
"Apa apaan ini?" Kakek Rio berseru heboh ketika mengatakan hal tersebut, kakek Rio segera menghampiri Aliya yang tengah bermain ponsel di ruang keluarga. "Aliya ayo ikut kakek."
"Kemana kek?" Aliya bingung dengan tingkah kakek Rio, yang tiba tiba tampak sangat marah, kakek Rio bahkan kini menyeret tangan Aliya.
"Ke rumah keluarga Chandra," ketus kakek Rio tampa memandang ke arah Aliya.
"Lah kenapa kek?" Aliya sedikit khawatir dengan keadaan kakek Rio yang tampak sangat emosi.
"Ikut saja," kakek Rio benar benar emosi. Bahkan kakek Rio membanting pintu mobil ketika menutupnya.
Aliya hanya diam seribu bahasa, sepertinya kakek Rio telah mengetahui tentang Chandra, tapi pertanyaannya adalah dari siapa berita ini?
Setelah sampai di kediaman Kostak, kakek Rio segera keluar bersama Aliya, kakek Rio segera masuk dan meminta pelayan untuk memanggi pemilik rumah.
Tak lama kemudian nyonya Mona dan tuan Omer keluar dari kamar mereka. Nyonya Mona dan tuan Omer sedikit kaget melihat kedatangan kakek Rio yang tiba tiba. Jika di lihat dari Aliya, sepertinya kakek Rio sedang marah besar, karena Aliya saat ini tengah menunduk.
"Pah ada apa?" tuan Omer sedikit takut akan terjadi sesuatu.
"Suruh Chandra segera turun," tampaknya kakek Rio benar benar kesal.
Entah apa yang di perbuat Chandra sehingga membuat kakek Rio semarah ini.
"Bik tolong panggilkan Chandra," punya nyonya Mona. "Minum dulu pah."
"Tidak perlu," tegas kakek Rio semakin membuat tuan Omer dan nyonya Mona gelisah.
Tak lama kemudian Chandra turun dari lantai dua, Chandra tersenyum melihat kedatangan kakek Rio dan Aliya. Tampaknya Chandra tak tahu apa apa tentang atmosfir di ruangan itu.
"Kek," Chandra segera menyalimi kakek Rio.
Kakek Rio dengan enggan memberikan tangannya, membuat Chandra bingung, Chandra kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Aliya. Chandra baru menyadari, bahwa sedari tadi gadis itu menunduk, tak berani menegakkan kepalanya seperti biasanya.
"Cepat katakan apa yang kalian sembunyikan," kakek Rio tak berbasa basi lagi.
Mendengar apa yang di katakan kakek Rio, mereka benar benar takut kalau kakek Rio kini mengetahui tentang Chandra. Hal yang di takutkan mungkin akan datang. Chandra segera memandang Aliya, Chandra takut hubungan mereka tak akan di restui, setelah dirinya telah menyatakan cinta kepada Aliya, dan meminta Aliya untuk belajar membuka hatinya.
"Maksudnya pa?" Tuan Omer bertanya dengan cemas, tuan Omer masih berharap kakek Rio marah bukan karena hal yang di takutkan, melainkan hal yang lain.
__ADS_1
"Katakan saja," kakek Rio mulai tersulut emosi kembali, kakek Rio sangat kesal hal serahasia ini dan sepenting ini di sembunyikan dari dirinya. "Atau saya sendiri yang akan mengatakannya."
"Pah kami ga ngerti maksud papa," nyonya Mona berusaha untuk tenang, hatinya terus berdo'a agar kakek Rio tak mengetahui tentang penyakitnya anaknya.
"Chandra kamu seorang gay kan?"
Bagai tersambar petir nyonya Mona dan tuan Omer mendengar hal tersebut, ternyata di saat saat terakhir ini kakek Rio mengetahui segalanya. Chandra diam dan memandang Aliya dengan pandangan yang sulit di artikan, gadis itu terus menunduk Chandra yakin kakek Rio telah memarahinya terlebih dahulu, tiba tiba rasa iba menjalar di hatinya.
"Pah bukan begitu Chandra sudah sembuh," nyonya Mona berusaha menjelaskan kepada kakek Rio, takut takut kalau kakek Rio akan membatalkan pernikahan mereka.
"Mana? Apa buktinya?" Tantang kakek Rio. "Maksud kalian apa menyembunyikan hal ini selama ini?"
"Bukan begitu pa, kami hanya takut semua di batalkan," tuan Omer mencoba menjelaskan dengan cara baik baik.
"Kek Aliya..."
"Diam kamu Al," kakek Rio membentak Aliya dengan keras, membuat Aliya segera kembali menunduk. Ini pertama kalinya kakek Rio membentak Aliya, membuat air mata Aliya tak dapat tertahan begitu saja.
