
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
Akhir pekan begitu cepat datang. Leona sudah menyiapkan beberapa pakaian yang akan ia bawa pulang menjenguk bapak. Ia tidak lagi berharap atau menagih janji Antariksa yang akan mengantarnya. Lebih baik dia pulang sendiri saja dari pada duduk diam dan canggung bersama Anta didalam mobil. Jika nanti kedua orangtuanya bertanya, Leona juga sudah menyiapkan jawaban ampuh agar tidak di curigai.
Leona sudah memesan dua tiket kereta untuk pulang dan pergi. Kereta akan berangkat satu setengah jam lagi, tapi Leona harus tiba disana jauh sebelum jam keberangkatan, atau dirinya akan tertinggal.
Motor miliknya juga sudah sempat ia nyalakan agar mesinnya panas, pagi tadi. Dia juga membuat beberapa menu masakan kesukaan Antariksa dan menyimpannya didalam kontainer kecil ke dalam kulkas. Tak lupa dia menulis memo kecil lalu ia tempelkan di lemari pendingin agar di baca oleh Antariksa nanti.
Pukul setengah lima pagi, bahkan matahari belum menampakkan diri, Leona pergi tanpa berpamitan pada Anta. Dia menganggap pria itu sudah tau kemana dia pergi, dan tidak mungkin akan dicari setelah pertengkaran malam itu.
Leona menggendong tas punggung berisi pakaiannya, kemudian mulai mengendarai motornya meninggalkan rumah Antariksa menuju stasiun kereta api untuk bertemu bapak dan ibu yang sudah dia rindukan.
***
Butuh sekitar satu jam melewati jalanan ibu kota untuk sampai di stasiun. Leona sudah menitipkan motornya dan menunggu kereta datang. Ia memakan sebungkus roti sebagai pengganjal perut selama perjalanan, yang ia beli di minimarket yang ada didalam stasiun kereta.
Dan tak lama kemudian, kereta yang hendak menawannya pulangpun, akhirnya datang. Ia bergegas naik dan mencari tempat duduknya. Diluar, hujan mulai turun dan membuat Leona yakin jika anta tidak akan menyusulnya. Satu senyuman masam terbit di bibir peachnya saat kenangan indah yang tertanam dalam ingatannya bersama Joan, jauh lebih indah dibandingkan hidup yang ia lalui bersama Antariksa saat ini.
Miris, satu kata yang ingin ia ucapkan keras-keras untuk mengolok dirinya sendiri.
Setelah duduk di kursi penumpang kelas eksekutif yang ia beli, ponsel Leona bergetar dan nama Joan muncul pada display berukuran 6,2 inchi miliknya. Dengan berat hati, Leona menggeser tombol hijau ke atas, dan menyapa Joan.
“Ada apa, Jo?”
“Eumm, cuma mau tau posisi kamu sekarang, Le.”
Leona tersenyum. Perhatian manis seperti inilah yang ia butuhkan. Dan Joan tak pernah putus memberikan itu kepadanya, meskipun semua telah berlalu.
“Aku udah di kereta.”
“Jadi naik kereta?”
“Eummm.” jawab Leona singkat, tidak begitu bersemangat.
“Sama Antariksa?”
Mau dijawab apa pertanyaan ini? Jika jujur, lagi-lagi Leona memikirkan dampak terburuk yang akan dilakukan Joan tanpa berfikir panjang.
“Eumm. Iya. Dia sedang ke toilet.” bohong Leona agar Joan tidak khawatir.
“Ya sudah. Hati-hati ya. Kalau sudah sampai, kabari aku.”
“Eung. Makasih sudah hubungi aku, Jo.”
“Bye, Le.”
“Bye, jo.”
Panggilan itu berakhir. Leona menarik nafas berat untuk merayu hatinya agar tidak semakin sesak dan membuatnya ingin bersedih. Ya, dia harus bahagia karena akan bertemu kedua orang tuanya yang saat ini pasti sedang menunggu kedatangannya.
“Maaf tidak bisa membawa menantu ibu dan bapak untuk datang kesana hari ini.” bisiknya meratap, kemudian menatap keluar jendela demi menyaksikan butiran-butiran air hujan yang mulai tersapu angin dan jatuh membasahi kaca jendela kereta api.
***
Tiga jam menembus hujan di dalam kereta, Leona akhirnya sampai di stasiun tujuan dan bergegas menuju terminal bus menggunakan angkutan umum. Ia membeli tiket tujuan dan bergabung dengan penumpang lain dengan tujuan sama. Dan setelah sekitar satu jam di dalam bus, Leona harus sekali lagi menaiki kendaraan umum yang akan membawanya masuk ke desa tempatnya tinggal. Dan di kejauhan, dia melihat Nayla sedang menunggunya dengan motor matic yang ia hadiahkan tiga tahun lalu karena lulus ujian dengan nilai terbaik.
__ADS_1
“Lho, mbak sendiri? Katanya sama mas Antariksa?” tanya Nayla sambil menyalakan mesin motor.
