CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Kita ngapain ke sini?


__ADS_3

"Kamu sayang beneran sama dia, atau hanya sekedar agar kamu sembuh?" Brayen memandang Chandra dengan seksama, berharap apa yang akan di katakan oleh Chandra memberinya sedikit harapan. Hanya saja jika Chandra memang tak suka lagi kepadanya maka ia harus menerimanya dengan lapang dada, berharap ini lah yang terbaik, namun Brayen tetaplah Brayen, yang butuh kepastian.


"Kalau gue sudah berani melangkah sejauh ini perlukah di pertanyakan?" Chandra tersenyum ke arah Brayen.


Ya, jawaban ini yang akan paling membuat Brayen sakit, namun juga akan membuat Brayen tegar bahwa cinta Chandra tak ada lagi untuknya. Bukankah Brayen telah berjanji pada dirinya sendiri untuk kuat? Apalagi jika harus menerima kenyataan ini.


"Ternyata benar, aku doakan biar langgeng ya," Brayen mencoba untuk tersenyum pasrah, sebisa mungkin menguatkan diri sendiri.


"Terimakasih, gue cabut dulu ya, kalau undangan udah jadi biar gue abter sendiri dengan Al," Chandra segera meninggalkan Brayen yang memandangnya dengan nanar.


Brayen harus menerima kenyataan bahwa lelaki tersebut telah melupakannya, dan memulai cinta dengan wanita yang lain. Brayen segera meninggalkan tempat tersebut, dengan segala kesedihan dan harapan yang sudah hancur. Brayen memandang kartu nama Juwita, dan memasukkannya ke dalam saku jasnya.


"Dokter Juwita ya? Baiklah akan ku coba," Brayen segera berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.


......................


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Aliya, Aliya segera membukanya, ternyata itu dari nomor yang tidak di kenal, Aliya segera membukanya dan terdapat beberapa foto di dalamnya. Alangkah terkejutnya Aliya ternyata itu adalah foto pertemuan antara Brayen dan juga Chandra. Aliya sedikit menghela nafasnya untuk segera menelfon Chandra.


"Halo gue mau ketemu sekarang, ini penting, di kafe xx," Aliya segera mematikan ponselnya sebelum Chandra menolak. Aliya segera menarik jaketnya bersiap untuk menemui Chandra di tempat yang sudah ia tentukan.


Hanya butuh tiga puluh menit akhirnya Aliya telah sampai di tempat tersebut, Chandra tampaknya telah sampai terlebih dahulu. Aliya segera menarik kursi di hadapan Chandra dan duduk.


"Cil tumben, kenapa ga nyuruh gue ke rumah aja," Chandra memandang Aliya dengan bingung.


"Kalau lo mau pernikahan kita batal, gue ga masalah kalau bahas ini di rumah," Aliya dengan santainya mengatakan hal tersebut.


Chandra terkejut mendengarkan hal tersebut, dapat Chandra dengar nada suara dari calon istrinya itu berubah, ada sedikit nada ketus di dalam sana, tak seperti biasanya. Meskipun mereka bertengkar hebat.


"Cil gue ada salah ya? Gue minta maaf ya," Chandra sedikit cemas, Chandra tak ingin pernikahan nya yang sudah di depan mata batal.


"Ini apa? Kalau lo cuman mau jadiin gue tameng lebih baik gue mundur, gue masih muda," Aliya segera meletakkan ponselnya di hadapan Chandra.


Chandra semakin terkejut melihat hal tersebut, karena saat ini layar Aliya tengah menampilkan pertemuannya dengan Brayen beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Cil bisa gue jelasin semua," Chandra sedikit gelagapan takut Aliya akan salah faham.


"Ok, gue dengerin," Aliya segera menyimpan kembali ponselnya.


"Cil ga ada sedikit pun niat gue buat jadiin Lo tameng, tadi siang dia ngajak gue ketemuan, jadi gue iya_in," Chandra menarik tangan Aliya sedikit meremasnya, takut Aliya tak menerima penjelasannya. "Tadi dia nanya soal perasaan gue, jelas gue ga ada lagi rasa sama dia, sumpah cil lo harus percaya sama gue."


"Terus?" Aliya hanya mengeluarkan satu kata yang semakin membuat Chandra kelabakan.


"Terus gue ga mungkin ngebatalin, pernikahan ini karena nyokap bokap gue bakalan marah," gengsi, satu kata untuk Chandra yang tak mau menyatakan perasaannya yang sesungguhnya.


"Tu kan lo cuman mau jadiin gue tameng, gue masih muda, kalau lo cuman mau jadiin gue tameng gue mundur, gue masih muda yang mau sama gue banyak," Aliya segera menarik tangannya dari genggaman Chandra, namun tetap di tahan oleh Chandra.


