
Mengambil langkah besar, lucius berdiri di jalan yang sepi itu .
Kali ini dia pulang jauh lebih cepat dari sebelum-sebelumnya, setelah berjalan-jalam bersama Tn. Hartpart dia di izinkan langsung untuk pulang dan ini masih Malam yang sangat awal.
Tedy juga seharusnya akan pulang meski itu akan memakan waktu 30 menit lagi.
“Sekarang apa yang harus ku lakukan?” Dengan nada bertanya itu dia berdiam di jalan Panjang ,di mana kanan dan Kirinya di penuhi dengan Banyak bangunan-bangunan.
Langit malam memiliki banyak bintang yang terlihat dan Bulan Biru itu terlihat dengan jelas .
Kabut tidak tebal dan Malam masih cukup panjang.
Mengambil langkah ke arah lain dia berjalan menuju Pub tempat Tn. Jirgo ada.
………
Pub terlihat cukup ramai dengan banyak nya orang yang duduk di sini.
Beberapa orang yang terlihat kuat dan beberapa juga ada yang mencari kesenangan dan saling berbicara dengan senang.
Pub malam dan pagi hari sangat berbeda, ini terasa sangat Ramai dan membawa kebisingan di mana-mana.
Banyaknya para orang yang mabuk juga terlihat dan beberapa wanita yang duduk dan saling berbicara dengan hangat
Pintu terbuka di Pub yang ramai itu dan wajah yang Cukup di kenal Para pengunjung Pub terlihat.
Lucius cukup tenang berjalan dengan banyaknya tatapan yang datang ke arahnya.
Meski dia tidak tahu apa yang dulunya orang bernama Lucius ini lakukan, dia tetap tenang berjalan ke meja bar dan menghampiri Tn. Jirgo di depan nya.
“Apakah kau Datang karna ada masalah Lucius?” Tanya Tn. Jirgo ke Lucius.
“Saya baik Jirgo, saya datang untuk Minum”jawab Lucius dengan santai.
“Sangat baik Lucius, Anda menjadi Pemuda yang jauh lebih tenang” dengan jawaban hangat dari Jirgo dia menuangkan Alkohol ke Lucius itu dan menaruhnya di meja di depan lucius.
“Ini semua berkat Anda Jirgo, saya berhutang Budi dengan Anda” dengan senyuman hangat lucius tersenyum dan meminum secara pelan alkohol di depannya.
“Hahaha, Aku telah melihat mu dari kecil Bung dan aku tahu kau memang keras kepala, tapi aku pasti akan melakukan yang terbaik Untuk Anda” dengan hangat Jirgo tersenyum dan menatap Lucius.
“Apa tedy baik-baik saja?” Tanya Jirgo itu ke Lucius.
Dengan perasaan hangat Lucius meminum alkohol nya lagi dan menjawab.
“Dia baik, aku juga telah menyuruhnya Untuk tidak memaksakan diri, aku yakin dia masih keras kepala dan memaksakan dirinya untuk bekerja lebih keras” jawab Lucius itu sembari terdiam menatap Botol alkohol di depannya.
“Hah….. aku tidak melihatnya cukup lama, jika kau ada waktu kau bisa membawanya ke sini Lucius, aku akan memberikan Alkohol Gratis untuk Anda berdua” senyum lebar itu ada di wajah Jirgo yang juga sedikit hanyut dengan rasa sedih.
Lucius mengangguk mengiyakan Ucapan Jirgo itu dan menatap Pub yang ramai.
__ADS_1
“Aku melihat ini sangat ramai” tegas lucius, ini memang sangat ramai dan meski dirinya sebelumnya belum pernah ke Tempat seperti ini di dunianya dulu dia terkesan melihat tempat yang ramai dan cukup hangat ini.
“Hahaha, kau selalu melihat pemandangan ini dulu, aku merasa sangat bersalah karna kau kehilangan ingatan mu bung, aku harap kau cepat mengingat banyak hal kembali” dengan Candaanya Jirgo itu mereka berdua tertawa menghabiskan malam yang hangat itu untuk terus mabuk dan meminum alkohol mereka.
……
Dengan mata yang lembab dan Tubuh yang panas dia keluar dari Pub dengan pusing.
Dia muntah di selokah pinggir jalan mengelap Mulut nya itu dan Berjalan terus dengan celeng.
Ini sudah sangat malam mungkin berkisar jam 9 Pukul malam.
Ini juga sudah sepi dan tidak banyak orang yang lewat di sini.
Kabur putih terlihat di mana-mana menutupi langit langit kota dan kota ini.
Lucius terus berjalan di Kota yang sunyi itu dengan penglihatannya yang Sangat kabur itu.
“Hah…… sial, aku harusnya ,hoekk!” Dengan muntahan Lucius lagi dia terus berjalan dengan Tenang dan bergumam sesekali.
“Hah….. kota yang sepi” pandangannya masuh terus kabur sesekali jelas dan dia terus berjalan.
Berjalan dan berjalan, terkadang hati nya gugup meski saat ini dia mabuk entah kenapa rasnaya dia seakan akan merasakan bahaya dan sesuatu yang mengancam.
Sembari terus berjalan dengan sepi tanpa melihat seorang pun, bahkan gelandangan di sini saja tidak terlihat.
Lucius terkadang bingung dan berpikir dimana para gelandangan tinggal ketika malam yang sunyi itu terus berlalu tanpa adanya kehadiran seorangpun di sini.
Meski begitu dia berjalan terus terkadang berlari dan berjalan lagi.
Pandangannya juga masih tidak jelas dan gaya lari nya terlalu bodoh untuk orang yang seharusnya lari dengan baik.
