
"Kamu siapa?"
Chandra terkejut Aliya tak mengenalinya, Chandra segera mendekat dan memperhatikan wajah Aliya, semoga itu semua hanya bohongan belaka. Chandra segera memandang ke arah nyonya Mona.
"Ma Al kenapa?" Chandra sedikit panik melihat keadaan Aliya, Chandra tak ingin terjadi sesuatu dengan Aliya.
Nyonya Mona yang mendengar pertanyaan dari anaknya hanya menghela nafas kasar, nyonya Mona memandang Chandra dan Aliya, dengan pandangan tak terbaca.
"Sesuai yang kamu lihat, sebaiknya kamu bersabar, dan mencoba mengingatkan kembali tentang kalian Aliya," nyonya Mona terlihat sedikit sedih.
Chandra memandang Aliya dengan pandangan miris, ingin rasanya ia menghajar Aliya saat ini juga karena berhasil melupakannya, padahal selama ini dia sangat mengkhawatirkannya.
"Al lo ga ingat gue, masa lo ga ingat curut sableng lo sih," Chandra memelas membuat Aliya memandangi wajah Chandra dengan lekat.
"Hm?" Aliya hanya mengeluarkan suara itu, semakin membuat Chandra frustasi.
"Al lo ingat ga kita itu sering banget berantem di dalam mobil, lo ingat ga gue pernah nyoret muka lo pakai spidol permanen, lo ingat ga kalau gue pernah ngerjain lo dengan masang foto tela*njang gue di sosmed lo, terus lo balas gue, eh kitanya di kurung di dalam kama," Chandra mulai mencoba mengingatkan semua masa masa mereka bersama.
Aliya masih tampak diam, seolah tak mengingat apa apa di dalam otaknya.
"Coba yang lebih rinci lagi," nyonya Mona terus memandang Chandra dengan lekat.
"Al lo ingat ga kalau kita pernah di kunciin satu malaman di ruang kerja gue, gara gara kita berantem, kita cuman di kasih satu selimut, akhirnya kita tidur di sofa sambil pelukan," Chandra sepertinya lupa akan kehadiran yang lain, Chandra hanya fokus kepada Aliya. Sehingga membuka aib dirinya sendiri.
Aliya segera memandang nyonya Mona, sejujurnya Aliya takut curut sablengnya ini akan membongkar satu persatu aib mereka di depan kakek Rio. Nyonya Mona mengangguk dan mengulum senyum ke arah Aliya.
Melihat pandangan Aliya, Chandra segera mengikutinya dan melihat nyonya Mona mengulum senyum.
"Ih mama bohongin Chandra ya?" Chandra merasa curiga kepada nyonya Mona.
Semua orang kemudian terkekeh melihat tingkah Chandra yang panik.
"Panik ga? Panik ga? Panik lah masa engga," Aliya terkekeh melihat wajah Chandra. Bahkan di saat sedang sakit saja Aliya sempat sempatnya menggoda Chandra, bahkan membuat Chandra hampir kelepasan.
__ADS_1
"Untung lo sakit ya," geram Chandra ke arah Aliya, rasanya Chandra benar benar kesal di buatnya.
Semua orang semakin terkekeh, membuat Chandra membuang wajahnya ke sembarang arah karena malu, Chandra bahkan terlihat sangat kesal di buat Aliya.
"Cie yang mengingat semua kenangan bersama," kakek Rio tak habis habisnya menggoda Chandra yang sedang tertunduk malu.
"Udah dong kek, mukanya kayak tomat busuk tuh, ga bisa di jadiin salad lagi," Aliya tergelak ikut mengejek Chandra.
"Jadi bisanya buat apa kita," nyonya ikut menimpali.
"Cadi sambal cabe, makanya kalau ngomong sama Aliya itu dia pedesnya kayak boncebe level seribu satu," Aliya terus saja menggoda Chandra yang tak mampu berkutik.
"Tapi sayang mulut sama hatinya ga sejalan," kini tuan Omer yang sejak tadi hanya menikmati, mulai menimpal dan memojokkan Chandra.
