CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Pak Ujang liat kan malam itu,


__ADS_3

Chandra terbangun ketika merasakan sesuatu menyesakkan dadanya, seperti tertimpa sesuatu yang berat. Saat membuka matanya benar saja ternyata Aliya saat ini tertidur pulas sembari menindihnya, Chandra pelan pelan menurunkan Aliya dari atas tubuhnya.


Chandra memperhatikan Aliya yang tengah tertidur, sembari tersenyum bahagia. Chandra mengecup sebentar puncak kepala Aliya, kemudian turun dari tempat tidur. Chandra harus ke kantor hari ini, namun pakaiannya masih berada di rumahnya, menginap di sini adalah rencana mendadaknya, karena merindukan Aliya.


Setelah selesai mandi Chandra segera mengenakan kembali pakaiannya, pakaian yang kemarin di pakainya saat ke sini. Chandra segera mendekati Aliya dan mencoba membangunkan Aliya.


"Al bangun, udah siang temenin gue ke kantor yuk," Chandra mencoba membangunkan Aliya.


"Hm," Aliya hanya menarik selimutnya, dan kembali tidur.


"Hm, apa? Ayo bangun," desak Chandra sembari menarik selimut Aliya.


"Iya bentar bawel," Aliya segera bangun dan beranjak ke kamar mandi.


Chandra segera turun untuk menemui kakek Rio, Chandra akan meminta nomor yang mengirimi kakek Rio foto dirinya, dan memulai pencarian, agar pernikahannya bisa berjalan secepatnya.


"Loh Chandra kamu tidur di sini?" Kakek Rio tampak tengah sarapan di maka makan, kebetulan melihat Chandra yang turun dari lantai dua.


"Iya kek melepas rindu," kata Chandra tampak tak canggung lagi.


"Baru sehari," kakek Rio berdecak heran melihat Chandra mengatakan hal tersebut.


"Maklum kek, lagi anget angetnya," kekeh Chandra. "Oh ya kek bisa Chandra lihat nomor yang mengirim foto Chandra kemarin?"


"Ah iya ini," kakek Rio segera memberikan nomor pengirimnya, Chandra segera mencatatnya di ponsel, kemudian mengirimi seseorang pesan guna menyelidikinya.


Tak lama kemudian Aliya turun dengan pakaian santai, Aliya hari ini kembali menjalani rutinitasnya sebagai bodyguard Chandra. Namun dengan status baru, yaitu sebagai tunangan dari hatinya, tanpa paksaan dari orang tuanya.


"Morning guys," sapa Aliya segera duduk di samping Chandra. "Chandra ambilkan gue itu dong."


"Idih Lo punya tangan Al, kenapa harus gue coba," kata Rakara asyik meminum susunya.


"Ya kan kan lo lebih dekat curut," kesal Aliya memandang Chandra.

__ADS_1


"Iya kan lo tinggal berdiri," kesal Chandra memandang balik Aliya.


Kakek Rio yang merasa akan ada aroma pertengkaran di pagi ini, hanya menggeleng. Sembari berdiri meninggalkan meja makan yang sebentar lagi akan meja perang. Baru saja tadi malam mereka melepas rasa rindu, tapi kini Chandra dan Aliya mulai bertengkar lagi.


"Kakek udah kenyang, kalian lanjutkan aja sarapannya ya," kata kakek Rio sembari menjauhi meja makan.


"Lo liat kan? Kakek pergi padahal tadi baik baik aja, makanya kalau datang itu jangan ribut," kata Chandra mengunyah habis makanannya.


"Lo yang mulai, seandainya lo mau nolongin gue sejak awal, mungkin kakek ga akan pergi," kesal Aliya segera memakan rotinya.


"Suka suka lo kutil, gue malas debat sama orang yang maunya menang sendiri," kesal Chandra segera memainkan ponselnya.


"Eh yang mau menang sendiri itu lo, bukan gue. Enak aja lo ngomong gitu," jawab Aliya sembari mengunyah makanannya.


"Kalau makan itu ga usah ngomong, Telen dulu. Jangan ngomong wuziwizizuzy haeirhsixnd, ga ngerti gue," kata Chandra menirukan gaya bicara Aliya tadi.


"Ngeselin lo," teriak Aliya segera meminum susunya hingga tandas.


