CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Insiden mobil bergerak II


__ADS_3

"Makanan kita sudah habis, ayo lepaskan," kata Chandra setelah meminum minumannya.


"Iya iya," kata Aliya segera meraih tisu yang tersedia.


Aliya kemudian mencari kunci borgol dengan merogoh kantung jaketnya, namun Aliya tak kunjung menemukannya.


"Lama banget sih," kesal Chandra melihat hel tersebut.


"Lah lo diam aja, bantuin kek," jawab Aliya ikut kesal di buatnya.


Karena kesal Chandra juga ikut merogoh kantung Aliya, benar saja ternyata setelah di geledah kunci tersebut tidak di temukan.


"Eh lo megang megang badan gue apa maksudnya? Lo ya gaya doang belok, tapi pegang sana sini," Aliya melotot tak percaya, karena baru menyadarinya.


"Lagian lo sendiri yang nyuruh bantu nyari kan? Lagian kok kuncinya ga ada," kesal Chandra, karena ia juga baru menyadari perbuatannya.


"Tau kok bisa ga ada sih," Aliya tampaknya benar benar panik.


"Jadi gi mana dong?" Chandra benar benar kesal di buatnya.


"Kayaknya tinggal di tas latihan kemarin deh," Aliya benar benar menepuk jidatnya karena melupakan kunci.


Chandra yang kesal ikut menepuk jidat Aliya, degan gemas. Karena merasa terjebak dengan wanita yang menyebalkan menurut nya.


"Mangkanya jangan ceroboh," kesal Chandra.


"Ya udah habis ini lo temenin gue ngambil kuncinya deh," tawar Aliya dengan wajah yang cemberut.


"Idih kenapa bibir lo, minta di cium tembok?" ledek Chandra mencubit bibir Aliya.


"Ga usah gitu ya, entar lo ketagihan," kesal Aliya.


"Idih ogah gue, yaudah ayo ambil kuncinya," Chandra mengingatkan tujuan mereka yang sebenarnya.


Chandra segera berdiri dan menarik tangan Aliya dari dalam kantung jas nya.


"Iya sabar," kesal Aliya terpaksa di seret Chandra.


"Pokoknya lo harus tanggung jawab," Chandra tak menghiraukan keluhan Aliya.


"Malas banget masalah masalah lo, ngapain ngikutin gue," Aliya menolaknya mentah mentah.

__ADS_1


"Tapi gara gara lo," kesal Chandra segera menghentikan langkahnya.


"Bodo amat," kata Aliya mendahului Chandra.


"Eh mau ke mana lo?" Chandra menggenggam tangan Aliya di balik jantung jas nya.


"Mau ke mobil lah," kata Aliya santai.


"Ini mobil kita," kata Chandra, sontak membuat Aliya terkikik geli karena malu.


"Gue lupa, maklum aja lo ya," kata Aliya tersenyum jenaka.


"Makanya otak di pakai yang benar, kayaknya lo udah tua deh otak lo," ejek Chandra mendorong Aliya masuk ke dalam mobil.


"Idih ga gitu juga kali, ini efek gue bareng sama lu," sanggah Aliya.


"Eh enak aja, ingatan gue aja masih segar gini," Chandra mencebikkan bibirnya.


"Mana sini gue liat," tantang Aliya.


Aliya mendekatkan wajahnya ke arah kepala Chandra.


"Lo kira kepala gue ikan salmon, bisa lo liat kalau masih segar?" Chandra segera menjauhkan wajah Aliya dengan telapak tangannya.


"Lo selalu salah, salah di mata gue," kesal Chandra sedikit menjauh, meski mereka tak bisa, karena terikat oleh borgol.


"Lah bukannya cewek selalu benar ya? Kok terbalik, kayak baju aja deh," kata Aliya memandang jengah ke arah Chandra.


"Idih ngapain lo bawa bahas baju baju segala? Lo mau beli baju?" Chandra membalas dengan tatapan sinis.


Pak Ujang hanya menghela nafas kasarnya karena bisa di pastikan akan terjadi pertengkaran lagi, tapi sebelum pertengkaran di mulai lebih baik pak Ujang menanyakan alamat yang akan mereka tuju terlebih dahulu.


