
...Can I Love you?...
...by VizcaVida...
..._____🌺_____...
“Salah satu Rasi bintang paling indah dan terang itu, Orion.”
“Orion? Lunar punya teman namanya Orion.”
“Oh benarkah?”
“Eumm.” angguk Lunar sambil menatap Antariksa yang sedang membacakan buku dongeng bersampul cantik tentang langit dan bintang yang indah.
“Mungkin, mama papa mereka suka dengan nama itu karena Orion itu indah. Lihat deh.”
Lunar mengangguk lagi. Ia mungkin kurang paham untuk urusan itu karena otak bocil nya masih tidak dapat menjangkau informasi yang disampaikan oleh Antariksa.
“Lalu, kenapa nama paman Antariksa? Berarti, paman itu turun dari langit ya?” tanya Lunar diliputi rasa penasaran karena nama pria yang sedang membaca dongeng untuknya itu terdengar unik. “Atau, paman itu langit?”
Anta ingin menyemburkan tawa mendengar kesimpulan anak-anak saat berusaha menebak suka-suka hati. Jelas itu mustahil, karena Antariksa cuma seorang manusia.
“Paman ini cuma manusia, bukan langit, bukan juga malaikat. Tetapi, ayah dan ibunya paman dulu, suka dengan nama Antariksa karena eumm ... ”
Sebenarnya, Antariksa sendiri tidak tau mengapa kedua orang tuanya memilih nama itu. Karena sampai sekarangpun, mereka tidak pernah menunjukkan alasan mengapa mereka memberi nama Antariksa padanya.
“Kesini.” pinta Antariksa kepada Lunar, dan gadis kecil itu menurut. Ia bangkit dari tiduran, lalu menyandarkan punggungnya pada punggung kursi seperti yang dilakukan Antariksa.
Antariksa sudah mengotak-atik ponselnya, mencari pada laman Gugel untuk memberi informasi tentang apa itu Antariksa kepada Lunar.
“Nah, coba lihat ini.” kata Antariksa menunjukkan sebuah gambar langit berkelip warna-warni kepada Lunar.
“Wouw, bagusnya ... ” gumam Lunar dengan telunjuk yang menekan-nekan gambar angkasa luas yang sering di jadikan objek penelitian para antariksawan itu.
“Nah, mungkin dulu ayah dan ibu paman suka dengan nama Antariksa, karena memiliki arti yang bagus, dan bentuk yang indah.” lanjutnya mengada-ada. Tidak mungkin juga dia memberikan informasi berlebihan jika ia tidak tau sendiri sumbernya.
“Kalau begitu, apa maksud nama Lunar ya, paman? Kenapa bunda ngasih nama Lunar?”
Antariksa tersenyum. Ia meraih tubuh gembil itu kedalam pelukan. “Nama yang diberikan bunda buat kamu, sangat cantik. Sama seperti orangnya.” puji Anta pada Lunar sambil mencolek lembut hidung bangir si kecil.
“Apa nama itu juga dari ayah?”
__ADS_1
Bak dihantam meteor, hati Antariksa mendadak pilu. Ucapan Lunar berhasil membuatnya merasa begitu tidak berguna karena tidak tau menau apapun. Termasuk bagaimana proses kelahiran Lunar ke dunia. Ia benar-benar menyesal akan hal itu.
“Eumm, paman juga tidak tau.”
Lunar mengerucutkan bibir. Ia sedih. “Lunar kecewa sama ayah. Mengapa ayah tidak pulang meskipun Lunar sudah menunggu lamaaaa sekali.”
Mendengar keluh kesah putrinya yang sampai sekarang belum mengetahui kenyataan, Antariksa tidak sanggup membendung rasa sedihnya. Ia mengeratkan pelukan dan meneteskan air mata diam-diam. “Kamu mau ketemu ayah kamu?”
Antariksa dapat merasakan satu anggukan kepala Lunar di dadanya. Ia juga mengecup puncak kepala beraroma strawberry itu cukup lama sebagai tanda Antariksa tidak mampu membayangkan betapa kecewanya Lunar kepada dirinya jika mereka dipertemukan sebagai ayah dan anak.
Sejak semula, Antariksa sudah ingin sekali memberitahu Lunar jika dialah sang ayah yang selama ini gadis kecil itu tunggu. Namun, mengingat risiko yang mungkin nanti terjadi diluar keinginannya yakni, kebencian Lunar kepadanya, Antariksa jadi berfikir kembali untuk mengutarakannya sekarang. Ia memilih untuk mendekatinya terlebih dahulu, lantas jika tiba saatnya nanti, dia akan mengatakan hal itu kepada Lunar, terlebih jika Leona sudah memberinya izin.
“Paman Anta kenal dengan ayah Lunar?”
Bolehkah dia berkata ya, lalu membual?
