
Chandra menarik Aliya untuk mendekati kakek Rio. "Kek jadi kakek ngerestuin kami kan?" Chandra sangat berharap ketika mengatakan liat tersebut.
"Iya, itu hukuman kalian karena tak mau jujur sejak awal dengan kakek," jawab kakek Rio, karena sebenarnya dirinya sudah tak marah lagi, dirinya telah memaafkan Chandra.
"Jadi pernikahan tetap berjalan akan kek?" Chandra bertanya seolah memang itu keinginan terdalamnya. Sontak membuat semas orang terkeken terkecuali Brayen.
Ah, mungkin saat ini berada di posisi Brayen sangat sulit. Memberikan kebahagiaan untuk orang yang di cintainga meskipun tidak bersamanya.
"Enak aja, giliran nikah aja ceper banget, mau kawin kamu?" Ejek kakek Rio, ingin sekali kakek Rio menoyor kepala Chandra yang tak sabaran ingin menikahi cucu kesayangannya.
"Kakek restui kalian, asalkan kamu dapat mencari tahu siapa pengirim foto ini, dia benar benar tahu masa lalu kamu dengan dia," kakek menunjuk Brayen.
Nyona Mona, tuan Omer dan Chandra sungguh terkejut, ternyata kakek Rio telah mengetahui hal tersebut. Tapi bahkan kakek Rio tak marah sama sekali.
"Jika saja Juwita dan Brayen tak menjelaskan terlebih dahulu mungkin kakek benar benar tak akan merestui kalian," kakek Rio tersenyum ketika mengatakan hal tersebut.
Chandra tersenyum memandang ke arah Juwita dan Brayen ."Terimakasih," hanya itu yang mampu Chandra ucapkan saat ini.
Tuan Omer dan nyonya Mona sangat terkejut ternyata Brayen tak seperti yang mereka fikirkan. Bahkan Brayen lah yang membantu Chanda, jika bukan karena Brayen mungkin saat ini kakek Rio belum memaafkan Chandra.
"Angel engga kek?" Angel benar benar membuyarkan topik perbincangan mereka.
"Bocil diam," Juwita, Brayen dan Aliya menyergah Angel. Ah, kini mereka benar benar kompak, membuat Chandra tersenyum menggeleng.
"Kek Angel kan udah dua puluh tahun ya?" Angel tak terima dirinya di bilang bocil. Angel merasa dirinya sudah dewasa, karena itu Angel
Kakek Rio terkekeh melihat sahabat cucunya itu, Angel memang yang termuda di antara ketiga sahabat tersebut, dengan umur baru memasuki dua puluh tahun.
......................
Pesta perayaan ulang tahun Chandra berjalan dengan baik. Chandra sungguh bersyukur, hari ini adalah hari ulang tahun terbaik dalam hidup Chandra. Saat mereka tengan sibuk Chandra segera mendekati Aliya dan menarik gadis itu untuk ikut dengannya.
__ADS_1
"Ayo ikut," Chandra Segera menarik tangan Aliya ke dalam raman, meninggalkan semua orang yang tengan berpesta, di Pesta ulang tahunnya.
"Eh izin kakek dulu curut," Aliya sebenarnya masih ingin ikut berpesta. Namun Chandra segera menarik tangan Aliya agar ikat dengannya.
"Udah ga apa apa, biar gue nyulik lo hari ini," Chandra keken mengajak Aliya keluar, dengan sedikit paksaan.
"Ih ada ada aja lo, ga ah masih ramai," Aliya tetap berusaha menolak Chandra. Tapi Chandra menarik tangan Aliya ke dalam dengan paksa.
Brayen yang melihat hal itu terkejut, diam diam Brayen mengikut Chandra yang terus saja menarik Aliya. Mereka ternyata ke lantai dua, sepertinya menuju kamar Aliya.
"Semoga kalian bahagia, sepertinya aku juga harus mulai membuka hati untuk wanita, dan mencoba untuk sembuh sebisa mungkin," gumam Chandra tersenyum lembut. Kemudian kembali ke tempat pesta dan menemui Juwita yang tengah berdiri memperhatikan Angel tengah berbincang dengan nyonya Mona.
