
Chandra duduk termenung meratapi nasib pernikahan yang sudah di depan mata, rasanya separuh jiwanya telah hilang, bersamaan dengan tidak direstuinya dirinya dengan Aliya. Chandra terus terduduk di balkon kamarnya, sejak semalam ia tak dapat tidur, bahkan merasa tak nyaman di kamarnya sendiri. Terkadang Chandra menangis menyesali segalanya, namun nasi telah menjadi bubur, dirinya tak mungkin bisa termaafkan. Chandra terus memandangi pagar tingginya yang menjadi saksi bisu akan penolakan kakek Chandra semalam.
"Chandra ayo makan dulu sayang," nyonya Mona tiba tiba bersuara.
Ah, tampaknya Chandra sudah terlanjur galau, hingga tak mendengarkan nyonya Mona memasuki kamarnya. Chandra segera mengalihkan pandangannya kearah nyonya Mona.
"Ga ma Chandra masih kenyang," ucap Chandra dengan enggan. Nyonya Mona menghela nafasnya, sebegitu pentingkah Aliya di dalam hidupnya? Sehingga Chandra seperti tak berselera seperti ini. Di satu sisi nyonya Mona merasa senang, di sisi lain nyonya Mona merasa kasihan dengan Chandra.
"Tapi kamu belum makan nak," nyonya Mona mencoba membujuk Chandra.
"Mah hari ini ke tempat kakek ya," Chandra kembali memandang wajah nyonya Mona dengan sendu.
"Tapi kamu makan dulu," bujuk nyonya Mona, berharap anaknya segera makan, bahkan sarapannya saja terlewatkan. "Sejak kapan kamu di sini?"
"Semalam ma," Chandra menyandarkan kepalanya memandang langit, lagi lagi terngiang di kepalanya tentang Aliya yang menangis di pelukannya, dan penolakan keras dari kakek Rio, Chandra hanya mampu memejamkan matanya menghilangkan segala bayangan buruk tersebut.
"Apa? Kamu tidak tidur sejak semalam?" Chandra hanya mengangguk mengiyakan saja, "Ya sudah ayo makan dulu."
"Ga selera ma," tolak Chandra karena memang tak berselera.
"Chandra Al bakalan sedih kalau kamu ga makan," nyonya Mona kembali membujuk Chandra dengan menggunakan nama Aliya, agar anaknya itu makan meskipun sedikit.
"Chanda kangen Al mah," Chandra kini kembali memandang wajah mamanya dengan sendu, matanya kembali berkaca kaca, namun sekuat tenaga ia tahan.
"Iya kita ke sana nanti sore," nyonya Mona kembali membujuk Chandra, agar Chandra mau memasukkan sedikit saja makan ke dalam mulutnya.
"Janji ma," Chandra masih meminta kejelasan dengan nyonya Mona.
"Tapi kamu makan dulu," bujuk nyonya Mona.
"Iya mah sini," Chandra akhirnya setuju untuk makan. Nyonya Mona tersenyum senang, di berikan nya segera nampan berisi makanan ke depan Chandra.
__ADS_1
"Makan yang banyak nak," nyonya Mona mengusap lembut kepala anaknya.
"Mah kakek nantinya bakalan nolak Chandra lagi ga ya?" Chandra sedikit berfikir di sela sela makannya.
"Mama ga tau sayang, lebih baik kita jangan berfikir yang macam macam," nyonya Mona mencoba memberi anaknya semangat.
"Baik ma nanti, nanti Mama doakan ya supaya Chandra di restui," Chandra akhirnya sedikit semangat ketika mengatakan hal tersebut.
"Aamiin," tiba tiba dari arah belakang tuan Omer tersenyum segera bergabung di balkon kamar Chandra. Kedua anak dan ibu tersebut tak menyadari kalau tuan Omer sudah di belakang, mungkin terlaku asyik dalam percakapan mereka.
"Papa," Chandra segera memandang ke arah tuan Omer, sembari meminum minumannya.
"Iya, kok terkejut gitu?" Tuan Omer justru tersenyum ke arah Chandra.
"Papa udah balik?" Chandra balik bertanya bingung dengan kehadiran papa nya.
"Mana mungkin papa di kantor terus, padahal CEO papa lagi galau abis abisan," goda tuan Omer, mencoba menghibur Chandra. Chandra hanya tersenyum terhibur.
"Pah gimana?" Chandra mencoba meminta pendapat kepada tuan Omer.
