
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
“Na ... Na ... Buka matamu, Na. Ini aku.”
Kelopak matanya begitu sulit terbuka. Leona sendiri ingin menyerah dan berharap mata itu tidak terbuka untuk selamanya. Menyusul Anta mungkin jalan satu-satunya, begitu pikirnya.
Tapi suara itu lagi-lagi memanggil namanya.
“Na ... Na ... Buka matamu. Ini aku, Antariksa.”
Lalu disusul suara madu Lunar yang turut memanggil namanya dengan intonasi cepat.
“Bun, bangun Bun. Paman Antariksa sudah sampai disini.”
Mendengar itu, Leona seperti dipaksa untuk terbangun kembali. Ia membuka mata, meraup udara dengan serakah, lalu bangkit dengan gerakan kasar secara bersamaan. Nafasnya memburu, bahkan tersengal hingga membuat sesak dan susah mengontrol degupan jantung. Ia lantas berkedip cepat dan menoleh ke arah dimana suara Lunar berasal.
Selain itu, dia juga melihat Antariksa duduk di tepian kursi sambil menatapnya khawatir. “Kamu kenapa, Na? Mimpi buruk?”
Leona meneguk salivanya. Ia bahkan tak lagi bisa menyembunyikan rasa takut, sedih dan khawatir karena kehilangan Antariksa. Semua serasa nyata.
Akan tetapi, ternyata apa yang baru saja ia lihat itu, hanya sebuah mimpi. Mimpi yang sangat mengerikan yang tidak ingin Leona ingat. Mimpi yang membuatnya bangun dengan sebuah ketakutan yang begitu mengerikan.
Tubuh Leona refleks mendekat, kemudian mendekap Antariksa sangat erat. Ia menangis dalam pelukan pria dalam balutan kemeja hitam polos yang membuat pria itu begitu tampan menawan.
“Ada apa? Mimpi buruk?” tanya Antariksa, lagi. Ia kini mengusap punggung Leona yang sedang bergetar karena menangis. “Udah dong, jangan nangis. Lunar jadi bingung dan khawatir tuh.” lanjut Antariksa, menunjuk Lunar yang terlihat ketakutan.
Sontak, Leona melepas pelukannya dan memeluk sang putri yang terpaku melihat dirinya menangis histeris.
“Bunda nggak apa-apa kok sayang. Bunda cuma mimpi buruk.”
“Bunda jangan menangis, Lunar takut.”
Buru-buru Leona melepas pelukannya, lalu mengesat airmata yang ternyata sulit sekali di ajak berkompromi. Hingga sebuah rengkuhan penuh makna membuat Leona terkesiap kaget. Kepalanya menoleh dan mendapati senyuman Antariksa untuknya.
“Aku baik-baik saja kok, sayang. Tadi hanya terjebak macet karena ada insiden di perempatan.”
Sepertinya diserang dejavu, Leona menjauhkan diri. Ia takut pelukan Antariksa kali ini benar-benar hanya sebuah mimpi semu yang berusaha merayunya agar membuatnya tenang.
“I-ini, bukan mimpi lagi kan?” tanya Leona diliputi rasa takut yang amat sangat mengerikan. Tidak ada sedikitpun keinginan hatinya meyakini jika ini sebuah mimpi. Leona ingin Antariksa yang ada didepannya ini, adalah Antariksa yang nyata.
“Tidak, sayang. Ini aku.” kata Antariksa, meraih telapak tangan Leona dan menyentuhkannya pada rahang tegas yang sedikit ditumbuhi bakal jenggot.
Leona pun menghela nafas lega karena ternyata memang bukan mimpi. Antariksa nyata dihadapannya.
“Terima kasih sudah datang ke sini, Ta.”
Antariksa tersenyum dan meraih pipi Leona untuk ia usap. Wanitanya ini sungguh berhasil membuat Antariksa lemah iman. Ia sangat tergoda hanya dengan menatap bibir si wanita pemikat hati.
“Aku sudah janji datang, dan aku harus menepatinya. Aku tidak ingin membuat kamu kecewa untuk kedua kalinya. Dan tentu saja, aku juga tidak ingin membuat princess ku bersedih.”
__ADS_1
Lunar tersenyum menatap Antariksa. “Lunar sayang ayah.”
Leona terbelalak kaget karena Lunar sudah memanggil antariksa dengan sebutan ayah. Semudah itukah meyakinkan bocah perempuan kesayangannya itu?