"Maaf non alamatnya di mana ya? Soalnya saya ga tahu tempat," pak Ujang berusaha bertanya sehati hati mungkin, agar nasibnya tidak seperti tadi saat berangkat ke rumah dokter Juwita.


"Ini ikuti map," kata Aliya menyerahkan ponselnya.


Pak Ujang hanya mengangguk dan segera mengambil ponsel Aliya.


"Eh anu tuan muda dan nona muda, tolong jangan seperti tadi ya, soalnya jalanan aga sedikit ramai, takutnya kita nabrak atau nyerempet," pak Ujang sedikit gugup menyampaikan nya.


"Makanya bilang sama yang di sebelah ni," Chandra dan Rayana serentak menyalahkan satu sama lain.

__ADS_1


Bahkan kata katanya sangat persis, dengan intonasi yang sama. Seandainya saja kekompakan mereka berdua di gunakan untuk hal positif, mungkin saja akan sangat bagus.


"Lo ngapain ngikutin kata kata gue?" Aliya tak terima memiliki kata kata yang sama dengan Chandra.


"Lo yang ngikutin gue," Chandra tak mau kalah.


"Lo ya, dasar lo ya," Aliya mulai geram dengan Chandra.


"Lo diam lo ya," Chandra membekap mulut Aliya.


Yah walhasil mereka saat ini sama sama bertengkar, dan jalan mobil pun di perlambat oleh pak Ujang, karena di belakang mobil tengah heboh bergoyang.


Pak Ujang akhirnya sampai pada tempat yang di tuju, pak Ujang segera menghentikan mobil mereka secara perlahan, namun karena Chandra mendorong Aliya cukup keras ke depan, akhirnya mereka berdua limbung ke arah pak Ujang.


Pak Ujang terkejut, dan mendadak menekan pedal gas, hingga akhirnya menabrak mobil yang terparkir di depan.


"Minggir lo dari atas gue," kesal Aliya, segera bangkit dan buru buru keluar dari mobil, membuat Chandra ikut terseret ke luar.


Aliya menepuk jidatnya, itu adalah salah satu mobil rekannya.


Si empunya yang mendengar benturan cukup keras dari arah luar segera keluar dari markas. Padahal baru saja ia akan masuk ke dalam markas latihan mereka.


"Kali ini lo harus diam, kalau ga kita dalam masalah besar," bisik Aliya ke pada Chandra.


Chandra yang melihat seorang laki laki keluar dengan senjata lengkap, badan tegap tinggi dan berotot hanya meneguk ludahnya. Bukannya terpesona melainkan membayangkan dia akan di pukul oleh orang itu, jika mengetahui perbuatannya.


"Ngedip lo, jangan terpesona emang ganteng dia, gue akui," Aliya masih sempat sempatnya menggoda Chandra di saat saat yang seperti ini.


Saat laki laki itu mendekat ke arah mobilnya, dan melihat kap mobil belakangnya yang penyok, ia segera memandang ke arah Aliya dan Chandra.


"Al kamu ga apa apa? Kok bisa se ringsek ini," laki laki itu tampaknya lebih menghawatirkan Aliya ketimbang mobilnya sendiri.


Melihat hal itu sontak membuat Chandra mencebikkan bibirnya, sungguh tampak jelas di mata laki laki tersebut, bahwa dia menyukai Aliya.


"Engga kak. Kak, kakak punya kunci borgol ga? Coba lihat," Aliya benar benar menunjukkan wajah memelasnya.


"Ya ampun kok bisa Al," laki laki tersebut segera mengambil kunci borgol di saku celana nya.


"Iya tadi aku kesal sama dia, jadi ku borgol aja tangan aku dengan dia," Aliya menunjuk Chandra dengan pandangan kesal.


Chandra mendecik kesal di buatnya, bagaiman mungkin Aliya menyalahkan dirinya, padahal Aliya lah yang mengeluarkannya dengan sukarela.

__ADS_1


"Dia siapanya kamu," laki laki itu tampak memperhatikan Chandra dari atas hingga kebawah.


"Sepupu, sepupu jauh aku," kata Aliya cepat.


__ADS_2