
Nyonya Mona saat ini tengah membantu Aliya menghapus spidol hitam dan merah di wajah Aliya. Ternyata menghapus spidol tersebut sangat sulit, karena Chandra mencoret wajah Aliya dengan spidol permanen.
Aliya sedikit menutup matanya karena perih terkena alkohol, nyonya Mona segera meniup niup wajah Aliya.
Sementara si pelaku? Chandra tengah asyik berendam ria, tersenyum puas mengingat wajah menderita Aliya hari ini, bahkan Chandra sedikit terkekeh.
Chandra keluar dari kamar mandi sembari mengenakan handuk, tiba tiba ponsel Chandra berbunyi, membuat Chandra segera menghampiri ponselnya.
Chandra terkejut ketika melihat nama Brayen yang terpampang, Chandra segera mengangkatnya takut kekasihnya marah.
"Halo," Chandra segera menyapa yang di ujung sana.
"Halo," terdengar suara Brayen sedikit ketus di ujung sana.
"Kok gitu? Kamu kenapa hem?" Chandra sedikit bingung dengan suara Brayen.
"Kenapa? Kamu masih nanya?" Brayen terdengar sangat kesal.
"Kenapa? Coba bilang kamu jangan kaya cewek dong," Chandra benar benar bingung.
"Jadi kamu sekarang nyamain aku sama cewek? Atau kamu udah suka sama cewek," Brayen benar benar kesal di buatnya.
"Bukan gitu, cuman tolong bilang kenapa? Aku bingung," Chandra menjadi lebih frustasi, ia benar benar bingung apa kesalahannya.
"Ok, pertama kamu ga bilang kalau kita batal ketemuan, kamu tahu aku nunggu samapai siang, eh siangnya kamu malah makan bareng dengan tunangan kamu," Brayen benar benar kesal, terdengar suaranya yang meninggi.
"Cuman itu? Ya udah aku minta maaf ya," Chandra menghela nafas kasarnya.
"Cuman itu? Kamu sadar ga? Kalau kamu itu ga ngubungin aku seharian? Bahkan chat aku ga kamu balas, cuman kamu read," terdengar suara Brayen meninggi.
Chandra bahkan menepuk keningnya, bagaiman ia lupa menghubungi bahkan lupa membalas pesan kekasihnya? Ada apa ini? Apa dia terlalu banyak pikiran?
"Maaf aku benar benar banyak pekerjaan hari ini," Chandra beralasan, sontak membuat Brayen semakin kesal.
"Udah ya kalau kamu gini terus, aku capek, kamu pikirin baik baik hubungan kita," Brayen sangat kesal di buatnya.
__ADS_1
"Ok ok, kasih aku waktu tiga bulan ok, aku akan mengakhiri semua," Chandra berusaha meyakinkan kekasihnya.
"Setelah itu kita menikah," Brayen menuntut Chandra.
"Hey dengar kita di Indonesia ga bisa gitu, lagian orang tua aku pasti juga ga setuju," Chandra berusaha memberi pengertian kepada Brayen.
"Kita keluar negri, banyak yang seperti kita," Brayen benar benar kesal di buatnya.
"Ga bisa, orang tua aku gimana? Perusahaan gimana?" Chandra benar benar frustasi di buat oleh Brayen.
"Terserah," Brayen memutuskan sambungan telefon mereka setelah mengatakan hal tersebut.
Chandra benar benar bingung apa yang harus di lakukannya, di sisi lain Chandra sangat menyayangkan hubungan mereka, karena sudah terjalin cukup lama, di sisi lain tak ingin mengecewakan kedua orang tuannya. Apalagi jika Chandra mengingat kata kata dari Juwita.
"Orang tua menginginkan anaknya bahagia, bahkan orang tua juga menginginkan anaknya sama seperti mereka, bahkan lebih maju dari pada mereka, mereka juga ingin menimang cucu dari anak mereka, itulah kenapa orang tua kamu ingin kamu di obati, kamu itu sakit saat ini," kata kata Juwita terus terngiang di kepalanya.
Chandra memilih untuk turun kebawah untuk hanya sekedar menghilangkan setres nya, setelah ia mengenakan baju kaus dan boksernya.
