Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×22


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


Perceraian, adalah salah satu kalimat mengerikan dari sebuah pernikahan. Tidak ada yang ingin berada di situasi genting hingga pernikahan mereka harus berakhir dengan perpisahan. Apalagi pernikahan yang masih bisa seumur jagung.


Dibandingkan dengan pernikahan orang-orang yang diawali dengan saling jatuh cinta, kasus Leona dan Antariksa ini berbeda. Mereka menikah dikarenakan sebuah insiden yang memaksa mereka untuk hidup bersama sebagai antisipasi. Dan ujungnya, mereka dihadapkan pada jurang perpisahan yang memang sudah mereka prediksi jauh setelah pernikahan itu digelar.


Perjanjian pranikah dibuat sengaja oleh Antariksa, namun tetap tidak merugikan Leona karena dia tidak serta merta melepas tanggung jawab. Ada beberapa poin yang akan sedikit menguntungkan untuk pihak Leona, karena Antariksa akan memberikan sejumlah uang pengganti sebagai nafkah dalam masa tunggu. Itu bukan hal yang memberatkan bagi Antariksa. Dia akan membayarnya dengan adil.


Hari ini, hati Leona terasa sekelam malam yang mencekam. Ia berkemas, tidak ada alasan lagi untuk tetap tinggal di rumah ini. Anta tidak menginginkan dirinya dan juga bayinya, lalu bisa apa? Antariksa juga secara tidak langsung mentalaknya karena membahas tentang perceraian untuknya. Ya, benar begitu bukan? Correct Me If I Wrong.


Pria itu sudah termakan hasutan seseorang dan tidak akan pernah mau tahu kebenarannya dari mulut Leona.


Lembar demi lembar, pakaian itu Leona masukkan ke dalam tas miliknya yang masih sama dengan yang ia bawa ketika datang. Selanjutnya, dia bergegas keluar dari kamar dan mendapati Antariksa masih berdiri di tempat yang sama, memunggunginya.


Tanpa berkata sepatah kata pun, Leona berjalan melewati Antariksa yang ternyata juga melakukan hal yang sama, diam.


Mendapat perlakuan seperti itu, Leona memberanikan diri untuk berhenti dan menoleh dimana bayangan Antariksa berada. “Tolong kirim surat perceraiannya ke alamat kantor saja. Aku tidak ingin membuat ibu dan bapak kepikiran.”


Anta tetap diam, dan Leona geram.


“Satu hal lagi.”


Kali ini Antariksa menatap punggung Leona. Rasa sedih akan kehilangan mulai muncul dalam benaknya. Namun nasi sudah menjadi bubur, dia tidak mungkin menjilat ludah sendiri.


“Tidak perlu memberi apapun untukku, seperti yang menjadi kesepakatan kita di perjanjian pranikah.” kata Leona. Dengan nada sendu dia melanjutkan, “Terima kasih sudah menerima dan memberiku kesempatan untuk tinggal disini. Setelah ini, aku tidak ingin ada hubungan apa-apa lagi diantara kita. Jika kita bertemu secara tidak sengaja, anggap saja tidak pernah saling kenal.” tegas Leona tak goyah, ia lelah. Dia tidak ingin suatu saat nanti dia dan Anta bertemu dengan tidak sengaja, kemudian anta mulai mengusik hidupnya lagi, Leona tidak ingin seperti itu.


“Aku pamit.”

__ADS_1


Leona benar-benar pergi tanpa mendengar apapun dari Anta. Pria itu diam membatu, dan tidak mencoba meluruskan apapun. Jadi, Leona anggap semuanya sudah clear. Anta setuju dengan beberapa permintaan yang ia katakan, tadi.


Namun tanpa Leona ketahui, diam-diam Anta menghubungi seseorang.


“Tolong pantau dan beritahu apapun yang dia lakukan, padaku.”


***


Pergi kemana dia malam ini? Mendapatkan tempat tinggal secara dadakan di kota itu sulit. Perlu menunggu paling tidak satu hari untuk melakukan transaksi dan mengurus semua administrasi.


Leona yang sejak sore belum makan karena kepikiran tentang keadaannya, kini merasa lemah. Ia kelelahan, dan berakhir berhenti di salah satu warung pinggir jalan yang menjual nasi pecel. Ia memesan seporsi nasi beserta lauknya, serta segelas teh hangat sebagai sandingan.


“Mau kemana malam-malam begini neng?” tanya ibu-ibu penjual nasi.


Warung ini bukan warung besar. Leona makan di meja kecil yang menjadi satu dengan gerobak jualan sang ibu. Memang tidak mewah, tapi jangan salah jika ditanya soal rasa. Nasi pecel disini sangat enak.


“Eum, mau ke tempat teman, bu.” terpaksa Leona berbohong, takutnya ada yang mendengar kemudian mempunyai niat jahat padanya.


