
Hari ini adalah hari pernikahan Chandra dan juga Aliya. Chandra saat ini masih berada di rumahnya, ketegangan meliputi dirinya. Hari ini adalah hari terakhir dirinya berada di status lajang, tepat setengah jam kedepan ia akan menjadi seorang suami. Suami dari wanita yang sangat di cintai nya.
"Tegang bro?" Brayen tiba tiba muncul dari balik pintu, dengan pakaian casual, percayalah saat ini baju Brayen dan Juwita serasi, karena saat ini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Banget, kalau nikah bisa ga ya ga setegang ini?" Chandra memegang jantungnya, yang berdetak kencang.
"Mau di wakili ga?" tawar Brayen di hadiahi pukulan oleh Chandra.
"Enak aja lo," kesal Chandra sembari keluar dari kamarnya.
"Lah Brayen di sini juga?" Nyonya Mona terkejut ketika melihat anaknya dan Brayen, serta beberapa makeup artis turun bersamaan dari lantai dua.
"Iya tan, katanya Chandra deg degan, terus saya tawarin jasa, untuk mewakilkan dia, eh dianya malah marah," kata Brayen sedikit mencairkan suasana.
Brayen sadar betul bahwa nyonya Mona belum sepenuhnya percaya, meskipun tuan Omer sudah percaya padanya. Tapi ya sudah lah, ini memang sesuatu yang harus di tanggungnya, meski dirinya telah berubah, dan kini telah memiliki kekasih. Yaitu dokternya sendiri.
"Ya iyalah itu sana aja lo yang ngembat, gue sama pacar lo cuman bisa gigit jari."
......................
Chandra baru saja tiba di depan rumah pengantin wanita, membuat beberapa orang tampak sangat heboh menyambut kedatangan pengantin pria. Chandra semakin memegang jantungnya, karena detaknya semakin tak karuan.
"Yakin ni ga mau di wakilin?" Brayen kembali menggoda Chandra.
"Apaan sih ga lah ya," kesal Chandra karena Brayen masih sempatnya menggoda dirinya.
"Penawaran loh Chandra," Brayen menaik turunkan alisnya.
"Ga terimakasih," tegas Chandra menimbulkan gelak tawa tuan Omer dan nyonya Mona.
Mereka segera memasuki ruang keluarga, yang akan menjadi tempat akad nikah. Saat memasuki ruangan tersebut, semakin kencang pula detak jantung Chandra.
__ADS_1
"Bisa kita mulai?" Pak penghulu segera bertanya kepada Chandra dengan di angguki oleh Chandra. "Silahkan pak."
Pak penghulu meminta kakek Rio segera menjabat tangan Chandra. Chandra segera menjabat tangan kakek Rio. Kakek Rio dapat merasakan dinginnya tangan Chandra, membuat kakek Rio tersenyum lucu.
"Saudara Chandra saya nikahkan engkau dengan cucuku yang bernama Aliya Putri Winata binti Hasim Winata, dengan mas kawin 100 gram mas 24 karat di bayar tunai," kata kakek Chandra memulai acara akad nikahnya.
"Saya terima nikahnya Hasim Winata binti Aliya Putri Winata dengan maskawin tersebut, dibayar tunai," kata Chandra dengan sangat gugup membuat semua orang terbengong kaget. Terlebih kakek Rio, karena mendengar posisi anak dan cucunya terbalik.
"Chandra yang mau menikah itu kamu dengan Aliya, yang kedua anak saya Hasim sudah meninggal, jadi tidak bisa kamu peristri," kekeh kakek Rio berusaha mencairkan suasana. Seketika suasana menjadi ricuh mendengar kata kata dari kakek Rio.
"Eh maaf kek grogi," jawab Chandra sedikit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ayo ulang lagi," kata bapak penghulu tersebut, tampaknya beliau terlihat biasa biasa saja. Mungkin kasus ini sudah biasa.
"Saudara Chandra saya nikahkan engkau dengan cucuku yang bernama Aliya Putri Winata binti Hasim Winata, dengan mas kawin 100 gram mas 24 karat di bayar tunai," kakek Chandra kembali memulai acara akad nikahnya, di mana dirinya kembali membacakan akad tersebut.
