CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Fix kita berteman


__ADS_3

Brayen saat ini telah datang ke tempat alamat yang telah di kirim oleh Juwita, Brayen segera memarkirkan kendaraannya, di dalam pagar Juwita. Di sambut oleh asisten rumah tangga Juwita.


"Selamat siang pak, silahkan duduk, apa yang di keluhkan?" Juwita segera mempersilahkan Brayen untuk duduk di sofa ruang tamu miliknya.


"Saya sebenarnya ingin bertanya, apakah penyimpangan seksual itu termasuk penyakit?" Brayen segera bertanya, tak ingin omongan mereka belok ke sana ke mari, karena terlalu banyak barbasa basi.


"Benar pak, karena pada nalurinya seseorang akan tertarik kepada lawan jenisnya," Juwita sedikit tersenyum, dari gelagatnya tampaknya laki laki ini penyandang penyimpanan seksual.


"Jadi?" Brayen ingin di perjelas lagi penjelasan dari Juwita. Menurutnya itu tidak mungkin, sejak kecil ia sudah terbiasa melihat hal seperti ini.


"Jadi itu termasuk penyakit yang bisa di sembuhkan jika pasiennya bersedia, sementara penyebabnya itu banyak, seperti pergaulan, lingkungan, trauma dan banyak lagi. Jadi bapak kenapa? Apa yang menyebabkan bapak seperti ini?" Juwita segera bertanya, meski Brayen tak memberitahunya secara gamblang, namun Juwita sudah cukup mengerti dengan hal tersebut, Juwita dapat melihatnya dari gerak gerik Brayen.


"Begini, saya tumbuh dan besar di Amerika, di besarkan dengan sepasang gay, saya sudah terbiasa melihat hal tersebut, hingga akhirnya saya datang ke Indonesia," Brayen segera bercerita kepada Juwita, tentang awal ia mulai melakukan penyimpangan.


Juwita menghela nafas panjang, sepertinya akan sulit melakukan hal tersebut, karena Brayen sudah terbiasa sejak kecil, ini di sebabkan oleh lingkungan, maka akan lebih sulit, karena ini sudah seperti kebiasaan.


"Oh jadi begitu? Baik lah jadi tujuan bapak ke sini untuk berobat?" Juwita memandang wajah lelaki yang sepertinya hanya berbeda beberapa beberapa tahun di atasnya.


"Ah ga usah pakai bapak," Brayen mulai merasa risih karena di panggil bapak oleh Juwita.


"Oh jadi di panggil apa? Soalnya saya lupa nanya nama anda," Juwita sedikit tidak enak, karena lupa menanyakan nama dari calon pasiennya.


"Ah panggil aja Brayen," Brayen tersenyum ke arah Juwita.


"Ok Brayen."


Setelah sekian lama mereka berbincang, tiba tiba pintu rumah utama terbuka, membuat Juwita segera memandnag ke arah pintu. Siapa lagi kalau bukan Aliya pelakunya, hanya manusia itu yang berani masuk ke dalam rumah Juwita tampa permisi.


"Yu hu, assalamualaikum princess Sofia datang," Aliya datang dengan lantang seolah itu rumah sendiri.


"Eh Al, Chandra kalian di sini," Juwita segera memanggil kedua tamu tak tahu malunya.


Seketika Brayen menegang, Brayen lupa kalau kartu nama Juwita berasal dari Chandra, tapi kenapa harus bersamaan seperti ini?

__ADS_1


"Eh iya, ada tamu ya?" Aliya merasa tidak enak.


"Iya, kenalin Brayen," Juwita tampa curiga segera memperkenalkan mereka.


"Eh, loh Brayen," Aliya sedikit salah tingkah melihat mantan pacar calon suaminya.


"Kalian kenal?" Juwita semakin bingung.


"Iya," kata Chandra santai.


"Dia mantan saya," bisik Brayen kepada Juwita.


"Yang mana?" tanya Juwita.


"Chandra," jawab Brayen.


"Hah beneran? Wah takdir nih," Juwita bersorak tak percaya.


"Iya ga apa apa, dia yang nyarin saya ke sini," Brayen segera menjelaskan kepada Juwita.


"Hay Brayen, di sini juga ya? Yang sabar ya sama dia, soalnya emang kadang sedikit kejam dianya," Aliya mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba membeku.


"Gue ga kejam ya," Juwita protes dengan ucapan sahabatnya.


