
"Saya tidak akan percaya," bantah kakek Rio penuh emosi. "Ingat kalian tidak akan mendapatkan restu sedikitpun dari saya."
"Tidak kek," Chandra bersikeras memegang kaki kakek Rio, memohon agar di beri restu kepada Aliya.
"Lepaskan saya, jauhkan tangan kamu dari kaki saya," kakek Rio menghardik Chandra.
Kakek Rio melepaskan tangan Chandra dari kakinya, membuat nyonya Mona dan tuan Omer terduduk tak percaya. Nyonya Mona sudah menangis tak percaya, dengan keadaan tersebut. Kakek Rio segera beranjak menarik Aliya keluar dari rumah tersebut.
Chandra tak tinggal dia, Chandra segera berdiri dan mengejar kakek Rio, merebut Aliya dari kakek Rio. Chandra segera memeluk Aliya dengan erat, seolah Aliya akan hilang jika Chandra melonggarkan ya sedikit saja.
"Lepaskan cucuku," tegas kakek Rio, emosi melihat Chandra memeluk erat tubuh Aliya.
"Tidak kek, Chandra sayang sama Al, Chandra ga mau di pisahkan," Chandra semakin erat memeluk Aliya bahkan kini Chandra menangis menitikan air matanya.
Chandra benar benar tak tahu jika harus kehilangan Aliya, wanita pertama yang membuatnya jatuh cinta, tak akan pernah Chandra lepaskan. Kalaupun Aliya tak mau, maka Chandra akan memaksa Aliya untuk jatuh cinta padanya, meski itu sulit.
"Chandra lepas," kakek Rio semakin meninggikan suaranya, geram dengan tingkah Chandra.
"Tidak kakek bisa lakuin apa aja, tapi jangan ambil Al dari Chandra," Chandra semakin kuat saja memeluk Aliya.
"Chandra, lepas nanti kakek tambah marah, kalau kakek sudah tenang nanti kita bisa baik baik," bujuk Aliya. Aliya dapat merasakan pundaknya yang basah akibat air mata Chandra. Aliya pun menangis di dalam pelukan Chandra, meskipun Aliya belum mencintai Chandra sepenuhnya, namun melihat Chandra mempertahankan nya dengan gigih, hingga berlutut di hadapan kakek Rio, menggugah hati Aliya.
Chandra menggeleng. "Ga Al," Al bahkan mengecup puncak kepala Aliya, persetanan kakek Rio akan marah, asal kakek Rio dapat melihat besarnya cinta Chandra untuk Aliya.
"Chandra lepas," geram kakek Rio, dengan suara yang menggema di gendang setiap telinga orang.
"Chandra mengalah sebentar, kakek akan benar benar marah, nanti bisa kita bujuk lagi, kalau benar benar marah maka kakek tak akan memberi restu selamanya," Aliya berusaha membujuk Chandra meski hatinya berat.
Chandra melepas pelukan Aliya dengan perlahan, di lihatnya wajah cantik Aliya meneteskan air mata, membuat Chandra menghapus jejak air mata nya. "Tunggu aku, jangan menangis."
__ADS_1
Chandra berusaha membuat Aliya berhenti menangis, padahal dapat Aliya lihat wajah Chandra yang telah memerah karena menangis di pundaknya. Chandra segera menghadap ke arah kakek, menyatukan telapak tangannya kembali menurunkan harga dirinya di hadapan kakek Rio.
"Kek Chandra mohon maaf kan masalalu Chandra," Chandra beneran benar tak tahu lagi harus bagaiman.
"Kamu kira siapa kamu?" hardik kakek Rio merendahkan.
"Kek Chandra ga akan pernah nyerah kek, Chandra sayang dengan Aliya," Chandra tetap teguh kepada pendiriannya.
"Jangan mimpi kamu," kekeh kakek Rio segera menarik tangan Aliya ke arah mobil.
"Ayo Al."
Kakek Rio segera mendorong Aliya masuk ke dalam mobil, membuat Chandra gelagapan tak rela Aliya masuk ke dalam mobil.
"Kek jangan kek," Chandra segera ikut masuk di samping Aliya, bahkan memeluk Aliya yang kini berusah mengapus air matanya.
"Sabar sayang, kita akan berjuang bersama mendapat restu kakek," lirih Aliya, menyatukan kening mereka.