“Lunar tau siapa paman Anta?” tanya Leona masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Gadis berpipi gembil itu mengangguk, lantas tersenyum memamerkan deretan gigi yang kecil, putih, dan rapih miliknya.
“Dia ayah Lunar.” serunya percaya diri. “Ayah sudah menceritakan banyak hal sama Lunar. Bunda sih, tidurnya lama.”
Astaga, sudah berapa lama ia tertidur sampai tidak sadar dan tidak tau sama sekali jika Antariksa sudah tiba. Bahkan, Sudah menceritakan banyak hal kepada Lunar. Termasuk kebenaran jika dia adalah ayah biologis dari putrinya itu.
“Maaf ya sayang.” rayu Leona bersama dengan kedua tangannya yang terulur. “Maaf, bunda minta maaf.”
Melihat pemandangan hari didepan mata, Antariksa tidak sampai hati dan berniat mencairkan suasana. Demikian juga dengan kenyataan jika Lunar telah memanggilnya ayah, untuk itu Antariksa mencoba mencari topik dengan kalimat pertanyaan.
“Jadi, Lunar mulai sekarang panggil paman Anta dengan panggilan ayah, ya.” Antariksa meyakinkan jika ini bukan mimpi. Karena baginya, suara Lunar yang memanggilnya ayah, seperti sebuah mimpi.
Si kecil mengangguk ceria hingga pipi dan poninya memantul berebut menjadi pemenang. Sedangkan Leona, menatap kedua presensi itu bergantian. Dia juga sangat bahagia saat tau Lunar menerima Antariksa tanpa penolakan. Mungkin, ikatan batin keduanya yang membuat Lunar seakan tau, jika Antariksa adalah ayahnya. Insting seorang anak itu kuat.
Ketiganya menghabiskan waktu bertiga hingga malam datang. Setelah belajar tadi, Antariksa membaca buku dongeng kesukaan Lunar hingga sang princess tertidur pulas sekarang. Dan inilah saatnya, Antariksa memiliki waktu ngobrol berdua bersama Leona. Moment lain yang memang sangat diharapkan oleh Antariksa.
“Kamu kenapa tadi ketakutan begitu?” tanya Antariksa ingin tau. “Mimpi buruk tentang aku?”
Leona tertunduk sedih mengingat mimpi yang baru saja menyambanginya. Mimpi yang benar-benar membuatnya takut kehilangan pria yang dicintainya, sekali lagi.
“Jangan khawatir. Itu cuma mimpi.” kata Antariksa mencoba menenangkan. “Ah, Lunar biar aku pindah ke kamar dulu biar nggak keganggu.”
Leona setuju dan membiarkan Antariksa memindahkan Lunar ke kamar tanpa kesulitan sedikitpun. Dan setelah kembali, Antariksa duduk berseberangan dengan Leona.
“Bicara tentang apa?”
“Tentang rencanaku menikah denganmu.”
Wajah yang semula terlihat santai, kini terlihat sedikit menegang. Antariksa membawa kabar sedikit mengejutkan ditelinga Leona.
“Lalu, bagaimana tanggapan mama mu?”
Sekilas, ada rasa tidak nyaman saat Leona menatapnya ketika membicarakan sang ibu. Tapi mau bagaimanapun, jika Leona nanti berkeluarga kembali dengan Antariksa, mau tidak mau dia harus menerima jika wanita yang mungkin masih membencinya itu, adalah ibu mertuanya.
“Ya ... biasa saja.” jawab Antariksa berbohong. Ia tau Leona pasti akan menolak menikah dengannya jika mendengar sang ibu tidak memberinya restu.
“Kamu tidak sedang membohongiku, kan Ta?”
Senyuman manis Antariksa terbit dibibirnya. “Kita menikah akhir pekan ini. Kamu bersedia?” kata Antariksa mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Kita menikah, jika restu orang tua kita, ada.”
Antariksa membuang wajah dan pandangannya sejenak dari sorot Leona. Ia tau akan begini. “Na, kamu tau sendiri bagaimana mama. Aku nggak masalah tentang itu. Kita jalani berdua, mama pasti akan luluh nanti.”
“Bagaimana jika tidak?” getol Leona tak ingin pasrah dan menunggu bola datang padanya. Ia hanya ingin mengantisipasi, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak terduga, yang tidak mereka inginkan.