"Lo yang ngeselin Al," jawab Chandra kemudian menengadahkan tangannya.


"Ih bukan, lo kira gue minta kerokin?" Kesal Chandra memandang Aliya. "Kunci motor lo, kita sama sama ke rumah gue dulu, baru ke kantor."


"Ooooooooo," jawab Aliya panjang kali lebar.


"Bulat, mana?" Chandra masih setia dengan menengadahkan tangan kanannya.


"Ngemeng kek," lanjut Aliya.


"Gimana mau ngomong, orang gue ngomong satu kata Lo jawab sepuluh kata," biaya Chandra.


"Nah tu kan lo suka fitnah, ingat fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan," Aliya segera memberikan kunci motornya kepada Chandra.


"Iya iya, suka suka lo deh," jawab Chandra segera menggandeng tangan Aliya untuk segera pamit dengan kakek Rio.

__ADS_1


Setelah pamit keduanya kini menuju ke rumah besar Kostak, mereka mengendarai motor Aliya. Sepanjang perjalanan Aliya terus saja memeluk pinggang Chandra, atas dasar paksaan dari Chandra.


Kini Chandra tengah berganti pakaian dengan Aliya yang menunggunya di ruang keluarga, Aliya saat ini asyik bercengkrama dengan nyonya Mona. Setelah Chandra selesai mengganti pakaiannya, baru lah Chandra turun dengan menenteng dasinya, tampaknya Chandra benar benar terburu buru.


"Ayo cil," panggil Chandra segera menarik Aliya dengan tidak berperasaan nya.


"Curut apa apaan sih lo? tangan gue sakit tau," omel Aliya sembari menggosok gosok lengannya.


"Udah ayo cepat masuk," Chandra segera mendorong Aliya masuk ke dalam mobil, kemudian baru dirinya yang ikut masuk.


Chandra kemudian memberikan dasi tersebut kepada Aliya, agar Aliya memasangkannya. "Apa?" Aliya tampaknya bingung dengan maksud Chandra.


"Pasangin dasi gue," pinta Chandra sembari terus menyulurkan dasinya.


"Ia ada ada aja lo," kesal Aliya, namun tetap mengambil dasi tersebut.


Dengan sabar Aliya segera memasangkan dasi kepada Chandra, meski sedikit kesulitan karena mobil yang terus bergerak.


"Lo ya gue minta tolong lo ocehin, giliran gini Lo minta tolong gue," omel Aliya, sembari memandang dasi yang telah terpasang sempurna.


"Lagian lo ya, bisa sendiri minta tolong. Lo ga ikhlas nolongin gue? Lo ga ikhlas masangin gue dasi?" Chandra yang tak terima di ocehi akhirnya marah dan ikut mengoceh.


"Eh gue cuman minta tolong yang kecil ya," kesal Aliya. " Untung Lo tunangan gue, kalau ga."


"Kalau ga apa?" Chandra menantang Aliya, dan memandang sinis ke arah Aliya.


"Gue tampol lo, nyolot nyolot sama gue," kata Aliya sembari bergumam, namun masih bisa di dengar pak Ujang dan Chandra.


Ah, pak Ujang diam. Ya, selama ini pertengkaran antara nona mudanya dan tuan mudanya tidak akan pernah ikut menyela, terkecuali itu ia harus menyelanya, karena keadaan mendadak. Namun ya, pada akhirnya mulut pak Ujang tetap akan di tutup rapat, dengan bentakan kompak kedua insan manusia itu.


"Tampol, tampol Al, nih biar gue tabok balik," ancam Chandra membuat Aliya membulat memandang Chandra.


"Tu kan pak Ujang, mending pernikahannya di hentikan sekarang, dari pada pada akhirnya gue di tabok dia. Belum nikah aja udah mau di tabok, apalagi kalau nikah," Aliya memandang sinis Chandra.

__ADS_1


"Eh enak banget lo ya ngomong gitu, setelah gue mohon mohon sama kakek, enak banget lo mau batal batal aja, ga liat lo gimana susahnya jadi gue?" Chandra tak terima, namun dasar Chandra keras kepala, bukannya membujuk malah balik marah marah.


"Iya gue lihat lo sampai nangis nangis kan pak Ujang liat kan malam itu," kata Aliya menyinggung senyumnya menatap Chandra.


__ADS_2