
Asosiasi.
Minggu pagi masih Di Bulan Ketiga.
“Pagi Mr. Jilgo” sapa Lucius ramah.
Dia mengenakan Pakaian rapih Jaz hitam dan memandang Mr. Jilgo dengan ramah.
Jilgo masih dalam banyak pekerjaan nya dan wajah nya yang tua benar-benar membuat banyak Tubuh lemah dan Tua nya itu terlihat jelas.
“Batuk! Lucius sekamat pagi, Anda telah mendapatkan Surat Anda?” Tanya Jilgo dengan ramah.
Lucius mengangguk Menandakan bahwa dia telah menerimanya dengan baik.
“Bagus, apakah Anda akan menerimanya?” Tanga Jilgo kembali dengan baik.
Terhenti sejenak Lucius menyipitkan dan membuat wajah yang cukup Senang dan Tersenyum cerah.” Saya akan menerimanya, ini adalah Undangan Yang hebat dan saya ingin bisa Bermain di Hadakan Duke Trutis.
Mengangguk dengan pelan Mr. Jilgo tersenyum dan memberi Surat ke Lucius.”kirimkan ini ke Pegawai Dan biarkan mereka Mengirim ke Manor duke, Anda akan Bermain Di Hari Rabu Dan Sebaiknya Anda berlatih dengan baik Lucius, karya Anda sangat hebat dan saya bisa merasakan gelombang sejarah dan Musik yang emterus berjalan di Sekitar Anda”
Lucius hanya menyambut hangat dan tersenyum dengan pujian itu Lalu mengambil surat.” Ini adalah Pujian terbesar dalam Hidup saya, saya Berterimakasih Tuan, dan bisakah saya meminjam Piano di Kantor? Saya Tidak bisa berlatih di rumah” Lucius masih tersenyum hangat dan menunggu jawaban Tn. Jilgo.
Jilgo mengangguk setuju lalu melanjutkan Bicara.” Anda bisa menggunakan Kantor Nomor 8 Di sana terdapat Piano dan Ruang Kosong untuk biasanya saya bermain, Anda tidak perlu khawatir itu akan menjadi tempat latihan Anda Untuk beberapa Hari kedepan.“
Lucius mengangguk dan berbalik sebelum menuduk dan berterimakasih.
Dia pergi dengan gembira membawa Surat itu lalu berjalan ke Kantor yang ramai.
Kantor itu Penuh dengan kertas, beberapa orang yang sibuk dan beberapa Orang yang berbicara dengan antusias.
Lucius dengan tenang berjalan memberikan Surat ke salah satu pegawai Bernama Diny dan pergi .
Dia pergi berjalan ke Kantor Bernomer 8 dan memasukinya.
Kantor itu luas dan piano besar ada di sana, beberapa kertas Yang rapih Untuk menulis bersama Tinta dan Pena Buku di sana.
Beberapa Rak Buku, dan Jendela yang mengarah ke luar.
Kantor ini berada di Lantai dua dan Secarah keseluruan Asosiasi mempunyai Kantor yang besar dengan 4 Tingkat.
Lucius dengan lembut berjalan ke Piano dan memegang keyboard putih itu dengan Tatapan lembut nya.
__ADS_1
Seakan akan dia Merasa senang dia duduk dan Menjulurkan Jari-jari nya ke Keyboard dan Tuts-tuts itu.
Menutup mata dengan lembut Bunyi Melodi Moonlight Sonata dengan cepat terdengar:
Itu adalah Melodi yang indah yang membuat Lucius mengibgat beberapa hal yang mengingatkannya tentang Cahaya Bulan di dunianya dulu.
Dia begitu memahami bagaimana Dia memandang dunianya dulu dan berapa indahnya Langit malam ketika Hari tidak mendung dan di penuhi awan.
Cahaya Bulan dan Bintang yang indah dan Perasaan ketika dia memainkan Alunan Piano di Bawah sinar bulan yang indah.
Sangat di sayangkan hari ini bukanlah hari yang dia impikan dulu ketika dia memandang dunianya dengan perasaan yang hangat dan penuh senyuman.
Meski dia senang kesenangannya juga bercampur dengan banyak hal seperti sedih, Gugup, Takut, penuh tanda tanya dan banyak hal.
Beberapa nadanya kacau tapi Alunan itu masih terasa hangat dan nyaman.
Meski perasannya membuat Alunan itu kacau di penuhi perasaan yang tidak jelas dua hanya bisa menghela nafas dan mengakhiri Melodi itu.
