
Hari ini nyonya Mona bersiap untuk mengunjungi Aliya di rumah sakit, saat ini Aliya di temani oleh Chandra, membuat nyonya Mona sedikit berlambat lambat. Nyonya Mona telah menyiapkan brkal makan siang untuk Aliya dan Chandra.
"Ayo sudah siap semua," nyonya Mona segera masuk ke dalam mobil yang di bangku depan telah di isi oleh tuan Omer dan kakek Rio.
Tuan Omer segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya mereka di rumah sakit, mereka segera bergegas ke ruangan Aliya di rawat, karena sebentar lagi jam makan siang akan terlewat.
Saat nyonya Mona sudah berada di depan pintu, nyonya Mona tak mengetuk lagi dan langsung saja membuka pintu ruangan tersebut dengan pelan. Pintu terbuka dan menampakkan Chandra tengah ber*ciuman dengan Aliya. Nyonya Mona sedikit tertegun, sekaligus merasa haru, anaknya sudah sembuh, itu yang di pikiran nyonya Mona.
Memang benar apa yang di katakan oleh pak Ujang tempo hari, bahwa Chandra memang sudah berubah, ha itu terbukti ketika akan pergi meninggalkan Aliya, Chandra selalu refleks mengecup puncak kepala Aliya.
Nyonya Mona segera keluar dan menutup pintu ruangan tersebut dengan pelan, membuat tuan Omer dan kakek Rio bingung sendiri dibuatnya. Pasalnya sejak tadi nyonya Mona hanya berdiri di ambang pintu, dan tak melangkah masuk, bahkan kini kembali keluar dengan menutup pintu tersebut pelan pelan.
"Kenapa?" Tuan Omer sedikit bingung di buatnya.
Nyonya Mona segera mengatupkan jari jarinya, dan menyatukan kedua tangannya dengan jari yang sedang mengatup, kemudian menggesek gesekkan nya, seolah menggambarkan adegan ciu*man Chandra dan Aliya.
Tuan Omer dan kakek Rio terkejut melihat contoh dari nyonya Mona, segera membuka sedikit pintu, dan mengintip di balik celahnya. Alangkah terkejutnya mereka ketika menyaksikan adegan uwuw tersebut. Ternyata benar dengan apa yang di sampaikan nyonya Mona, mereka tengah ber*ciu*man atau tengah beradegan uwuw kata anak muda jaman sekarang.
Mereka kembali menutup pintunya dengan pelan kemudian memandang satu sama lain, nyonya Mona memutus untuk menunggu sebentar di bangku tunggu rumah sakit tersebut. Nyonya Mona dan tuan Omer diam diam tersenyum, mensyukuri kehadiran Aliya di tangah tengah mereka. Chandra benar benar sembuh, kenapa tidak dari dulu Aliya hadir di antara mereka.
"Apa mereka sudah selesai?" Kakek Rio sangat penasaran.
"Hm sepertinya kita tunggu lima menit lagi lah," tuan Omer segera melirik arloji nya. "Mereka akan canggung kalau kita masuk di tengah adegan."
Nyonya Mona mengangguk tanda mengerti, akhirnya kakek Rio mengalah, dan berfikir akan sangat canggung jika mereka ketahuan. Kakek Rio jadi teringat masa mudanya, membuat kakek Rio menggeleng kepala sembari tersenyum.
__ADS_1
"Akhir bulan nanti sudah masuk ke tiga bulan kan?" Kakek Rio tersenyum ke arah nyonya Mona dan tuan Omer.
Nyonya Mona dan tuan Omer mengangguk, mereka pun mengerti maksud dari kata kat kakek Rio. Jika di hitung berdasarkan tanggal perjanjian mereka, maka akhir bulan seharusnya mereka menikah.
Meskipun awalnya para orang tua sedikit ragu, namun setelah melihat adegan ber*ciu*man live di depan mata mereka, mereka semakin yakin saja dengan rencana mereka.
Setelah berbincang tentang konsep pernikahan yang akan mereka adakan, tak terasa ternyata waktu telah lewat lima menit, mereka segera beranjak masuk ke dalam kamar rawat inap, dan menemukan Chandra tengah memeluk dan sedikit mengecup puncak kepala Aliya. Kemudian memilih turun dari tempat tidur setelah Aliya terlelap.
