
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
“Kamu, istrinya Antariksa kan?”
Leona menoleh pada presensi yang berdiri tepat di belakangnya. Tatapannya menajam, menilai siapa wanita yang menegur sapa dirinya.
“Ya? Anda siapa?”
Disisi lain, Joan sedang mengingat sosok perempuan berpakaian rapi khas pegawai kantor ini. Ia lantas mengingat pernah bertemu diruang meeting saat membicarakan design bersama Antariksa sekitar sebulan lalu.
“Anda sekretarisnya pak Antariksa kan?” tanya Joan menarik perhatian dua perempuan di depannya. Perempuan bergincu merah delima itu tersenyum menatap Joan, lantas menanggapi tebakan Joan.
“Anda betul. Daya ingat anda tajam ya? Padahal kita bertemu cuma satu kali lho.”
Bukannya ikut menanggapi, Leon lebih sibuk memperhatikan penampilan perempuan cantik yang tidak ia ketahui namanya ini. Kemeja merah jambu yang pas body bersembunyi dibalik blazer hitam yang rapi dan anggun. Celana bahan yang memperlihatkan kaki jenjangnya, sepatu hak tinggi yang elegan dan terlihat mahal, jam tangan mentereng, riasan sedikit eummm ... berlebihan namun terlihat tetap cantik, dan aroma coklat yang khas. Leona sampai menganga di buatnya. Suaminya, setiap hari berada satu ruangan bersama wanita se-ksi seperti ini? Apa kabar dirinya yang cuma memakai pakaian seadanya saat dirumah bersama Anta?
Menerka hal itu, Leon jadi ingat bagaimana mertuanya berkata jika Anta itu tidak suka makan dirumah dan jarang pulang.
Lalu, sebesit terkaan lain muncul dalam kepala Leona. Apa Antariksa tidak tergoda? Atau memang mereka ada sesuatu? Mengingat Praya pernah memberitahu Leon tentang wanita pernah disukai Antariksa dan ditolak oleh pihak keluarga.
“Ah, pikiran drama. Semua pasti tidak benar.”
Leona menggeleng, menolak isi kepalanya yang penuh terkaan tidak berdasar.
Tak lama kemudian, Dinda kembali dari toilet dan menatap tidak suka pada perempuan yang berdiri tidak jauh dari sahabatnya. Alisnya menukik tajam, ekspresinya berubah jengkel dan tidak suka.
“Perkenalkan, nama saya Amanda Rosalia. Saya sekretaris tunggal pak Antariksa Graham.” katanya memperkenalkan diri sembari mengulurkan telapak tangan ke arah Leona.
Tidak menaruh curiga apapun, Leona menjabat tangan Amanda dan memperkenalkan diri. “Leona Agustin.” tanpa menyebut embel-embel Antariksa karena itu sangat mengganggu untuk Leona, apalagi didepan orang yang baru ia kenal dan lihat seperti wanita ini.
“Yuk ah balik. Udah hampir selese jam maksi.”
__ADS_1
Tanpa bicara atau berpamitan pada Amanda, Dinda menarik Leona pergi. Tatapan Dinda sudah seperti pisau yang siap menguliti kulit halus Amanda yang masih konsisten dengan senyuman ramah ala perempuan elegan. Sedangkan Joan, menyusul berjalan di belakang mereka berdua setelah berpamitan pada Amanda.
Amanda yang merasa disinggung oleh tatapan tidak suka dari Dinda, akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku blazernya dan mengetik pesan untuk seseorang.
Aku lihat istri kamu makan bareng sama cowok di rumah makan deket kantornya.
***
“Siapa sih cewek itu? Muka spek pelakor gitu, nyebelin tau ngga!” kesal Dinda setelah menoleh beberapa kali ke belakang untuk mendapati wanita yang tadi menjabat tangan Leona. Perasaan Dinda mendadak tidak enak saat mendapati ekspresi perempuan yang tidak ia kenali itu, tersenyum ke arah Leona.
“Namanya Amanda. Dia sekretaris Anta—”
“Jadi dia sekretaris suami Lo? Eh Le, gue kasih tau nih ya! Mendingan Lo hati-hati sama cewek modelan kek ondel-ondel itu.”
Leona menepuk lengan Dinda cukup keras. “Kamu mikir apa, sih?!”
“Eh, secara suami Lo itu ganteng, kaya! Tuh cewek modelan begitu pasti ndusel mulu biar dapet perhatian.”
Leona menarik nafas besar lalu menghembuskan. “Nggak usah mikir kejauhan, Din. Bisa jadi fitnah.”
Dinda mendengus menanggapi kepolosan Leona yang belum juga berubah. “Gue cuma ngingetin. Syukur-syukur kalau elo mau denger. Kan gue takut aja, secara penampilan, jujur dia lebih elegan, lebih menarik, daripada Lo.”
“Udah. Nggak usah khawatirin aku. Aku tau apa yang harus aku lakukan jika memang hal itu terjadi, nanti.”
