CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Kejahilan Chandra


__ADS_3

Aliya tengah berjalan menuju ruangan Chandra, saat Aliya akan masuk, tiba tiba Chandra mengejutkannya dari balik pintu, sontak membuat Aliya terperanjat kaget.


Sontak Chandra terkekeh melihat wajah terkejut Aliya yang menurutnya sangat lucu.


"Lo ngapain sih curut? Ngejutin aja lo," kesal Aliya mengusap lembut dadanya.


"Menurut lo," Chandra menjulurkan lidahnya mengejek Aliya.


"Serah lo, gue mau nenangin jantung gue dulu," kata Aliya segera melangkah masuk ke dalam ruangan Chandra.


Buk.


Suara keras pintu menghantam kepala Aliya, sungguh Aliya sangat terkejut, sekaligus merasa kesakitan di bagian kepalanya.


Aliya mengaduh kesakitan semabari memegangi jidatnya, yang baru saja di sambar pintu.


Office boy yang baru saja datang membawakan minuman untuk Aliya, segera menolong Aliya, sembari menuntun Aliya ke tempat duduk.


"Ini non, mau saya ambilkan kompres," office boy bertanya dengan wajah khawatir.


"Iya tolong ya, nanti antar ke tempat curut, eh pak Chandra," Aliya kemudian melangkah menuju ruangan Chandra.


Chandra yang melihat kedatangan Aliya terkekeh geli, apalagi saat Aliya bersungut sembari mengusap keningnya yang sakit.


"Kena lo, gimana? Otak lo udah ga ada yang kopong lagi kan?" Chandra memandang Aliya dengan pandangan kemenangan.


"Sakit tau, kalau gue geger otak gimana?" Aliya benar benar kesal dengan Chandra.


"Hm, itu bukan urusan gue," Chandra tetap tertawa melihat Aliya yang terus memasang tampang cemberut.


Tak lama kemudian pintu diketuk membuat Aliya segera membuka pintu ruangan Chandra. Terlihat seorang laki laki muda mengantarkan Aliya sebuah kompres.


"Terimakasih," kata Aliya tersenyum kemudian menutup kembali pintu ruangan tersebut.


"Buat apa tu?" Chandra tampaknya penasaran.


"Buat jidat gue, yang habis di cium pintu lo," kesal Aliya membuat Chandra semakin terkekeh.


Aliya tak menghiraukan, kemudian segera menempelkan kompres es batu tersebut di kepalanya.


Aliya segera merebahkan kepalanya di sofa ruangan tersebut, sembari menutup matanya. Tak lama kemudian Aliya tertidur, sementara Chandra saat ini justru sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya.

__ADS_1


Sore menjelang Chandra segera membangunkan Aliya untuk kembali. Chandra tampak tersenyum senyum melihat wajah Aliya.


"Woy kutil kancil bangun lo," Chandra mencolek pipi Aliya.


Aliya sedikit menggeliat dan kembali tertidur dengan nyenyak.


"Kutil kancil bangun lo," Chandra mencubit hidung Aliya, hingga tak dapat bernafas.


Aliya seketika terbangun dari tidurnya, Aliya seketika cemberut melihat Chandra yang dengan sengaja menutup hidungnya.


"Lo mau bunuh gue ya?" Aliya memandang Chandra dengan sinis.


"Ga ah geer lo, gue cuman mau bangunin lo, tapi lo nya kayak kerbau," Chandra tergelak geli melihat ekspresi kesal Aliya.


"Lo mau di kunciin atau ikut gue?" Chandra kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Iya gue ikut," kata Aliya segera mengekor di belakang Chandra.


Saat keluar dari ruangan Chandra, semua orang memandangi Aliya dengan wajah bingung, mereka sedikit mengulum senyum di bibir mereka.


Aliya sedikit bingung melihat ekspresi mereka, Aliya seolah melakukan sesuatu yang aneh, atau karena ia jalan dengan bos mereka? Ah tapi tadi pagi juga sama kan? Bukan kah mereka tadi pagi hingga siang tadi biasa saja.


Aliya tak ingin mengambil pusing, paling para wanita tengah iri kepadanya karena dekat dengan bos mereka.


"Ga ada apa apa, ayo balik gue mau istirahat," Chandra segera merangkul Aliya agar tak melihat ke arah cermin besar daerah tersebut.


