Can I Love You?

Can I Love You?
CILY×Season 2.13


__ADS_3


...Can I Love you?...


...by VizcaVida...


..._____🌺_____...


“Aku dengar dari mama kamu, kamu ngajak mantan kamu balik ya?”


Antariksa ingin mengabaikan suara Amanda yang menyapanya saat jam kerja hampir habis. Ia juga tau jika Amanda pasti akan berusaha melakukan apapun untuk menggagalkan rencananya untuk kembali kepada Leona.


“Memangnya kenapa?”


“Ta, apa kamu tidak bisa mencari wanita lain saja? Kenapa harus dia?”


Ada senyuman sinis disudut bibir Antariksa mendengar pertanyaan Amanda padanya. Wanita itu masih belum berubah.


“Menurutmu mengapa aku melakukan itu, Manda?” tanyanya penuh penekanan. Ia tidak kembali menjadi sosok bodoh yang dikendalikan oleh wanita yang delapan tahun lalu membuat rumah tangganya hancur. “Lalu, apa kamu ingin membuatku membencinya pergi dengan menunjukkan foto-foto seperti saat itu?”


“Antariksa—”


“Jangan lakukan apapun. Karena aku tidak akan kembali termakan itu. Atau, aku bisa saja membuat kamu jera karena sudah membuat hidupku berantakan.”


Amanda menatap tajam pada Antariksa. “Ta—”


“Tolong jangan ganggu aku lagi, selagi aku masih baik kepadamu.”


“Jadi, kamu mengusirku?”


Jari sibuk Antariksa di atas tablet canggihnya terhenti. Wajahnya sedikit terangkat demi menyorot Amanda. “Ya! Pergi dan jangan ganggu hidupku lagi.” balas Antariksa dengan nada suara yang dingin.


“Kamu ingin aku menyebar video—”


“Video apa? Coba kamu cek lagi deh, apa video itu masih ada padamu?” sela antariksa percaya diri. Ia tau apa jika Amanda akan menggunakan ancaman yang sama saat terjepit seperti ini. Dan Antariksa, bukan orang bodoh yang tidak tau apa yang harus ia lakukan jauh-jauh hari.


Amanda yang mendengar itu, merasa sedikit panik akan keterkejutan. Mengingat video itu memang hanya ia simpan pada sebuah flash disk, tanpa meng-copy nya dimanapun. Ia bergegas merogoh saku tas kerjanya, tempat yang menjadi penyimpanan flash disk itu selama bertahun-tahun lamanya.


“Sial!” umpat Leona dalam hati saat tidak menemukan sesuatu yang dicarinya.


“Kamu mencari ini?” kata Antariksa menginterupsi kepanikan Amanda. Ia menunjukkan sebuah flash disk berukuran kecil di tangannya kepada Amanda.


Mata wanita itu membola sempurna saat tau benda yang selama ini ia andalkan untuk mengendalikan Antariksa itu, telah jatuh ke tangan pria itu.


“Kembalikan kepadaku, Ta. Atau aku akan—”


“Akan apalagi? Kamu tidak akan bisa melakukan ancaman apapun kepadaku tanpa benda ini.” seru Antariksa, mematahkan semua kepercayaan diri Amanda yang selama ini wanita itu tunjukkan dengan angkuh. “Aku memang pernah mencintaimu melebihi apapun, Manda. Tapi aku sadar sudah dibutakan oleh cinta hingga semuanya hancur tidak bersisa.”


Amanda gemetar. Keringat dingin mulai berebut mincul di keningnya. Sedangkan Antariksa, kini membawa punggungnya menjauhi sandaran kursi, lalu meletakkan flash disk itu dimeja, dan menyodorkan ke arah Amanda. “Ambil saja benda ini. Aku tidak butuh.” karena dia sudah menghapus semua file yang ada didalamnya. Termasuk foto-foto Leona yang diambil pada masa itu, dan beberapa yang baru diambil dalam waktu dekat.


