CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Perang sofa panas


__ADS_3

"Ini semua gara gara lo," kesal Aliya menyalahkan Chandra.


"Enak aja lo, coba aja lo ga datang," Chandra tak terima.


"Idih kalau aja lo tanggung jawab," Aliya semakin kesal melihat wajah Chandra.


"Ngapain gue tanggung jawab? Lo hamil?" Chandra tersenyum miring memandang wajah Aliya.


"Gimana mau hamil, orang yang tidur sama gue malam kemarin belok," sergah Aliya.


"Idih belok belok gini gue tetap cowok normal," kata Chandra tak terima.


"Normal dari termometer berlambang k alias 1kelvin nah ke derajat celsius itu jadi minus," ledek Aliya menjulurkan lidahnya.


"Emang ngajak berantem ni orang," kesal Chandra mulai menyerang Aliya.


"Emang kemana lo selama ini? Emang dari kemarin gue ngajak lo pacaran? Ga kan? Gue ngajak lo berantem dari kemaren," Aliya kini ikut menyerang Chandra.


"Lo ngemis ngemis pacaran pun gue ga akan pernah mau," Chandra memandang remeh Aliya.


"Jangan takabur, entar kemakan omongan sendiri," Aliya dengan geram memukul lengan Chandra.


"Idih masih tunangan aja udah kekerasan," Chandra mengusap bekas pukulan Aliya dan menarik rambut Aliya.


"Lo ya entar rambut gue rontok curut," Aliya tak terima kini menjambak Chandra dengan kencang.


Chandra yang merasakan sakit kini mendorong tubuh Aliya untuk menjauh dari badannya. Aliya yang semakin geram kini naik kepangkuan Chandra agar lebih leluasa.


Saat tengah tengah bertengkar ponsel Aliya berbunyi, membuat Aliya segera mengeluarkan ponselnya dari saku kantung miliknya. Sementara Chandra memegangi pinggang Aliya sembari tersenyum memandang musuh bebuyutan nya, entah apa yang di pikirkan Chandra saat itu.


"Halo kak Ky, ada apa?" Aliya tampak tersenyum.


Mendengar nama panggilannya saja dapat Chandra ketahui itu adalah Riky, teman satu profesi Aliya.


Chandra tersenyum penuh arti, kemudian segera menarik pinggang Aliya agar mereka semakin berdekatan.


"Kamu lagi ngapain Al? Baru bangun? Rambut kamu kok berantakan banget," yah Riky yang di ujung sana memang sangat perhatian kepada Aliya, sontak membuat Chandra semakin tersenyum.


"Sayang berisik banget sih udah malam," Chandra segerera memeluk Aliya dengan erat membuat Aliya berteriak.


"Ah, curut gue jambak lo sampai mirip pak Ogah Unyil," Aliya berusaha melepaskan pelukan Chandra.

__ADS_1


"Eh Aliya kamu lagi dengan siapa? Kok meluk meluk gitu?" Riky tampak sangat kesal dan cemburu di dalam layar tersebut.


"Chandra minggir lo, gue jambak beneran lo, suer deh," Aliya tampak benar benar kesal.


"Ha Chandra yang kemarin itu ya," Riky tampak bernafas lega karena setaunya Chandra itu adalah sepupu Aliya.


"Tau jahil banget sih si curut sab," belum sempat Aliya menyelesaikan kata katanya Chandra sudah mengecup bibir Aliya, sontak membuat Riky yang melihatnya terkejut.


"Curut kesucian bibir gue, dasar lo ya gue aduin lo sama pol," Aliya lagi lagi terdiam Chandra mengecup leher jenjang miliknya, Aliya tampak kesal dan benar benar menjambak Chandra.


"Ah sayang sebegitu enak kah sampai menjambak segala," Chandra sengaja mendesah sontak membuat Aliya naik pitam.


Aliya segera meletakkan ponselnya di meja tampa memutuskan sambungan teleponnya, karena sayang jika ponselnya jatuh akan sangat rugi hanya untuk Chandra.


"Curut sableng kurang ajar lo ya, kalau kak Riky mikirnya macam macam gimana," Aliya meneriaki Chandra yang hanya tertawa terbahak bahak.


"Ayolah cuman kita berdua," Chandra tampaknya benar benar sangat bahagia menggoda Aliya.


"Gue aduin lo sama om Omer," Aliya segera berdiri dari pangkuan Chandra.


Namun Chandra mempererat pelukannya, sehingga Aliya tak dapat berdiri.