Lucius terdiam dengan Kusam merasa bukan Permainannya yang Buruk tetapi perasaannya yang Cukup buruk
Meski dia tadi sangat senang itu terasa menjadi aneh dan membuat Perasaan senang itu menghilang entah kemana.
“Guru?” Sepontan Lucius memanggilnya ‘Guru’ dengan cepat.
“Oh?….. Anda Memanggil saya Guru” senyum Tn. Hartpart ke Lucius.
“Maaf, apakah Anda Tidak senang?” Tanya Lucius yang memasang Ekspresi ragu.
“Tidak, itu menyenangkan Anda bisa memanggil saya Guru, permainan Anda tadi sangat Buruk Lucius, tapi saya melihat Melodi itu sangat indah dan ketika saya berjalan mendengarkan permainan Anda awalnya itu sangat indah dan bagus.” Puji Gurunya itu dengan lembut.
Tn. Hartpart bukanlah orang yang pelit dengan Pujian dia juga memberi beberapa saran dan semangat ke Lucius
“Saya mendengar Anda akan bermain di Manor duke?” Tanya Tn. Hartpart.
Lucius mengangguk tidak berusaha menutupinya .” Saya akan bermain dan saya Telah menyetujuinya, saya akan bermain Lagu baru saya Moonlight “Jawab Lucius.
“Bagus, tapi Anda Bermain sangat Buruk, saya tahu Anda bisa bermain lebih baik, jadi Fokuslah . Ini adalah kesempatan Anda Lucius, dan saya tidak pernah tidak bisa berterimakasih ke Anda karna Anda saya bisa bermain dan membuat lagu yang baik dengan bantuan Inspirasi dan Kejeniusan Anda” pujian itu terasa sangat banyak Untuk Lucius dan dia hanya bisa tersenyum sembari sedikit tersipu malu.
Dia tidak bisa menutupi rasa malunya taoi hanya bisa tersenyum.
Tn. Hartpart merasa dia telah menasehatinya dengan baik dan memegang pundak lucius lalu menatapnya dengan serius.
__ADS_1
“Percaya dirilah!” Tegas Tn. Harrpart lalu menepuk pundaknya lagi dan pergi dengan senyum .
Itu sedikit meninggalkan kesan dengan kata dan perasaan yang di berikan oleh Tn. Hartpart itu.
Lucius hanya bisa tersenyum dan Menutup pintu itu lalu bermain kembali.
…….
Senin pagi masih Di Bulan ke tiga.
“Guru apakah Anda bermain Ke Manor Duke?” Tanya orlina.
“Ya, saya akan bermain lagu baru saya Moonlight” kata Lucius
“Apa! Apakah itu haru rabu tuan? “ tanya aylia dengan antusias.
“Ya Anda selalu sangat antusia apakah Anda akan datang?” Tanya Lucius.
“Saya akan datang! Anda juga bukan Theo? Camil? Tirtis?” Tanya Aylia yang sangat antusias.
“Kita akan datang, karna Ayah saya Pasti akan di undang jadi kita akan datang Tuan” ungkap Camil yang Acuh tak acuh.
Lucius hanya tersenyum lalu Memandang Theo dan Tirtis menunggu jawaban dari mereja berdua.
“Ya saya akan datang juga” jawab Theo.
“Ya saya juga” jawab Tirtis
Merasa Cukup senang karna Muridnya semua Hadir lucius menjadi merasa bahwa dirinya sudah tua dan bermain untuk pamer di hadapab anak-anaknya.
Dia menjadi semakin aneh karna menganggap Murid-muridnya seperti anak-anaknya padahal Usianya di sini hanyalah 17 tahun.
Lucius hanya tersenyum dan memandang Kertas yang di berikan Orliana yang tampak serius.
“Guru saya telah Menyelesaikannya sesuai arahan Anda dan sepertinya ini akan baik-baik saja?” Tanya Orliana.
Lucius memandang Kertas karangan yang Buruk itu tetapi masih tergolong cukup baik di bagian beberapa Nada dan Melodi nya.
Karna Lucius juga membantu Membuat dan merevisi Kunci dan nada-nadanya, itu masih bisa di anggap baik karna dia juga mengambil Referensi dari Beberapa Lagu yang ada dalam kenangan ya.
Lucius merasa masih bersyukur karna memiliki setidaknya kenangan yang cukup kuat yang masih di bawa ke dunia ini.
__ADS_1