Semampai nya di kamar, Chandra segera memeluk Aliya dengan erat, sembari mengecup seluruh wajah Aliya. Karena terlalu asyik tanpa sengaja mereka terjatuh di atas tempat tidur, dengan Aliya yang berada tepat di bawah Chandra.
"Lo jangan gini lagi," pinta Chandra dengan wajar yang sungguh sungguh, sembari membelai wajah cantik Aliya.
"Iya iya maaf," cicit Aliya sembari terkekeh.
"Sumpah malam kemarin gue ga tau apa apa, gue juga kaget pas kakek marah marah, terus bawa gue ke rumah lo, dan marah marah," Aliya kini juga mulai bercerita, dengan Chandra yang kini memilih berbaring di samping Aliya.
"Terus kenapa lo ga ngubungin gue?" Chandra segera menarik Aliya ke dalam pelukannya. Chandra kembali mengecup kening Aliya.
"Orang malam kemarin hp gue di sita kok," jawab Aliya membuat Chandra memandangnya dengan pandangan iba, bercampur rasa bersalah.
"Malam kemarin kakek bener bener marah?" Chandra kembali mencoba meyakinkan diri sendiri tetapi sebenarnya Chandra juga merasa bersalan kepada Aliya.
"Lah iya, secara dia baru tahu kok, untung gue hapal nomor Juwita, jadi gue telfon diam diam pakai telfon rumah," Aliya memandang wajan Chandra dengan sungguh sungguh.
"Coba cerita dari awal."
Aliya pan mulai menceritakan kejadian setelah kembali dari rumah Chandra.
__ADS_1
Flashback.
Pulang dari rumah Chandra kakek Rio marah besar, dan menyita semua alat komunikasi Aliya, kakek Rio mengunci Aliya di dalam kamar, Aliya menangis ini adalah kali pertamanya kakek Rio sejarah itu dengannya. Aliya menangis hingga tertidur dengan sendirinya.
Setelah pagi, Aliya terbangun. Aliya terdiam mengingat kejadian semalam, Aliya sadar Chandra tak secerdik dirinya. Aliya segera bangun dan mencoba memutar kenop pintu, ternyata sudah tak di kunci lagi.
Aliya melihat telfon dan menelfon Juwita, menceritakan semua yang telah terjadi. Juwita berjanji akan datang siang ini menjelaskan kepada kakek Rio. Juwita meminta Aliya untuk tidak memancing amarah kakek Rio.
Siangnya Juwita datang bersama Brayen dan menjelaskan kejadian sebenarnya, membuat kakek Rio akhirnya memutuskan merestui hubungan mereka. Kakek Rio seger menghubungi tuan Omer, namun ternyata nyonya Mona yang mengangkatnya.
"Halo Mona suruh Chandra datang sore ini ke rumah papa," kakek Rio terdengar sedikit lembut.
"Maksudnya pah?"
"Iya papa merestui mereka, dokter yang menangani Chandra datang menjelaskan," jelas kakek Rio.
"Baik pah, tapi sebaiknya kita memberinya kejutan, kebetulan hari ini adalah hari ulangtahun Chandra," nyonya Mona tiba tiba memberikan sebuah ide yang menyebabkan acara hari ini terjadi.
Flashback end.
"Jadi gitu," Chandra mangut mangut sembari memainkan rambut Aliya. "Ah ini bagus banget kadonya," ucap Chandra mengecup bibir Aliya.
"Ah syukurlah," Aliya mengusap lembut tangan Chandra yang memeluk dirinya dengan posesif. "Tapi kira kira siapa ya, yang ngirim foto itu?"
"Ah iya, awalnya gue kira si Brayen, tapi ternyata bukan, siapa ya kira kira," kata Chandra ikut berfikir.
"Ga tahu itu tugas lo," kata Aliya segera menelusupkan wajahnya di dada bidang Chandra. Chandra tersenyum. Namun hanga beberapa waktu Aliya kembali menarik diri dari pelukan Chandra, mengetahu hal itu Chandra segera memejamkan matanya.
"Iya gue mau tidur dulu ah," gumam Chandra membuat Aliya segera memandang ke arah Chandra.
"Lepas dulu ah," kelan Aliya berusaha terlepas dan Chandra.
__ADS_1
"Ga ah gue masih kangen."