CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Kamu sayang beneran sama dia?


__ADS_3

Hari ini Chandra dan Aliya di temani tuan Omer, nyonya Mona dan kakek Rio baru saja sampai di kantor catatan sipil, mereka akan menghadiri seminar pra nikah, Aliya dan Chandra hanya saling menatap saja, bingung ingin mengatakan apa. Terlebih ini terlalu mendadak untuk mereka, membuat Aliya dan Chandra terlihat shock.


Setelah selesai mengikuti seminar pra nikah, mereka segera di bawa untuk mencari cincin pernikahan. Aliya hanya tersenyum mengikuti keinginan kedua orang tuanya. Meskipun saat ini ia masih asyik sikut sikutan dengan Chandra.


"Lo tau rencana ini?" Aliya berbisik ke arah Chandra.


"Lo kira kalau gue tau gue bakal terima?" Chandra berdecik malas mendengarkan kata kata Aliya selanjutnya.


"Cih, manusia munafik ini nih kayak gini, udah jelas jelas masuk ke dalam daftar penggemar gue, tapi masih menghindar," Aliya menatap sinis Chandra, membuat Chandra melotot di dalam mobil.


Saat ini mereka berada di kursi penumpang paling belakang mobil, nyonya Mona dan tuan Omer berada tepat di bangku tengah mobil, sementara kakek Rio berada di depan.


Chandra hanya mendelik mendengar kata kata dari mulut Aliya, mereka memang berbicara berbisik bisik, sehingga tidak terdengar kan oleh para orang tua, namun dari balik kaca depan mobil, dapat mereka lihat aktifitas mereka.


Sesampainya mereka di salah satu toko perhiasan langganan nyonya Mona, mereka segera turun dan berjalan ke arah pertokoan tersebut.


Saat tengah asyik memilih cincin ada sepasang mata yang memperlihatkan mereka dari jauh, orang tersebut segera merogoh ponselnya bersiap untuk menelfon.


Saat akan memasang cincin ponsel Rakara berbunyi, membuatnya segera merogoh sakunya dan melihat ponselnya. Chandra segera menjauh, dan mengangkat telfonnya. Aliya terus melihat cincin yang akan menjadi cincin pernikahannya, yang telah di tentukan oleh semua tutua.


"Ma Al maunya yang simple aja, kalau banyak gaya jadi aneh Al liatnya," Aliya tersenyum ke arah nyonya Mona. Sebenarnya Aliya sedikit malas melakukan hal tersebut, Aliya rasanya belum siap untuk menikah, terlebih lagi Aliya tak tahu apakah Chandra benar benar sudah sembuh atau belum.

__ADS_1


Chandra baru saja selesai menyangka telfon seseorang, kemudian segera mendekat ke arah Aliya, Chandra melihat cincin pilihan Aliya, kemudian tersenyum. "Pas cincinnya."


Chandra juga mencoba cincin pasangan dari pilihan Aliya, Chandra tersenyum ternyata cincin itu juga pas padanya. Chandra tersenyum senang ketika melihat cincin yang mereka kenakan tampak serasi, Chandra kembali melepaskannya dan meletakkan keb dalam kotak.


"Lo suka ya?" Chandra mengusap kepala Aliya, kemudian memberikan kotak cincin itu kembali kepada penjaga tokonya. "Mas yang ini satu, sama nanti yang di pesan lainnya."


"Icie tersunjang dedek bang," Aliya justru menggoda Chandra, sembari mengedipkan matanya.


"Idih baperan lo cil," Chandra segera meledek Aliya, tiba tiba pandangan Chandra berubah dari teduh menjadi sinis.


"Idih pandangan mata udah kayak powerangel aja," Aliya meledek, membuat kakek Rio, tuan Omer, dan nyonya Mona menggeleng, bersiap untuk memisahkan mereka, kalau kalau mereka akan bertarung kembali, dari pasangan menjadi musuhan.


Penjaga toko yang mula mulanya senyum senyum karena melihat tingkah mereka yang sedikit uwuw, kini menjadi menganga terkejut melihat tingkah keduanya yang saling menatap sinis.


......................