Leona hanya tersenyum, lantas menerima sepiring nasi dan melahapnya dengan sangat cepat. Ia benar-benar kelaparan.


“Di sekitaran sini ada neng, rumah di kontrakan. Nggak besar sih, cuma rumahnya bersih.”


Leona sedikit tertarik dengan pembicaraan tiba-tiba ini.


“Rumahnya milik saudara saya yang baru seminggu lalu dipindah tugaskan di luar kota.”


“Kalau kontrak, harga berapa Bu?”


“Waduh, saya kurang tau pastinya neng. Dengar-dengar sih, nggak terlalu mahal. Soalnya mereka cuma kepingin rumahnya ada yang nempatin dan ngerawat. Deket kok neng, tetanggaan lagi sama saya.”


Leona tersenyum lebih lebar. “Boleh saya minta nomor teleponnya, Bu? Nanti biar saya tanya harga sama pemiliknya. Saya juga sebenarnya sedang butuh tempat tinggal. Berhubung belum dapat, rencananya saya mau tinggal di tempat teman saya dulu.”


“Oh, ada neng. Kalau neng butuh malam ini, saya bisa kok langsung ngomong sama pemiliknya.”

__ADS_1


“Memangnya bisa ya, bu?”


“Saya tanyakan, neng mau nunggu?”


Leona mengangguk.


***


Setelah melakukan pembicaraan singkat dan negoisasi harga, akhirnya Leona berhasil mendapatkan tempat berteduh malam ini. Mungkin Tuhan sedang merasa iba dan kasihan padanya hingga semuanya berjalan mudah.


Seperti yang sudah dikatakan si ibu, rumahnya tidak besar. Rumahnya berada di sebuah gang yang tak jauh dari tempat si ibu berjualan. Rumah ini terdiri dari teras, ruang tamu, satu kamar tidur, satu kamar mandi, dan dapur. Kemudian dibagian belakang rumah, ada halaman kecil yang di kelilingi tembok, yang bisa digunakan untuk tempat menjemur pakaian.


Untuk barang-barang, rumah tersebut bisa dikatakan cukup lengkap. Di ruang tamu, ada meja kursi kayu berwarna coklat yang terlihat sedikit usang. Di kamar ada ranjang kayu yang diberi matras, yang cukup ditempati oleh dua orang, dan satu lemari jati yang terlihat masih kokoh. Untuk kamar mandi, masih menggunakan metode lama, yakni bak air dan gayung. Dan untuk dapur, ada meja tempat kompor, lalu pantry, dan rak piring kecil yang menempel di dinding. Leona cukup puas meski tidak seperti peralatan memasak seperti yang ada dirumah Antariksa.


“Oh, tolong jangan memikirkan orang yang sudah membuangmu, Na. Dia bahkan tidak menginginkan anaknya sendiri. Buang dia jauh-jauh dari hidupmu.”


Leona mende-sah berat. Ia kini memasang sprei bersih yang tadi sempat diberikan Bu Lastri, si pemilik warung nasi. Lantas, ia merebahkan diri karena jam sudah menunjuk angka sebelas malam.


Suasana sunyi membuat Leona kembali mengingat kejadian hari ini. Lalu, dia bangkit, dan meraih slingbagnya untuk mengambil foto hasil USG tadi sore. Dia tersenyum, lantas mengusap penuh kasih perutnya yang masih rata.


“Kamu baik-baik di dalam sana ya, sayang? Bunda menyayangimu.” katanya, lirih. Bahkan hampir menangis karena memikirkan bagaimana nasib anaknya tanpa seorang ayah. “Mungkin akan berat untuk kita berdua, tapi bunda yakin kamu kuat. Karena kamu anak bunda.”


Senyuman Leona berubah sendu kala wajah Antariksa kembali muncul dalam ingatannya. Kini beban lain selain mencari jalan keluar untuk menjalani hari menjadi orang tua tunggal, perasaan kedua orang tuanya jika tau keadaannya saat ini, turut memberatkan pundaknya Leona.


“Maafkan Nana Bu, bapak. Nana nggak bisa menjaga amanah bapak dan ibu dalam menjalani rumah tangga. Leona gagal.”


Leona memejamkan mata, mencoba menetralisir perasaannya yang semakin kacau balau memikirkan masa depan anak yang ada didalam kandungannya. Akan tetapi, dia kembali optimistis setelah memikirkan bagaimana indahnya menjadi seorang ibu. Diusapnya lagi perut ratanya, semuanya akan baik-baik saja. Dia harus kuat dan berhasil menjadi seorang ayah dan juga ibu untuk anaknya kelak.


“Selalu bersama bunda ya sayang. Temani bunda sampai kapanpun, sampai bunda tua.” bisiknya, diiringi setetes air mata yang jatuh dari sudut mata. “Bunda akan berjuang demi kamu, apapun keadaannya. Karena bunda sayang sama kamu.” []


...End...


...🌼🌺🌼...

__ADS_1


__ADS_2