"Sah," tiba tiba Chandra berucap dengan cukup kencang, membuat semua orang kembali riuh, pengantin pria yang sangat gugup dalam sebuah akad, menjadi tontonan yang sangat menarik untuk semua orang.
"Saudara Chandra saya nikahkan engkau dengan cucuku yang bernama Aliya Putri Winata binti Hasim Winata, dengan mas kawin 100 gram emas 24 karat di bayar tunai," kakek Chandra kembali memulai acara akad nikahnya, di mana dirinya kembali membacakan akad tersebut.
"Saya Terima nikahnya Aliya Putri Winata binti Has Winata dengan mas kawin 100 gram emas 24 karat di bayar tunai," jawab Chandra dengan tegas, meski suaranya sedikit goyang di sana.
"Bagaiman para saksi?" Penghulu tersebut segera bertanya dengan lantang.
"Sah," jawab seluruh hadirin.
"Alhamdulillah, Alhamdulillahirabbil alamin..." doa pun segera di panjatkan, membuat Chandra tersenyum senang.
Seorang maid segera memanggil Aliya, Angel dan Juwita yang ada di dalam kamar pengantin wanita, untuk segera turun kebawah. Tak lama kemudian pengantin wanita pun segera turun membuat semua mata tertuju kepada pengantin wanita tersebut. Ah, tidak hanya kepada pengantin, namun kepada para pendampingnya juga.
......................
__ADS_1
Aliya dan Chandra saat ini berada di pelaminan, sementara Angel saat ini tengah berjalan sendirian di tengah keramaian pesta. Angel tak sengaja menabrak seorang laki laki yang terlihat sangat tampan.
"Maaf Om ga sengaja," kata Angel tersenyum tidak enak.
"Hm," laki laki itu hanya mengangguk tak perduli dengan hal tersebut.
Chandra tersenyum ke arah istrinya, yang sangat cantik itu. Meski awalnya mereka hanya di jodohkan, namun akhirnya mereka saling mencintai. Perjalan yang begitu unik dari seorang CEO belok dan kolonel cantik. Hingga akhirnya saling jatuh cinta dan sama sama sepakat melangkah kaki menuju pernikahan.
Angel segera mendekati nyonya Mona, orang tua dari Chandra. Angel dan Juwita tersenyum ketika menyapa nyonya Mona dan seorang perempuan, yang terlihat mirip dengan Mona, dan ternyata itu adalah nyonya Melisa, ibu dari Daniel. Nyonya Mona merupakan adik sepupu dari nyonya Melisa, namun mereka memiliki kemiripan, sehingga sering di kira kakak adik.
"Halo Tante Mona, selama ya akhirnya kak Chandra married juga dengan kak Aliya," kata Angel memberi selamat.
"Ah iya, terimakasih sudah mau di repotkan," kata Mona tersenyum. "Kalian kapan nyusulnya?" lanjut Mona.
"Kalau Angel masih lama tante, belum punya calon. Kalau kak Juwita tinggal nunggu babang Brayen lagi untuk ngelamar," kata Angel sembari menyenggol Juwita sahabatnya.
"Ih... kamu mah jangan gitu Angel, malu," kata Juwita dengan wajah memerah.
Tak lama kemudian seorang laki laki tampan datang menghampiri mereka. Laki laki itu tersenyum ke arah Juwita, membuat Angel dan Mona berdehem, mengejek Juwita.
"Sudah babang tampan datang tuh hampirin sana," ledek Angel.
Wajah Juwita semakin memerah, membuat mereka yang tersenyum. Sementara Brayen segera menghampiri Juwita dan memeluk pinggang Juwita.
"Tu kan Tan... jadi iri di buatnya, tante cariin juga dong, biar ga ngerasa jomblo sendiri," kata Angel sambil terkekeh.
"Ada keponakan tante satu," kata nyonya Mona sontak membuat nyonya Melisa mendelik tajam ke arahnya, karena jelas jelas Daniel saat itu telah menikah. "Tapi sayang sudah menikah."
Mereka semua terkekeh mendengar kata kata nyonya Mona, sontak membuat Melisa terkekeh juga di buatnya, sementara Angel hanya menggerbikkan bibirnya.
(Cerita Angel dan Daniel berada di duda genit, season 1, yang belum baca silangkan mampir.)
__ADS_1