Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×16


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


“Hati-hati di jalan ya nak Anta. Kalau capek nyetir, istirahat saja dulu.”


Begitu bunyi pesan ayah mertuanya tadi, ketika dia berpamitan. Tak lupa pesan dari ibu mertuanya yang berbunyi sama, agar dia memilih berhenti dan beristirahat karena perjalanan mereka sangat jauh untuk kembali ke kota.


Sekarang, mereka sudah setengah jalan dan hendak memasuki kawasan kota—mungkin setengah jam lagi. Antariksa menepikan mobil disebuah rumah makan yang ada di kawasan rest area jalan tol. Hari sudah hampir sore, dan perut mulai meminta jatah makan. Menyetir itu butuh tenaga dan konsentrasi agar tetap fokus.


Melihat mobil sudah berhenti tepat didepan rumah makan asal Sumatera barat itu, Leona turut membenarkan posisi punggungnya yang terasa seperti di paku. Kaku.


“Gue laper.”


Karena masih sebal, Leona menjawab sekenanya. “Ya makan.”


“Ya ini, mau beli makan.” sahut Anta lugu, apa adanya. “Lo nggak ikut turun?” tanya Anta saat melihat Leona diam tidak melepas seatbelt. “Memangnya nggak lapar?”


“Kepo!”


Anta membuat bibirnya menjadi segaris lurus. Dia benar-benar tidak habis pikir, apa salahnya sih dia datang menyusul Leona ke rumah orang tuanya? Toh pulangnya jadi gratis kan nggak kena bayar kereta? Malah Anta yang tekor uang bensin. Belum lagi tenaga karena besok pagi harus langsung kerja gara-gara ada meeting.


“Ya udah.”


Anta benar-benar meninggalkan Leona seorang diri didalam mobil Jeep kesayangannya. Perutnya lapar sekali karena tadi pagi dia hanya sarapan sedikit karena jaga image. Entah mengapa, masakan buatan sang mertua, rasanya sama enaknya dengan buatan Leona. Ah, mungkin istrinya itu memang belajar banyak dari sang ibu. Jika bukan sedang berada di jalan tol yang sepanjang jalannya hanya ada pohon dan rambu lalulintas, Antariksa pasti tidak akan mai makan disini. Baginya, masakan Leona itu juaranya bikin perut ketagihan.


Setelah memesan sepiring makanan khas Padang, Antariksa menuju salah satu meja yang kosong. Dia duduk dan sesekali memperhatikan mobil Jeep nya sekarang sedang dihuni oleh seseorang yang sedang badmood, ngambek.


Batinnya tertawa melihat tingkah lucu sang istri. Akhir-akhir ini Anta memang sering bimbang dan dilema dengan hubungannya bersama Leona. Namun setelah mendengar pesan pak Kusumo padanya untuk menjaga Leona, satu pikiran teguh mendatangi Antariksa. Dia harus tegas dalam mengambil keputusan besar ini, atau akan terlambat. Tapi, bagaimana perasaan Amanda jika wanita yang ia cintai itu sampai tau Anta ingin memutuskan sepihak untuk mengakhiri hubungan mereka?


Akhirnya dia terjebak sekarang. Antariksa merasa tidak seharusnya dia menawari Leona sebuah pernikahan malam itu. Seharusnya, dia menyodorkan cek kosong saja agar perempuan itu mengisinya dengan nominal suka-suka, lantas mereka tidak memiliki ikatan dan kembali pada hidup masing-masing. Seharusnya seperti itu, bukan malah menjebak dirinya sendiri dalam ikatan sakral seperti ini.


Antariksa mengehela nafas besar, lalu menyandarkan punggungnya yang ternyata baik-baik saja—tidak encok seperti yang di bayangkan sebelumnya—pada sandaran kursi. Ditatapnya lurus mobil miliknya yang mentereng diantara mobil-mobil lain, hingga tatapan mata itu seolah menembus kaca hitam gelap, dan mendapati sosok Leona yang sedang duduk sendirian di dalam sana. Pikirannya kembali melayang.


