Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.03


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Tidak ada yang salah pagi ini. Lunar sudah terlihat seperti sedia kala. Tidak merengek pun bertanya banyak tentang Antariksa yang beberapa hari lewat bertemu dengannya.


Berbeda dengan Lunar, Leona kini lebih protektif terhadap putrinya itu. Bahkan dia meminta tolong kepada Bu Lastri untuk menjemput Lunar lebih awal dari jam pulang sekolah. Saat bu Lastri bertanya kenapa, Leona hanya memberikan jawaban singkat yakni, tidak ingin Lunar menjadi korban maraknya penculikan anak yang sedang ramai di berita televisi.


Leona sengaja tidak memberitahu alasan sebenarnya dia melakukan hal itu kepada Bu Lastri lantaran tidak ingin wanita paruh baya itu ikut kepikiran dengan masalah pribadi Leona.


Naif memang, tapi begitulah Leona. Dia terbiasa mandiri, dan hanya ingin menyelesaikan semua masalahnya sendiri.


“Nanti, kalau Bu Lastri belum jemput adek, adek jangan pergi dari sekolahan ya?”


“Iya, Bun. Kemarin Lunar kan sudah di kasih tau sama bunda.” protes si kecil tidak terima jika dianggap pelupa oleh si ibu.


“Bunda cuma mau mengingatkan, sayang. Takutnya nanti kamu lupa.”


“Tidak bunda. Lunar ingat kok. Lunar juga nggak mau kalau paman Antariksa ngajak Lunar pergi.” katanya memberi penjelasan yang lebih detail agar ibunya percaya jika dirinya masih mengingat dengan baik pesan yang disampaikan oleh sang ibu. “Tapi, boleh Lunar nanti bermain ke rumah Wijaya?”


Wijaya? Siapa?


“Teman kamu namanya Wijaya, dek?” tanya Leona kepo sembari mendekat dengan semangkuk sup ayam dan kaki ayam yang menjadi menu kesukaan Lunar lainnya, selain soto.


“Iya, Bun. Anaknya juga sudah bisa baca kayak Lunar. Ayahnya punya mobil baguuuuuus sekali.” terang Lunar memberitahu sambil mengangkat kedua tangannya, mengekspresikan sebagus apa mobil milik ayah temannya.


“Oh ya? Rumahnya dimana? Kalau jauh, tidak boleh. Lunar masih kecil.”


“Ya ... bunda.” jawab Lunar kecewa.


Melihat putrinya berubah masam, Leona duduk dan meraih lembut telapak tangan mungil Lunar. Kemudian berkata, “Nanti bunda tanyain ke Bu Lastri deh. Kalau Bu Lastri Ndak sibuk dan bisa jemput Lunar dari rumahnya Wijaya, bunda izinin main.”


“Beneran bunda? Yeeee ...”


Tawa gembira dari buah hatinya itu berhasil membuat beban ketakutan di pundak Leona sirna, menguar entah kemana.


***


“Kusut bener muke lu kek jemuran ngga di setrika Bu?” tanya Dinda saat mendapati wajah lelah temannya di jam istirahat. “Ada masalah?”


Sebenarnya, Leona tidak ingin memberitahu atau bercerita kepada siapapun. Tapi Dinda selalu berhasil mengundangnya untuk berkata jujur.

__ADS_1


“Lunar ketemu bapaknya,”


Dinda sedikit terkejut akan berita yang disampaikan oleh Leona. “Kapan?”


“Udah beberapa hari yang lalu. Tapi aku masih kepikiran, Din. Nggak bisa tenang.” kata Leona mencoba mengungkapkan isi hatinya kepada Sang sahabat.


Dinda menghela nafas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena masalah Leona agak ruwet. Dinda juga tidak menyalahkan Leona sepenuhnya saat tau alasan sahabat karibnya itu berpisah. Bahkan Dinda kagum pada sosok Leona yang tegar dan kuat menjadi orang tua tunggal bagi Lunar, dan juga menanggung biaya hidup kedua orang tuanya di desa.


