
“Baiklah Lucius, Anda Bisa Menulis sepuas Anda, Tetapi Apakah Anda Dapat menulisnya dengan baik? Apa perlu saya membantu Anda?” Tanya Tn. Hartpart ke Lucius.
“Saya baik-baik saja Tuan, terimakasih Tn. Hartpart” bungkuk Lucius yang berterimakasih.
“Tidak masalah Lucius, Anda adalah Murid saya dan saya Bangga melihat Murid saya adalah orang yang sangat berbakat Yang akan mengubah Sejarah Musik” jawab Tulus Tn. Hartpart yang membagikan kertas Ke Lucius
Lucius pergi dengan senyumannya itu untuk meninggalkan Ruangan Tn. Hartpart.
“Tunggu lucius” sela Tn. Hartpart,” bisakah saya Mendengarkan Musik Anda Ketika Anda Selesai Menulisnya?” Tanya Tn. Hartpart itu yang menatap Luciua dengan Penasaran.
“Anda Dapat mendengarkannya dan Melihatnya Tuan.” Jawab Tulus Lucius dan pergi.
Lucius mengambil Pena Bulu yang tidak Jauh dari Tempat dia berada dan menulis Simfoni itu di Ruangan Piano di lantai yang Cukup Dingin itu.
“Ya aku akan Menulis nya Kembali” mengambil Selemar Kertas dua mulau menyusun Nada-nada di Lagu nya itu dengan susah payah nya.
Dia berusaha menulisnya dengan rapih mengikuti Arahan Tn. Hartpart sebelumnya yang telah mengajarkannya.
Menghabisi Waktunya Untuk menulis dia berusaha mengingat Not demi Not dan Nada yang sebelumnya dia tulis.
Ini adalah Kenangan yang begitu dalam Di dunia musiknya dan dia begitu menyayangkan Bahwa Dia Belum sempat Untuk Merilis lagu hasil karya dan kerja kerasnya itu.
Di dalam pikiran yang di penuhi badai Pikiran dan Kekacauan Untuk berusaha mengingat, lucius terus menghabiskan Jam demi jam nya Untuk menulis.
Bahkan Di sela-sela waktunya dia terkadang memencet Not demi not untuk Mengingat seperti apa Nada dan Lagu nya dulu.
Menghabiskan Waktunya Untuk bersantai , Tn. Hartpart memantau dan melihat dengan Baik kerja keras dan usaha Lucius yang sangat fokus itu.
Dia bahkan melihat wajahnya sangat serius menulis dengan penuh usaha dan keringatnya itu, dia tidak pernah bisa melihat Lucius sebagai Anak Kecil lagi yang dulunya dia Ajarkan Musik .
Dia bahka Baru belajar darinya selama 1 Bulan Lebih dan Dia telah berkembang dan Sekarang Menciptakan Dua lagu.
Itu benar-benar sangat hebat dan Tn. Hartpart juga sangat Bangga melihat Seorang yang Bisa menghiasi dunia Musik dan Menginsipirasinya untuk menciptakan Karya yang jauh lebih baik lagi.
“Karya yang di Buatkan Untuk menyentuh Hati dan perasaan….” Memegang Dadanya itu Tn. Hartpart mengingat kembali sedikit kenangan menyakitkan Tentang Dirinya Yang dengan usaha kerasnya berjuang untuk Musik dan Hidupnya itu.
“Saya hanya berharap Orang tua saya dapat melihat Saya memainkan Musik saya Di Aula Flizo, saya harap musik saya dan Murid saya di terima” mengambil Harapan yang dalam Tn. Hartpart berdoa dengan Tulus dan Kembali ke kantor nya dengan Ekspresi Yang jauh lebih hangat.
…….
__ADS_1
“Saya telah menyelesaikannya Tuan!” Teriak senang Lucius.
“Saya melihat Anda Sangat Kelelahan Lucius, Bisakah saya melihat Hasil karya Anda?” Tanya Tn. Hartpart sembari meletakan Pena bulu di Tempat Nya kembali.
“Anda dapat melihatnya sepuas Anda Tuan” dengan perasaan senangnya Lucius memberikan Tumpukan Kertas itu Ke Tn. Hartpart.
Tn. Hartpart mengambil kertas itu dengan Tenang dan mulai sedikir santai dan membaca Apa yang Lucius tulis.
“Hm…..”
“Hm…..”
“Ini…..”
Sembari terus melihat ,wajahnya sesekali mengeras dan sesekali sedih juga, dia membuat banyak Ekspresi yang aneh yang bahkan Lucius tidak dapat mengerti.
“Apakah karya saya Tidak bagus tuan?” Tanya Lucius yang Dengan Malu bertanya.
Mau bagaimanapun ini pertama kalinya karyanya di lihat seseorang,karya yang dia tulus dan buat sepenuh hati di liat seseorang, ini membuat Lucius sedikit grogi dan ragu.
