
"Sepupu, sepupu jauh aku," kata Aliya cepat. Aliya benar benar takut kalau kalau Chandra membalas perbuatannya tadi.
"Oh, kenalin nama gue Riky," laki laki itu tersenyum mengulurkan tangan ke arah Chandra.
Chandra hanya menjabat tangan pria itu dengan enggan, Chandra justru mendelik memandang Aliya dengan kesal. Bagaiman mungkin Aliya mengakuinya sebagai sepupu, padahal tadi saat di hadapan Brayen Aliya mengakuinya sebagai tunangan.
"Chandra," Chandra berpura pura tersenyum di hadapan Riky.
"Ayo masuk dulu, Al kamu udah makan?" Riky tampak sangat perhatian kepada Aliya.
"Udah kak tadi di restoran," jujur Aliya.
Riki tampak terkejut mendengarkan penuturan Aliya, berarti tadi mereka makan menggunakan borgol dong.
"Kalian makan pakai ini? Sorry ya Al memang jahil orang nya, lo ga papa kan sama dia? Gue harap lo maklum ya," Riky benar benar sangat mengenal Aliya.
^^^"Apa apaan giliran dengan Aliya aku kamu, lah dengan gue, pakai lo gue, jelas banget ni cowok ada apa apa nya sama ni kutil kancil."^^^
Chandra hanya memasang senyum palsunya berpura pura untuk memaklumi kelakuan wanita yang ada di sampingnya.
"Udah biasa kak kami berantem, tapi kak mobil kakak biar Al masukin ke bengkel dulu ya, nanti semua Al ganti rugi deh," Aliya tampak sangat merasa bersalah kepada mobil Riky.
"Eh ga apa apa kok, mobil aku memang waktunya masuk bengkel, kamu jangan gitu deh, lihat mobil kamu juga ringsek," Riky benar benar perhatian.
"Ga jangan gitu nanti Al ganti kak," Aliya benar benar tak enak di buatnya.
"Eh ga ussa," belum sempat Riky menyelesaikan kata katanya, namun Chandra memotongnya terlebih dahulu.
"Hem, besok aja kita bertiga ke bengkel bareng, soalnya bentar lagi gue ada rapat," kata Chandra memotong perdebatan mereka.
"Hm boleh juga, kalau gitu besok aja ya Al," kata Riky mengusap lembut kepala Aliya, kemudian membukakan pintu untuk Aliya.
"Makasih loh kak, sekali lagi maaf," kata Aliya segera melambaikan tangan ke arah Riky.
"Iya Al, oh ya bang hati hati nyetir nya ya," Riky bahkan sempat berpesan kepada pak Ujang untuk hati hati mengemudi.
__ADS_1
"Baik pak," pak Ujang mengangguk hormat, untung saja ia tidak di marahi oleh lelaki tersebut, melihat badannya yang tegap saja sudah membuat pak Ujang bergidik ngeri, apalagi otot ototnya yang terlatih, pasti akan sangat sakit jika terkena bogem mentahnya.
Setelah mobil melaju cukup jauh Aliya dan Chandra justru tidak bergeming sama sekali, mereka sibuk dengan pikiran masing masing, dan memandang ke arah jalan.
"Maaf tuan muda dan nona muda, kita setelah ini mau ke mana ya? Ke kantor dulu at," belum sempat pak Ujang menyelesaikan kata katanya namun Chandra justru memotong kata katanya.
"Kantor aja langsung, setelah ini ada rapat," Chandra sepertinya memegang suka memotong pembicaraan, bahkan sudah beberapa kali hati ini ia memotong pembicaraan orang.
Aliya segera memandang Chandra, bukankah tadi ia ingin bertemu dengan Brayen terlebih dahulu? Atau Chandra melupakannya? Ah pacar macam apa dia? Bahkan lupa untuk meminta maaf.
"Loh buk," kata kata Rayana terpotong oleh Chandra.
"Engga," hanya itu yang keluar dari mulut Chandra, bahkan Chandra tak memandang ke arah Aliya.
Ah, sepertinya Chandra memang suka memotong pembicaraan orang lain.
"Lo kenapa? Lagi badmood?" Aliya tampak sangat penasaran.