"Kakek ini bukan salah Al, ini salah Chandra, salah masa lalu Chandra kek," Chandra akhirnya membuka suara tak tahan melihat Aliya di bentak karena salahnya.
"Sekarang saya ingin tahu kapan Chandra sembuhnya?" Kakek Rio memandang ke arah nyonya Mona dan tuan Omer.
"Jadi saat di jodohkan kamu masih menjadi seorang gay?" Kakek Rio memandang Chandra tak percaya.
"Maaf kek," Chandra hanya bisa mengatakan hal tersebut, membuat nyonya Mona menangis.
"Pah maaf tapi..." tuan Omer berusaha membujuk kakek Rio.
"Diam kalian berdua, kalian benar benar membuat saya kecewa," bantah kakek Rio, kakek Rio bahkan kini tak ingin mendengar penjelasan dari orang orang di sekitar, kakek Rio terlanjur kecewa. "Ayo Al."
"Tapi kek," Aliya berusaha menghentikan kakek Rio, ingin semua di selesaikan baik baik.
"Al kamu mau bantah kakek?" Kakek Rio semakin emosi di buatnya.
"Bukan begitu kek," Aliya berusaha menjelaskan maksudnya.
"Al dengar apa kata kakek!" Kakek Rio memandang wajah Aliya secara seksama, tak ada wajah terkejut di sana, hanya ada wajah penyesalan. "Atau jangan jangan kamu sudah tahu sejak awal?"
__ADS_1
"Kek maaf Al benar benar minta maaf," Aliya menundukkan kepalanya takut melihat tatapan kakek Rio, yang pasti akan kecewa kepadanya.
"Al kamu," kakek Rio benar benar murka dan kecewa, di angkatnya tangannya hendak melayangkan tangan untuk menampar Aliya.
Chandra yang melihat hal tersebut terkejut, segera berdiri di samping Aliya, mencoba menghadang kakek Rio. Chandra segera memeluk Aliya, memberikan ketenangan kepada Aliya.
"Kek Chandra yang salah dengan masalalu Chandra, Chandra mohon jangan salahkan Al, jangan sakiti Al," Chandra memohon kepada kakek Rio, tak ingin kakek Rio menyesalinya nanti, terlebih tak ingin wanita yang ada di pelukannya semakin terluka.
"Maksud kamu apa?" Kakek Rio mencoba menantang Chandra.
"Chandra mohon jangan sakiti Al, Chandra bakalan lakuin apa pun untuk Al, asal jangan menyakitinya," Chandra memohon dengan mengeratkan pelukannya, ketika merasakan kaus yang ia kenakan basah.
"Kalau begitu tinggalkan Al," tantang kakek Rio. "Biarkan dia dengan yang lain."
"Kek maaf untuk yang satu itu, Chandra ga bisa," Chandra bahkan semakin memeluk erat Aliya, nekat mengecup puncak kepala Aliya.
"Kenapa? Kamu mau menjadikan cucu saya sebagai kamuflase?" Kakek Rio kekeh menginginkan Chandra dan Aliya berpisah.
"Tidak kek demi apa pun itu kek," Chandra berusaha meyakinkan kakek Rio.
"Saya tidak akan pernah percaya dengan kata kata kamu," kakek Rio menggeleng, mencoba menarik Aliya dari dalam pelukan Chandra.
"Kek saya mohon," Chandra terus memohon.
"Saya bilang tidak ya tidak," kakek Rio kekeh memisahkan mereka.
"Kek saya mohon," akhirnya Chandra berlutut memohon kepada kakek Rio.
"Chandra," Aliya terkejut melihat Chandra yang berlutut.
"Kek saya akan melakukan segalanya agar tidak di pisahkan dengan Al kek," Chandra kini menengadahkan tangannya ke arah kakek Rio, memohon agar kakek Rio kembali merestui merek.
"Jangan permainkan cucu saya," Tegas kakek Rio, yang kini menarik Aliya ke belakangnya.
"Saya bisa melakukan segalanya, apa yang harus saya lakukan untuk membuktikannya?" Chandra kini memegang kaki kakek Rio, memohon agar kakek Rio tak membawa Aliya jauh darinya.
"Apa yang ingin kamu buktikan?" Kakek Rio kembali menantang Aliya.
__ADS_1
"Saya akan membuktikan bahwa saya mencintai Al kek," Chandra terus berlutut sembari memegang kaki kakek Rio.
"Saya tidak akan percaya," bantah kakek Rio penuh emosi. "Ingat kalian tidak akan mendapatkan restu sedikitpun dari saya."