"Lo bisa belajar buat cinta kan sama gue?" Kali ini Chandra menggenggam kedua tangan Aliya dengan tangannya.


"Tergantung, karena belajar mencintai tak bisa dari satu pihak, karena gayung ga akan bersambung ketika ga ada lawannya," Aliya akhirnya membiarkan Chandra menggenggam tangannya.


"Gue mau lo belajar cinta sama gue," Chandra terus bersikukuh untuk meminta Aliya belajar mencintainya.


"Gue ga bisa belajar sendiri, enak aja gue belajar lo nya malah engga," Aliya terus menghela nafasnya, Aliya tak ingin di minta belajar sendiri, karena saat kehilangan pasti akan menyakitkan.


"Lo punya satu minggu lagi buat mikirin ini, kalau gue ya ngikut aja, gue paling belajar buat cinta mungkin itu bisa, karena ada keinginan," belum samapai Chandra berbicara Aliya telah memotongnya terlebih dahulu. "Kalau gitu gue cabut dulu ini udah malam."


Setelah mengatakan hal tersebut, Aliya segera keluar dari kafe, membuat Chandra semakin panik. Chandra segera berdiri mengejar Aliya yang telah keluar terlebih dahulu.


"Cil tunggu gue, biar gue antar," Chandra tak ingin Aliya kembali dengan keadaan emosi yang tak stabil, baru juga kemarin hatinya lega karena gadis itu akhirnya membuka matanya, Chandra tak ingin kembali terjadi sesuatu dengan Aliya.


"Ga gue bawa motor kok," Aliya mengeluarkan kunci motornya dari saku.


"Cil gue ga mau, sini gue antar," Chandra merebut kunci motor Aliya, dan segera meletakkannya di saku celananya.


"Balikin ga kunci motor gue?" Aliya sungguh kesal dengan perbuatan Chandra.


"Ga sebelum lo mau gue antar," Chandra bersikeras tak ingin membiarkan gadis tersebut pulang sendirian.

__ADS_1


"Motor gue gimana?" Aliya akhirnya mengalah karna jika tidak maka mereka tak akan bisa pulang.


"Motor lo gue yang bawa, mobil biar pak Ujang yang ngambil rumah pak Ujang ga jauh kok dari sini," Chandra segera merogoh saku nya dan menelfon pak Ujang, Chandra meraih tangan Aliya agar Aliya tak kemana mana, Chandra menautkan jari jemari mereka, semabari mendekap tangan Aliya di dadanya.


Setelah menelfon Chandra membawa Aliya untuk duduk di atas dasboard mobilnya, sembari terus menggenggam tangan Aliya. Hanya berselang lima menit pak Ujang datang ke tempat yang di minta oleh Chandra, dengan hanya berjalan kaki.


"Tuan muda kuncinya mana?" Pak Ujang segera meminta kunci mobil kepada Chandra. Pak Ujang khawatir akan mengganggu mereka.


"Ini pak, tolong antar sampai rumah ya," Chandra segera memberikan kunci mobilnya ke arah pak Ujang.


"Iya tuan, permisi non," pak Ujang segera permisi, setelah kedua orang itu turun dari dasboard mobil.


"Iya pak," jawab Aliya dengan sopan dan ramah.


"Ayo Cil," Chandra segera menarik tangan Aliya ke arah motor Aliya.


"Iya," Aliya hanya mengiyakan saja, sembari menaiki jok motor belakang.


Chandra segera menghidupkan mesin motor sembari melirik Aliya dari kaca spion.


"Cil peluk dong,"pinta Chandra sebelum menarik pedal gas.


"Ga ah," Aliya tak menuruti keinginan Chandra.


"Ayo lah cil, kalau ga gue ga jalan jalan ni," ancam Chandra, membuat Aliya berdecak kesal, namun membuat Chandra terkekeh.


"Iya iya, sabar," Aliya segera memeluk pinggang Chandra, membuat Chandra mengusap lembut tangan Aliya. Di sepanjang perjalanan Chandra terus tersenyum senang, tak menyangka akan ada momen seperti ini.


"Cil, rebahin kepala lo di pundak gue dong," Chandra kembali meminta Aliya melakukan sesuatu.


"Ih banyak maunya lo," kesal Aliya namun tetap melakukannya.


Chandra tersenyum dan melajukan motornya, namun tidak ke rumah Aliya, Chandra justru membawa mereka ke arah perbukitan.

__ADS_1


"Kita ngapain ke sini?" Aliya yang baru menyadari ketika mereka berhenti. Jujur saja tadi Aliya memilih untuk memejamkan matanya menikmati perjalanan.


__ADS_2