CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Kemarahan tuan Omer


__ADS_3

"Lo harusnya lo sadar gue ga bakal pernah suka sama lo, secuilpun ga akan pernah suka sama lo," Chandra kali ini kembali meracau namun ketika mereka berdua berada di dalam mobil. Aliya segera menghidupkan mesin mobilnya.


Chandra di kursi penumpang bagian belakang terus saja mencacinya dan memakinya, Chandra bahkan sekali kali menjambak rambut Aliya, membuat Aliya meringis kesakitan.


"Aliya sabar dia lagi mabuk, kalau mau lo tabok besok pagi aja," Aliya tampaknya benar benar mencoba untuk bersabar.


"Eh gue ga akan pernah mau sama lo, gara gara lo gue putus sama pacar gue," Chandra kembali mengungkit masalalu nya, Aliya tak marah karena itu memang karena dirinya.


"Iya itu misi gue," dengan santainya Aliya mengakui hal tersebut. Aliya berfikir bahwa Chandra tak akan mengingat hal tersebut saat sadar nanti.


Aliya sungguh tak menghiraukan setiap ocehan yang Chandra keluarkan dari mulut mabuknya itu, meskipun itu sedikit memancing Aliya untuk melempar Chandra ke tengah jalan.


"Pak buka pintu tolong, ini Chandra mabuk," Aliya meminta satpam rumah tersebut untuk memintanya membuka pagar.


"Lo itu ngeselin, orang yang paling ngeselin di dunia," Chandra berteriak memekakkan telinga Aliya.


"Iya masuk dulu," Aliya segera membuka pintu penumpang, dan memapah Chandra.


Sementara tuan Omer dan nyonya Mona terkejut saat melihat Chandra tengah mabuk di papah oleh Aliya, masuk ke dalam rumah besar tersebut.


"Mah pah, Chandra ga mau sama dia, Chandra ga mau di jodohin sama dia, dia itu pembawa masalah," Chandra dengan berjalan oleng di menunjuk nunjuk wajah Aliya.


"Perbaiki dulu cara jalan lo," Aliya hampir terkikik ketika melihat cara jalan Chandra.


"Maaf ya Liya," nyonya Mona sedikit tidak enak kepada Aliya.


"Iya tan," Aliya tampak memakluminya.


"Mah jangan kasihani dia, dia itu emang suka perhatian, mentang mentang ga pernah ngerasain kasih sayang kedua orang tua," Chandra kembali lagi meracau tak jelas memaki maki Aliya.

__ADS_1


Tampak Aliya sedikit pias ketika mendengar hal itu, menang benar selama ini Aliya kekurangan kasih sayang kedua orang tuanya, yang meninggal saat dirinya berusia tiga belas tahun, namun mendengar Chandra mengatakan hal tersebut membuat Aliya sedikit bersedih. Ternyata selama ini begitulah Chandra memandangnya.


"Chandra jaga bicara kamu," tuan Omer mulai geram dengan kata kata Chandra.


"Mah dia cuman mau harta mah, kasih aja dia sebanyak yang dia butuhkan, habis itu jangan biarkan dia mendekat," Chandra kembali meracau tak jelas.


Sontak membuat Aliya tersenyum kecut, Aliya yang biasanya tak pernah marah jika singgung dalam hal apapun, namun jika itu menyangkut orang tua, maka Aliya akan sedikit kehilangan kendali, dan lebih sensitif.


"Orang tua dan anak sama saja, lihat saja betapa inginnya dia menjadi anggota keluarga ini, itu karena dia mau hidup enak, ga perlu mikir apa apa lagi," lagi lagi Chandra mengatakan hal yang membuat Aliya sakit hati.


"Chandra cukup, gue ga pernah marah kalau lo menghina, ataupun ngata ngatain gue, tapi jangan kelewat batas dengan ngatain orang tua gue, untung aja lo mabuk kalau ga gue habisin lo," Aliya segera keluar tampa pamit dengan kedua tuan Omer dan nyonya Mona.


Tuan Omer dan nyonya Mona jujur saja merasa tidak enak dengan Aliya. Meskipun mereka baru bertemu Aliya, namun kedua orang tua Aliya dan mereka telah bersahabat sejak lama, perjodohan antara keduanya telah lama di atur, namun baru menyampaikannya sekarang, terlebih lagi untuk menyembuhkan Chandra.


Tuan Omer menghela nafas melihat racauan anaknya yang sudah kelewat batas ketika mabuk, sepertinya ada seseorang yang mempengaruhi nya, malam ini Chandra tak seperti Chandra.


Setelah membawa Chandra ke ke kamar untuk beristirahat, tuan Omer dan nyonya Mona segera meninggalkan Chandra di dalam kamarnya.