“Dia lagi sibuk, Nay. Nggak bisa ikut. Dia janji lain kali akan ikut mbak pulang.” kata Leona memanipulasi sang adik agar percaya. “Gimana kabar bapak? Udah mendingan?”
“Udah sih, mbak. Udah jauh lebih baik dari kapan hari pas ngasih kabar ke mbak.”
Setelah lima menit berkendara dengan sang adik, kini pemandangan teduh menyapa Leona. Kedua orangtuanya menunggunya di luar rumah. Senyuman ayah dan ibunya yang menyapa, membuat semua beban yang ia pikul hilang begitu saja. Ia merindukan keduanya.
“Sehat pak?” tanya Leon saat menyalami telapak berkulit keriput milik sang ayah.
“Iya. Mana menantu bapak? Kok nggak ikut?”
Leona menyalami dan mencium pipi ibunya. Lantas menjawab, “Dia sibuk, banyak pekerjaan, pak. Tapi mas Anta janji akan ikut lagi kalau Leona pulang.”
“Oh, baiklah. Tidak apa-apa. Nanti sampaikan salam bapak buat dia ya?”
“Telepon saja dia pak. Bilang kalau Leona sudah sampai dengan selamat disini.” kata sang ibu membuat Leona sedikit gelagapan. Ia belum sempat meminta Antariksa mengikuti rencana yang sudah ia susun. Ia takut Antariksa akan berkata yang sebenarnya, dan membuat ayah serta ibunya akan khawatir pada hubungan mereka berdua.
“Dia pasti sedang sibuk bu. Nanti saja biar Leona yang memberitahunya.”
Sang ibu pun setuju. “Ya sudah, sekarang kamu istirahat aja dulu sana. Pasti kamu capek.”
Leona tersenyum hangat kemudian berpamitan menuju kamar yang dulu menjadi tempat kesukaannya saat masih usia sekolah dan remaja. Tata letak dan catnya masih sama. Aroma harus dari bunga yang diletakkan didalam vas, begitu semerbak. Leona rindu masa dimana ia harus belajar rajin agar mendapatkan beasiswa.
Namun ditengah lamunannya, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia melirik sebentar, dan nama Antariksa muncul disana. Leona meraih dengan gerakan ragu ponsel tersebut, lantas menjawabnya.
“Kenapa Lo nggak bangunin gue dan pergi sesuka hati Lo, huh?!”
Leon malas berdebat. Ia meletakkan kembali ponselnya dan memijat pelipisnya yang terasa berat. Semalam setelah pertengkaran karena salah paham itu terjadi, dia tidak bisa tidur nyenyak sebab memikirkan masalah yang terjadi.
“Jadi, Lo sengaja mau buat nama gue jelek didepan kedua orang tua Lo?”
Leona menggeleng meskipun ia tau Anta tidak akan melihatnya. “Lagian, untuk apa kamu peduli tentang hal itu, Ta? Jujur saja, aku tidak pernah berharap banyak sama pernikahan kita ini. Tapi aku masih berusaha bertahan—”
“Anta, tolong jangan tekan aku dengan sifatmu yang kayak gini.” sahut Leona cepat bak kilat. “Aku lelah dan nggak pingin debat sama kamu. Jadi, kalau kamu ada masalah atau unek-unek untukku, tolong tahan sampai aku kembali kesana. Aku capek, Ta.” lanjut Leona dengan nada sendu. Ia tidak pernah mau memperpanjang masalah dengan saling melempar kesalahan satu sama lain.
“Sekalian aja nggak balik—”
“Oke, aku minta maaf. Sudah? Harusnya begitu kan? Sekarang, aku tutup teleponnya. Aku mau istirahat.”
***
Karena Leona pulang, ibunya sengaja menyiapkan beberapa bahan makanan untuk membuat makanan kesukaan Leona.
Dengan pikiran carut-marut, Leona pergi ke dapur untuk membantu ibunya membuat urapan sayur dan ikan asin yang diberi tepung. Tak lupa tahu dan tempe ukep yang dulu selalu menjadi lauk utama keluarga, Leona tersenyum. Masa lalu ketika mereka masih sulit, kembali membayangi isi kepalanya.
Perlahan, semua kenangan itu sampai kemasan dimana dia pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, menjadi tulang punggung, lalu sukses dengan karir, tapi masa depannya hancur karena hal yang tidak pernah ia sangka-sangka.
Mengingat hari itu, bayangan Antariksa kembali muncul. Pria itu sekarang menjadi satu bagian dalam memorinya.
Diam-diam Leona melihat keluar jendela. Hujan masih mengguyur di jam setengah tujuh malam. Ia tadi juga sempat tidur nyenyak dalam waktu yang lama setelah sampai dirumah dan menerima telepon dari Anta.
Dia nggak bakalan nyusul kamu kesini kok, Le. Apa sih yang sebenarnya kamu tunggu dan harapkan? Dia tiba-tiba datang didepan matamu? Begitu?