Hingga waktu berlalu dia sampai di apartemen nya, mengambil langkah besar dia terus naik di anak tangga itu dengan lambat untuk mengurangi kebisingan dan Berjalan ke anak tangga terakhir.
Dia memegang pintu kecil dan rapuh itu lalu membukanya.
Melihat tedy yang tertidur lelap di ujung Koridor, dia berjalan ke arah kamar nya yang sempit dan menaruh pakaiannya dan beberapa uang nya yang hanya tersisa 10 Silver dan 1 Bronz.
“Hah…. Pala ku pusing” memegang kepalanya yang terasa panas dan pusing itu dia bersandar di Bangku yang ada di kamar nya itu.
Dia juga bersandar di Meja yang cukup panjang itu menaruh kepalanya dengan bantalan tangannya yang berada di atas kepala nya itu.
“Huft…. Aku merasa ada yang mengikuti, tapi apa itu hanya perasaan ku saja?” Dengan helaan nafas nya itu dia menghela nafas lagi sembari memegang jantung nya yang berdebar sangat kencang.
Bukan karna dia terpesona ataupun jatuh cinta.
Tetapi saking gugup dan takutnya itu dia begitu merasakan suara detak jantungnya yang begitu kencang terdengar.
Dengan nafasnya yang berusaha dengan baik tetap terjaga , dia mulai berdiri dan membaringkan dirinya di ranjang kasar dan sempit itu.
__ADS_1
Dia meluruskan dirinya dan menidurkan dirinya yang dalam keadaan mabuk dan Rentang itu.
……….
Di malam yang tenang.
“Dia hanya warga Biasa Tn. Hilir” ucap seorang Anggota Badan penyelidik gereja yang berdiri di kabul tebal di atap-atap rumah yang rapuh dan lembab itu.
Dia yang berdiri di atap rumah tinggi memperlihatkan kota malam yang sunyi dan gelap tetapi memiliki sedikit ketanangan dan aura magis yang kuat.
“Apakah kau merasakan ada Pergerakan dari Energi Divine?” Tanya Pendeta Hilir itu ke Anggota badan Penyelidik gereja atau Pendeta Inquisitor.
“Aku tidak merasakannya, sepertinya mereka bersembunyi dengan baik, penyebaran mereka termasuk lambat, apa Mungkin mereka merencanakan sesuatu Tn. Hilir?” Tanya Anggota itu dengan Bingung.
“Kita tidak bisa gegabah, kita sebaiknya melihat dan memantaunya terlebih dahulu, aku akan melaporan ke Uskup Untuk masalah ini, jika itu semakin gawat Aku akan segera memberi tahu Uskup.” Tegas Pendeta Hilir itu yang memegang Salin di tangannya dengan Baju pendetanya yang berkibar di atas Langit malam yang indah itu.
“Pantau terus pergerakan seisi kota, Kirimkam Juga Lebih banyak Anggota untuk mengintai, jangan gegabah dan cukup mengintai” tegas Pendeta itu.
Pemimpin Anggota Penyelidik itu mengangguk dan Pergi seperti asal yang kabur di bawah Kabut tebal.
Pendeta iru masih menatap malam yang indah dan Bukan yang terang itu dengan warna kebiruan.
“Semoga Tuhan Memberkati Malam Yang indah ini!” Membacakan Sebuah Doa di dalam hatinya dia memegang salib di tangannya dan memegang dengan erat di depan dadanya dan mencium nya.
Dia pergi Meninggalkan Malam yang tenang itu dan Beberapa udara Berhembusan dengan beberapa kelipan Bintang-bintang di atas langit yang bersinar terang.
…….
Pagi hari telah tiba.
Jadwal Kerja Rutinitas Lucius itu setiap hari karna dua juga harus melatih Cara bermain Pianonya dan melatih tangannya.
Mengingat Harinya yang harus terus bekerja tanpa istirahat dia merasakan cukup rasa lelah.
Mau bagaimanapun selama 23 tahun dia hidup kerjaannya tidak pernah begitu melelahkan karna dia adalah seorang Pengangguran yang Bodoh dan malas
Mengingat tubuhnya juga masih muda dan memiliki banyak energi dia bangun mencuci mukanya di sebuah Keran air yang bersih .
Dia berjalan ke Sebuah Toilet Yang ada di Apartemen kecil ini dan duduk menghabiskan waktunya di toilet itu.
Setelah menghabiskan cukup lama waktunya di Toilet itu dia memakai pakaiannya itu dengan rapih dan Menatap Tedy yang menunggu Lucius itu di Tangga sambil Memperhatikan Ramainga Orang.
“Kau tidak istirahat ? Bukankah Kau di bebaskan Istirahat di pekerjaanmu? Jangan memaksakan diri tedy” tegas Lucius.
Ini adalah Hari senin jika menurut Hari di Kalender dunia ini dan pekerjaan Tedy di bebaskan untuk para pegawai mengambil Libur di hari apapun selama satu Hari perminggu.
“Aku tidak memaksakan Diri Lucius, aku hanya menganggap menabung lebih akan lebih baik, aku juga cukup sehat kau tahu” tegas Tedy itu tang tersenyum memperhatikan wajahnya yang bersinar penuh energi itu.
Lucius terdiam dan menghela Nafasnya lalu menepuk dada Tedy.
__ADS_1
“Baiklah, aku mengingatkan mu, Sahabat mu ini akan menjadi Musisi yang Hebat dan kau tidak perlu khawatir” dengan candaan di pagi hari itu sekaligus penyemangat, mereka tertawa dengan Hangat .