Membayangkan dengan jelas dengan sedikit takut dia membuat berbagai macam fantasi liat yang terus terbayang di Pikirannya itu.
Dia cukup takut bahwa karyanya lebih buruk dari sebelumnya yang dia mainkan.
Karya yang dia mainkan adalah karya orang lain, sedangkan karya yang berada di Tangan Tn. Hartpart sekarang adalah karya Miliknya sendiri yang dia bahkan ragu itu cukup bagus untuk di Kirimkan.
“Lucius” dengan suara lembut Itu Tn. Hartpart berbicara.
“Y-ya? Apakah karya saya sangat Buruk Tuan?” Tanya Lucius yang sedikit krogi dan gugup.
“Ini adalah karya yang sempurna Lucius, aku bisa merasakannya, semua keindahan di Nada demi nada ini, ini benar-benar ini” Ucap Tn. Hartpart yang menggenggam kertas Lucius dengan gemetar dan sedikit mengeluarkan air matanya.
“T-tuan? Saya senang, saya senang Jika karya saya sangat bagus untuk Anda. Saya harao karya ini dapat di mainkan di Aula Flizo bersama dengan Anda tuan.” Ucap Lucius dengan tulus.
“Hahahaha, baiklah sekarang mari coba mainkan Lucius!” Menarik Lucius dengan semangat Mereka segera memainkan dan membuka Papan Keyboard Piano itu untuk dengan semangat Mulai memencet Tuts demi Tuts .
…….
“Hah…. Aku tak menyangka Tn. Hartpart terlihat sangat senang” bergumam di Jalan yang gelap Lucius menatap langit yang mendung itu dan Kabut putih di kota.
__ADS_1
Pemandangan Kota indah dengan corak bangunan Coklat dan beberapa bangunan tinggi Juga terlihat.
Beberapa Petir terdengar di atas langit tinggi dan pemandangan Kota semakin terasa Gelap dan Misterius.
“Hujan akan turun….” Sejenak itu melintas dengan cepat di Pikiran Lucius entah kenapa dan Tepat pada saat itu Rintikan Hujan dengan sekejap turun.
Itu bermula dengan pelan, dan perlahan lahan semakin Kencang dan Cepat Hingga akhirnya membuat Hujan Badai yang mempunyai Curah Hujan yang Tinggi.
Lucius berlari di Derasnya Rintikan Hujan itu dengan Sangat cepat seperti Seorang Sapi yang lari dan dia terus berlari cepat Untuk segera pergu ke Apartemennya.
Pakaiannya basah dan tubuhnya benar-benar di buat Kebahasan oleh Derasnya Hujan.
Ini pertama kalinya Bagi Lucius Merasakan air Hujan di dunia ini, dia berhenti sejenak menatap ke atas sembari menutup matanya merasakan air hujan itu mengalir ke tubuhnya.
……
Lucius duduk Diam berdiri di Koridor Sebuah Gedung yang Cukup besar.
Gedung ini ramai dengan banyaknya Pekerja yang bolak balik mengambil kertas dan Mulai meninjau nya mereka sangat berisik dan ramai sekaligus cukup banyak orang Juga yang terus datang dan pergi.
Lucius duduk mengambil Jidat nya yang Lemah itu untuk bersandar di Jari-jarinya.
“Anda tegang Lucius?” Tanya Tn. Hartpart.
“Sangat tegang Tuan” Menjawab pertanyaan Tn. Hartpart Lucius tidak bisa terus tenang Dan sesekali berdiri lalu mondar- mandir dengan aneh.
Tn. Hartpart juga sama tegangnya dengan Lucius Tetapi Dia mempunyai Mental yang Cukup tenang dan bersikap dewasa untuk sedikit lebih tenang menghdaapi ketegangan di depannya itu.
Lucius duduk kembali sesekali mengerutkan keningnya dan Mengepalkan tangannya.
“Lucius Anda tidak perlu Khawatir, saya Yakin ratusan Karya di sini yang bersaing dengan Anda Bahkan tidak akan Mampu Untuk bisa menyaingi Karya Anda.” Tegas Tn. Hartpart yang tersenyum.
“Saya cukup penasaran, apakah saya memang Pantas mendapatkannya? Saya bahkan Baru belajar selama 2 Bulan tuan” jawab Lucius.
Mereka telah memghabiskan Hari-hari mereka dengan belajar Piano dan Musik, sekarang Lucius berada di Hari penentuannya di Mana naskah lagu mereka di Kirim dan sedang di Konfirmasi oleh Presdir dan di bantu oleh Wakil Presdir atau Tn. Leopard.
Ini benar-benar sangat tegang dan Lucius bisa cukup tenang menghadapi ini.
Bahkan di Malam hari Lucius sangat khawatir dengan karyanya, meski Gurunya Mr. Hartpart Sangat bangga dan Berkata itu adalah Karya terindah, tetapi Lucius sangat khawatir bagaimana dia harus Menyaksikan Takdir Karya yang di Buat dari kerja kerasnya itu.
__ADS_1