Leona segera membawa dirinya kembali sadar. Ia tidak ingin terlihat memiliki beban didepan ibunya yang sudah berusia.
“Toko udah tutup, Bu?” tanya Leona berusaha mengalihkan pikirannya sendiri.
“Belum kayaknya. Bapak yang jaga. Ada banyak yang lagi cairin bantuan.”
Selain melayani jual beli sembako eceran untuk toko-toko kelontong, toko milik ayahnya ini juga melayani penarikan bantuan berupa sembako yang diberikan pemerintah kepada rakyat yang membutuhkan.
__ADS_1
“Bapak ini, katanya sakit malah nggak mau istirahat.”
“Udah sembuh katanya. Sakitnya cuma gara-gara kangen sama kamu.”
Leona menyemburkan tawa. Ada-ada saja bapaknya itu. “Nanti habis makan, biar Leona aja yang jaga toko.”
“Nggak usah. Tutup aja. Lagian sudah malem.”
Makan malam belum siap, tapi tiba-tiba bapaknya muncul dan memberikan kabar mengejutkan.
“Nduk, diluar ada suamimu datang.”
Leona mengerutkan kening. Anta datang malam-malam begini? Apa ini hanya sebuah mimpi?
Leona mencubit kulit tangannya sembunyi-sembunyi, lalu sadar jika ini nyata. Bapaknya bilang jika anta ada diluar, itu artinya memang ada Antariksa disana.
“Lho, kenapa kamu Ndak ngasih tau ibu toh Na? Kan ibu bisa nambah bikin urap nya kalau tau Anta datang?” sergap si ibu karena sayuran sudah hampir matang.
Leona sendiri tidak percaya jika Antariksa datang menyusulnya kesini. Lalu bagaimana dia bisa tau letak pasti rumah keluarganya sementara Anta waktu itu tidak ikut datang saat lamaran. Apa dia datang dengan google map? Tapi—
“Ya udah. Di jamu sana. Buatin minum anget, kasian hujan-hujan begini nyetir sendirian.”
Berita yang disampaikan bapaknya itu semakin membuat Leona terpaku. Jadi, Antariksa datang dengan mobil dan menyetir sendirian?
Dengan gerakan yang dibuat setenang mungkin, Leona mencuci tangan dan berjalan keluar. Dan benar saja, disana Antariksa sedang duduk di ruang tamu bersama si bapak. Kepala Leona pun sempat menengok keluar dan mendapati mobil mahal sang suami terparkir di samping mobil bapaknya.
“Nah itu Leona. Bapak tinggal ke toko dulu ya? Mau tutup.”
Dengan senyuman ramah dan anggukan kepala yang sopannya bukan main, Antariksa melepas kepergian pak Kusumo—sang mertua—untuk pergi ke toko.
Dengan langkah canggung seperti pasangan baru jadian, Leona duduk di ujung sofa yang berseberangan dengan Anta.
“Ngapain nyusul kesini?”
Anta memilih diam dan tersenyum disudut bibir. “Bahas yang lain saja. Takutnya ibu atau adik-adik kamu denger.”
Kamu? Biasanya Lo-gue? Oh, mungkin hanya sebagian pencitraan semata. Leona memaklumi itu dan kembali bersuara.
“Udah makan malam?”
Antariksa menggeleng, lalu melepas jaket kulit hitam miliknya, dan menyandarkan punggung lelahnya pada sandaran kursi.
“Ya udah. Kamu istirahat di kamar aku aja dulu. Aku mau lanjut bantu ibu biar cepet selesai.”
Antariksa mengangguk dan mengekor di belakang Leona. Setelah pintu kamar terbuka dan Antariksa berhasil masuk, Leona menegur,
“Peraturannya, jangan menyentuh barang-barang yang bukan milikmu!”
Anta mengangguk setuju. Sikap salah tingkah Leona itu sangat menggemaskan.
Pintu terkatup pelan, dan Antariksa mulai menilik isi kamar pribadi milik Leona. Antariksa bahkan melanggar peraturan yang dibuat Leona untuknya saat melihat sebuah diary usang yang muncul dari balik laci meja belajar yang memiliki dual fungsi itu—sebagai meja rias dan meja belajar/bekerja.
Anta menoleh kebelakang untuk memastikan jika Leona tidak akan membuatnya tertangkap basah dalam rasa kejut.
Ia membuka dengan gerakan pelan. Bab pembukaan bertulis pena berwarna hitam dan sudah usang ini, tertulis biodata Leona.
Halaman selanjutnya, dan selanjutnya lagi, hingga dibagian paling akhir yang ditulis sekitar delapan tahun lewat, berisi tentang curahan hati Leona tentang perjalanan hidup dan kisah asmara yang baru dimulai. Terbaca jelas, jika perempuan itu sangat mencintai Joan.
Antariksa mengerutkan kening saat mendapati nama Joan begitu banyak di s but didalam diary milik Leona, istrinya.
Secinta itukah istrinya kepada sang mantan kekasih?[]
__ADS_1
...To be continue...
...🌼🌺🌼...