dua tetes airmata yang jatuh ke punggung sang anak. Ia menyesal berkata seperti itu hingga membuat putrinya merasa sedih dan kesepian saat melihat kebahagiaan orang lain. Leona menganggap, dirinya sudah berhasil membuat bahagia Lunar. Tapi ternyata, dia gagal.


“Baiklah. Bunda janji akan membuat Lunar senang meskipun tidak ada ayah.” katanya terbata. Mereka sempat menjadi pusat perhatian karena hal itu. Menyadari sudah terlalu jauh bersedih, Leona bangkit dan mengecup puncak kepala Lunar, lantas mengusap pipi gadis kecil yang amat sangat cantik itu dengan senyuman kecil yang pilu.


“Pulang sekolah nanti, bunda belikan ice cream, mau?” katanya mencoba bernego agar suasana hati putrinya tak lagi suram.


Gadis kecil berkulit seputih susu itu mengangguk. Ia menatap mata Leona yang masih memerah dan basah.


“Bunda menangis?” tanyanya lugu yang membuat Leona buru-buru mengesat airmata dan tersenyum lebar. “Bunda sedih gara-gara Lunar?


“Tidak sayang.”


“Maafkan Lunar, bunda. Lunar janji tidak akan membuat bunda bersedih lagi. Lunar janji tidak akan bertanya tentang ayah lagi. Lunar tidak ingin melihat bunda bersedih.”


Ingin sekali Lunar menangis keras dan memeluk putrinya itu tanpa mau melepasnya. Namun ia masih punya rasa malu untuk melakukan itu di depan khalayak umum. Lantas ia hanya bisa tersenyum menahan perih di hatinya. Ia kembali meraih sisi wajah sang putri dan mengusapnya lembut.


“Lunar tidak pernah membuat bunda sedih kok. Bunda hanya terlalu bahagia karena sekarang Lunar sudah besar, dan menjadi anak pintar. Bahkan sekarang sudah masuk ke SD.”


Lunar menyematkan senyuman di bibir merah muda nya. Lesung pipi milik Antariksa tercetak jelas dikedua pipi gadis kecil lugu tersebut.


“Bunda harap, Lunar tetap bahagia meskipun cuma punya bunda, ya?”


Kepala berambut hitam legam itu mengangguk. Tawa kecil kembali muncul di bibirnya. Lalu, suara manis kembali menyapa telinga Leona. “Lunar bangga punya bunda seperti bunda Leona. Lunar sayang bunda.”


Leona menatap sendu ke pupil mata coklat milik Lunar. Sumpah serapah kembali terucap dari hati Leona.


“Kau akan benar-benar menyesal sudah membuangnya dari hidupmu, Antariksa.”[]

__ADS_1


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


__ADS_2