"Idih ngelak pula," Aliya menatap sinis ke arah Juwita.


"Brayen tolong jangan di dengarkan ya," Juwita segera meminta Baren untuk tak mendengarkan Aliya.


"Idih bisa gitu ya?" Aliya segera memutar matanya malas.


"Bisa lah," jawab Juwita dengan gaya yang sama pula. Tampa sengaja Aliya melihat Chandra memutar pulpen di tangan sebelah kirinya.


"Eh ngomong ngomong lo kidal ya?" Aliya segera mengalihkan perhatiannya.

__ADS_1


"Iya, tapi ga kidal kidal amat, bisa juga kok nulis pakai tangan kana," Jawab Brayen tersenyum ke arah Aliya.


Sejujurnya Brayen masih canggung bertemu dengan Chandra, terlebih rasa cintanya masih tersisah, bahkan masih terlampau banyak untuk di bilang sisah. Namun Brayen tetap memilih untuk berpura pura seolah santai ketika berbincang dan menjawab pertanyaan dari Aliya.


"Idih kita sama," Aliya tersenyum memiliki kesamaan dengan Brayen. "Eh ngomong ngomong biasanya yang kayak kita itu suka seni loh,"


"Eh lo suka seni juga?" Brayen terkejut ternyata Aliya juga menyukai seni, sama seperti dirinya. Ternyata mereka memiliki banyak kesamaan.


"Iya lo suka lukisan ga?" Aliya sangat penasaran dengan jiwa seni yang suka di amati Brayen.


"Ih iya gue suka loh," Brayen tampak begitu tertarik dengan topik Aliya.


"Widih fix mulai sekarang temenan kita," Aliya segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya. "Minta no lo dong, biar bisa barengan ke pertunjukan seni."


"Emang dalam waktu dekat ini ada?" Brayen justru bertanya, karena setahunya dalam waktu dekat ini hanya ada di London.


"Idih ga tau ya lo? Ada bulan depan, gue udah boking tiket," Aliya segera menyuguhkan pamflet online yang tersebar di beberapa sebaran.


"Mau dong," tampaknya Brayen benar benar tertarik. "Lo masih punya ga?"


"Mau? Bentar gue telfon temen gue," Aliya segera menelfon seseorang. "Lo berdua mau ikut ga?" Kedua orang yabg hanya menjadi penonton mengangguk saja. "Ok gue pesan sekarang ya, tiga lagi."


Ah sepertinya kedua orang ini memiliki kesamaan, mereka sama sama menyukai seni, sehingga seketika mereka bisa seakrap ini, bahkan Juwita saja yang pemilik rumah, alias tuan rumah di cuekin, apalagi Chandra yang hanya datang bersamaan dengan dirinya.


"Ih kan dua bulan lagi ada tu di London, ke sana yuk," Brayen tiba tiba menawarkan Aliya sebuah pertunjukan seni yang ada di negri yang sangat jauh.


"Iya gue belum pesan sih, gue rada malas ga ada temen," Aliya sedikit cemberut ketika mengatakan hal tersebut, Aliya masih ingat ketika mengajak kakeknya namun di tolak mentah mentah.


"Kita pergi bersama kan bisa," Brayen segera menawarkan sesuatu yang sangat di luar dugaan.


Jika dahulu Chandra khawatir mereka akan saling bermusuhan ketika bertemu, kini Chandra khawatir dengan kehadiran Brayen di antara mereka. Bukan antara dirinya dengan Brayen, namun antara Aliya dengan Brayen. Bahkan baru bertemu beberapa kali saja mereka bisa se akrab ini, bagaiman jika terlalu sering bersama? Terlebih lagi saat ini Brayen sudah mulai berobat, besar kemungkinan jika Brayen merasa nyaman kepadanya, maka Brayen bisa saja jatuh cinta kepada calon istrinya itu. Ah, tidak bisa di biarkan, kini Chandra terus saja merkecamuk di dalam pemikirannya sendiri.


"Nah bisa tu," Aliya ber-lonjak bahagia bertanda setuju dengan usulan Brayen.

__ADS_1


Chandra segera menarik pinggang Aliya, hingga akhirnya Aliya kembali terduduk. Brayen yang melihat hal tersebut hanya tersenyum kecut, ternyata cinta Chandra sudah benar benar untuk gadis ceria yang ada di hadapannya.


__ADS_2