"Itu unsur ketidak sengajaan, awas aja lo gue balas lo, biar lo ga bisa balikan sama pacar belok lo," kesal Aliya.


"Nah benar kan lo akui sekarang kan, kalau lo itu pe_la_kor," Chandra menaik turunkan alisnya.


"Awas lo gue botakin kepala lo," ancam Aliya.


Kini mereka semakin bertengkar hebat, saling mengancam satu sama lain, sementara sambungan video call Riky? Entah lah mungkin kini telah terputus.


Dengan kesal Aliya menggigit pundak Chandra berharap agar di lepaskan. Namun dengan sigap Chandra menarik selimut, dan membungkus diri mereka. Chandra tersenyum melihat wajah merah Aliya yang menahan kesal. Chandra segera membaringkan tubuh mereka, menghimpit tubuh Aliya dengan sandaran sofa.


"Tidur tidur ga baik untuk anak gadis," Chandra terkekeh menarik Aliya ke dalam pelukannya.


"Lepas curut, gue belum ngantuk," Aliya benar benar kesal, dan kini mencoba memberontak dalam pelukan erat Chandra.


"Belum ngantuk tapi udah jam dua belas malam loh," Chandra terkekeh.


"Awas lo gue gigit," ancam Aliya segera menggigit dada Chandra.


"Ah, Aliya diam ya nanti kalau gue balas nangis bombai lo," Chandra mendesah semabari mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


"Ngga waras lo, kayaknya lo benar benar ga belok deh," kata Aliya segera terdiam.


"Gue udah sering di terapi Aliya, kalau lo mau coba, mungkin gue bisa praktek, sekaligus mencoba teori dokter Juwita," Chandra terkekeh penuh arti di atas sana.


"Ih najis lo, setelah sembuh lo jadi pria ramah lo," kesal Aliya kini mulai beradu mulut dengan Chandra.


"Ramah? Gue emang harus ramah terutama dengan klien," Chandra salah mengartikan omongan Aliya.


"Ramah versi gue rajin menjamah," jelas Aliya membuat Chandra terkekeh.


"Kalau gitu lo harus diam, sebelum lo jadi orang pertama yang gue jamah," Chandra terkikik mengatakan hal tersebut.


Aliya segera berdiam diri dan menutup matanya, sementara Chandra segera mengeratkan pelukannya agar dirinya tidak terjatuh di sofa yang sempit tersebut. Tak lama kemudian mereka sama sama tertidur menyusun mimpi mereka masing masing.


......................


Pagi harinya, Chandra terbangun terlebih dahulu, kemudian segera bangun dan melihat Aliya yang tengah tertidur dengan pulas, Chandra sedikit menggerakkan badannya yang terasa pegal, karena tidur di sofa kecil berdua.


Tak lama kemudian nyonya Mona membuka pintu ruangan tersebut, kemudian tersenyum melihat anaknya yang baru saja bangun tidur.


"Chandra angkat calon istri kamu ke kamar kamu, nanti aja banguninnya. Oh iya banjunya sudah ada di kamar kamu," nyonya Mona tersenyum ke arah Chandra.


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Chandra segera mengangkat Aliya, dan membawanya ke dalam kamar miliknya.


Chandra segera merebahkan badannya, rasanya sangat nyaman di kasur empuk, namun Chandra tak boleh berlama lama, Chandra harus mandi, karena kemarin Chandra sudah meliburkan diri.


Chandra segera bangkit dan pergi ke kamar mandi, sementara Aliya membuka matanya perlahan, dan merasa bingung, karena ia terbangun di tempat yang berbeda.


Aliya mengerjapkan matanya, dan memandang ke arah sekitar, tampak jelas Chandra baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil di pinggang nya, menampakkan roti sobek miliknya.


Aliya segera bangkit dan berjalan ke arah Chandra, Chandra yang terkejut segera menutup aset berharga miliknya.


"Ngapain lo? Lo kira gue tertarik? Sekian banyak cowok yang gue lihat di luar sana, lo itu standar jangan geer," Aliya segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi guna mencuci wajahnya.


"Sekalian mandi baju kamu ada di atas meja," teriak Chandra.


Aliya kembali keluar dan mengambil bajunya di atas meja, sementara Chandra masih diam di samping pintu kamar mandi, Aliya segera menarik handuk yang di kenakan Chandra, kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Biar peliharaan lo yang letoy terbang, tergantikan dengan yang selayaknya norma," kata Aliya sebelum menutup kamar mandi.


"Dasar mesum," Chandra berteriak, kemudian berlari menuju lemari pakaian.

__ADS_1


__ADS_2