Merasa diberi kesempatan, Amanda bergegas meraih benda itu dan meninggalkan ruangan Antariksa dengan gelagat panik luar biasa. Ia mengumpati keteledorannya, dan berharap file-file di dalam benda itu tidak menghilang.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat dia menghubungkan flashdisk dengan laptop miliknya dan nafasnya dipaksa berhenti saat tau semua file itu telah menghilang. Tak bersisa. “Berengsek kamu Antariksa.” bisiknya perlahan untuk ia dengar sendiri.


“Tolong, buat surat pengunduran diri dan letakkan dimeja ku, besok pagi.” seru Antariksa mengejutkan Amanda, kemudian meninggalkan kantor karena jam kerja sudah berakhir sekitar sepuluh menit yang lalu.


Senyum lega tercetak dibibir Antariksa. Semua hal yang membuatnya tertahan untuk mendekati Leona dan putri mereka, kini telah teratasi. Antariksa benar-benar ingin kembali membangun rumah tangga yang dulu pernah hancur.


“Tunggu papa bersatu dengan bunda, sayang.” bisiknya senang saat membayangkan wajah Lunar. Yang menjadi tugas selanjutnya adalah, meyakinkan kepada Leona jika dirinya telah berubah. Kesungguhannya benar-benar murni dari dalam hati. Dan Antariksa, akan menjadi pria yang mencintai Leona dan Lunar selamanya.


Dengan lengkap riang, Antariksa merogoh saku celana bahannya. Ia mengetik pesan untuk seseorang yang sudah sangat ingin ia temui.


Na, hari ini aku mau bertemu Lunar.


***


Waktu memang terasa singkat jika sedang bermain bersama orang yang disayangi. Terhitung sudah hampir empat jam Antariksa menemani gadis kecilnya hingga sekarang, tertidur pulas di pangkuannya.


Senyuman lebar terbit dibibir Antariksa kala melihat wajah tenang putrinya yang cantik itu begitu menggemaskan. Jemari tangannya tak tinggal diam, sesekali dia mencolek pipi chubby si kecil, terkadang juga menjepit pelan hidung bangirnya yang lancip itu penuh gemas.


“Kamu memang mau membuktikan jika kamu anak papa, ya?” gumamnya pelan. Ia tidak ingin mengganggu mimpi indah Lunar dengan suaranya. “Papa nggak nyangka, kalau kamu bisa menerima papa yang dulu pernah tidak menganggap kamu, nak. Maafkan papa.” bisiknya lagi sembari menyelipkan anakan rambut Lunar ke belakang telinga. “Maafkan papa sudah bersikap bodoh saat itu.”


Tiba-tiba Leona muncul diantara pintu yang terbuka. Tatapan mereka bertemu sejenak, lantas Anta bisa melihat wajah merona Leona yang tidak bisa disembunyikan. “Ah, kamu datang. Biar ku gendong Lunar ke kamar kamu.”


“Tidak. Biarkan dia disana. Aku sendiri yang akan membawanya ke kamar nanti. Kamu bisa pulang.” usir Leona karena merasa sungkan pada Bu lastri dan beberapa tetangga yang dekat dengan tempat tinggalnya.


“Aku ingin bicara serius sama kamu, Na.”


“Bicara apalagi, Anta?” jawab Leona sambil berjalan masuk dan meletakkan sepatu kerjanya di rak sepatu yang menjadi satu dengan sepatu milik Lunar. “Sepertinya tidak ada yang perlu—”


“Aku mau mandi dulu.”


“Ya. Aku tunggu kamu diluar.”


Antariksa juga tau batas dan aturan untuk keselamatan mereka. Antariksa tidak ingin Lebih na terlihat buruk Dimata tetangganya. Untuk itu dia memilih duduk diluar sembari mengutak-atik ponsel, memeriksa pekerjaan dari E-mail yang ia terima.


Tak terasa, Leona sudah selesai dengan urusannya, dan kini duduk di teras bersama Antariksa. Dua-duanya canggung dan memilih sibuk dengan telepon genggam ditangan masing-masing.


Lalu,


“Ah, aku mau bicara sama kamu, Na.” tegur Antariksa membuat Leona berhenti memainkan jemari diatas ponselnya.


“Bicara aja.”


Ada rasa tidak biasa yang dirasakan Antariksa saat ingin bicara serius seperti ini di samping Leona. Ujung jarinya mulai dingin dan berkeringat, tenggorokannya juga mendadak kering.


