CEO Belok Vs Colonel Cantik

CEO Belok Vs Colonel Cantik
Aliya si pelakor


__ADS_3

"Ya lo nya kan ga punya pacar," Chandra kembali lagi melawan Aliya.


"Iya tapi gebetan gue kan banyak, lebih berharga dari pacar belok lo," cela Aliya.


"Apa lo bilang," Chandra benar benar tak terima, meskipun mereka telah menjadi mantan namun Chandra tetap tak terima mantannya yang belum genap sehari itu di hina.


"Pacar belok," ulang Aliya dengan nada mengejek.


Kini mereka saling memandang penuh permusuhan, Chandra bahkan mulai melakukan penyerangan kepada Aliya.


Wajar saja Chandra suka bertengkar dengan Aliya, karena Aliya sendiri memiliki kekuatan fisik lebih dari pada laki biasanya. Bahkan biasanya Aliya ketika bertengkar dengannya tak pernah menggunakan sesuatu yang membahayakan.


Chandra bahkan merasa memiliki teman yang memahaminya, ketika bersama dengan Aliya. Meskipun terkadang wanita itu suka sekali memaksakan kehendaknya.


"Sini lo gue bales lo, gue tekel lo," Chandra mengejar Aliya yang saat ini tengah berputar putar mengintai sofa.


"Cih curut belok, kejar gue kalau lu bisa," Aliya malah menantang Chandra.


"Awas lo ya kalau dapat gue kurung lo," Chandra tampak sangat kesal.


Aliya kini berpindah mengintai meja kerja Chandra, membuat Chandra tersenyum, Chandra segera menekan tombol di atas meja, membuat salah satu rak berputar, sehingga kepala Aliya terbentur oleh rak tersebut.


"Nah kena kan lo," Chandra segera menangkap Aliya dari belakang, Chandra segera mengurung Aliya ke dalam pelukannya agar tidak bisa melawan.


"Gila lo curang banget," Aliya hanya pasrah ketika di seret oleh Chandra.


Chandra segera mengangkat Aliya dan membawanya ke sofa, membuat Aliya bersungut kesal.


"Nah sekarang lo di sini, baik baik ya," kata Chandra tersenyum senang.


Chandra kemudian membaringkan kepalanya di pangkuan Aliya sontak membuat Aliya terkejut. Aliya berusaha menjauhkan badan Chandra namun percuma saja Chandra telah memeluk pinggangnya.


"Enak aja lo, pijit kepala gue dulu baru boleh out," Chandra tersenyum penuh kemenangan.


"Iya iya ini gue pijit kepala lo, tapi jangan peluk peluk juga dong, lo pikir pijit plus plus?" Aliya benar benar kesal di buatnya.


"Iya makanya cepat," Chandra sedikit melonggarkan pelukannya.


"Iya iya sabar," kesal Aliya mulai memijit kepala Chandra. Aliya sangat berharap cepat di bebaskan, membuatnya fokus memijit kepala Chandra.


"Sampai gue tidur ya," Chandra tersenyum ketika mengatakannya.


"Ih curang lo ya, enak aja lo kira gue tukang pijit," kesal Aliya namun tetap melakukan aktivitas nya.

__ADS_1


"Jangan cerewet, anggap aja sebagai perminta maaf_an lo karna udah buat gue putus," kata Chandra bersidekap.


"Eh harusnya lo yang berterimakasih, gue lurusin lagi," kata Aliya tak terima.


"Idih kalau kata anak jaman sekarang lo itu pe_la_kor," Chandra dengan senang hati mengatakan hal itu.


"Idih enak aja lo," kesal Aliya tak terima, kini tangannya sudah berhenti memijit kepala Chandra.


"Emang iya, Aliya pe_la_kor," Chandra semakin mengejeknya.


"Enak aja lo ya, seandainya lo ga mau, ga juga kali," Aliya tak terima justru menjambak rambut Chandra.


"Idih marah berarti iya lo," kesal Chandra tak terima di Jambak Aliya.


"Lagian gue ga pernah goda godain lo, kalau lo tergoda sendiri itu beda namanya," Aliya kini berkacak pinggang menantang Chandra.