Aliya terseret dengan Chandra yang menariknya dengan paksa. Chandra segera menuju ke parkiran dengan senyum yang diam diam mengembang.


Aliya segera masuk setelah Chandra membukakan pintu mobil untuknya. Chandra pun menyusul Aliya masuk ke dalam mobil.


"Nona muda," pak Ujang tampaknya terkejut melihat wajah Aliya, membuat Chandra terkekeh.


Sejak tadi Chandra sudah tak dapat menahan tawanya, namun tak mungkin ia keluarkan di hadapan anak buahnya.


Aliya memandang curiga ke wajah Chandra yang sudah terkekeh, Aliya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah cermin mobilnya.


Aliya terkejut melihat wajahnya yang penuh coretan spidol hitam dan merah, jangan di tanya lagi siapa pelakunya, Aliya pastinya sudah tahu, siapa lagi jika buka Chandra pelakunya.


"Chandra belok kurang ajar lo ya," kesal Aliya memandang wajah Chandra dengan kesal.


"Aliya kutil kancil bagus kan karya gue?" Chandra semakin terkekeh melihat wajah kesal Aliya.

__ADS_1


Aliya segera menyerang Chandra, sontak membuat Chandra segera menghindar sembari tertawa terbahak bahak.


"Jalan pak," kata Chandra di sela sela tawanya.


Mau tak mau pak Ujang segera menjalankan mobilnya dengan pelan. Ah, nampaknya perjalanan panjang akan kembali lagi.


"Sini gue balas lo," Aliya benar benar sangat kesal dengan kejahilan Chandra.


Chandra hanya menjulurkan lidahnya, sembari terus tertawa terbahak bahak.


"Chandra tanggung jawab lo, diam ga," Aliya semakin kesal ketika mendengar tawa Chandra yang terdengar sangat bahagia.


"Gue bahagia cil, liat muka lo, sudah kayak dogi pak Cipto, tetangga gue," Chandra semakin terkekeh bahagia.


"Chandra mau gue balas lo," Aliya semakin kesal di buatnya.


Karena sudah sampai di rumah besar keluarga Kostak, pak Ujang segera memarkirkan mobilnya, kemudian segera mematikan mesin mobil tersebut, belajar dari kejadian tadi siang, saat mereka menabrak mobil seseorang.


Benar saja hal sama terjadi, tapi bedanya adalah kali ini Chandra yang berada di bawah Aliya, Chandra bahkan masih tertawa ketika melihat wajah merah dari Aliya, karena menahan amarah.


Nyonya Mona yang melihat mobil mereka terus bergoyang sedikit khawatir, Chandra bahkan saat ini telah bangun dan kembali, dan berusaha menggenggam tangan Aliya, yang terus saja menyerang nya.


Aliya saat ini berada di dalam pangkuan Chandra, semabari terus memeluk pinggang Aliya agar dirinya tak terjatuh ke bawah.


"Tuan muda dan nona muda, kita sudah sampai," pak Ujang berusaha memberitahu sepasang kucing dan tikus tersebut.


Bak angin berlalu, Chandra dan Aliya tampaknya tak menghiraukan kata kata dari pak Ujang, membuat pak Ujang segera keluar dari mobil tersebut, biarlah mereka berdua menyelesaikan masalah mereka dengan cara baku hantam.


"Pak Ujang ada apa," tampak nyonya Mona menghampiri pak Ujang.


"Lagi bertengkar nyonya," kata pak Ujang sedikit tertunduk.


"Terus kok kap depan penyok," nyonya Mona terkejut.


"Iya tadi nabrak teman nona Aliya," jujur pak Ujang.


Nyonya Mona segera mengetuk pintu mobil kedua orang itu, namun tak di hiraukan.


"Buka pintu mobilnya pak," nyonya Aliya mengeluarkan perintahnya.


Pak Ujang segera membuka pintu mobil tersebut, sontak mengejutkan kedua orang yang tengah bertengkar.

__ADS_1


Namun nyonya Mona justru menyoroti posisi Aliya yang berada di dalam pangkuan Chandra, dan tangan Chandra yang memeluk pinggang Aliya.


"Kalian ngapain?"


__ADS_2