
"Dok tolong selamatkan tunangan saya," Chandra mengantar Aiyla hingga ke depan ruang operasi. Erick yang melihat hal itu segera menahan Chandra agar membiarkan Aliya masuk ke dalam ruang operasi.
"Iya kami akan melakukan yang terbaik, mohon menunggu di luar," dokter itu mencoba memberi pengertian terhadap Chandra. Chandra hanya terdiam melihat pintu itu tertutup, menatap nanar, seolah dirinya mampu melihat Aliya di dalam sana yang berjuang hidup dan mati, hanya karena melindungi dirinya.
"Ndra kamu bersihin baju kamu aja dulu, itu udah penuh darah, setelah itu baru balik lagi," bujuk Erick membuat Chandra menggeleng tanda tak akan menyetujui hal tersebut.
"Ga gue mau nungguin Al," Chandra tetap memandang nanar ke arah pintu.
"Iya tapi baju lo kotor, nanti dokter pasti minta lo ganti baju sebelum menjenguk Al," bujuk Erick membuat Chandra tampak sedikit berfikir.
Chandra mencoba berfikir jernih mempertimbangkan kata kata dari sahabat calon istrinya itu, Chandra juga tampak beberapa kali menghela nafas kasar. Tak lama kemudian Chandra segera berdiri, dan mengambil ponselnya yang ada di dalam jas. Chandra segera menelepon nyonya Mona. yang anda di seberang sana, saat panggilan tersambung Chandra berkata dengan cepat.
"Halo mah, Chandra..." kini tak pakai embel embel salam atau apalah itu, hingga membuat nyonya Mona tahu ada yang salah dengan nada bicara Chandra. Chandra bahkan tak menerus kata katanya karena tak sanggup mengatakan hal tersebut.
"Chandra sekarang di rumah sakit," ucap Chandra sembari meremas ujung jasnya, dapat Erick lihat hal tersebut. Erick dapat melihat betapa berharganya Aiyla bagi Chandra, yang saat ini tangah memunggunginya, meskipun Chandra tampak mencoba untuk tenang.
"Al ma, Al lagi di operasi," kata Chandra kembali, dengan nada khawatir. Chandra bahkan kini sedikit mengeluarkan air mata nya, namun dengan sigap Chandra menghapusnya, agar tak kelihatan lemah, di hadapan Erick.
"Di rumah sakit umum ma, sekarang Al tengah di tangani dokter. Ma tolong bawa baju ganti untuk Al, sama Chandra." Chandra pun segera menutup sambungan teleponya.
__ADS_1
Dapat Erick lihat betapa besar nya perasaan Chandra suntuk sahabat nya yang tengah terbaring di meja operasi. Erick mengerutkan keningnya ketika membuka ponselnya, dan ternyata itu adalah artikel lama, yang di kirim oleh Alex. Dalam artikel tersebut menyatakan bahwa Chandra merupakan pencinta pisang. Namu berbeda dengan fakta yang saat ini di suguhkan oleh kenyataan, dapat dipastikan bahwa Chandra benar benar mencintai Aliya.
Kakek Rio tiba tiba datang di temani beberapa bodyguard segera mendekati Chandra dan Erick. Kakek Rio masih melihat beberapa luka lebam di wajah Chandra, mungkin itu akibat pertarungan tadi, membuat kakek Rio menghela nafas kasarnya. Chandra pasti lupa akan luka tubuh yang mengenai dirinya, karena terlalu khawatir dengan keadaan Aliya.
"Chandra ganti baju kamu dulu Chandra, terus obati wajah kamu," suara kakek Rio mengagetkan Chandra, Chandra yang melihat kedatangan kakek Rio segera berlutut.
"Kek maafin Chandra, harusnya Chandra menjaga Al, maafin Chandra, tolong jangan larang Chandra untuk bertemu Al," Chandra yang baru saja tertimpa musibah, tak dapat berfikir begitu jernih, Chandra bahkan saat ini takut di pisahkan oleh kakek Rio.
Erick yang melihat hal tersebut sangat terkejut, apalagi ketika seorang Chandra berlutut di hadapan kakek Rio, hanya demi tidak di pisahkan oleh Aliya, ah sangat langkah. "Ndra ayo bangun."