“Dia baik kok.” bisiknya pada diri sendiri, lalu menyugar rambutnya kebelakang hingga menjadi perhatian orang-orang yang ada disana—khusunya cewek-cewek dan ibu-ibu yang ingin Antariksa menjadi menantunya.


Baru saja dia mengeluarkan ponsel yang sejak pagi tadi ia silent, sebuah tepukan lembut menyapa bahu kanannya. Anta menoleh, dan mendapati Leona berdiri sembari memegangi tali tas selempang miliknya. Wajahnya imut, bibirnya sedikit cemberut, dan ekspresinya seperti anak kecil menggemaskan saat meminta sebuah mainan Barbie. Hal itu berhasil membuat Anta merasakan jantungnya sedikit berdebar.

__ADS_1


“Ada apa?” tanyanya pada Leona.


“Lapar.”


Anta mengedip cepat agar tawanya tidak meledak detik itu juga. Dasar perempuan. Tadi ditanya, malah ngatain kepo. Sekarang datang-datang memasang wajah memelas minta di manja, sambil bilang lapar. Ajaib sekali perempuan satu ini.


“Ya udah. Duduk.” titah Anta yang langsung dituruti oleh Leona. Hidangan demi hidangan disajikan. Lalu Anta juga sempat memesan minuman untuk Leona juga.


Menikmati makan sore, baik Antariksa dan Leona sama-sama diam dan tidak bicara apapun saat makan. Baru setelah itu, suara Antariksa mulai membuka topik.


“Besok aku berangkat pagi. Ada meeting sama klien.”


Leona mengangguk paham, ia meraih gelas besar berisi es teh dan meneguknya.


“Pulang jam berapa? Biar aku siapin makan malamnya.” ini kode setidaknya agar Leona tau apa yang harus ia lakukan jika memang Anta pulang terlambat atau melebihi jam makan malam. Bisa-bisa Leona kelaparan jika menunggu pria itu pulang tanpa kepastian.


“Pulangnya seperti biasanya. Kan meetingnya pagi. Beda lagi kalau meetingnya siang atau sore.”


“Ya sudah. Aku besok off, mau ambil cuti sehari lagi buat istirahat.”


Antariksa menatap serius ke arah Leona. Kenapa wanita ini suka sekali bermain sembunyi-sembunyi? Kenapa baru hilang sekarang kalau besok ambil cuti? Coba kalau dia cerita besok mengambil cuti, kan Anta bisa meminta jadwal meeting nya diundur kepada Manda. Jadi dia juga bisa off dan beristirahat setelah menyetir jauh hari ini.


“Tolong cek schedule ku besok setelah meeting. Kirim ke e-mail.”


Leona mengernyit. Ternyata sesibuk itu ya suaminya. Dia jadi tidak enak sendiri sudah merepotkan dan membuat Anta ikut datang ke kampung, bahkan bersikap sok jual mahal dengan ngambek-ngambek segala.


Tak lama kemudian, Anta serius menatap layar ponselnya. Lalu berkata, “Gue bisa pulang di jam makan siang. Masak buat makan siang sekalian. Gue juga butuh istirahat di rumah.”


Bukannya nggak suka. Tapi Leona jadi bingung mengapa Antariksa tiba-tiba berkata jika akan pulang di jam maksi? Aneh.


***


Dan benar saja, Antariksa sampai dirumah saat jarum jam menunjuk angka satu, siang bolong. Laki-laki itu bahkan langsung menyantap nasi kuning buatan Leona, dua porsi sekaligus, tanpa mandi atau membersihkan diri terlebih dahulu. Astaga dragon, Leona sampai kehabisan kata-kata.


Setelah makan siang dan acara membersihkan diri selesai, Antariksa duduk santai didepan ruang tengah sembari melihat berbagai jenis berita yang di tayangkan oleh stasiun televisi lokal dan mancanegara.


Leona menyusul duduk sambil membawa satu toples kue nastar buatan ibunya yang di bawanya dari kampung. Anta melirik Leona yang seolah tidak peduli dengan dirinya.