"Nanti sore, kita bicara baik baik sama kakek, semoga kakek bisa menerimanya dengan baik juga, minimal itu. Setelah kakek menerima kamu dengan baik, baru kita meminta Aliya pelan pelan," tuan Omer tersenyum memandang ke arah Chandra, kakek Rio mencoba mengusap lembut kepala anak tunggalnya itu, agar merasa lebih baik.
"Masih jauh ya pah perjuangan Chandra?" Chandra kembali sendu ketika mengingat bagaiman semalam ia harus memohon restu dari kakek Rio, namun di tolak mentah mentah.
"Kamu yang sabar ya, papa akan ada terus untuk kamu, kita akan berjuang bersama," tuan Omer mencoba menghibur putranya, memberinya kekuatan positif, agar mampu berfikir positif.
"Makasih mah, pah," Chandra tersenyum ke arah orangtuanya.
"Ya sudah kamu istirahat dulu, biar pulih tenaga kamu, habis itu sorenya kita berangkat, kamu kan belum tidur," nyonya Mona dan tuan Omer segera keluar setelah mengatakan hal tersebut, sementara Chandra segera masuk ke dalam kamarnya, dan bersiap untuk tidur siang.
"Al tunggu gue ya, nanti gue bakalan datang jemput lo," gumam Chandra ketika hendak menutup matanya.
__ADS_1
......................
Sesuai janji kedua orang tua Chandra akan menemani Chandra ke tempat kakek Rio, Chandra cukup cemas dengan segala kemungkinan, Chandra sudah memikirkan banyak kemungkinan.
"Selamat sore kami datang ingin menemui kakek Rio," tuan Omer segera membuka kaca jendelanya. Satpam yang sudah sangat mengenal tuan Omer segera mempersilahkan nya saja.
"Tuan Omer? Silahkan," satpam tersebut segera membuka pagar.
"Ah iya makasih pak," kata tuan Omer dengan ramah, tuan Omer segera melajukan kembali mobilnya, menuju ke halaman rumah kakek Rio.
Tampak ada beberapa mobil mewah yang tak iya kenali, namun ada sesuatu yang menjjanggal, bahkan Chandra melihat mobil yang sangat ia kenali. Ya, mobil itu adalah mobil Brayen, untuk apa dia datang ke sini? Apa jangan jangan kakek Rio nekat menjodohkan Aliya dengan Brayen? Oh tidak, bagaimana mungkin mantannya kini menjadi saingannya.
"Pah ayo tekan bell nya," nyonya Mona segera mendesak tuan Omer yang tampak mematung di depan bell.
"Siap belum ya," tuan Omer tampak ragu melakukan hal tersebut. Chandra hanya tersenyum kecut melihat hal tersebut, bahkan papanya saja bisa sebimbang itu, padahal sebelumnya papanya adalah orang yang sangat percaya diri.
"Harus siap pa," nyonya Mona meyakinkan suaminya untuk segera menekan bell rumah besar bak istana tersebut.
Tuan Omer segera menekan bell tersebut, hingga suara seorang wanita menggema dari dalam "Iya sebentar."
Tiba tiba pintu terbuka menampakkan dengan hiasan hiasan yang cantik di sekitar sudut ruangan. Bahkan ada beberapa kado di sana. Chandra semakin shok takut jika kakek Rio nekat memisahkan mereka dengan melangsungkan pertunangan Aliya dengan laki laki lain. Hal itu di perkuat dengan suara berisik dari arah belakang, Chandra semakin ketakutan.
"Mah kakek ga bakal jodohin Al kan, dengan cowok yang lain?" Chandra nampaknya sangat khawatir dengan hal tersebut.
"Kamu ngomong apaan jangan ngaco," nyonya Mona berusaha menenangkan anaknya, supaya jangan berfikiran macam macam.
"Mah Chandra takut, kalau Al," Chandra kembali pesimis dengan dirinya sendiri, takut jikalau Aliya benar benar di jodohkan oleh kakek Rio.
"Jangan terlalu banyak mikir Al, ayo masuk saja," desak nyonya Mona, membuat Chandra kembali berjalan, namun baru beberap langkah saja Chandra kembali berhenti.
"Tapi mah Chandra belum siap?" Chandra benar pesimis, belum siap menghadapi kenyataan, apalagi melihat wajah Aliya yang berdampingan dengan laki laki lain, terlebih jika itu Brayen, yang bahkan baru saja berobat, maka Aliya akan semakin mengalami hidup yang sulit.
__ADS_1
"Sekarang atau tidak selamanya," nyonya Mona segera menarik Chandra masuk.