Ah, ketimbang khawatir Aliya lebih penasaran dengan sikap Chandra saat ini.
^^^"Apa dia marah ya dengan gue? Kan gara gara gue dia sama si cowoknya berantem? Apa dia putus?" Aliya hanya bisa menyimpulkan hal tersebut.^^^
"Ga," kata Chandra ketus.
Aliya hanya mengerutkan keningnya bingung dengan sikap Chandra. Tiba tiba terbesit di otaknya untuk menjahili Chandra.
"Ah gue tau lo cemburu ya tadi kak Riky ngelus ngelus gue?" Aliya memulai aksinya kembali.
"Enak aja, ga!" Chandra benar benar tegas mengatakan hal tersebut.
Tapi bukan Aliya namanya jika berhenti begitu saja, Aliya akan terus membuat Chandra kesal, dan akhirnya berbicara normal lagi padanya.
"Ciah, ga usah bohong deh. Ah, atau jangan jangan lo seketika normal setelah insiden nyium bibir gue," Aliya benar benar sangat pandai mencari masalah dengan Chandra.
"Gila lo ya mana ada semacam itu," bantah Chandra segera memandang Aliya dengan pandangan sengitnya.
__ADS_1
"Eleh, cinta first sight aja ada, masa cinta first kiss ga ada," Aliya menaiki turunkan alisnya menggoda Chandra.
"Ga ada itu mitos, lagian lo percayaan aja semacam itu, pantes otak lo cuman terisi separoh," kesal Chandra melototkan matanya.
"Masa sih? Waktu pembagian otak gue di barisan pertama loh," bantah Aliya membuat Chandra mengangkat tengahnya mengetuk kepala Aliya.
"Masih kopong di sebelah situ," kata Chandra menyeringai setelah mengetuk kepala Aliya.
"Eh apa apaan lo? Lo kira kepala gue pintu? Pakai acara ketuk ketuk segala," kesal Aliya berusaha membalas ketukan Chandra.
Namun Chandra berusaha mengelak, hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi kembali sedikit oleng, pak Ujang kembali lagi harus memperlambat jalannya mobil tersebut, karena jika tidak maka mereka akan menabrak untuk kedua kalinya, di hari yang sama.
^^^"Aduh tuan besar, tolong jadikan saya sebagai supir anda saja, jika setiap hari begini lama lama saya juga ikut setres," tampaknya pak Ujang benar benar pusing di buat kucing dan tikus tersebut.^^^
Sesampainya di kantor kedua kucing dan tikus tersebut segera turun dari mobil, mereka segera masuk ke dalam kantor.
"Yang terakhir kalah," Chandra mengatakan hal tersebut sebelum akhirnya berlari. Bahkan Chandra menjulurkan lidahnya sebelum berbalik.
Aliya terus berlari mengejar Chandra yang sudah mendahuluinya menuju lift, untuk tidak meninggalkan dirinya di belakang.
Aliya berhasil masuk ke dalam lift tersebut dengan nafas yang sedikit tersengal sengal.
"Kalau mau lomba yang fair dong," protes Aliya karena menurutnya Chandra sangat curang.
"Suka suka gue dong," Chandra menjulurkan lidahnya ke arah Aliya.
Sontak membuat Aliya benar benar kesal di buatnya. Chandra segera keluar ketika pintu lift telah terbuka, Aliya segera menyusul Chandra dan meminta seorang office boy segera mengantarkannya minuman.
Saat akan melangkah, Aliya tampa sengaja bertemu dengan tuan Omer yang kebetulan melintas.
"Eh om," Aliya segera menyalami tangan tuan Omer.
"Tadi papa ke ruang Chandra kata asisten nya dia sedang keluar dengan kamu, kalian ke dokter ya," tuan Omer tampaknya sedikit penasaran.
"Iya om, dia ke tempat dokter. Oh ya om, kebetulan banget dokternya itu temennya Liya," Aliya tampaknya sangat bersemangat ketika mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
"Kalian lama di sana," tuan Omer tampak sedikit penasaran karena mereka cukup lama jika di hitung hitung.
"Engga om, tadi pergi ke tempat lain dulu, soalnya kami ada keperluan, sambil makan siang," Aliya tersenyum ketika mengatakannya.