
Aliya saat ini tengah berkelahi melawan orang yang menyerang mereka, saat tengah berkelahi, Aliya melihat orang itu tengah mengayunkan tongkat baseball ke arah belakang kepala Chandra. Benar dugaan Aliya bahwa orang itu tengah mengincar Chandra. Aliya segera mendorong beberapa orang yang mencoba memegangnya, bahkan tampaknya orang orang itu tak berniat sama sekali melawan Aliya. Terbukti dari sekian banyak serangan yang Aliya lontarkan, hanya di tanggapi mereka dengan tangkisan, tanpa berniat membalasnya.
Saat tongkat baseball itu sudah mulai mengayun mengincar batang leher Chandra, Aliya segera membebaskan diri dan melindungi batang leher Chandra dengan kepala bagian belakangnya, setidaknya ini tak akan separah yang akan Chandra rasakan ketika baseball tersebut mengenai batang lehernya. Aliya terhuyung ke depan, tepat setelah tongkat baseball itu mengenai kepala bagian belakangnya.
"Ah," hanya itu yang mampu Aliya katakan ketika kepala bagian depannya menghantam tubuh bagian belakang Chandra, Aliya dapat merasakan Chandra berbalik, tak lama kemudian kakinya lemas, tak mampu menahan bobot tubuhnya, hingga terjatuh ke bawah. Kepala Aiyla rasanya tak dapat di bayangkan, sesuatu yang hangat mengaliri lehernya, masih terasa jelas. Rasanya terhempas ke dalam dunia gelap, dan tak mampu melihat apa pun.
Aliya merasakan sesuatu menyambutnya dengan lembut, memegang kepalanya, dan berusaha menutup tempat yang terasa sakit itu. Tak lama kemudian seseorang memanggil manggil namanya. Ya, sepertinya Aliya mengenali suara itu, suara yang sangat familiar.
"Sayang bangun, kamu ngapain ha? Kamu ngapain berdiri di belakang aku?" Suara itu tampak begitu menyayat hati Aliya, pria itu adalah tunangannya, yang manggilnya dengan panggilan sayang. "Sayang bangun," sebuah benda kenyal dan hangat tepat berada di atas keningnya, dengan tetesan air hangat. Tak lama kemudian pelan pelan suara suara sekitar menjadi sangat gaduh, dan lama kelamaan suara itu menjadi samar, dan pada akhirnya senyap.
"Sayang bangun yuk," samar samar Aliya mendengar suara panggilan itu, suara itu terasa menarik dirinya. "Sayang jangan gini, nanti gue beliin deh apa yang lo mau," tampaknya sebuah penawaran yang sangat bagus, Aliya segera tertarik pelan pelan.
Suara itu semakin terdengar jelas di telinganya, membuat dirinya pelan pelan merasakan hangat di sekujur tubuhnya. Ya, suara itu semakin jelas, disertai dengan benda hangat nan lembut bertubi tubi mengenai tangannya.
Aliya membuka matanya dengan pelan, Aliya sedikit kesulitan membiasakan matanya dengan cahaya yang masuk ke retina matanya. Saat mata terbuka, hal yang pertama kali Aliya lihat adalah wajah Chandra, yang lebam dengan luka luka. Lelaki itu terus mengecup tangannya, dengan memanggil manggil dirinya dengan panggilan sayang. Pelan pelan Aliya menggerakkan tangannya yang masih kaku, untuk membuat Chandra sadar tentang kesadaran dirinya.
"Cha... nd... dra... a," suaranya serat, susah keluar dari mulutnya. Entah berapa lama dirinya tertidur hingga suaranya separah ini, dan badannya sekaku ini.
Chandra yang merasakan pergerakan tangan Aliya, segera memandang ke arah Aliya. Chandra begitu terkejut dan juga bahagia, sehingga berlonjak dan mengecup puncak kepala Aliya, hingga beberapa kali. Chandra tersadar segera menekan tombol darurat. Chandra mengusap lembut kepala Aliya, sembari menunggu dokter. Tak berselang alam akhirnya dokter masuk ke ruangan mereka, kakek Rio tampaknya masih tertidur di bangker lain, membuatnya tak tega membangunkan kakek Rio.
Ya, Chandra memang sengaja meminta perawat mengantarkan satu bangker lagi di ruangannya, agar kakek Rio tak begitu kesulitan ketika akan menginap di ruangan Aliya. Bahkan akan lebih merasa nyaman.