Tak di sangka ternyata Aliya masih berada di tempat tersebut, Aliya baru saja mencuci wajahnya dengan air akibat dari alkohol.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan?" Chandra memandang Aliya dengan bingung karena tiba tiba nyonya Mona menanyakan hal tersebut.
"Lakuin apa?" Chandra kembali mengalihkan pandangannya ke asal suara, ternyata itu adalah suara dari tuan Omer.
Flashback.
Nyonya Mona saat itu tengah berjalan menuju balkon, saat berjalan ke arah balkon, nyonya Mona tampa sengaja melihat mobil yang biasa di pakai Chandra bergoyang, nyonya Mona bingung segera berlari menuju ke bawah, pikiran nyonya Mona sudah kemana mana, entah apa yang di lakukan ketiga umat manusia yang ada di dalam.
Saat sampai di teras rumah, bahkan mobil bergoyang tersebut semakin jelas, dengan pak Ujang yang baru saja turun dari mobil. Nyonya Chandra semakin khawatir.
"Pak Ujang ada apa," segera nyonya Mona menghampiri pak Ujang.
"Lagi bertengkar nyonya," kata pak Ujang sedikit tertunduk.
Nyonya Mona sangat terkejut dengan penuturan supir nya, ia bahkan mengalihkan pandangan ke arah mobil tersebut, dan mendapati kap depan mobil yang mereka tumpangi penyok.
__ADS_1
"Terus kok kap depan penyok," nyonya Mona terkejut.
"Iya tadi nabrak teman nona Aliya," jujur pak Ujang.
Nyonya Mona segera mengetuk pintu mobil kedua orang itu, namun tak di hiraukan. Tampaknya pertengkaran mereka sangat asyik di dalam sana.
"Buka pintu mobilnya pak," nyonya Aliya mengeluarkan perintahnya.
Pak Ujang segera membuka pintu mobil tersebut, sontak mengejutkan kedua orang yang tengah bertengkar.
Namun nyonya Mona justru menyoroti posisi Aliya yang berada di dalam pangkuan Chandra, dan tangan Chandra yang memeluk pinggang Aliya.
"Kalian ngapain?"
Kedua insan yang tengah bertengkar tersebut terkejut, Chandra segera meraih sendaran kursi mobil tersebut, membuat mereka semakin dekat, dan jika saja nyonya Mona tak tahu kalau mereka tengah bertengkar, mungkin nyonya Mona akan salah sangka. Terlebih lagi saat ini Aliya secar refleks meletakkan tangannya di pundak Chandra.
Tetapi hal yang lebih mengejutkan adalah wajah Aliya yang penuh coretan, sontak membuat nyonya Mona paham dengan pertengkaran mereka, pasti anaknya telah menjahili Aliya hingga membuat Aliya sangat kesal.
Flashback end.
Chandra menapakkan wajah tengilnya di hadapan kedua orang tuanya, sungguh Chandra sangat puas melihat wajah menderita Aliya, seakan semua beban terangkat dari pundaknya. Bahkan mungkin saat ini Chandra kembali lupa pertengkarannya dengan sang kekasih.
"Ciah mukanya merah cil, lagi malu ya," Chandra bukannya merasa bersalah justru semakin mengejek Aliya.
"Diam ya curut awas lo gue balas," Aliya bahkan berani menyatakan peperangan terbuka mereka, di hadapan orang tua Chandra.
"Cie yang ngajak perang," Chandra semakin terkekeh melihat wajah kesal Aliya.
"Au ah, gue mau balik, mau mengistirahatkan otak gue dari curut kayak lo, yang sablengnya di luar angkasa," kata Aliya segera pamit kepada orang tua Chandra.
"Balik om tante."
Aliya segera menyambar jaketnya yang tergeletak di sofa ruangan tersebut, kemudian menginjak kaki Chandra dengan kencang, lalu segera menyerempet wajah Chandra dengan jaketnya.
"Kancil awas lo," Chandra menggeram kesal hendak mengejar Aliya, karena jujur saja kaki yang di injak oleh Aliya sangat sakit, di tambah dengan serempetan jaket di wajahnya.
__ADS_1
Tuan Omer dan nyonya Mona hanya menggeleng, melihat kelakuan anaknya dan juga calon menantunya, namun diam diam mereka juga tersenyum, dapat mereka lihat keakraban mereka berdua, meski dalam bentuk pertengkaran.