CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Aku penasaran


__ADS_3

"Gue mau ngomong sama lo, tapi cuman berdua," Chandra segera memutar tubuhnya menghadap ke arah Aliya.


"Banyak nyamuk Curut, lo gila ya," Aliya protes memandang Chandra dengan wajah kesal.


"Al gue mohon lo belajar untuk cinta sama gue, gue sayang sama lo, karna itu gue mohon untuk belajar cinta sama gue," Chandra tak menghiraukan protestan Aliya, namun tetap ingin membahas apa yang ingin di bahasnya.


"Maksud lo?" Aliya masih tak habis pikir, kenapa cuma dia yang di minta untuk belajar mencintai, kenapa Chandra tak ingin belajar juga?


"Cil gue cinta, gue sayang sama lo, puas? Lo fikir buat apa gue bete abis kalau lo dekat dengan cowok, lo fikir buat apa gue jagain lo di rumah sakit, walaupun gue capek habis dari kantor, lo fikir buat apa kemarin gue cium lo? Gue sayang sama lo," Chandra akhirnya mengungkapkan perasaannya, dan mengeluarkan semua uneg unegnya.


"Tapi lo suka banget ngajak gue berantem, ga mau ngalah sama gue," Aliya masih tak paham maksud dari Chandra, Aliya ingin yang lebih jelas lagi.


"Gue suka setiap ekspresi lo, mau lo kesal, ketawa apapun itu, asal jangan diam_in gue, gue mohon belajar untuk cinta sama gue," Chandra kini memelaskan wajah nya, dan memandang manik mata Aliya.


Mereka saling berpandangan, entah dorongan apa yang akhirnya membuat Chandra memberanikan dirinya untuk segera mendekatkan wajah mereka, Chandra segera mendaratkan bibir nya dengan pelan ke bibir lembut Aliya. Chandra sedikit mendiamkannya, menunggu respon Aliya, tampaknya Aliya tak keberatan, buktinya saat ini Aliya segera menutup matanya.


Chandra mulai me*lu*mat lembut bibir Aliya. menyesap kembali manisnya bibir Aliya, Chandra bahkan menggigit kecil bibirnya Aliya, sembari menarik tengkuk Aliya. Chandra menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Aliya, hingga Aliya melenguh karena nikmat, Chandra menjadi semakin agresif, tangan Aliya Chandra tarik untuk meletakkannya di pinggang Chandra. Aliya hanya mengikutinya, dan meremas kaus Chandra saat merasakan kembali sensasi yang berbeda. Nafas mereka kini hampir habis, Chandra segera melepaskan pa*ngu*tan mereka. Chandra segera menyatukan kening mereka, dengan nafas yang terengah engah. Chandra memandang Aliya yang saat ini masih memejamkan matanya, Chandra tersenyum kembali mengecup bibir Aliya.


Aliya membuka matanya ketika kecupan dari Chandra untuk kesekian kalinya. "Curut banyak nyamuk."


Chandra terkekeh kemudian memutar kembali tubuhnya untuk kembali menghadap ke arah depan.


"Yaudah balik yuk," Chandra segera menarik kembali tangan Aliya agar melingkar di pinggangnya. Saat Aliya merebahkan kepalanya di pundak Chandra. Chandra sedikit mengusap lembut kepala Aliya. "Ayo jalan."


Mereka kini telah sampai di depan rumah Aliya, Chandra juga ikut turun dari motor Aliya. Chandra menarik Aliya ke dalam pelukannya, dan mengecup lembut kepala Aliya.


"Makasih ya buat malam ini, lo ingatkan lo harus belajar cinta sama gue," Chandra melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Aliya.

__ADS_1


"Iya iya," Aliya pasrah saja dengan apa yang diperbuat oleh Chandra.


"Ok deal ya, gue pegang janji Lo," Chandra segera mengecup bibir Aliya berkali kali.


"Udah ah gue mau masuk," Aliya mengeluh kepada Chandra yang terus mengecup bibirnya.


"Hm," Chandra justru saat ini sedikit me*lu*mat bibir Aliya.


"Dasar bucin lo," Aliya mengatakan hal tersebut setelah pa*ngu*tan bibir mereka terlepas.