“Gue sih nggak bisa ngasih saran apa-apa ke elo, Na. Mungkin lebih baik, Lunar tau siapa ayahnya.”


Leona menoleh, memperhatikan wajah Dinda dengan tatapan sedikit sendu. Lalu, senyuman masam terbit di bibir Leona. “Seharusnya memang begitu, Din. Tapi aku takut kalau Anta bakal kehasut lagi sama omongan dari luar, terus ngerebut Lunar dariku.” jawab Leona sedih. “Berpisah seminggu sama Lunar saja rasanya nggak tahan mau ketemu. Apalagi nanti kalau sampai Antariksa yang dapetin dia. Bisa mati aku Din.”


“Siapa tau dia mau berubah, Na?”


“Dan yang paling membuatku takut, apa dia akan membiarkan aku bertemu dengan anakku? Aku yakin dia tidak akan memberikan akses mudah untukku bertemu dengan Lunar, jika sampai hak asuh jatuh ke tangan Antariksa.”


Dinda mengusap lengan Leona. Situasi seperti ini memang sangat rumit, sulit di lalui.


“Gue percaya pilihan Lo adalah yang terbaik buat Lo dan Lunar. Kalau memang Lo nggak mau Antariksa ada dalam hidup kalian, lebih baik jangan dipaksa.”


Leona menyambut usapan Dinda dengan tepukan singkat. “Makasih ya, Din. Mungkin aku stress kalau nggak ada temen kayak kamu. Aku beruntung disini punya kamu dan Joan.”


***


Dan sesampainya di rumah, hal yang pertama kali Leona lihat membuatnya hampir jatuh pingsan.


Langkah kakinya menyergap cepat untuk mendekat. Ia tidak akan tinggal diam karena usaha antariksa yang membuatnya menjadi lelah sendiri. Leona memejam mata dengan bibir digigit dan wajah menoleh ke samping. Tidak habis pikir darimana pria ini mendapatkan alamat tempat tinggalnya.


“Bunda?!” panggil Lunar ceria sembari berlari menyambut Leona dan meninggalkan Antariksa di teras. “Ada paman Antariksa—”


“Bunda bilang apa? Apa Lunar lupa apa yang bunda bilang beberapa hari lalu?”


“Dia nggak salah, Na. Aku yang datang—”


“Aku nggak minta pendapat kamu. Sebaiknya cepat pergi dari sini.” sahut Leona cepat sambil menarik Lunar memasuki teras rumah dan buru-buru memutar kunci untuk membuka pintu. Tangannya gemetar ketakutan. Leona bahkan sulit bernafas saat aroma khas Antariksa yang terhirup. Ini artinya, pria itu ada didekatnya.


“Na—”


“Tolong. Jangan ganggu hidup aku lagi. Jangan ambil Lunar dariku.” kata Leona memotong kalimat Antariksa yang bahkan belum terucap sepenuhnya.


Pintu terbuka dan Leona bergegas masuk kedalam rumah bersama sang putri. Namun gerakannya yang hendak menutup pintu harus terhenti lantaran Antariksa menyelipkan sepatu diantara celah yang tersisa.


“Dengerin aku dulu, Na.”


“Jangan seperti ini, Ta. Tolong jangan ganggu aku. Biarkan aku dan putriku hidup tenang.”

__ADS_1


Leona menoleh ke arah Lunar yang sekarang terlihat ketakutan. Wajah putrinya itu terlihat ingin menangis. Melihat itu, Leona melepas daun pintu dan meraih Lunar ke dalam gendongannya.


“Lunar takut, bunda.”


“Enggak. Nggak ada apa-apa yang perlu kamu takuti, sayang. Bunda sama Lunar terus kok.”


Leona menatap panik pada putrinya yang berusaha merapatkan diri karena ketakutan melihatnya bersitegang dengan Antariksa.