***
Leona sampai rumah pukul tujuh malam. Meeting hampir empat jam ia lewati hari ini. Badannya lelah, letih, bahkan kepalanya terasa pusing karena harus memperhatikan objek sama dalam jangka waktu yang lama.
Setelah meletakkan sepatu di rak sebelah pintu dan mengganti dengan sandal rumah, Leona berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Jalanan macet, motornya juga sempat mengalami bocor ban dan harus mendorong jauh sekali untuk mendapatkan tukang tambal ban.
Tapi,
“Darimana aja jam segini baru pulang?”
Leona yang sedang meneguk air, menoleh ke arah Anta datang, kemudian menyudahi acara minum. “Ada meeting.” jawabnya singkat padat dan jelas. “Ban depan motor juga sempet bocor. Jadinya aku harus dorong motornya jauh banget karena nggak ada tukang tambal ban.”
“Itu bukan cuma alasan Lo doang kan?”
__ADS_1
Mendengar tuduhan seperti itu, Leona terpancing emosinya. Pulang kerja, gerah, lelah, bukannya disambut bahagia, malah dituduh tidak jelas.
“Alasan? Apa maksud kamu? Aku memang ada meeting sama bos dan tim lain untuk membahas proyek baru setelah proyek dari kamu clear. Jangan ngaco deh! Lagian, peduli apa kamu sampai nuduh aku seperti itu? Takut di tikung?”
Jawaban Leona benar-benar menguji kesabaran Antariksa. Entah mengapa sikap Leona yang seperti itu terlihat seperti menutupi sesuatu, dimata Antariksa. Isi pesan yang dikirim Amanda siang tadi membuat Antariksa memiliki alasan untuk menyergap Leona.
“Udah ih. Mau mandi dulu. Tuh aku beliin martabak manis dan martabak telur buat kamu.”
Sialnya, sikap Leona seolah acuh. Antariksa berdiri dari tempat duduknya dan mengejar Leona yang sudah hampir sampai didepan kamar utama. Kamar yang menjadi saksi banyak hal yang mereka lakukan.
“Gua belum selesai bicara.” tegasnya sembari menarik kuat pergelangan tangan Leon hingga tubuhnya tersentak dan berbalik arah tepat didepan dada bidang sang suami. “Lo nggak lagi bohongin gue kan?”
Tidak ada lagi senyuman di bibir Leona. Dia memilih melepaskan diri dari tatapan Antariksa yang terlihat meremehkannya. “Ya udah. Kita bahas apa maksud ucapan kamu ini setelah aku selesai mandi.” jawab Leona sembari mencoba pergi daripada semakin meledak. Tapi ternyata Anta tidak rela melepasnya begitu saja. Pria itu kembali mengungkung pergelangan tangannya dengan sangat erat.
“Gue bilang, gue belum selesai bicara.”
Leona yang memang sudah kelelahan, semakin terpancing kemarahannya. Ia pun mendongak guna mempertemukan tatapan matanya dengan manik mata milik Anta.
“Oke. Mau kamu sekarang apa?” tantang Leona tak kenal takut. Emosinya terlanjur tersulut.
“Gue minta penjelasan dari Lo. Kenapa Lo masih deket sama mantan kekasih Lo, padahal udah nikah sama gue.”
Sontak Leona membelalak. Apa ini karena ia bertemu Amanda tadi siang? Apa wanita itu mengadu pada Antariksa?
“Maksud kamu, kenapa aku bisa makan siang bersama Joan hari ini?” tembak Leon to the point, karena memang seharusnya begitu. Berputar-putar malah semakin membuatnya kesal.
Antariksa diam, hanya sorot mata mengintimidasi bak menguliti yang ia biarkan menjawab pertanyaan Leona padanya.
“Apa sekretaris kamu yang bilang ke kamu?” tanya Leona lagi dan tetap tidak mendapatkan jawaban. Itu sudah mengartikan jika Anta membenarkan pertanyaan yang ia lontarkan.
“Ah, betul ya?” celetuknya, lantas menarik telapak tangan yang sudah terasa kebas dalam genggaman Anta. ”Kalau kamu pikir aku dan Joan makan berdua, kamu salah. Kami bertiga. Ada Dinda juga disana.” lanjut Leona sedikit sinis. Ternyata, apa yang dikatakan Dinda siang tadi sedikit terbukti. Perempuan seperti Amanda itu pasti akan mencari perhatian dengan cara apapun kepada orang sekelas Antariksa. “Jadi, apa yang dibilang wanita itu? Aku sedang selingkuh? Begitu?”
Leona terkekeh geli melihat ekspresi wajah Anta yang terlihat mengeras. Untuk apa pria itu melakukannya jika pada intinya, apa yang dilakukan Leona bukanlah sebuah pengkhianatan.
“Sebaiknya, kamu jauhi perempuan macam sekretaris kamu itu, Ta. Sebelum nanti kamu rugi sendiri, terus nyesel.” []
...To be continue...
__ADS_1
...🌼🌺🌼...
Nah, udah mulai nih ...😜