“Ini ... eummm ... soal keinginanku tempo hari.”


Leona tak menjawab. Dia hanya menyorot Antariksa yang terlihat gugup. Dan benar kata Dinda, Antariksa itu memang tampan.


“Kamu sudah mengambil keputusan?”


Leona menghela nafas sedikit besar. Ternyata hari ini Anta menagih keputusan yang sengaja ia tunda-tunda.

__ADS_1


“Aku ingin menebus semua kesalahanku saat itu, Na.”


“Menebusnya? Bagaimana caranya? Mencoba mengambil hati Lunar? Membahagiakan dia?”


“Bukan hanya dia. Tapi kamu juga.” sahut Antariksa tegas. “Aku sudah membuat kesalahan fatal yang membuat kamu membenciku hingga saat ini. Aku sadar, aku salah, Na. Aku bodoh. Untuk itu aku ingin menebusnya sekarang. Aku ingin, kamu, aku, dan Lunar menjadi kita.”


Leona tersenyum sinis. Haruskah dia menyerah dan menerima antariksa saja? Daripada pria ini terus mengejar dan mengemis agar dirinya kembali? Lalu, bagaimana dengan sakit hatinya yang belum sepenuhnya sembuh? Atau Leona harus egois sekali lagi agar dirinya tetap aman? Lantas, bagaimana dengan Lunar? Dia butuh sosok ayah dalam hidupnya.


Semua pertanyaan-pertanyaan itu menjadi kecamuk yang membingungkan dalam benak Leona. Disatu sisi, dia tidak ingin kembali kecewa karena sikap dan perilaku Antariksa terhadap dirinya dulu. Tapi disisi lain, dia juga harus memikirkan perasaan putrinya yang butuh sosok Ayah. Lunar butuh Antariksa.


“Kamu ingin kita kembali seperti dulu bukan?” pertanyaan Leona mengudara, dan antariksa mengangguk optimis. “Beban itu terlalu berat untuk lepas begitu saja dari hidupku, Ta. Kamu terlalu menyakitiku.” kata Leona jujur. Ia tidak lagi menyimpan perasaan kecewa dan bencinya terhadap Antariksa.


“Aku memohon ampunanmu untuk semua kesalahanku di masalalu, Na.” jawab Antariksa meyakinkan. “Jika kamu ingin beban itu pergi, lepaskan masa lalu itu. Aku mohon.”


“Tidak segampang itu—”


“Aku tau.” sahut Antariksa. Ia bahkan meraih telapak tangan Leona dan menggenggamnya. “Kita mulai dari awal. Kita jalani masa depan berdua. Kita bangun bidak rumah tangga baru. Aku janji, tidak akan membuat kesalahan yang sama, Na. Aku bersumpah atas namaku sendiri. Catat itu dalam hatimu.”


“Kamu bercanda?”


“Tidak sama sekali.”


“Mengapa tidak kamu lakukan sejak dulu?”


“Amanda mengancam ku. Dan sekarang, semua sudah aku bereskan.”


Leona terbelalak.


“Selama ini, aku berusaha mengambil video itu dari Amanda.”


“Video?” tanya Leona penasaran tentang video yang dimaksud Antariksa.


“Video tentang kita malam itu. Amanda mengancam akan menyebar itu kalau aku nggak ngikuti kemauannya.”


Mata Leona makin lebar.


“Entah dia dapat darimana, tapi dia menggunakan itu untuk membuat aku nggak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainannya.”


Mata mereka terkunci. Kali ini, sorot sendu dapat Leona lihat dari mata Antariksa.


“Tapi sekarang, semuanya sudah berakhir, Na.” terang Antariksa penuh harap.


Keduanya diam untuk beberapa saat, menata hati masing-masing. Hingga suara Antariksa kembali memecah keheningan. “Na, bersediakah kamu nerima aku lagi?”


Leona terpaku. Nafasnya seolah tertahan di kerongkongan. Apalagi saat mendengar suara Anta selanjutnya yang berkata, “Bolehkah aku mencintaimu lagi?” []


...To be continue...


...🌼🌺🌼...


###

__ADS_1


Uhuy 😍🤩


__ADS_2