“Na, kasih aku kesempatan untuk memilikinya juga. Dia juga anakku. Aku—”


“Dia anakku! Kamu tidak berhak bertemu dan memintanya dariku!” seru Leona pada Antariksa, sang mantan suami yang sudah berpisah darinya sejak delapan tahun yang lalu.


“Dia juga anakku—”


“Kenapa baru sekarang kamu mengakuinya, huh?! Kenapa tidak sejak dulu saat aku meminta dan mengemis belas kasihmu untuk menerima dia sebagai darah dagingmu?! Menerima kehadirannya?! Buah kasih kita yang meskipun—” suara Leon tercekat. Ia kecewa saat mengingat hari itu, hari dimana Antariksa merenggut paksa kehormatannya?


Tidak. Sepahit apapun masalalu itu, Lunar tidak boleh mendengar semuanya dari bibirnya. Anaknya tidak boleh tau. Atau Leon sendiri akan merasa lebih hina dari Antariksa, kemudian ... menyesal sendirian.


Suasana menjadi senyap untuk beberapa detik. Tidak ada balasan apapun dari Anta selain tatapan lurus dan tajam yang masih sama seperti dulu dimata Leon.


“Kenapa dulu kamu tidak percaya jika Lunar adalah anakmu dan lebih percaya pada wanita itu?” sahut Leon tak lagi peduli seberapa remuk hati Anta dan hatinya. “Kamu menyesal?” lanjut Leon mengejek dengan senyuman masam dan pahit.


Masih sama, Anta tetap diam menatap Leon dan Lunar secara bergantian.


“Aku harap kamu mengerti perasaanku, Antariksa. Sekali ini saja.”


Memang tidak elok saling mencaci didepan seorang anak kecil yang bahkan tidak mengerti masalah apa yang sedang di hadapi dua orang dewasa di sekelilingnya itu. Kedua lengan kecil seputih susu itu memeluk erat bahu dan leher, serta menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang mama yang selama ini selalu ada untuknya.


“Papa menyesal, nak.” lirih Anta tidak berbohong. Dia benar-benar menyesali keputusannya untuk meninggalkan Leon dan memilih percaya pada kedua orang tua dan hasutan perempuan yang saat itu masih sangat ia cintai.


Mendengar Anta mengucapkan sebuah kalimat penyesalan, Leon tertawa disudut bibir. Ia mencibir tingkah Antariksa yang ia nilai tidak konsisten. Dulu, dia diceraikan tanpa ada sebab musabab. Dan sekarang apa? Menyesal? Omong kosong!


“Buang kalimat penyesalanmu itu jauh-jauh, Ta. Kami tidak butuh apapun darimu! Termasuk penyesalan dan belas kasihmu!” kata Leon dengan nada dingin, lantas berniat pergi meninggalkan Anta untuk masuk kedalam rumah kontrakan yang sudah ia tempati sekitar delapan tahun yang lalu, lebih tepatnya setelah dia dan sang putri yang saat itu masih berada dalam kandungan, diusir dari istana yang mereka tempati bersama selama beberapa bulan setelah menikah, oleh pria itu sendiri.


Namun langkah Leon terhenti kala Antariksa meraih pergelangan tangannya, menggenggamnya kuat agar wanita itu tidak pergi meninggalkannya.


“Aku benar-benar menyesal, Leona. Maafin aku.”


Leona tidak menyahut atau memberi tanggapan apapun selain menarik paksa lengannya agar terlepas dari cengkraman Antariksa yang semakin kuat.


“Maafmu sudah tidak berlaku sejak kamu menyebut dia—” lagi-lagi Leona tercekat, salivanya meluncur membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Lantas Leona melanjutkan dengan nada suara yang rendah dan dingin penuh intimidasi. Wajahnya tak berekspresi, dan sorot matanya penuh benci kepada Antariksa. “Maaf itu sudah hilang, sudah tidak berlaku, sejak kamu menuduhku selingkuh, dan menyebut anakku ... anak haram!” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...

__ADS_1


Prolog sudah masuk ke cerita, ya


Jadi .................


__ADS_2