"Gimana dok?" Chandra tampak sangat penasaran, sehingga segera menanyakannya ketika dokter selesai memeriksa.
__ADS_1
"Semua normal, pasien hanya harus istirahat, rajin minum obat, dan jangan memikirkan banyak hal," jelas dokter tersenyum ke arah Chandra.
"Kepalanya ga apa apa kan dok? Ga lupa ingatan kan?" Chandra segera menanyakannya kepada dokter, tak ingin di kerjai oleh pasien pagi.
"Tenang, benturan segitu tidak akan membuat pasien lupa ingatan, ini bulan sinetron tuan," dokter tersebut mengulum senyum ketika mengatakan hal tersebut.
"Iya siapa tahu kan? Soalnya dia kemarin ngerjain saya pura pura lupa ingatan," adu Chandra membuat Aliya mengulum senyum.
"Tidak apa apa memangnya kemarin dia kenapa?" dokter itu ternyata penasaran.
"Dia kemarin kena tembak dok," jawab Chandra diam diam menggenggam tangan Aliya.
"Lah kok ga lupa ingatan?" dokter tersebut justru berpura pura seolah sangat panik.
"Kan cuman bertanya," dokter tersebut terkekeh. "Ya sudah saya pergi dulu," pamit dokter tersebut. "Mbak banyak banyak istirahat, jangan banyak pikiran."
Aliya hanya mengedipkan matanya tanda mengerti, rasanya masih sakit untuk menggerakkan kepalanya, belum lagi saat ini kepala Aliya masih di gipsum.
Chandra segera mendekati Aliya setelah dokter keluar, membuat Aliya tersenyum ke arah Chandra. Chandra mengecup puncak kepala Aliya lama, Chandra bersyukur jika Aliya kini tampak baik baik saja.
"Sayang lo ga apa apa kan? Ada yang sakit ga? Mau minum ga?" Chandra memberondong Aliya dengan berbagai pertanyaan.
"A... ii... r," Aliya sedikit terbata ketika mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
Chandra dengan cepat segera memberikan air minum kepada Aliya, menggunakan pipet. Karena tak dapat menggerakkan badannya, Aliya masih kaku.
"Butuh apa lagi? Lo lapar ga?" Chandra kembali menawarkan kepada Aliya, tampaknya Chandra benar benar bahagia.
Aliya hanya menggeleng, pertanda dirinya tak butuh apa apa lagi, Chandra segera merogoh ponselnya dan menelfon seseorang. "Halo mah, Al sudah bangun, dua sudah sadar, kata dokter dia baik baik aja."
Setelah mengatakan hal tersebut Chandra segera meraih tangan Aliya, kemudian mengecupnya beberapa kali. "Terimakasih sudah baik baik saja."
Aliya balas menggenggam tangan Chandra, sebagai respon karena saat ini Aliya masih tidak sanggup untuk terlalu banyak berkata banyak. Bahkan Aliya terkadang hanya mengedipkan matanya, karena badannya terlalu kaku.
"Sayang pelakunya sudah di tangkap dan itu sama dengan orang yang mengirimi kakek foto," Chandra segera memberi kabar bahagia itu kepada Aliya, sembari mengecup tangannya.
"Si... ya... pa?" Aliya tampak masih kesulitan mengeluarkan kata katanya.
"Ga penting, yang penting lo ga usah banyak pikiran, ga usah mikirin banyak hal, yang penting semuanya sudah selesai," jelas Chandra tak ingin memberi tahu kepada Aliya siapa pelakunya.
Chandra menatap dalam mata Aliya, yang kini menjadi penghuni hatinya, sepenuhnya telah di isi oleh gadis tersebut, Chandra segera mendaratkan bibirnya di atas bibir Aliya. Lama, sangat lama, hingga Chandra rasa tak ada perlawanan, dan Chandra berlanjut me*lu*mat nya. Chandra menutup matanya, sembari menikmati pa*ngu*tan mereka.
"Ehem, nikah dulu baru ok oj, jangan sekarang,"
Mendengar suara tersebut, membuat Chandra tersadar bahwa di dalam ruangan itu tak hanya mereka berdua, namun juga ada kakek yang tadi tertidur pulas. "Setelah Al sembuh kalian akan melangsungkan pernikahan."
......................
__ADS_1
Ayo siapa yang siap siap untuk kondangan online, siap siap baju ya bawa pasangan biar ga jomblo wkwkwk.