"Eh kakek, mah, pah," Chandra segera menyalami ketiga orang tua tersebut. "Baru datang?"
Chandra sedikit tegang takut mereka menyaksikan adegan yang mengenakkan tersebut, adegan yang pastinya akan ia ulangi lagi.
"Baru nih, loh Aliya udah tidur? Padahal mama bawa makan siang loh," nyonya Mona bertanya seolah tak tahu apa apa.
Chandra sedikit bernafas lega, sepertinya ketiga orang yang tengah di hadapannya tidak mengetahui tentang hal tadi. Setidaknya ia akan aman, dan tak perlu menjawab pertanyaan dari ketiga orang tersebut. Terlebih lagi Chandra tak ingin Aliya terlalu memikirkan hal tersebut, sehingga mempengaruhi Aliya.
Ah, jika di pikir pikir, kini Chandra mulai mengkhawatirkan keadaan Aliya, bahkan dengan apa yang akan di pikirkan gadis tersebut.
"Oh, ya sudah kamu makan dulu," nyonya Mona segera memberikan piring kosong untuk Chandra.
Tampa bantahan Chandra segera menyantap makanan tersebut dengan lahap, membuat nyonya Mona menggeleng. Apakah adegan tadi menguras banyak tenaga merek? Bahkan sampai sampai Aliya tertidur, dan Chandra begitu lahap makannya? Ah bagaiman jika mereka melakukan malam pertama nanti? Sepertinya mereka membutuhkan jamu kuat.
Nyonya Mona tersenyum senyum sendiri membayangkan isi pikirannya, ah terlalu banyak Travelling, sehingga dirinya memikirkan hingga malam pertama.
"Mama kenapa?" Chandra memandang nyonya Mona dengan bingung.
__ADS_1
"Lagi mikirin konsep pernikahan kalian," bohong nyonya Mona, membuat Chandra tersedak.
"Uhuk, uhuk," anggap saja suara batuk Chandra.
Chandra segera mengambil sebotol air mineral untuk di minumnya. "Mamah ada ada aja."
"Lah emang bener kok," nyonya Mona berkata dengan sungguh sungguh.
"Iya iya terserah mama," Chandra hanya meng iya kan malas berdebat dengan mamanya, wanita yang hampir satu spesies dengan Aliya.
Saat mereka tengah berbincang bincang, tiba tiba Aliya terbangun karena haus, nyonya Mona yang melihat hal tersebut segera mendekat. Chandra hanya memandangnya dari tempat duduk, saat mereka saling bersitatap Chandra segera mengalihkan pandangannya. Chandra masih terlalu malu untuk memandang wata Aliya, adegan tadi masih sangat terasa di kepalanya, bahkan rasanya ingin mengulangi lagi.
"Chandra ambilin makan siang Al, dari habis itu minum obat ya sayang, jangan telat makan, ingat walau semenyenangkan apapun aktifitasnya," nyonya Mona tersenyum melihat wajah bingung Aliya.
Chandra yang sudah berada di samping Aliya, terus mencuri pandang ke arah Aliya. Entah kenapa matanya selalu tak terkendali, memandang ke arah benda lembut yang baru saja beberapa saat yang lalu ia cicipi.
Mata mereka kembali bertemu, ketika Aliya membantu nyonya Mona untuk mempersiapkan makan siangnya sendiri, Chandra segera berpaling ke sembarang arah menghindari pertemuan mata mereka.
Chandra menghela nafasnya segera berjalan hendak keluar ruangan sebentar, mendinginkan hasratnya maupun rasa canggungnya.
"Kek, pah, izin keluar sebentar soalnya mau nelfon asisten Chandra sebentar.
Chandra segera keluar dan berjalan menuju taman, Chandra memegangi dadanya di sepanjang jalan. Ah, jantungnya masih saja tidak mau di ajak kompromi, bahkan hanya membayangkan adegan ber*ciu*man mereka saja, membuat jantung Chandra berdegup kencang.
"Agh... jantung kondisi kan tolong," Chandra bergumam, sembari menghempaskan bokongnya di kursi taman.
__ADS_1