Saat malam hari Chandra sedang bersiap siap untuk pergi keluar, menemui seseorang yang tadi siang mengajaknya untuk bertemu. Chandra hanya mengenakan pakaian santai, dengan kaus dan celana selutut. Chandra tidak berniat untuk berlama lama, karena harus menemui Aliya untuk memilih gaun di butik langganan nyonya Mona.


Setelah samapai Chandra segera memarkirkan mobilnya di salah satu parkiran mobil, di sebuah kafe. Chandra segera mencari orang yang akan di temuinya. Chandra melihat Brayen di sudut ruangan tersebut, Chandra segera melangkah kan kakinya untuk menemui Brayen.


Ya, orang yang akan di temuinya adalah Brayen, mantan kekasihnya, yang juga pernah menjadi orang spesial di dalam hidupnya. Chandra menarik kursi yang ada di hadapan Brayen, dan segera duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Hm, akhirnya datang juga, sibuk banget ya?" Brayen mencoba tersenyum walaupun sebenarnya Brayen tak kuat untuk tersenyum.


"Iya lumayan hari ini," Chandra sedikit menyunggingkan senyumnya, kembali teringat wajah Aliya yang tengah asyik menggodanya, dan pertengkaran mereka saat berada di toko perhiasan langganan nyonya Mona.


"Iya aku lihat tadi siang kalian di tempat penjualan perhiasan," Brayen tak lagi mampu menyembunyikan guratan sedih di wajahnya. Terlebih ketika melihat senyum yang sedikit menyungging ketika mengatakan kalimat terakhirnya. Brayen tahu Chandra tengah mengingat sesuatu kejadian yang menyenangkan, dapat Brayen duga itu merupakan bersama dengan wanita yang sebentar lagi akan menikah dengannya.


"Oh karena itu lo ngajak gue ketemuan?" Chandra mengangkat sedikit alisnya, menganggap itu bukalah sesuatu yang harus di beritahu oleh Brayen. Brayen masalalunya yang kelam sekaligus indah, yang kini tergantikan oleh kehadiran Aliya bahkan mungkin untuk pertama kalinya mereka bertemu.


"Iya, ternyata kalian sudah melangkah sejauh ini? Sudah mantap dengan keputusan kamu?" Brayen kembali mencoba menggoyahkan keinginan Chandra. Brayen masih berharap akan ada tempat di hatinya, meskipun saat ini Brayen telah berubah kepadanya, bahkan dari panggilan saja sudah berubah drastis.


"Ini dokter yang menangani gue selama ini, sebaiknya lo juga ke sini juga."


Chandra mengambil dompet di saku nya, dan mengeluarkan kartu nama Juwita. Chandra mendorong kartu nama tersebut, sembari tersenyum, berharap agar lelaki yang ada di hadapannya ini mengerti akan maksudnya.


Melihat kartu nama yang do berikan oleh Chandra, Brayen hanya tersenyum masam, bagaiman tidak Chandra kini benar benar akan melupakannya, dan menganggap hubungan mereka merupakan sebuah kesalahan.


"Berarti kamu juga ngira aku ini kelainan? Jadi cinta aku juga kelainan ya?" Brayen sedikit emosi memandang kartu nama tersebut, dengan atas nama Juwita dokter psikiater yang selama ini menangani Chandra.


"Gue masih nganggap lo teman baik gue, karena itu gue nyaranin lo kesini, gue juga dari tempat yang sama, tapi percayalah lo bakal bisa kembali dengan yang seharusnya," Chandra menjelaskan sebaik mungkin, ia tak ingin hanya dirinya yang sembuh, mantan pacar yang kini di anggapnya sebagai teman Chandra harapkan akan sembuh juga. Chandra hanya ingin terbaik untuk mereka, berpisah secara baik baik, dan kembali bersama sebagai seorang teman.


Brayen kembali memandang Chandra dengan seksama, berharap laki laki yang di hadapannya ini kembali memikirkan perasaannya, dan kembali merangkai kenangan masa lalu mereka agar dapat bersama.

__ADS_1


"Kamu sayang beneran sama dia, atau hanya sekedar agar kamu sembuh?"


Dua belas hari lagi 🤫🤫🤫🤫 kyuk ikutan give away, berikan komentar terbaikmu, berikan vote karena tinggal 12 hari lagi!!!


__ADS_2