"Aku ga mau kek, Al tetap akan menjadi istriku nanti," kekeh Chandra tetap menggenggam tangan Aliya, Chandra terus menghapus air mata Aliya yang berjatuhan.
"Jangan terlalu berharap," kakek Rio semakin gencar menarik Chandra keluar. "Jack."
Orang yang di panggil oleh kakek Chandra segera keluar dari kursi depan, Chandra kemudian di tarik paksa pengawal kakek Rio. Jack menghempaskan tubuh Chandra di samping terus, untungnya nyonya Mona dan tuan Omer dengan sigap menangkap Chandra.
"Tidak Al, sayang buka pintu nya, kamu udah janji dengan aku Al," Chandra kembali mencoba pintu mobil tersebut, sekali kali menggedor kaca mobil.
Tak mendapat respon Chandra segera berlari menuju pintu di samping Aliya. Berusaha membuat Aliya keluar.
"Al buka pintunya," teriak Chandra membuat Aliya segera meletakkan telapak tangannya ke kaca jendela, Aliya menggeleng meminta Chandra agar tak keras kepala saat ini. Ketika mobil hendak berjalan, Chandra kembali berdiri ke hadapan mobil merentangkan dan tangannya.
__ADS_1
"Engga Al, kamu tetap di sini," teriak Chandra mengehentikan jalannya mobil yang tumpangi Aliya. "Tabrak aja sekalian kalau mau ngabil Al."
Mobil mulai kembali berjalan, nyonya Mona dan tuan Omer segera menarik tangan Chandra, untuk menepi.
"Chandra sabar nak, nanti kita ngobrol lagi dengan kakek, kalau jodoh tidak akan kemana," nyonya Mona yang sudah menangis melihat keadaan anaknya kini mulai memeluk Chandra dengan erat.
"Tidak mah, Al nya Chandra di ambil," Chandra masih berusaha memberontak tak mampu melihat mobil yang di tumpangi Aliya berjalan jauh, terlebih lagi teringat wajah menangis Aliya.
"Sayang sabar, nanti kita ngobrol lagi dengan kakek," nyonya Mona tetap berusaha membuju Chandra.
"Engga mah, nanti Al di bawa pergi, Chandra ga mau," Chandra berusaha memberontak meski seluruh tubuhnya lemas melihat mobil semakin menjauh.
"Nak kita masuk dulu," tuan Omer berusaha membantu Chandra berdiri.
"Engga!" Chandra berteriak tak mau. Chandra segera melepaskan diri, dan berusaha kembali mengejar mobil Aliya.
"Al jangan pergi Al, kakek maafkan Chandra," Chandra berusaha mengejar mobil Aliya, dan meneriaki mobil yang terus berjalan menjauh dari Chandra.
"Chandra sayang jangan," nyonya Mona, tuan Omer dan beberapa penjaga setra satpam rumah tersebut berusaha mengejar Chandra.
Chandra terus berlari mengejar Aliya, hingga Chandra terjatuh membuat nyonya Mona segera berlari mendekati Chandra.
Beberapa orang yang melihat adegan tersebut menjadi ikut sedih, beberapa orang mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponselnya, ah dasar netijen. Sementara yang lain lupa untuk mengabadikannya karena ikut larut dalam kesedihan, melihat seseorang yang terus memanggil nama seorang wanita, yang sejak tadi berusaha membuka kaca mobilnya. Dapat mereka lihat ini adalah hubungan tak di restui.
"Chandra ayo sayang masuk ke rumah dulu," nyonya Mona kembali berusaha membuju Chandra.
"Mah Chandra mau ngejar kakek, Chandra ga mau kakek ngebatalin pernikahan Chandra dan Aliya," Chandra kembali menangis dan memohon kepada nyonya Mona dan tuan Omer.
"Masuk dulu sayang," nyonya Mona kini membujuk putranya, agar tak seperti sekarang, menjadi tontonan umum.
__ADS_1
"Chandra jangan keras kepala, biarlah dulu, tunggu besok pagi kita ke sana," tuan Omer berusaha memberikan anaknya solusi agar mengerti dan tidak berlarut begini, karena tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
"Pah ini salah Chandra andai dulu Chandra ga gitu, mungkin kakek masih menerima Chandra," Chandra tiba tiba menyalahkan dirinya sendiri. "Chandra ga bisa kehilangan Aliya Pah."