"Engga sebelum kakek maafin Chandra, Chandra ga akan bangun," tegas Chandra. Chandra bahkan sangat menyadari bahwa kakek Rio pantas kecewa kepada dirinya. Karena itu ia akan berlutut demi mendapatkan restu kembali dengan kakek Rio.
"Chandra kakek tahu ini bukan kesalahan kamu, ini semua adalah murni musibah," kakek Rio mengusap kepala Chandra yang saat ini masih setia berlutut di kaki tuanya.
"Tidak, Aliya pasti sangat sayang kepada kamu, sehingga mengorbankan diri nya, bagaiman kakek bisa memisahkan orang yang saling mencintai?" Kakek Rio kembali mencoba tersenyum menghibur Chandra. Ya meski hatinya sangat sakit, namun itu juga atas kesalahannya, tidak memberikan pengawalan kepada Aliya.
"Terimakasih kek, maaf Chandra ga bisa jagain Al," Chandra sungguh benar benar malu, dia tak sanggup menjaga wanita yang di cintai nya.
"Chandra bagaiman keadaan dari Al?" Nyonya Mona dan tuan Omar baru saja datang segera menghampiri Chandra yang terlihat tak henti hentinya memasang wajah khawatir. Bahkan saat ini Chandra tengah duduk di samping kakek Rio, yang juga memasang wajah tak kalah khawatir.
__ADS_1
Chandra masih terlihat sangat sedih dan terpukul, atas apa yang menimpa dirinya dan juga Aliya. Sehingga tak menyadari kedatangan kedua orang tuanya, membuat kakek Rio menepuk pundak Chandra.
"Ganti baju kamu, dan jadilah orang yang pertama yang di lihat oleh Aliya saat bangun nanti," Chandra segera mengikuti perintah kakek Rio, dan mencari toilet kosong untuk mengganti pakaiannya.
Setelah selesai menggantikan pakaiannya, Chandra segera ikut bergabung dengan yang lainnya. Saat dokter tersebut keluar, Chandra segera mendekat, dan menanyakan keadaan dari Aliya.
"Dok bagaiman dengan keadaan calon istri saya," Chandra tampak sangat khawatir.
"Calon istri anda baik baik saja, namun nona muda belum sadarkan diri, akibat obat bius, nanti setelah obat biusnya sudah tidak bekerja lagi, barulah nona muda terbangun," jelas dokter itu, segera keluar dari kerumunan orang tersebut. "Untung saja pukulan itu tidak mengenai batang tengkorak lehernya, jika tidak itu bisa fatal."
"Terimakasih Dok," Chandra sedikit lesu ketika mengatakan hal tersebut.
Seorang suster segera mendorong bangker hingga masuk ke dalam ruangan rawat inap. Chandra mengikuti langkah suster tersebut. Namun langkahnya di hentikan oleh suster lain. "Maaf pak tunggu pasien di periksa dulu oleh dokter, baru bisa menjenguk," kata suster itu dengan sopan.
Setelah dokter keluar Chandra dan yang lainnya segera berdiri, membuat dokter tersebut tersenyum. "Keadaan pasien sudah mulai stabil, silahkan keluarga pasien menjenguknya. Tapi tolong tetap tenang ya, agar pasien tidak terganggu," pesan dokter tersebut segera keluar.
Chandra segera masuk di susul dengan yang lainnya. Kakek Rio berdiri di samping Chandra memperhatikan keadaan cucunya, di mana sudah terdapat perban di bagian kepalanya.
Chandra saat ini tak tahan melihat Aliya yang terbaring lemah, tampa sengaja air matanya jatuh di pipinya, Chandra tampak begitu rapuh melihat keadaan Aliya. Ini lebih menyakitkan dari sebelum nya. Chandra bahkan merasa saat ini separuh jiwanya pergi entah kemana.
__ADS_1
Nyonya Mona yang melihat anaknya berdiri mematung memandang Aliya segera mendekat dan memeluk putranya. "Ini takdir jangan salahkan diri kamu," kata nyonya Mona. "Ayo duduk."
"Ga ma, Chandra mau orang yang pertama kali Aliya lihat itu Chandra."