“Eummm, bisa ... jadi.” jawabnya ragu. Ia bahkan menyempatkan melirik ke arah jalan yang menghubungkan ke dapur, dimana Leona saat ini berada. Wanita itu sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Sedangkan Anta sendiri mendapat tugas menjaga Lunar.
“Benarkah?”
Antariksa mengangguk. Sedangkan Lunar turun dari kursi dan berlari secepat kilat menuju dapur tanpa mengindahkan panggilan Antariksa yang hendak melarang untuk memberitahu kepada Leona.
“Bunda, paman Antariksa bilang kalau dia kenal sama ayah. Ayo bunda, ayo bertemu ayah.” rengek Lunar sambil menarik pergelangan tangan Leona.
Apalagi sekarang? Mengapa Antariksa ini selalu membuat Leona pusing.
“Sorry.” bisik Antariksa tanpa suara sembari menyatukan dua telapak tangannya didepan dagu. Setelah itu, ia menggaruk belakang telinganya karena gugup plus ada rasa takut Leona akan kecewa dan kembali menutup hati.
“Ayo, Bun.” lanjut Lunar masih merengek manja minta diperhatikan dan di turuti.
“Sayang, bunda masih masak ini.”
“Sini, Lun.” panggilan Antariksa menyita perhatian Lunar yang sudah hendak menangis. “Dengerin dulu, paman tadi belum selesai bicara sama Lunar.”
Bibir mungil itu bergetar hendak menangis. Langkah kaki nya kembali mengarahkan dia untuk mendekat kepada Antariksa. Tubuh Lunar terangkat ke udara karena Antariksa menggendongnya tanpa kesulitan.
“Paman, Lunar ingin ketemu ayah.”
Antariksa menoleh ke arah Leona yang juga sedang menatapnya dengan mata bergetar. Wanita itu ingin menangis.
“Baiklah, besok paman kesini lagi—”
“Sama ayah?”
Antariksa kembali menengok Leona yang saat ini memasang ekspresi khawatir. Dengan suara halus, Antariksa berkata kepada Leona untuk meyakinkan pada wanita itu jika semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
“Sudah waktunya dia tau semuanya, Na. Aku akan menyayanginya. Aku bersumpah tidak akan menyakiti Lunar, ataupun kamu. Kalian harus dan berhak bahagia, bersamaku.”
Tidak ada kalimat apapun yang terucap di bibir Leona. Apa yang dikatakan Antariksa benar. Lunar akan segera tumbuh dewasa dan tentu saja akan berusaha mencari tau sosok sang ayah.
“Baiklah. Aku percaya padamu.” jawab Leona sendu. Suaranya sedikit bergetar dan hampir tercekat oleh salivanya sendiri. “Tolong jangan khianati lagi rasa percayaku ke mu, Ta.”
Antariksa mengangguk. Ia lantas membawa Lunar kembali menuju ruang tamu, membawanya dalam pangkuan, kemudian berkata, “Besok, ayah Lunar akan datang kesini membawa boneka dan coklat untuk Lunar.”
“Jadi, besok ayah Lunar akan pulang?
Sebuah anggukan menjadi jawaban Antariksa untuk pertanyaan Lunar, “Ya, besok. Lunar menyayangi paman Antariksa tidak?”
“Iya.”
“Kalau begitu, besok kalau ketemu sama ayah, Lunar juga harus sayang sama ayah, ya?”
Lunar tersenyum manis dengan sebuah anggukan kepala yang begitu antusias. Dapat dilihat jika keinginan dan rasa rindu akan kasih sayang seorang ayah, begitu besar.
“Lunar akan menyayangi ayah, Lunar janji.”
***
“Aku akan datang lagi kesini, besok, sebagai ayah Lunar.”
Leona hanya diam tidak menyangkal. Waktu sepertinya sudah mengizinkan putri kecilnya untuk tau siapa ayahnya.
“Aku nggak akan kecewa kalau misalnya nanti, Lunar justru tidak menerima dan berbalik menjauhiku. Mungkin itu hukuman untukku dari Tuhan.” lanjut Antariksa dengan intonasi rendah.
“Lebih dari itu, ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu, Na.”
“Tanyakan saja.” pinta Leona tenang. Mata mereka bersitatap dengan kecamuk isi kepala masing-masing.
“Kembalilah kerumahku.”
Mata Leona melebar. Ia tidak menyangka jika permintaan Antariksa akan sejauh ini. Leona pun sudah bersiap dengan memberikan gelengan kepala sebagai jawaban. Tapi, ini sudah konsekuensi yang mau tidak mau harus dia jalani setelah memutuskan untuk kembali menerima Antariksa. Termasuk kembali mencoba dekat dengan mantan ibu mertua yang mungkin sampai saat ini, masih tidak menginginkannya.
Namun kalimat selanjutnya yang dikatakan Antariksa, berhasil menarik perhatian Leona sepenuhnya.
“Kita menikah.” []
...To be continue...
...🌼🌺🌼...
###
__ADS_1
Bagaimana? Masih mau, Na? 😁