"Ya udah lo masuk ya," Chandra segera meminta Aliya untuk masuk terlebih dahulu.


"Night kutil kancil ku," Chandra segera memasang helm dan meninggalkan rumah tersebut setelah Aliya masuk ke dalam.


......................


Hari ini Chandra kembali harus meliburkan diri karena Chandra harus pergi untuk mencoba baju pengantin mereka, di butik langganan nyonya Mona. Chandra segera menjemput Aliya dengan mobilnya, di supiri oleh pak Ujang, supir setia dari Chandra dan Aliya.


"Kek jawab, malas Al nunggu orang yang ga on time," Aliya segera memeluk perut kakek Rio.


Chandra segera duduk di samping Aliya mencoba untuk membujuk gadis itu. "Ayolah cuman telat setengah jam, tadi dijalan macet banget, ada kecelakaan, coba tanya pak Ujang."


"Ayo sayang ga apa apa orang Chandra nya udah di sini," kakek Rio membujuk Aliya yabg sejak tadi sudah mengomel.


"Ya udah dada kakek," Aliya segera mengecup pipi kakek Rio dan beranjak ke arah mobil.


"Berangkat dulu kek," Chandra segera menyalami tangan kakek Rio.

__ADS_1


"Hati hati."


......................


Brayen saat ini tengah termenung di kantornya melihat kartu nama Juwita, seseorang yang membuat mantan pacarnya itu berubah. Brayen menghela nafas panjang dan memandang secara seksama. Brayen sedikit penasaran bagaiman dokter itu dapat merubah Chandra secara drastis? Apa dokter itu semacam melakukan terapi atau apalah itu namanya? Brayen segera mengambil telfon di atas mejanya, dan menelfon seseorang.


"Kosongkan jadwalku hari ini," Brayen segera menutup telfonnya tampa menunggu jawaban dari sebrang sana. Brayen sudah tahu orang yang di sebrang sana pasti akan mematuhi keinginannya, karena di jaman sekarang ini pasti sangat sulit untuk menemukan pekerjaan.


Brayen kembali menghela nafasnya, memutuskan untuk mondar mandir di dalam ruangannya. Cukup lama Brayen berfikir, akhirnya Brayen memutuskan sesuatu, Brayen menyambar jasnya, dan kembali menelfon seseorang. Sedikit lama telfon itu berdering barulah di angkat oleh si penerima telfon.


"Halo apa benar ini dengan dokter Juwita?" Brayen segera berbicara setelah telfonnya di pastikan di angkat.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" Juwita terdengar menjawabnya dengan santai namun sedikit tegas.


"Ah bisa saya membuat janji dengan anda?" Brayen sedikit harap harap cemas di buatnya.


"Kapan kira kira?" Juwita kembali bertanya di ujung sana, tak ada nada basa basi di ujung sana, tampak nya dokter tersebut tengah sibuk.


"Siang ini bisa?" Brayen sedikit mengusap tengkuk lehernya.


"Baiklah atas dasar permasalah apa?" Brayen sedikit risih saat hendak menjawab pertanyaan ini, rasanya pertanyaan ini masih terlalu frontal untuknya.


"Hm, saya ingin berobat," dengan sudah payah Brayen menjawabnya, sejujurnya ada sedikit rasa malu saat mengatakan hal tersebut.


"Baik lah, langsung saja saya kirimkan alamat saya nanti, anda bisa langsung ke rumah saya," Juwita sepertinya tahu sesuatu dari nada bicara Brayen, sehingga menawarkan untuk bertemu saja di rumahnya. Hal tersebut membuat Brayen bernafas lega, karena ia tak perlu pusing pusing dalam hal sesi berbicara dan curhat kepada Juwita.


"Baiklah terimakasih, maaf mengganggu waktu anda," Brayen sedikit tersenyum ketika mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


"Baiklah sampai jumpa," Juwita segera menutup panggilan telfonnya di ujung sana, membuat Brayen menghembuskan nafas kasarnya.


"Terdengar tegas dan cuek juga tu dokter, to the point," gumam Brayen sedikit memijat kepalanya. "Aku penasaran bagaiman penjelasan dokter itu tentang diriku."


__ADS_2