"Idih lo ya, emang ga sadar lo godain gue, tidur di kamar gue buat buat status," tuntut Chandra.


"Idih itu juga karna lo curut, coba aja lo ga buat status juga di sosmed gue, mungkin ga akan gue buat itu," Aliya semakin geram saja.


"Eleh mana ada gitu ya, lagian ya sampai lo terkepor pun mau godain gue, gue ga akan tergoda sama lo," Chandra berkata dengan percaya dirinya.


"Ya iyalah lo belok," ledek Aliya.


"Tau dari mana lo? Awas kemakan omongan sendiri," Aliya meledek Chandra.


"Ga usah sok sok perhatian gitu, entar lo cinta sama gue," Chandra balik meledek.


"Eh lo jangan ke pd_an ya, kalau pun lo ngejar ngejar gue, lo harus ngantri dengan cowok cowok yang ganteng, gagah di luar sana," Aliya kini menunjukkan kesombongannya.


"Idih sombong, lo cewek bokingan pakai ngantri ngantri segala," Chandra meledek Aliya.


"Apa lo bilang gue cewek bokingan? Lo pikir gue murahan," Aliya naik pitam mendengar kata bokingan dari mulut lemes Chandra.


"Lah kalau bukan apa namanya," Chandra malah menantang.


"Eh gue itu cewek baik baik ya curut, kesucian bibir gue aja di ambil lu," kesal Aliya membuat Chandra terbengong.


"Apa jadi itu firs kiss lo?" Chandra benar benar tak percaya.


"Lah secara gue itu cewek sibuk, sibuk militer, sibuk kerja, sibuk nyeleksi para lelaki macho yang ngantri buat gue," Aliya berkata sinis ke arah Chandra.


"Ga kayak lo, renggang banget waktunya buat pacaran, tapi kurang stok, jadi cowok pun di embat."

__ADS_1


"Maksud lo apa," kali ini Chandra yang naik pitam.


"Lah emang bener kan yang gue bilang," Aliya tersenyum kemenangan.


"Lo emang harusnya di sumpal ya," Chandra semakin kesal saja di buatnya.


"Lo," Aliya malah kembali menjambak rambut Chandra.


Cklek.


Pintu terbuka membuat kedua kucing dan tikus ini terdiam.


"Makan dulu nih, siapin tenaga buat berantem lagi," kata nyonya Mona menyerahkan dua piring untuk di makan, kemudian kembali menutup pintu ruang tersebut.


Aliya hendak mengejar nyonya Mona, namun terhenti dengan makanan yang tergeletak di lantai.


Aliya akhirnya segera membawa makanan tersebut di sofa.


Mereka berdua akhirnya makan dengan sesekali saling melirik dengan pandangan sinis.


Saat tengah makan tuan Omer kembali membuka pintu dengan satu selimut tebal, dan menurunkan ac dengan remote kemudian mengantungi remote ac tersebut.


"Pah papa ngapain sih?" Chandra bingung dengan tujuan tuan Omer.


"Biar kalian damai," tuan Omer segera kembali menutup pintu dan menguncinya dari luar.


"Pah buka pintu," Chandra berteriak segera berlari ke arah pintu.


"Om buka om," Aliya menggedor gedor pintu tersebut.


"Pah jangan di kunciin, Chandra mau pipis," Chandra mulai mencari alasan.


"Di ruang kerja kamu ada toilet Chandra," tuan Omer terkekeh mendengarkan penuturan putranya.


"Om Aliya mau balik nanti di cariin kakek," Aliya pun mulai mencari alasan.


"Kakek kamu juga sudah ngizinin kamu nginap di sini," tuan Omer kembali tersenyum mendengarkan penuturan si kucing.


"Om Aliya ga mau satu ruangan sama si curut, nanti ruangan kerjanya rusak om," Aliya kembali berusaha bernegosiasi dengan tuan Omer, namun tampaknya tak ada jawaban dari luar.


Setelah sekian lama menggedor pintu, akhirnya mereka seger memilih duduk di sofa. Mereka kemudian saling melirik dengan pandangan kesal.


"Ini semua gara gara lo," kesal Aliya menyalahkan Chandra.

__ADS_1


"Enak aja lo, coba aja lo ga datang," Chandra tak terima.


__ADS_2