“Ada restu ibu dan ayah kamu. Itu udah cukup.” seru Antariksa. Dia sudah di penghujung putus asa saat membayangkan Leona kembali alot menolak ajakannya menikah. Akan tetapi, setelah memberikan jawaban itu, Antariksa tidak mendengar suara sanggahan dari Leona. Setuju kah? Sependapat kah Leona dengannya?
Antariksa kembali melunak. Ia menatap lekat Leona, lantas berdiri dan berjalan mendekat lalu bersimpuh di kaki Leona.
__ADS_1
“Bagiku, restu ibu dan ayahmu saja sudah cukup. Dan aku percaya, do'a baik dari keduanya yang akan menuntun kita untuk hidup bahagia.”
Sunyi, hanya suara Derik hewan diluar sana yang terdengar beberapa saat sebelum anggukan Leona tertangkap netra Antariksa. Lalu, dengan bermodal nekat, Antariksa meraih telapak tangan Leona untuk ia genggam dalam rengkuhan kedua telapak tangannya.
“Usia ku tidak lagi pas untuk bermain-main. Aku tidak muda lagi, Na. Aku tidak ingin menunda lebih lama untuk kembali berumah tangga. Karena mati itu ditangan Tuhan.”
Mendengar kata mati dari bibir Antariksa, Leona kembali merasa ketakutan. “Stop! Jangan membicarakan itu.” cegahnya agar Antariksa tidak berbicara semakin jauh. “Tolong jangan membuatku takut kehilangan kamu lagi, Ta.”
Antariksa mendapatkan wujud kebahagiaan terbesarnya atas pengakuan Leona. Wanita itu mencintainya dan tidak ingin kehilangannya. Sebuah pencapaian besar yang membuat Antariksa semakin mencintai ibu dari putrinya itu.
“Baiklah. Aku janji akan menua bersamamu. Tidak ada orang lain lagi yang akan menjadi sumber petaka rumah tangga kita.”
Seruan manis dari Antariksa yang membuat Leona menyematkan senyuman termanis yang dipunyainya, di wajahnya. “Tentu saja.”
“Aku sayang kamu.”
Leona tersenyum kian lebar. “Aku juga.”
Satu usapan lembut mendarat di puncak kepala Leona dari Antariksa. “Tempat seperti apa yang kamu inginkan untuk kita bulan madu nanti?”
Pertanyaan yang sangat diluar topik pembahasan. Menikah saja belum, sudah membahas tempat honeymoon. Antariksa ini benar-benar bikin geleng kepala. Meresahkan Leona yang ternyata diam-diam jadi berharap.
“Harus di bahas sekarang banget ya?” tanya Leona dengan wajah merona bak kepiting rebus.
“Iya lah. Ini sudah termasuk perencanaan. Prepare dan booking tempat harus sudah dilakukan jauh-jauh hari.”
Mata Leona berkedip cepat. Ini cukup membuatnya malu, tapi oke, mari berandai-andai. Siapa tau nanti menjadi nyata. Ah, tidak. Antariksa pasti akan mewujudkannya.
“Kalau sama Lunar, mending di tempat yang tidak berbahaya sih.” celetuk Leona mulai mengajukan pendapat. Antariksa setuju. “Apa besok kita tanya ke Lunar saja?”
Memang, sekarang Lunar harus menjadi prioritas mereka berdua. Sekali lagi Anta mengangguk. “Ide bagus. Tapi, kalau kamu sendiri, ingin tempat yang seperti apa?”
Leona menatap langit-langit sejenak sebelum kembali menjatuhkan tatapan matanya kepada Antariksa yang masih betah duduk bersimpuh di bawahnya.
“Tempat yang menyatu dengan alam, indah, dan sejuk.” terang Leona menjabarkan maksud tempat yang sedang ada di kepalanya.
“Pantai?” []
...To be continue...
...🌼🌺🌺...
###
Ada dua ide cerita yang muncul setelah dua cerita on Going author selesai nanti.
1. Tentang pelakor yang dimana pelakornya itu, Protagonisnya. (Ini sumpah ngeselin parah, tapi ngga worth juga sih, takut dosa. Wkwkwk)
2. Tentang rumah tangga adem ayem penuh cinta, romcom, konflik ringan (soalnya otak lagi capek mikir konflik berat, hehe), dan tentu saja diselingi bumbu-bumbu dapur resep rahasia dari penulis 😁😜
Silahkan beri masukan jika berkenan. Nanti setelah cerita ini tamat, Othor up prolog dan satu bab siap baca. *Dengan catatan tidak ada kendala teknis ya 😳
Terima kasih,
See ya ...
__ADS_1