“Lo nggak takut gendut ngemil begitu?”


Mendengar pertanyaan Antariksa, Leona hampir menyatukan kedua alisnya yang indah bak bulan sabit itu karena tidak percaya. Se-random itu ya pertanyaan orang kaya? Ah, Leona hampir lupa. Anta kan orang penting, pebisnis, jadi dia harus memiliki pasangan yang sempurna, yang cantik, yang bodynya kayak gitar spanyol, begitu?

__ADS_1


“Kamu mau?” tawar Leona dengan wajah biasa saja.


“Bawa kesini.”


Menuruti perintah Anta, Leona bergeser menuju sofa yang ditempati oleh Antariksa. Tapi lagi-lagi hal mengejutkan membuat Leona tersentak kaget. Anta menarik tubuh ramping Leona hingga jatuh dan ambruk diatas tubuh Antariksa. Lalu, dengan sentakan kuat lainnya, Leona berubah duduk diatas perut liat sang suami.


Tatapan mereka bertemu, dan rona di wajah Leona tak dapat dihindarkan.


“Kenapa merona begitu? Malu?” tanya Anta, seduktif yang membuat Leona mengalihkan wajah, sangking malunya.


Ini masih jam dua siang Anta? Mengapa mancing-mancing sisi liar Leona seperti itu?


“Jujur, aku punya kekasih yang masih berhubungan sama aku sampai hari ini.” kata Antariksa memberitahu tiba-tiba tanpa ada angin dan hujan.


Ternyata, manisnya cuma sebentar. Sekarang, Leona merasakan lidahnya pahit. Anta baru saja mengguyurnya dengan racun. Dan racun pahit itu berupa kenyataan.


“Aku mau jujur ke kamu, karena bapak nitipin kamu ke aku. Aku nggak mau nanti kamu salah paham dan ngadu yang enggak-enggak ke bapak.”


Baru saja ingin merasakan rona yang hangat di wajahnya menjalar ke seluruh inci tubuh sebagai bentuk rasa bahagia. Tapi nyatanya, Antariksa tak memberi kesempatan untuk itu.


Leona yang terlanjur malu karena sempat merona, meronta ingin turun dari tubuh Antariksa. Namun semua pergerakannya dibuat berhenti paksa karena antariksa menarik turun punggung Leona hingga jatuh diatas dadanya. Wajah mereka begitu dekat, hingga aroma nafas mereka saling menyapa.


“Kamu keberatan dengan apa yang baru saja aku katakan padamu, Na?”


Anta berani mengatakan itu, karena yakin Leona tidak akan sakit hati karena laki-laki yang dicintai perempuan itu, bukanlah dirinya, melainkan mantan kekasih yang mungkin masih dia cintai sampai detik itu.


“Tentu saja keberatan, Ta! Siapa yang mau dijadikan boneka pemuas has-rat?”


Ya, tentu Leona sadar jika dirinya sekarang menjadi boneka permainan Antariksa. Tapi, dia tidak bisa berbuat banyak karena apa yang dilakukan Anta itu sah dimata hukum dan agama, kecuali hubungan yang baru saja dikatakan pria itu, yang Leon sebut perselingkuhan.


Tapi bibirnya justru berkata berbeda. “Untuk apa aku keberatan? Toh kita menikah juga bukan karena saling cinta? Hak kamu kalau memang kamu masih memiliki hubungan dengan kekasihmu itu.” seru Leona, menatap dalam manik mata Antariksa yang berubah sayu. Leona memberanikan diri untuk menyelam lebih dalam manik indah itu, hingga tanpa sadar, telapak tangannya menyentuh satu sisi wajah Antariksa dengan sentuhan lembut.


“Tapi tolong, jangan buat aku jatuh hati sama kamu.” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


###


Nah, kisi-kisi tuh, Ta. Kalau kamu nggak peka, berarti benar kata Leon. Kamu itu d*ng*. Ye kan? 😜

__ADS_1


__ADS_2