Pagi harinya Chandra memegang kepalanya merasa sedikit sakit, Chandra berusaha mengingat ingat kejadian semalam, ah sepertinya ia terlalu banyak minum, lalu siapa yang membawanya pulang.


Chandra segera beranjak menuju kamar mandi, ia terlihat begitu kacau. Di hidupkannya keran mandinya mengguyur kepalanya yang masih sedikit berdenyut, memorinya berputar mengingat kejadian semalam ketika bertemu dengan Brayen, kemudian berlanjut ketika Aliya mengantarkannya pulang, bahkan Chandra mengingat dengan samar sedikit kalimat Aliya sebelum gadis itu meninggalkannya.


Chandra mengrutuki kebodohannya ketika minum banyak semalam, Chandra segera menyudahi mandinya, berharap gadis itu ada di bawah untuk ditemuinya, Chandra akan meminta maaf, dan menjelaskan kejadian semalam.


Saat tengah hendak mengambil pakaian kerjanya, Chandra teringat hari ini adalah hari minggu, membuatnya segera menepuk jidat. Chandra segera turun, meskipun tahu gadis itu tak akan datang, karena pasti gadis itu akan pergi latihan.


Nampak tuan Omer tengah menikmati suguhan roti isi dan teh hangat miliknya, ah itu adalah sarapan favorit Aliya ketika menunggu Chandra untuk bersiap siap.


Chandra segera duduk di hadapan tuan Omer, tuan Omer segera menghentikan makannya. Tuan Omer memandang Chandra dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


"Dangan siapa kau semalam bertemu?" Chandra tergaguk ketika mendengarkan pertanyaan dari tuan Omer.


"Dengan klien pah," Chandra berusaha setenang mungkin.


"Setelahnya," tuan Omer yang tahu watak Chandra segera menanyakannya.


"Dengan Brayen pah," Chandra sedikit tertunduk. Sepertinya acara sarapan pagi ini sedikit menegangkan.


"Sudah berapa kali papa bilang, jangan berhubungan dengan dia, apa saja yang dia katakan semalam," tuan Omer menuntut Chandra untuk segera jujur.


"Tentang Aliya," gugup Chandra takut salah berbicara.


"Dengar apapun yang di katakan anak itu jangan pernah mempecayainya, papa dan mama adalah sahabat dari almarhum orang tuan Aliya," tuan Omer sedikit membuang nafasnya kasar, mencoba menetralkan emosinya. Bahkan untuk menyebut nama Brayen saja tuan Omer sangat jijik.


"Kau tahu semalam kau tak hanya menghina gadis malang itu, tetapi juga orang tuanya, sahabat mama dan papa, yang meninggal karena mencoba menyelamatkan seorang anak, yang bahkan semalam dengan tak tahu dirinya menghina orang yang menyelamatkannya."


Nyonya Mona mencoba menenangkan suaminya, agar lebih tenang lagi. Nyonya Mona bukan bermaksud membela Chandra, namun mencoba mengontrol tekanan jantung suaminya.


Chandra hanya menundukkan kepalanya, entah apa yang di pikirkan nya, namun sudah bisa di pastikan perasaan bersalah Chandra terus menghantuinya, kini ingatan tentang dirinya yang mencaci maki Aliya benar benar jelas terputar di dalam ingatannya yang samar. Sungguh dirinya akan melakukan apapun agar gadis itu memaafkannya.


"Chandra permisi dulu mah pah, maaf mengecewakan kalian," Chandra segera beranjak menuju kamarnya dengan perasaan yang tak menentu. Nyonya Mona segera menyusul anaknya, mencoba menenangkan anak tersebut.


"Chandra sarapan dulu sayang," nyonya Mona segera membuka kamar anaknya yang tak terkunci. Nyonya Mona segera mendekat ke arah Chandra setelah meletakkan sarapan Chandra di atas meja.


"Mah Al mau ga ya maafin Chandra, Chandra benar benar menyesal ma," Chandra memeluk tubuh nyonya Mona, dengan perasaan yang tak menentu, kini ia akan kehilangan orang yang dekat dengannya, karena kesalahannya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hi hi semua ohtor cantek tengah mengadakan give away untuk para pembaca setia nih, ya give away kecil kecilan, berbagi rejeki hehehehe.

__ADS_1


Di sini ada dua kategori, pertama aktif komentar dan like, yang kedua aktif dalam memberi dukungan.


Nah jadi syaratnya itu, aktif memberikan komentar komentar di setiap updetannya, dan aktif dalam memberikan dukungan, dalam novel CEO belok vs colonel cantik. Setelah itu untuk hadiahnya ga besar kok, cuman pulsa 20K untuk dua orang pemenang, akhir lombanya tanggal 1 bulan depan. Semoga kalian senang ya ikutan lomba ini.


__ADS_2