Setelah hampir larut malam, mereka memutuskan untuk pulang, dan hanya Chandra yang selalu menemani Aliya saat malam hari.
"Al gue tidur di samping lo ya," Chandra tiba tiba mengatakan hal yang membuat Aliya terbengong ria.
"Ih enak aja lo," Aliya tak terima.
"Ga enak aja lo," Aliya masih tak terima.
"Ayolah lagian kita sering tidur bareng walaupun cuman pelukan doang paling," Chandra masih terus berusaha bernegosiasi.
Aliya tampak berfikir, jika di pikir pikir mereka memang terhitung sering tidur bersama, dua kali di rumah Chandra, dan mungkin beberapa malam terakhir di rumah sakit.
"Ya udah tapi jangan macam macam," Aliya akhirnya mengalah.
"Iya paling meluk lo doang kok," Chandra tersenyum polos ke arah Aliya.
"Ih udah ga belok lo ya? Tapi kok gue merasa terancam ya," Aliya segera memeluk tubuhnya, mencoba melindungi dirinya.
"Ada ada aja lo," Chandra segera menepis omongan Aliya.
__ADS_1
"Lah emang iya," Aliya tak ingin kalah, ia ingin menang.
"Ya udah geser dikit, kepinggir gue mau baring," bukannya membalas perkataan Aliya, Chandra justru meminta Aliya bergeser.
Aliya bergeser sembari Mandang Chandra dengan waspada. Chandra segera berbaring menghadap ke arah Aliya. Chandra menatap lekat wajah Aliya.
"Cil maafin gue ya, kemaren gue sempat ngomong yang macem macem ke lo," Chandra benar benar tulus meminta maaf kepada Aliya, Chandra tak ingin tak mendapatkan maaf dari kancil tikusnya.
"Gue kemaren mabok berat, gue kira lo marah, eh rupanya lo pergi tugas, gue ga tenang banget, gue khawatir sama lo," Chandra kini memulai sisi curhat nya.
"Terus?" Aliya yang sebenarnya sudah tahu keadaan Chandra ketika di tinggalkan olehnya, namun tetap ingin menggoda Chandra, rasanya menyenangkan jika melihat wajah kesal Chandra.
"Terus gue minta maaf," Chandra mengeluarkan tampang memelasnya, sehingga membuat Aliya tak tega.
"Menimbang dan memilih bahwa kemari lo yang nemenin kakek, sama nemenin gue di sini ok gue maafin, tapi," Aliya sedikit berfikir untuk membuat Chandra sedikit kerepotan.
"Tapi apa?" Chandra semakin penasaran dengan persyaratan yang akan di ajukan Aliya.
"Lo masakin gue ya kalau keluar dari rumah sakit," Aliya sedikit tergelak, karena tahu Chandra tak bisa memasak, yang Chandra tahu yaitu mencari duit dan urusan kantor. Bahkan mungkin nama sayuran saja dia tidak tahu.
"Iya tuan putri," Chandra tampak segera menyetujuinya.
Ah persetan lah dengan rasa, nanti dia minta saja bumbu jadi dari para asisten rumah tangga nya.
"Gue merasa sangat imut, di panggil tuan putri," kata Aliya tergelak sendiri.
"Sini gue cubit, lagian lo itu princess bar bar, ga ada aturannya," Chandra memandnag wajah Aliya yang tampak tergelak mendengarkan perkataan dari Chandra.
"Ih apaan sih lo, lo kira pipi gue kue cubit," Aliya berdecik kesal, seolah sedang merajuk dengan Chandra.
"Sini gue cubit, eh sumpah kangen banget gue sama lo," Chandra bukannya mencubit Aliya tetapi justru memeluk erat Aliya.
"Agh lepas ga, ini kok Lo jadi aneh gitu sih? Gara gara Bumblebee pakai sarung ma pecinni kayaknya gini?" Aliya tergelak.
__ADS_1
"Bisa jadi kali ya," Chandra ikut tergelak.
Ah sepertinya malam ini harus mereka abadikan karena terjadi di saat saat tertentu saja. Mereka saat ini akan berdamai, dengan candaan ringan yang mampu membuat mereka saling menghibur.